dimalam pengantin mantanku, aku hamil?....
tidak....tidak....
tanganku gemetar,air mataku jatuh seiring tubuhku yang luruh karena kakiku tak mampu menopang beban yang kini aku tanggung
dimalam yang indah bertabur bintang berhias sinar rembulan, seindah malam yang aku yakini se indah yang dilalui si DIA dengan istrinya. saling bercumbu, saling memeluk, saling melengkapi dan saling menyatu dalam indahnya malam pertama
sedangkan aku.....
harus menerima kenyataan kini aku sedang berbadan dua, mengandung janin dari mantan pacarku yang kini sudah resmi menjadi suami orang lain
aku harus bagaimana....
egois memaksa dan merebut si DIA agar bertanggung jawab atau tetap diam mencoba menerima dan berlapang dada terhadap takdir yang begitu tega mempermainkan diriku.
aku hanya anak yatim piatu, hidup dalam kadar pas-pasan, dan bekerja sebagai pegawai di minimarket sebuah kesyukuran untukku setidaknya hidupku masih bisa berjalan dengan baik
tapi sekarang.....
kebingungan melanda diriku jika aku mempertahankan janin ini aku yakin tak akan mampu membesarkannya seorang diri tapi jika aku mempertahankannya.....
kutatap nanar testpack di tanganku mencoba meyakinkan diri apakah ini nyata atau mimpi....
dan sialnya ini nyata
••••
"aku hamil" ucapku pada sosok lelaki tampan yang kini duduk di depanku
ia syok mendengar pengakuanku dan kuharap ia bisa mencari solusi akan masalah ini
beberapa saat hanya keheningan menyelimuti, hingga....
"gugurkan saja, kamu tau sendirikan baru kemarin aku menikah dan aku tidak ingin masalah ini membuat aku menjadi duda" ucapanya tanpa dosa
"cih...kita membuatnya tanpa beban dan kamu pernah bilang akan bertanggung jawab jika ini sampai terjadi, tapi lihat dengan pengecutnya kamu ingkar" ucapku tertawa miris
"itu dulu dan maaf saat ini aku sangat mencintai istriku dan memilih dia dari pada anak itu, jadi lebih baik kamu gugurkan saja"
"sebrengsek-brengseknya aku tapi tak sebrengsek dirimu, setidaknya aku masih bertanggung jawab sedangkan dirimu, cih menjijikkan"
"terserah apa mau mu, aku tak ingin terlibat lebih jauh dan menurutku menggugurkannya adalah pilihan yang tepat" ucapnya setelahnya ia beranjak dan baru dua langkah aku mengentikannya sehingga kini ia berdiri tepat disamping aku duduk
"4 tahun....waktu yang panjang apakah dalam waktu itu tak ada sedikitpun cinta untukku" ucapku lirih berusaha mati-matian agar air mata ini tak luruh dihadapannya
"4 tahun hanya waktu bersenang-senang untukku dan kini aku hanya akan fokus untuk istri dan juga anak-anakku kelak"
"lihatlah kamu hanya ada untukku saat senang-senangnya dan saat aku susah,cihhh dengan entengnya kakimu melangkah pergi. pergilah jika memang itu keinginanmu dan kuharap kedepannya kamu tak menyesal" ucapku pelan karena air mata ini telah jatuh membasahi pipi, ternyata pertahananku tak sekuat itu
DIA pergi tanpa menoleh lagi, disinilah aku belajar dan ternyata benar bahwa sebejat-bejatnya kita nyatanya tetap menginginkan sosok pendamping sempurna dan itu kusadari saat kulihat DIA bersanding mesra diatas pelaminan dengan wanita cantik yang ku akui aku tak ada apa-apanya dibandingkan dengan dia
••••
dia yang ku anggap membawa bencana, kesengsaraan dan aib, nyatanya kini adalah sumber kebahagiaanku....
