Jari mungilnya membuatku gemas. Hingga aku ingin memotong-motongnya.
Hari ini adalah hari paling bahagia bagiku dan seluruh keluargaku, karna ibu melahirkan lagi. Artinya aku akan jadi seorang kakak.
"Pah, kita namain anak kita apa ya?" tanya Ibu pada Papa yang tengah asik memainkan pipi adikku yang sedang tertidur, dalam gendongan ibu.
"Gimana kalau.... Aleta Quinby Elvina." Ucap papaku yang langsung di sambut dengan senyum antusias Ibu.
"Bagus! Yaudah, pakek itu aja. Aleta sayang...." Ibu mendekatkan wajah adikku ke wajahnya, lalu mencium hidungnya dengan gemas. "Aleta, nih. Kamu punya abang yang bakal lindungi kamu." Ibu mengarahkan adikku kepadaku yang sedang berdiri di sampingnya.
Aku tersenyum ketika melihat jari-jari mungilnya. Aku langsung memainkannya. "Jarinya mungil, gemas aku." Ucapku yang langsung mendapat usapan di kepala oleh Ibu.
Sudah lewat dua bulan, setelah Ibu melahirkan adikku. Dan sekarang aku tengah bermain dengannya. Ah, tidak! Aku selalu memainkan jari mungilnya, setiap aku bermain dengannya. Jarinya membuatku gemas, sampai aku ingin menggigitnya hingga copot.
Prang!!!
"Suara berisik itu lagi!" aku menghela nafas ketika mendengar suara barang pecah. Selama beberapa minggu ini, Ibu dan Papa sering bertengkar.
Aku tidak tahu alasannya. Karna aku masih berumur 7 tahun, dan tidak begitu mengerti dengan hal yang di perdebatkan oleh Ibu dan ayah.
Adikku terbangun dari tidurnya akibat suara bising itu, lalu menangis. Aku mengabaikan tangisannya dan tetap memainkan jarinya.
Pletak!!
Suara tangisan adikku semakin kencang. Sepertinya aku tidak sengaja mematahkan jarinya, saat tengah memainkannya. Aku cuek, dan entah kenapa aku tidak merasa bersalah sudah mematahkan jari-jari mungilnya itu.
Karna geram mendengar tangisnya yang semakin keras, aku dengan sengaja mematahkan lagi jari kelingkingnya, hingga menimbulkan suara patah tulang yang lumayan besar.
"Berisik banget sih!! Diam, kalau nggak mau abang patahin lagi jari kamu."
Keesokan harinya.
"Papa mana?" tanyaku pada Ibu setelah sampai di meja makan.
"Pergi, dan tak akan kembali." Ucap Ibu datar. Tatapan matanya kosong. Ia lalu meletakan mangkuk berukuran sedang di depanku.
Ia lalu mengisinya dengan sup yang baru di masaknya.
Saat menatap ke mangkukku yang sudah terisi sup, aku menaikan sebelah alisku lalu mendongak, dan menatap Ibu juga mangkuknya.
"Ibu suka jari Papa?" tanyaku.
"Ya. Seperti kau yang menyukai jari mungil adikmu itu. Silahkan di nikmati sup jarinya."
Aku senang ketika mengetahui, bahwa bukan hanya aku saja yang menyukai jari. Ibuku juga menyukainya.