Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil.
"Ya Tuhan.... bagaimana ini?!" gumamku sambil menggenggam erat tiga buah testpack yang baru saja menunjukkan hasil yang sama.
Pagi tadi grup WA alumni SMA ku dihebohkan dengan foto-foto dan video acara akad nikah seorang pria tampan dan seorang gadis cantik yang sangat haru dan indah. Semua berkomentar betapa haru, indah dan megah acara itu. Ya, tak heran karena kedua keluarga mempelai merupakan salah satu orang terkaya dan terpandang di kota kami.
Beberapa teman yang menghadiri acara itu membagikan dokumentasi seluruh acara. Bahkan sampai dengan berakhirnya acara resepsinya.
Sementara aku disini, sedari pagi termenung dengan ucapan sahabatku kemarin.
"Ya Allah Win... kamu kenapa?! Ya Allah... kamu sudah 3 hari muntah-muntah Win... Ayo kita ke dokter. Kamu ga usah khawatir, aku yang bayarin!!"
Ya... begitulah Lia sahabatku. Dia sangat baik padaku. Tidak pernah susah mengeluarkan rejekinya untukku terutama jika aku kesulitan seperti saat ini.
Sudah 2 minggu aku menumpang dikostannya. Yah... sejak aku mendengar Reno akan menikah dengan seorang gadis anak pejabat terpandang di kota kami, aku ijin pergi ke kota Jakarta pada orang tuaku. Aku beralasan ingin ikut sahabatku bekerja dikota ini karena ada lowongan di tempat kerja Lia. Orang tua ku percaya. Padahal 2 minggu ini kegiatanku hanya termenung, makan, tidur, menangis. Lalu sejak 3 hari lalu, aku muntah-muntah. Tak ada makanan yang berhasil masuk ke pencernaanku, selalu aku muntahkan lagi. Lia yang melihat ini mengkhawatirkanku.
Lalu pagi ini aku termenung memikirkan apa yang terjadi dengan diriku. Aku menolak tawaran Lia untuk ke dokter. Aku tidak mau menyusahkannya terus memerus. 2 minggu ini dia sudah membiayaiku disini. Aku katakan aku sudah baikan. Padahal sepeninggal Lia yang harus pergi karena ada acara penting dikantornya, aku kembali muntah-muntah.
Melihat foto dan video pernikahan Reno. Aku teringat kisah asmara kami. Ya, aku dan Reno sudah menjalin hubungan sejak kami masih 3 kelas SMA. Setiap hari kami selalu bersama. Menghabiskan waktu bermain dan belajar bersama untuk ujian sekolah bahkan sampai ujian masuk universitas. Sayangnya aku ambil diploma karena terkendala biaya. Sedangkan Reno masuk Strata 1 jurusan favorit di kampus terbaik kota kami. Tapi Reno tidak pernah mengurangi perhatiannya padaku walau kami tidak bisa bersama setiap hari. Hingga aku lulus diploma dan Reno sudah masuk skripsi, cinta kami semakin memanas.
Ya... aku lupa akan ajaran orang tuaku. Malam itu entah karena suasana hujan yang mendukung atau karena kami memang sudah tidak bisa menahan hasrat, aku melepaskan hal yang paling berharga dihidupku. Aku dan Reno menyadari kami sudah kelewat batas. Tapi Reno berjanji akan secepatnya menikahiku. Karena targetnya lulus di 3,5 tahun kuliahnya akan segera tercapai. Ya, Reno terkenal kecerdasannya. Aku pun terbuai dengan janjinya. Kami melakukannya hampir setiap minggu ketika kami bertemu.
Hingga terdengarlah berita pernikahan Reno dengan gadis itu 2 minggu lalu. Aku yang bingung dengan pertanyaan kebenaran berita itu dari ibu, ayah, adik dan teman-temanku hanya bisa bolak-balik menghubungi Reno. Tapi apa daya semua sudah diblokir. Bahkan aku tidak bisa masuk lagi ke apartemennya. Teman-teman kampus Reno yang aku tahu pun hanya menggeleng tidak tahu keberadaannya.
Aku bingung hingga akhirnya berakhir di kostan Lia ini. Lia selalu menyemangatiku, "Sudahlah Win... ikhlaskan... dia bukan jodoh kamu. Kamu itu cantik, baik, sholehah, pasti banyak suka sama kamu. Ayo semangat. Sekarang mungkin waktunya kamu fokus kerja, senengin ibu sama ayahmu dulu. Nanti juga pasti datang jodoh kamu yang jaaauuuuh dari si Reno itu!!"
