Sedih itu bukan lagi di saat air mata mengalir deras.
Sedih itu bukan lah sebatas kata.
Sedih dan perih, bagi ku itu hal yang sama.
Sama-sama tidak terlihat tapi nyata di hati.
Apa lah arti hidup tanpa kekasih ku, itu hanyalah sepenggal bait dari sebuah lagu.
Namun dalam arti nya.
Apalah arti hidup bila terus di persalah kan?
Rasa sesaknya di dada, tidak ada yang tahu selain ia yang merasakan.
Rasa perih yang terhimpit perkataan, ibarat terhimpit gunung tinggi, berada di ruang gelap, sunyi, pengap, hanya tanpa ada yang menemani, tanpa ada cahaya yang menerangi, tanpa ada udara, sungguh sesak yang ada dan di rasa.
Rasa ini sakit, hati ini sakit, air mata tidak mengalir deras, sayatan luka yang tidak nampak, membuat aku ingin menjerit, sebagai pengganti air mata yang tidak mau mengalir atau pun menerobos untuk keluar dari pelupuk mata.
Air mata ini terasa kering, namun mata dan hati ini terasa sakit, aku sakit, sakit hati ku, sakit perasaan ku, sakit batin ku.
Tidak kah kau tahu betapa sakitnya?
Tidak, kamu tidak tahu betapa dalam sakit yang kau toreh di hati, karena kamu hanya lah sebatas kata tanpa perih dan luka.