Tabur Tuai
Tentang dua kata itu, ternyata semuanya begitu nyata. Dahulu aku tidak percaya, jika kata "tabur tuai" itu benar–benar nyata. Kukira hanyalah sebuah peribahasa agar kesayangan mereka tak melakukan hal yang buruk terhadap orang lain.
Setelah beranjak dewasa, perlahan mataku terbuka. Tentang tabur tuai, perlahan mulai terungkap. Apapun yang dilakukan, baik atau buruk, ternyata dampaknya sama saja. Akan menuai.
Jangan mengabaikan, jika tidak ingin diabaikan. Itu salah satunya. Beliau memberikan petuah kala aku mulai mempertanyakan kenapa banyak orang mengabaikanku.
Di tengah dedaunan yang mulai berguguran, aku berjalan di antaranya. Tak ada yang kurasakan selain kesunyian. Daun itu seakan tahu, jika apa yang kurasa sama seperti warna mereka dan tubuh mereka yang mulai rentan terhadap sapuan angin. Aku meletakkan pantatku pada sebuah kursi taman yang lenggang. Hanya segelintir orang yang menghabiskan waktu di sana.
Dan kini, pikiranku mulai mengarungi samudra luas yang tidak diketahui seberapa batas kesudahannya. Otakku mulai berputar, mencari cari di antara tumpukan memory. "Kapan aku mengabaikan orang?"
Berulang kali satu kata tanya itu berputar layaknya film yang diputar tiada henti.
Perlahan namun pasti, kutemukan kepingan–kepingan kecil, kala aku mengabaikan orang lain sebab keegoisanku yang ingin menyendiri dan tak ingin seorangpun mengganggu.
Aku mulai tersenyum kelu, mengingat betapa banyak orang yang kuabaikan tanpa sadar lantaran keegoisanku untuk memenuhi kepuasanku sendiri.
"Haihh ..." Aku menghela napas. Aku mulai mengerti. Walaupun semuanya itu kulakukan pada orang lain, nyatanya pembalasan akan lebih kejam.
Namun kuingat kembali kata beliau. "Jangan marah. Apa yang kamu tabur akan kamu tuai. Begitupun juga dengan kebaikan. Apa yang kamu tabur juga akan kamu nikmati, walaupun bukan dari orang yang sama."
Aku menerawang jauh menatap indahnya cakrawala, menelisik suatu hal yang tidak akan pernah terungkap. Aku menghela napas kembali.
"Namun sekeras apapun aku mengubah hidupku, aku akan kesulitan, kecuali ada orang lain yang turut tinggal di dalam diriku."
Senyuman miris terukir begitu saja. "Dan itu cukup mustahil."
Dengan sadar, badan itu mulai menghilang seakan ditelan oleh kesunyian. Sunyi di tengah keramaian, yang bahkan tak seorangpun tiada yang mampu melihat diri yang kini masih menatap cakrawala.
"Hai, Kak. Main bola yuk, aku bawa bola bagus ini," ungkap seorang anak kecil yang kini berada tepat di sampingku.
Aku menoleh, tersenyum hangat kepadanya. "Kakak ga bisa dek, lain kali ya." Sebisa mungkin aku berucap lembut padanya, tak ingin menyakiti hatinya yang masih rapuh, sangat rapuh.
Seketika itu juga ia meraung, mengadu pada seorang wanita yang ia sebut sebagai "Mama."
Wajah wanita dewasa itu pias. Ia hanya berusaha membujuk anaknya untuk pergi meninggalkan tempat itu, membiarkanku sendirian tanpa ada seorangpun yang mampu menyapaku. Dan kini, ku kembali pada kesunyian.
Rabu, 2 Maret 2022
🥀