Di malam pernikahan mantan pacar, aku hadir dengan bermodalkan tekad, keberanian, serta percaya diri.
Setelah 4 tahun lamanya, kini kami dipertemukan kembali dalam status yang sudah berbeda.
Bisa kulihat seterkejut apa Brian melihat kemunculanku yang tiba-tiba, walau reaksi yang ditunjukkan benar-benar datar, berusaha tenang. Apalagi keluarga besarnya, terutama Ibunya yang dulu begitu membenciku juga sering menghinaku. Sekaligus orang yang membuat Brian tega mencampakkanku hanya karena aku miskin saat itu.
Aku sangat suka bagaimana reaksi mereka seperti melihat orang yang telah mati hidup kembali.
"Selamat ya."
Ucapku dengan senyuman, sembari mengulurkan tangan ke arah Brian yang hanya diam menatapku tanpa berkedip.
"Brian? Sayang?" Perempuan yang bersanding dengannya itu berkata lembut kepada Brian. Mencoba menyadarkan Brian yang masih betah mematung.
"Lihatlah siapa yang datang dengan tidak tau dirinya."
Aku mendengar kakak perempuan Brian bicara dengan sinis di sana.
"Apa benar itu dia?" Suaminya bertanya kemudian.
Lalu nyonya Widya—Ibu Brian, menghampiriku.
"Siapa yang mengundangmu?" Dia tidak berubah, nada bicaranya masih terkesan membenciku walau bagaimanapun penampilanku saat ini. "Jawab! Kau tidak punya mulut?" Pelan-pelan mengatakan itu karena tidak ingin mengundang perhatian semua tamu yang sedang menikmati pesta, namun tersimpan kegeraman. "Pergi sekarang juga, sebelum aku memanggil security untuk menyeretmu keluar. Kuharap kau tidak lupa dengan kejadian 4 tahun yang lalu."
Tentu. Tentu saja aku tidak bisa melupakan itu. Bahkan kejadian itu menjadi mimpi terburuk dalam tidurku setiap malamnya. Bagaimana mereka menyeretku keluar malam itu saat aku memohon-mohon untuk meminta pertanggungjawaban karena Brian telah menghamiliku. Dan mereka malah menyuruhku untuk menggugurkannya.
Mataku berkaca-kaca karena bayangan itu berputar dengan sendirinya dalam otakku.
Jika dari dulu aku selalu menundukkan wajah di hadapannya, maka sekarang aku berani menatap matanya.
"Aku peringatkan pada Anda untuk bicara yang sopan padaku." Aku bicara baik-baik. Namun terdapat penekanan di setiap intonasi yang kuperdengarkan.
Seperti yang kuduga. Nyonya Widya membulatkan matanya tidak percaya. Begitu juga dengan Brian.
"Kau bilang apa?!" Tersenyum sinis, "Beraninya kau berkata seperti itu padaku. Kau pikir kau siapa?!"
Hingga kejadian yang tidak kuharapkan terjadi. Wanita ini lepas kendali hingga melayangkan tangannya ke atas, siap memberiku tamparan. Namun tidak kali, tidak lagi. Aku bukan lagi gadis lemah yang dulu. Yang sekarang dengan berani menangkis tangannya. Jika kami seumuran, aku bersumpah sudah mencengkram tangannya kuat-kuat, mungkin bisa memelintirnya juga. Namun aku masih menghargainya sebagai seorang wanita yang lebih tua.
Apa yang terjadi saat ini telah menarik semua perhatian orang-orang tanpa terkecuali hingga terdengar kesunyian. Bisa kurasakan aura di mana semua mata tertuju pada kami.
"Apa yang terjadi?" Sebuah suara menghampiri kami. Suara yang begitu kukenal.
Melihat kedatangan orang tersebut, nyonya Widya cepat-cepat melepaskan tangannya dariku, sekaligus menyadari kecerobohannya sendiri. Dia juga segera mengubah reaksinya di hadapan orang tersebut.
"Apa yang terjadi?" Kali ini orang itu bertanya sedikit lembut padaku.
"Pak Jamal. Anda mengenalnya?" nyonya Widya bertanya dengan raut wajah bingung serta penasaran. Begitu juga dengan keluarganya yang lain.
"Ya. Ini istriku."
"A-apa?!"
Tercengang. Tidak percaya. Itu adalah reaksi yang ditunjukkan semua orang. Terutama Brian walau sejak tadi laki-laki itu belum siap bicara.
"Dia jauh-jauh terbang dari Australia untuk menghadiri acara ini. Makanya kami tidak datang bersama karena dia bilang akan terlambat. Aku baru mau mengenalkannya pada kalian. Tapi sepertinya ada sesuatu yang tidak kutahu?"
Siapa yang tidak mengenal Pak Jamal? Salah seorang Pejabat yang Perusahaannya terkenal berdiri di mana-mana. Banyak Perusahaan yang berinvestasi di Perusahaan Pak Jamal, tidak terkecuali Perusahaan milik keluarga Brian.
Jadi wajar jika mereka seterkejut itu mengetahui statusku yang dulunya gadis miskin, sekarang menjadi istri dari seorang pejabat yang sekarang dihormati.
Saking syok, Ibu Widya nyaris mendapat serangan jantung.
*
*
*
Ketika keluar dari Toilet. Sebuah tangan menarik lenganku lalu membawaku ke dalam sebuah ruangan di mana hanya ada kami berdua.
"Jelaskan apa maksud semua ini...,"
Aku yakin Brian sejak tadi ingin menanyakan hal ini.
"Kau tidak boleh menemui perempuan lain dan meninggalkan pengantinmu di saat acara pernikahanmu berlangsung."
"Jangan mengubah topik. Jawab saja."
"Apa yang perlu kujawab, Brian? Semua ini terjadi karena keputusanmu. Ah, awalnya aku merasa terpukul sampai ingin bunuh diri bagaimana kau meninggalkanku. Tapi sekarang aku berterima kasih. Jika bukan karena perlakuanmu dan keluargamu dulu, aku tidak akan bisa seperti sekarang. Dan aku minta padamu untuk berpura-pura lah tidak mengenalku. Karena aku sudah menghapus semua tentang kita dari ingatanku, selamanya."[]
*
*
*
SELESAI