membawanya dalam perut selama 9 bulan, melahirkannya, menyusuinya dan membesarkannya membuat story tersendiri buatku
betapa bodohnya aku jika waktu itu aku memilih mengugurkanya, mungkin kini tak akan kudapati senyum menawannya yang menyambut disetiap pagiku
kehadirannya akibat kesalahan kini menjadi anugrah terindah buat ku
"anak bunda udah besar yaa" ucapku menggodanya yang hanya dibalas senyum indah memperlihatkan gusi merahnya serta lesung pipinya
umurnya kini 5 bulan, dia tumbuh dengan baik menjadi sosok bayi tampam dan lucu dan syukurnya wajahnya lebih mirip denganku hanya mata dan bibirnya saja yang mirip dengan mantan serta lesung pipitnya saat ia tersyum dan otomatis itu terlihat..uhhhh lucunya anak bunda
aku membawa baby Ben jalan-jalan di taman dengan strolernya, menikmati langit senja yang menawan
kulihat ia hanya tertawa riang sambil bermain dengan krinci-krinci yang tergantung di trolernya
kududukan diriku...memandang jauh kedepan berkhayal dalam sebuah ilusi yang aku ciptakan sendiri dan hanya ada kata SEANDAINYA....SEANDAINYA....
kesadaranku kembali saat ku dengar suara tangis dari baby Ben, aku membawanya duduk dipangkuanku mencoba menghiburnya mungkin ia bosan dalam strolernya
ia kembali tertawa tanpa beban, aku hanya tersenyum melihatnya
"maafkan bunda sayang, maafkan bunda yang dulu sempat menganggapmu aib dan berniat membunuhmu. kini bunda berterima kasih telah memilih bunda untuk melahirkanmu dan menjadi penyemangat bagi bunda. BUNDA SAYANG BEN" bisikku di telinga dan mencium gemas pipi gembul kemerahannya
"Ra"...seseorang memanggilku membuat ku menoleh padanya
"Arya..."balasku terkejut saat mendapati mantan terbrengsek dalam hidupku kini berdiri disampingku dan sialnya dia ayah kandung dari anakku
tanpa permisi di duduk disampingku memandang lekat wajah bany Ben yang menatapnya dengan tatapan polos menggemaskan
"dia...."ucapnya tergantung
"hmm...dia anak yang kau minta aku gugurkan, lihatlah ia telah lahir dan tumbuh menjadi bayi menggemaskan" ucapkku datar sedangkan jantungku kini berdisco ria merutuki takdir yang lagi-lagi mempertemukan ku dengan si brengsek ini
"jadi dia....anakku"
"bukan...dia hanya ANAKKU...hanya anakku"ucapku penuh penekanan di sela ucapannya
"dia juga anakku Ra"
"anak yang kau inginkan aku menggugurkannya, iya...inget Arya anakmu telah mati saat kamu menyuruhku menggugurkannya dan dia hanya anakku"
"kenapa diam, menyesal sudah basi itu tak ada artinya lagi, bukankah kamu telah memilih jalanmu hmm..dan aku memilih jalanku. kamu dengan istrimu dan aku dengan anakku...."
"tapi dibalik itu semua aku berterima kasih karena telah menghadiahkan dia untukku. dia yang ku anggap bencana, aib nyatanya berlian berharga yang hampir aku buang percuma dan sesuai ucapanmu bukannya kamu tak ingin terlibat lebih jau dengannya, maka pergilah" ucapku panjang lebar,kemudian meletakkan baby Ben dalam stroler dan pergi meninggalkan DIA
mungkin karena melamun aku tidak menyadari bahwa kini aku sedang menyebrang jalan dan dari arah kiri sebuah mobil melaju kencang
"AWASSSSSSS" teriak seseorang membuatku sadar, mataku melotot dan tanpa pikir panjang aku mendorong kuat stroler anakku agar ia aman dan selamat
BRUKK....
