Disudut koridor Rumah Sakit. Dengan derai air mata dan bergetar Dinda membaca sebuah pesan singkat yang baru ia terima
"Maaf kan Aku, tapi mulai hari ini Aku mau kita PUTUS, malam ini Aku akan menikah dengan wanita pilihan Nenek, Aku harap kamu tetap bahagia walau tak bersama Aku "
"Setelah sebulan kau menghilang, sekarang kau berkata kita PUTUS, dan kau akan menikah "
Dinda menangis meremas kertas yang baru ia terima setelah keluar dari ruang pemeriksaan.
"Apa yang harus aku lakukan, kamu hadir sayang,Mama tak ingin kamu hadir tanpa seorang ayah" Lirih Dinda sambil mengusap perutnya
SAH......
Terdengar ucapan saksi,dan syukur para tamu undangan.
Papan bunga berbaris sepanjang komplek menuju kediaman Dimas, dengan ucapan selamat berbahagia Dimas & Bella
Dengan menguatkan hati Dinda berjalan menuju pelaminan, Mencoba memberikan senyuman cantiknya, menahan tangis bersalaman dengan Pengantin
"Selamat Dimas semoga kalian berdua berbahagia"
Dimas kaget dengan kehadiran Dinda, Dimas sempat mematung beberapa saat sampai ia berucap " Terima Kasih, bagaimana Kabarmu?"
Dimas jelas melihat kesedihan di mata Dinda
Dinda tidak menjawab pertanyaan Dimas hanya memberikan senyuman dan segara turun dari pelaminan berjalan cepat menuju mobilnya,dan terhenti karna ada yang menarik tangannya
"Dinda tunggu, maafkan Aku sungguh Aku meminta maaf, ini semua demi kesembuhan Nenek, Aku harus menikahi Bella" Ucap Dimas
Dengan satu hentakan Dinda melepaskan tangan Dimas yang masih menahannya
"Sesungguhnya Aku sangat ingin mengumpat dan menyumpahimu, Aku tak mengira ternyata kau benar menikahi wanita itu, setelah apa yang ku berikan padamu kau meninggalkan ku,mana janjimu yang akan memperjuangkan cinta kita kepada nenek mu"
"Aku harap kamu tak mencari ku,ini hadiah pernikahan dari ku"
Dinda memberikan kertas berlogo Rumah Sakit yang sempat diremasnya kepada Dimas
"Berbahagialah dengan pilihanmu,dan aku akan berbahagia bersama sebagian dirimu"
"Apa maksudmu Dinda?" Tanya Dimas
Dinda segera masuk dan melajukan mobilnya , melihat Dimas dari spion mobil mematung membaca kertas Pemeriksaan kehamilannya.
"Seperti yang ayah kamu ucapkan sayang, Mama harus bahagia, bersama kita berdua akan bahagia".
Ucap Dinda sambil mengelus perutnya.