Di malam pernikahan mantan pacar, aku malah dihadapkan dengan kenyataan bahwa aku tengah hamil anaknya.
Tubuhku bergetar memandangi tespect di tangan yang menunjukkan dua garis merah. Rasanya begitu tak percaya, perbuatan kami sebulan yang lalu meski hanya sekali telah menumbuhkan benih di dalam rahim ini.
Aku terduduk lemas, air mata mulai berjatuhan tanpa bisa ku bendung lagi. Entah mengapa pria yang ku cintai itu lebih memilih wanita lain untuk menjadi pendamping hidupnya dibandingkan diriku. Air mata semakin deras saja tatkala mengingat saat-saat dia mengucapkan tidak akan pernah meninggalkan dan tidak bisa hidup tanpaku. Namun ternyata perkataannya hanyalah kepalsuan belaka.
Tiba-tiba timbul niatan di otakku untuk menggugurkan kandungan ini saja.
"Astaghfirullah hal adzim." Aku ucapkan kata itu berulang-ulang kali, berharap Tuhan mengampuni segala dosa-dosaku. Aku tidak ingin berbuat dosa kembali.
Aku mengelus perutku dengan lembut. Meski tak pernah mengharapkan janin itu hadir dalam perut ini, tetapi aku tidak boleh menolak takdir bahwa bayi ini memang harus terlahir ke dunia. Bagaimanapun caranya dia ada, dia adalah titipan Tuhan yang harus tetap dijaga.
Entah ini ujian ataukah hukuman dari-Nya atas perbuatan kami yang telah berani menentang larangan-Nya. Zina, adalah dosa besar yang bahkan kami lakukan beberapa waktu lalu tanpa memikirkan dosa maupun akibatnya.
Aku menunduk, menatap perutku yang masih terlihat rata. Masih tak percaya bahwa di sana sudah ada kehidupan. Aku terus memikirkan bagaimana caranya kelak merawat bayi itu. Bisa, aku pasti bisa. Begitu aku menguatkan diri sendiri.
"Tapi bagaimana nasib bayiku nanti, jika ia harus terlahir tanpa seorang ayah?" Aku bergumam sendiri lalu menangis lagi, meratapi nasibku sendiri, dalam kerapuhan hati.
Apa yang harus aku lakukan kini? Haruskah aku merahasiakan kehamilanku ini dari kedua orang tua? Aku berpikir keras di dalam hati. Rasa sedih, kalut, kecewa, khawatir dan sakit hati melebur menjadi satu. Kata-kata terakhirnya waktu itu terngiang-ngiang di telinga.
"Maaf Gin aku tidak bisa meneruskan hubungan kita, aku harus menikah dengan wanita lain." Bagai tersambar petir hatiku waktu itu, mau protes pun bibir terasa kelu.
Aku meletakkan tespect sembarangan di atas wastafel. Ku raih ponselku, menimbang-nimbang apakah aku harus memberitahunya ataukah tidak.
Setelah dipikir-pikir aku mengambil kesimpulan untuk segera mengabarinya. Mumpung pernikahan mereka belum dilaksanakan dia harus tahu yang sebenarnya agar bisa mengambil keputusan akan meneruskan menikah dengan wanita itu ataukah membatalkannya.
Aku memencet nomor teleponnya tetapi sayang tidak diangkat mungkin dia masih dirias. Ku lirik jam di tangan masih menunjukkan jam 6 malam. Masih ada waktu satu jam lagi untuk sampai ke acara ijab qabul. Aku segera bergegas, memakai sweater dan menyambar kunci motor kemudian dengan cepat melajukan ke tempat acara.
Tidak sulit bagiku untuk masuk ke ruang rias, tinggal bertanya saja nama Sofi orang-orang langsung mengantarku ke ruangan itu. Ya Sofi adalah perias pengantin yang terkenal di kampung kami dan kebetulan dia adalah kakak sepupuku. Namun sayang di tempat itu aku tidak melihat keberadaan Dicky.
"Ada apa Gin?" tanya mbak Sofi yang baru saja selesai merias pengantin wanita. Dia menatap sendu ke arah ku karena tahu bahwa sebenarnya aku dan Dicky masih ada hubungan dan sekarang Dicky malah menikah dengan wanita lain.
Aku mendekat, membisikkan sesuatu ke telinganya. Sesaat mbak Sofi terlihat kaget namun akhirnya ia mengangguk tatkala ia mendengar alasanku. Sedangkan gadis yang baru dirias menatap tajam ke arahku. Biarlah aku tidak perduli yang penting saat ini harus memperjuangkan agar anak ini tidak terlahir tanpa seorang ayah.
Sesaat kemudian Mbak Sofi meminta seorang karyawannya untuk membawa mempelai wanita ke sebuah ruangan dengan alasan ingin membenahi henanya yang kurang pas. Terdengar tidak masuk akal sih, mengapa mau membenahi hena saja harus pindah ruang, tetapi wanita itu terlihat mengangguk meski masih sambil terus menatapku curiga.