Ya Allah... andai kamu tahu Lia... apa yang sudah terjadi... aku bukan gadis sholehah... jeritku dalam hati.
Teringat apa yang terjadi denganku 3 hari ini. Aku memberanikan diri ke apotik dekat kostan Lia. Dan kini disini lah aku menggenggam 3 test pack yang sudah menunjukkan hasil yang sama semua, positif.
Aku pun hanya bisa menangis dan menjerit dalam hati. Ya Allah, ayah janin dirahimku sudah menikah dengan orang lain. Lalu bagaimana nasib ku dan janin ini?! Aku pun terus menangis hingga tiba-tibakurasa semua gelap.
"Win... Wina... Ya Allah Win..."
wangi kayu putih semerbak dihidungku. Bahu dan kepalaku terasa dipijat-pijat seseorang.
"Nak Lia... itu temanmu sudah sadar kayaknya..."
Suara seorang pria membuatku cepat membuka mata. Aku memandang orang-orang sekelilingku. Rupanya Lia dan beberapa penghuni kost serta bapak satpam kost sudah mengelilingiku.
"Win... kamu sudah sadar?!"
Aku tak menjawab. Hanya menatap Lia kosong.
"Lia... ini kasih temanmu teh manis dulu... mungkin di masih bingung, pusing...." Mba Mirna tetangga kost Lia membawakan teh manis hangat.
Lia pun membantuku meminumnya.
"Yowis, sudah sadar mbaknya. Ayo semua keluar. Biar mbaknya istirahat. Yok mbak Lia. Pak Parno keluar dulu. Kalo ada apa-apa coling aja yah mbak."
"Eh iya Pak Parno, makasih ya pak. Makasih teman-teman."
"Sama-sama mbak." "Sama-sama Lia." sahut Pqk Parno dan penghuni kost lainnya.
"Wina... apa yang kamu rasa sekarang? masih pusing? kamu mau makan sekarang?" Lia memberondong pertanyaan padaku.
Aku hanya menggeleng.
"Makan ya Win. Tadi kamu pingsan dikamar mandi. Pas aku pulang ketuk-ketuk pintu ga ada yang buka. Jadi aku buka pake kunci yang kubawa. Aku panggil-panggil kamu. Ternyata kamu ada dikamar mandi sudah tergeletak. Aku ngeri itu kepala kamu terbentuk tembok kamar mandi ga ya?! Besok kamu diurut ya? Aku tau mak tukang urut yang bagus disini."
"Tidak usah Lia, aku baik-baik saja." akhirnya aku bersuara.
Lia menghembuskan nafasnya. "Tapi aku takut kamu kenapa-kenapa Win."
"Ga kok. Aku baik-baik saja. Tiduran sebentar juga baikan."
Lia pun membuang muka. Sambil beranjak mengambil sepiring nasi goreng dia berucap, "Yowis, tapi kamu harus makan sekarang. Kalau ga aku telpon ibumu."
Aku pun terlonjak kaget. "Iii... iya iya... sini aku makan." Lia pun tersenyum tapi tatapannya kenapa terlihat aneh.
Arrgh aku ingat... "Uhuk Uhuuuk uhuuuuk" aku tersedak.
"Ya ampun Win... ini minum. Pelan-pelan makannya." Lia cepat-cepat memberiku segelas minum.
"Makasih Lia"
"Sama-sama"
Aku yang teringat 3 testpack positif pun sudah tidak nafsu makan.
"Kenapa? Ayo terusin makannya Win... atau aku telpon ibu nih!!"
"Jangan!!!" aku menjerit.
"iya makanya makan!!"
"Iya..." aku pun melanjutkan makan. Lia sepertinya melihat hasil testpack itu. Aku harus bagaimana ini. Dia pasti akan melaporkan hal ini pada ayah dan ibu. Pikiran-pikiran buruk terus berputar-putar dikepalaku. Tak terasa aku menitikan air mata.
"Win... kamu kenapa?" ah, ternyata Lia memperhatikanku.
Aku terdiam. Lia menyeka air mataku.
"Win... tadi pas nemuin kamu pingsan, akuuuu... liaaat... testpack..." Lia terdiam tidak melanjutkan ucapannya.
Aku pun menangis.
"Itu... kamuuuu haaamiiil Win?!"
Aku pun mengangguk, menunduk menutup wajahku menangis tersedu-sedu.
"Ituuu anak Reno??" tanya Lia.
Aku pun mengangguk.
Huffth... Lia mengehembuskan nafasnya panjang.
Lama Lia terdiam sementara aku terus menangis menutup wajahku.
"Yowis Win... sekarang kamu lanjut makan ya, aku suapin." Lia memecah keheningan.
