Dimalam pernikahan mantan pacar, Aku hamil.
Aku menyanyikan lagu 'Seharusnya' milik band Armada di atas panggung pentas resepsi pernikahannya.
Seharusnya aku yang di sana
Bersamamu dan bukan dia
Seharusnya aku yang kau pilih dan bukan dia...
Seharusnya kau tahu bahwa
Cintaku lebih darinya
Seharusnya aku yang kau pilih bukan dia...
Aku menatapnya lekat seraya bernyanyi. Dia, lelaki yang sedang berdiri di pelaminan megah itu adalah mantan pacarku dua minggu yang lalu, sebelum akhirnya dia memutuskan hubungan kami dan memilih menikahi wanita pilihan orang tuanya.
Mungkin karena aku dari keluarga yang pas-pasan, yang harus ikut bekerja membantu orang tua untuk membiayai pendidikanku, yang pastinya tidak akan bisa membantu apapun jika mereka membutuhkan bantuan materi, sehingga kedua orang tua lelaki itu tidak merestui hubungan kami.
"Kamu tidak akan memberikan manfaat apapun bagi kami karena kamu hanya gadis miskin! Tidak akan bisa memberikan apa-apa! Lebih baik kami menikahkan Bima dengan gadis dari keluarga kaya agar bisa membantu usaha kami lebih maju!"
Kalimat yang sangat menyakitkan itu mereka lontarkan saat Bima mengenalkanku pada keluarganya. Tak ada satu pun keluarga Bima yang mendukungku. Bahkan, Bima sendiri pun tidak mau mempertahankanku agar tetap di sisinya.
Aku memang bukan gadis dari keluarga kaya, tapi Aku selalu berusaha untuk tidak menjadi beban bagi kedua orang tua. Aku sudah bisa mencari uang jajan sendiri tanpa harus meminta pada orang tua.
Aku menatap iri pada wanita di sampingnya. Seharusnya, Aku yang ada di samping lelaki itu. Seharusnya, Aku yang dinikahi lelaki itu. Seharusnya, Aku yang tersenyum bahagia di pelaminan itu.
Seharusnya...
Seharusnya...
Dan seharusnya...
Semua hanya tentang kata seharusnya... Karena kenyataannya, Aku masih di sini. Berdiri di panggung seberang pelaminan mantan pacarku dengan gadis lain. Menatap iri pada senyuman yang mereka tebar pada semua orang, tanpa melakukan apapun untuk memperjuangkan lelakiku.
Apakah seharusnya Aku mendekat ke arahnya? Apakah seharusnya Aku katakan padanya jika Aku masih mencintainya? Apakah seharusnya Aku katakan jika Aku siap menjadi istri keduanya?
Ahh...semuanya memang hanya sebatas kata SEHARUSNYA...
Dan mungkin memang SEHARUSNYA Aku tidak menceritakan kegagalan asmaraku pada kalian semua.
SEHARUSNYA, Aku tidak perlu menghadiri pernikahan mantan pacarku.
Dan SEHARUSNYA, janin ini tak perlu ada jika dia memang bukan jodohku. Karena memang SEHARUSNYA, Aku tidak boleh melakukan hal itu sebelum kami menikah.
Haruskah Aku melenyapkan janin ini? Atau haruskah Aku merawatnya hingga dewasa? Sebagai bentuk penebusan dosaku telah berbuat zina?