Acara ijab qabul pun di mulai, aku sedikit gemetar saat harus menyamar menjadi mempelai wanita. Entah dimana mbak Sofi menyembunyikan wanita itu, yang jelas saat ini yang duduk di meja ijab qabul adalah aku.
"Bagaimana sudah siap?" tanya pak penghulu.
Dicky melirikku sebentar lalu mengangguk mantap dan saat pak penghulu menghentakkan tangannya dia langsung mengucapkan kalimat qabul dengan lugas. Aku tidak tahu darimana pak penghulu itu tahu namaku dan juga ayahku. Apakah mbak Sofie yang menyuruhnya? Herannya lagi kenapa Dicky tidak mempermasalahkan itu semua dan malah mengikuti ucapan pak penghulu yang telah menyebut namaku. Seharusnya kan nama Rehana yang mereka sebut seperti yang tertulis di undangan itu.
Meski pak penghulu dan Dicky terlihat tenang nyatanya orang tua mereka terlihat gusar.
"Apa yang kalian ucapkan, bukankah anakku Rehana? Sejak kapan berubah jadi Regina?" Perempuan yang aku tebak adalah ibu Rehana terlihat murka.
Dicky membuka penutup yang menutupi kepalaku. "Karena yang ibu bawa tadi adalah Regina bukan Rehana." Ekspresi Dicky terlihat datar.
"Kemana Rehana? Dimana kalian menyembunyikannya?!" Wanita itu berkata dengan membentak.
"Dicky ada apa ini? Mengapa bisa begini?" Papanya Dicky terlihat syok tidak mengerti dengan keadaan.
"Pa dia gadis yang Dicky cintai bukan Rehana. Tolong jangan paksa lagi aku untuk menikah dengannya. Aku sudah sah menjadi suami Regina."
"Tetapi bukankah kamu sudah menyanggupi untuk menikahi dia?"
"Itu sebelum Dicky tahu bahwa Regina hamil anak saya Pa. Sekarang aku tahu dia sedang mengandung cucu papa."
Plak,
Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi Dicky.
"Lelaki apaan sih kamu hingga dengan mudahnya menghamili semua orang. Kemarin Rehana, sekarang Regina. Apakah itu yang papa ajarkan sama kamu?" papanya Dicky terlihat murka sedangkan mamanya tampak menangis. Mungkin dia merasa gagal menjadi orang tua.
"Bukankah sudah berulangkali kali Dicky jelaskan Pa yang menghamili Rehana bukan aku tapi orang lain. Aku tidak pernah tidur dengannya, aku dijebak Pa."
"Omong kosong apa ini?" Wanita tadi membuka suara kembali.
"Saya sudah tahu, Tante juga bersekongkol menjebak ku meski tahu pelakunya bukan aku kan?"
"Dicky!" Tangan wanita hendak melayang ke arah Dicky namun teriakan seseorang menghentikan gerakannya.
"Tunggu!" Tampak seorang lelaki berjalan mendekat ke arah kami dan anehnya pria itu membawa serta Rehana bersamanya.
"Yang menghamili Rehana bukan Dicky tapi aku."
"Bohong." Wanita setengah baya itu masih saja menyangkal.
"Katakan Han bahwa bayi itu memang anakku!"
Dengan gugup Rehana menjawab, "Iya Bu sebenarnya ayah anak ini adalah Alan bukan Dicky, tetapi karena aku mencintai Dicky aku menjebaknya supaya dia mau bertanggung jawab," terang Rehana dengan gugup membuat tubuh ibunya mendadak lemas dan terkulai di lantai.
"Huuuuu." Semua tamu terdengar bersorak. Aku pikir akulah satu-satunya orang yang akan malu di tempat ini karena terpaksa membuka aib kehamilan namun nyatanya nasib Rehana malah lebih memalukan lagi.
"Ayo kita ke sana!" ajak Dicky. Aku terdiam, memandangi pelaminan yang kini beralih menjadi milikku. Rasanya begitu tak percaya nasibku berubah cepat seperti ini.
Saat aku hendak melangkah ke pelaminan tiba-tiba ayah ibuku datang. Aku tercengang, darimana mereka tahu tentang keberadaan ku di sini.
"Aku sudah tahu, Sofi sudah menjelaskan semuanya, makanya aku langsung menelpon pak penghulu untuk mewakilkan menjadi wali karena kebetulan dia itu temanku."
"Ayah maafkan Gina yang sudah mempermalukan ayah."
"Sudahlah semua sudah terjadi yang terpenting jangan pernah mengulang kesalahan itu lagi."
"Iya Ayah."
"Hati-hati Nak," ucap mamanya Dicky saat aku hendak naik ke pelaminan. Mungkin dia khawatir karena di perutku ada cucunya.
Aku mengelus perutku sambil mengucapkan syukur pada-Nya. Kalau bukan karena pertolongan dari-Nya pasti sekarang ini aku sudah terpuruk.
"Terima kasih Tuhan ternyata aku belum terlambat."