Aku menggeleng.
"Yowis Win, sekarang istirahat yah. Dibawa tidur. Jangan banyak pikiran. Kamu ga usah khawatir, besok kita cari solusinya ya." Lia tersenyum menenangkan ku.
Aku pun langsung memeluk Lia erat.
Dia sahabat terbaikku. Selalu ada disaat senang dan susahku.
Esok harinya kami berbicara panjang lebar. Aku pun mengambil keputusan untuk menyampaikan berita ini pada orang tuaku. Ya, berani berbuat harus berani bertanggungjawab. Pagi itu pula, Lia mengantarku pulang dan membantu menjelaskan pada ayah dan ibu. Ayah murka sedangkan ibu menangis tersedu-sedu dan memelukku. Ayah langsung meraih kunci motornya dan pergi ke rumah Reno.
Sayangnya sampai rumah orang tua Reno, ayah dicaci maki. Aku dan Lia yang menyusul ayah tersayat melihat penghinaan mereka. Ayah pun bersumpah "Aku tidak rela anakku ternoda oleh kamu Reno. Dasar brengsek!! Ingat kamu! Hari ini aku minta pada Allah, kamu tidak akan pernah bisa punya anak selain anak dari Wina dan kamu akan menyesal seumur hidupmu!!!" Ayah berteriak dan meludahi Reno.
Papa dan mama Reno pun menghardik dan memanggil satpam mengusir kami.
Aku menatap Reno benci. Sementara dia hanya menatapku datar.
Ya Allah ternyata aku salah mencintai pria, dia tidak punya hati.
Ayah dan ibu pun memutuskan mengungsikan aku ke rumah nenek di desa. Disana aku menjalani kehamilanku dengan tenang. Setiap sebulan sekali ibu, ayah dan adikku Danar menjenguk. Lia pun terkadang ikut. Dari Lia aku mendengar kabar tenatang Reno, bahwa sudah 2 kali istrinya keguguran sedangkan aku sudah memasuki 8 bulan saat ini. Aku terdiam. Teringat sumpah ayah pada Reno. Sementara ayah langsung bangkit meraih rokok dan beranjak ke teras.
"Sudah tidak perlu dihiraukan. Sekarang fokus, kamu kan mau lahiran sebulan lagi. Nanti sore kita ke bidan Hani ya?"
"Eh iya bu." Jawabku.
"Lia ikut ya bu."
"Danar juga!"
"Nin ge milu atuh, ke urang meuli martabak tah dipengkolan"
"enya... kabeh milu nin..." ibu tersenyum pada nenekku.
Nenekku pun girang. Danar dan Lia tertawa geli.
Sebulan kemudian. Entah mengapa malam jumat ini idurku gelisah. Gerah sekali rasanya. Panas pingganggku.
Aku pun beranjak ingin membangunkan enin. Tapi nahas, aku terpeleset dan kepalaku terantuk tempat tidur, gelap semua.
Sementara disebuah kamar yang terlihat mewah, Reno tersentak bangun dari mimpinya. Keringat terus mengucur padahal AC diruangan itu berfungsi dengan baik. "WINA...." jeritnya.
Renata yang mendengar jeritan suaminya langsung terbangun. "Ada apa Aa? Siapa Wina? Hei, siapa Wina?!!" Renata menggoncang-goncang tubuh suaminya yang terlihat shock.
Subuh dirumah nenek Wina begitu ramai, tetangga sudah mengerumuninya. Yah, berita Wina diketemukan jatuh pingsan langsung merebak. Warga segera membawa Wina ke Rumah Sakit begitu enin menjerit-jerit memanggil warga. Tapi ternyata Wina sudah tidak tertolong karena pecahnya pembuluh darah akibat benturan keras dikepalanya. Sementara bayinya pun tidak selamat karena terlambat datangnya pertolongan pada ibunya.
Ya, enin yang baru terbangun ketika adzan Subuh baru menghampiri kamar Wina dan enin pun shock.
Keluarga dan warga menyegerakan pemakaman Wina dan membantu mempersiapkan tahlil dirumah enin.
Lia pun hadir mengikuti 7 hari tahlil dirumah enin dan selama itu pun Lia menjadi saksi banyaknya warga yang membicarakan melihat seorang perempuan menggendong bayi dimakam Wina.
Lia hanya mampu mendoakan sahabat semoga tenang disisi-Nya.
Sementara dikota, setiap malam seorang pria muda memimpikan seorang perempuan menggendong bayi menangis menyayat hati sejak saat itu. Sementara kini istrinya mengalami keguguran lagi untuk ketiga kalinya.