Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil anak onta. Hahaha. Sarkas.
Aku Wuri Kenanga. Apa yang kau harapkan pada wanita usia pertengahan 30an sepertiku ini, selain hidup mapan bergelimpang harta tapi soal pasangan, sudah, aku menyerah.
Ini pilihan. Hidup single mingle dengan foya-foya uang sendiri sajalah, sudah nikmat.
Tumpukan lembaran undangan, yang selalu membuat iri ibuku. Kalau topik satu ini diangkat aku akan berkelit dengan seribu satu cara untuk melarikan diri. Dan berakhir perang dingin. Lelah.
Tapi beberapa hari berikutnya, aku sudah dibawa ibuku ke acara-acara berkumpul dengan teman-temannya. Upaya ibuku mencarikanku jodoh.
Berasa nggak bisa nyari sendiri. Aku tahu, ia ingin aku punya pasangan. Beliau mengerti, aku belum mau, bukan tidak mau. garis bawahi. walau sering juga menyindir dan terjadi pertengkaran. Hah! Anak tunggal ya begini. Kami hanya berdua.
Mantanku tersenyum bahagia didepan sana. Dia menikah untuk ke tiga kalinya. Aku ulangi, TIGA kalinya. Ya kalian tak salah. Doyan? Ya pasti. Makanya jadi mantan. Aku bersyukur untuk itu.
Sedangkan aku? Yah... Sudah kenyang dengan semua tetek bengeknya tentang pasangan hidup yang selalu mereka tanyakan atau sindirkan padaku.
"Hei Wur, Mingle sana" tepukan dari mantan calon iparku. Yang juga bosku ini. Karin Basri.
"Mbak Karin. Udah sampe?" Balasku. Yang dibalas dengan gumanan. Sebagai tangan kanannya juga mantan calon adik ipar, aku akrab dengan keluarga mantanku ini.
Aku tersenyum, mengangguk. "Iya mbak nanti, isi bahan bakar dulu ini" kutunjukan padanya piring penuh jajanan ditanganku.
Ocehan lucu di gendongannya, membuatku sadar, belum menyapa si mungil kesayanganku. "Helo Raka miss me huh!" Tangan gempalnya meraih rambutku yang menjuntai.
"Rewel tadi, mbak ajak aja, keliling langsung diem," Ku letakan piringku dimeja. Meraih bayi gemoy berusia 8 bulan ini.
"Uluuuhh ponakan onti" kuciumi pipinya yang seperti bakpao.
"Sayang itu dipanggil Mama" Pria mengandeng bocah cantik berusia 3 tahun dengan baju princessnya menghampiri tempat kami. Mas Arsyat Ramli. Suami Mbak Karin.
Bayi gemoy dalam pelukanku dengan aktifnya menjulurkan tangan ingin menggapai sang ayah.
Aku memberikan gendonganku pada ayahnya. "Kesya cantik sekali" mengajak ngobrol anak pertama Mbak Karin yang sibuk dengan jajan ditangannya.
"Ya nte liat ni, plinses" menujukan gaunnya sambil dia memutar mutar badannya.
"Wow like rapunzel, beautiful, sweet heart" kukecup kepalanya. Kesya sangat suka rapunzel, Dan si bocah itu senyum kegirangan. Bajunya aku puji.
"Mbak sama Mas kesana bentar ya Wur" pamit Mas Arsyat. aku menaik-naikan alisku mengisyaratkan jawabanku pada mereka.
"Jangan mojok aja, sana mingle siapa tahu jodoh" tawa Mbak Karin dengan sindirannya yang tak kusukai.
"Ck, iya iya" keluarga itu menjauh berjalan kearah kerumunan, tempat berkumpulnya keluarga di tengah aula.
Menenguk habis air dingin dalam gelas, mengelap sisa air dibibir, aku melangkah kesudut ruangan, Its show time!
Mendekat ke sepupu keluarga mantan, tadi aku sudah bilang kan aku dekat dengan keluarga mantan. mengambil benda andalan. Melingkarkan kepinggang, Dan mulai ikut meramaikan.
Kuliukkan badan mengikuti suara musik. Dengan pinggul yang bergerak mengikuti tabuhan gendang. Bunyi kerincingan yang mengisi seluruh aula. Membuat sudut bibirku terus terangkat. Menyenangkan sekali.
Inilah tujuan utamaku. Ikut menarikan pinggul. Fokus bergoyang, ada sentuhan dibahuku, kuhentikan goyangan pinggulku. Aku menengok pada seorang wanita dengan gaun syar'inya. Cantik.
"Nama kamu siapa" hah! Apakah ini orang, "Wuri bu" biar cepet jawab aja.
"Will you marry... my son, please?" Tanyanya padaku. What! Ujuk-ujuk sekali kawan.
Kebiasaan jelekku, memindai orang dari atas sampai bawah. Wajahnya anggun, cantik kearab-an, karismatik ya macam sosialita, temen-temen emak ane batinku.
Si ibu menyungging senyumannya. Lalu memeluk sambil menepuk pungungku pelan. "Salam buat Sasmita ya" melepas pelukannya. "Sampai jumpa nanti ya cantik" mataku membola.
Bingung dan aneh, Huwhattt... apa diriku baru aja di pedekatein sama emak-emak onta? Apa ini bestai... Se-desperado inikah diri hamba??? Senampak itukah bestai?!
Bentar... Sasmita?! Emak eug tuh... INI BAHAYA! MAYDAY!! batin ini menjerit.
==—==
terimakasih sudah baca, maaf kalau masih banyak typo, jangan lupa mampir baca novel aink yang lain ya ^^
lazyafternoon