kusadari diriku melayang di udara sebelum mendarat dengan keras di aspal dengan kepala membentur di trotoar rasanya aku tak dapat merasakan tubuhku melainkan hanya rasa sakit, sakit dan sakit
kutatap nanar stroler bayiku yang kini di krumuni beberapa orang dan saat kulihat anakku telah berada dalam gendongan ARYA mantanku dan setelahnya semuanya gelap
"akhirnya kamu sadar" sambut sesworang saat dengan pelan aku membuka mata saat ini aku belum bisa merasakan tubuhku, ku lihat sisi kanan Arya ada disana sedangkan tak jauh darinya sosok wanita yang kuyakini istrinya tengan menggendong anakku yang tertidur
"Ben"ucapku lirih rasanya sangat lemah dan lemah, dadaku sesak entahlah aku merasa tak akan lama lagi aku bisa memandang wajah tampan anakku itu
"istirahatlah...kamu butuh istirahat"ucap mantanku namun tak kupedulikan aku hanya menginginkan anakku
"aku ingin Ben" ucapku lirih dan wanita itu mendekat meletakkan anakku disampingku. kukecup keningnya dan lagi-lagi rasa itu hadir rasa dimana aku akan pergi meninggalkannya
"anak bunda, bunda sayang Ben..hiks....bunda sayang....maafkan bunda sayang maaf jika nanti bunda hikss..tak bisa berada disisi Ben lagi hikss, maaf jika bunda meninggalkan Ben hikss maaf..jangan benci bunda sayang jangan..."bisikku di telingannya
"Arya..."panggilku membuat Arya menoleh kearahku
"bolehka aku minta tolong...."ucapku yang entah mengapa terasa sangat berat
"jaga dia untukku...hikss...tebuslah kesalahnmu dengan menjaganya,membesarkannya, mendidiknya jngan kecewakan dia...dan jangan ungkit tentang kehadirannya akibat kesalahan kita, kumohon" ucapku tergugu karena isak tangis
"kamu ngomong apa sih Ra"
"katakan padanya aku sangat menyayanginya, sampaikan permintaan maafku padanya karena tak berada disisinya, ceritakan diriku padanya..hiksss...hksss agar ia tak melupakanku" dadaku kian sesak membuat nafasku sedikit tersengal
"Bunda sayang ben...katakan itu padanya disetiap harinya, disetiap langkahnya dan untuk kamu kumohon jaga anakku sepeti..ka..mu...terhadap an..nak mu" ucapku kian terbata-bata
"Ra istirahatlah...kumohon jangan ngomong seperti itu" ucap Arya
"pasti mbak...aku akan menyayangi walaupun ia bukan anak kandungku tapi ia anak mas Arya berarti anakku juga" ucap wanita itu membuatku tenang
lihatlah bukankah sosoknya sempurna dan bersyukurlah Arya bersanding dengannya dan setidaknya aku merasa tenang jika nanti Ben diasuh olehnya
rasanya sudah tak kuat lagi aku bicara, sihingga aku hanya memeluk anakku,.menghirup aromanya dalam-dalam dan kuyakini akan sangat merindukannya
"Bunda sayang ben, sayang sekali...ja..ngan...lupakan Bunda..yah ....nak" ucapku kian melemah nafasku rasanya tercekat di tenggorokan dan entah mengapa rasa ngantuk membuatku terlelap dalam kehangatan sang buah hati
Takdir sejahat inikah dirimu memisahkanku dengan berlian hidupku.
sebercanda inikah dirimu, sehingga orang yang menolak kehadirannya kamu pilih untuk menjaganya
sedangkan diriku orang yang mempertahankannya kamu ambil untuk kembali ke sisi tuhan....
meninggalkan buah hatiku, orang yang kusayangi,kucintai dengan DIA
lihatlah...awal kisahku berawal dari sakit, kemudian kebahagiaan setalahnya penderitaan..
"anakku...bunda sayang padamu dan selamanya akan seperti itu, waktu kita memang singkat dan kuharap kelak.kau tak akan membenci bunda karena telah meninggalkanmu dalam dunia fana penuh penderitaan, mungkin tugas bunda sudah selesai dan kini tugas Ayahmu untuk menjagamu....jangan benci bunda sayang ingatlah bunda sebagai sosok pahlawan dalam hidupnya Ben....bye sayang anakku yang tampan pelita hati bunda...i love you, i miss you"
sebuah surat kusam digenggam kan sosok lelaki ramaja tampan, memeluknya didada dimana disana seonggik daging tengah terluka menimbulkan rasa sesak sehingga air mata tak terbendung membasahi pipinya
"Ben sayang bunda...hiksss..sangat sayang..hiksss..Ben tidak membenci bunda , ben hanya kecewa akan takdir yang merenggut bunda dari ben, terima kasih karena telah menjadi bundaku, terima kasih karena telah mempertahan kan ku, melahirkanku dan menjagaku...i love you bunda always love you and i miss you....really really miss you" ucapnya lirih