Di malam pernikahan mantan pacarku, aku hamil.
Masih dengan mata yang sembab, aku menemuinya, laki - laki yang baru saja tadi pagi, mengucapkan ikrar janji, berakad nikah dengan perempuan lain.
"Kang, Saya mau ngomong penting, sebentar saja"
"Ya ampun neng, nanti atuh ya ngomong nya besok, ini akang kan masih diacara resepsi, apa kata orang kalau lihat kita ngobrol berduaan seperti ini"
"Kang... Saya cuma mau bilang, kalau Saya hamil"
"Kamu hamil, kenapa datang nya ka Akang atuh, sok aneh aneh wae" ujar nya sambil berlalu pergi dengan bersungut sungut.
Sembilan bulan berlalu sejak kejadian itu, dan beberapa hari lagi, mendekati hari persalinan, aku yang beruntung, karna bertemu dengan ibu penyapu jalan yang mau menampung ku, yang berempati pada nasibku, Bu Sum, ya begitu aku memanggil malaikat penolongku itu.
Dengan sigap, Bu Sum mengantarku ke klinik bersalin terdekat, ketika tahu aku tengah merasakan sakit di perutku.
Bayiku lahir dengan selamat, gadis mungil yang lucu, dengan mata bundar jernih, dan memiliki dua lesung pipi, sungguh bayi yang cantik.
Maaf sayang, kamu lahir kedunia tanpa ada ayah di samping mu. Tapi ibu janji, akan memberikan yang terbaik untukmu bidadari kecilku.
Bayi kecilku, kini tumbuh menjadi anak gadis yang cantik, periang dan murah hati.
Suatu sore ia pulang sambil menangis, dengan tergopoh - gopoh aku menghampirinya, "Ada apa alif, kenapa pulang main kok nangis gini? " tanyaku.
"Bu... ayah alifa kemana sih? tadi temen - temen bilang, kalau alifa gak punya ayah, mereka bilang kalau alifa anak haram"
"Sudah, alif jangan sedih ya, perkataan mereka semua salah, alif punya ayah kok, cuma ayah alif gak tinggal sama kita"
"Oh gitu ya bu, kalau begitu, alifa pengin ketemu ayah bu, ajak alifa ketemu ayah, alifa kangen, alifa juga mau kasih tau temen - temen kalau alifa punya ayah, alifa bukan anak haram".Demi mendengar penuturan nya, hatiku serasa remuk, dadaku sesak air matapun seketika menggelayuti pelupuk mata, maafkan ibu nak, maafkan karna sebenar nya ayah mu tak pernah menginginkanmu...
"Baiklah nak, nanti kita akan temui ayahmu."Demi mendengar ucapanku, anak ku bersorak gembira.
" Hore... aku bakal ketemu ayah"
Tiba di desa, aku langsung menemui keluargaku, didepan teras rumah, aku melihat Bapak tengah melamun sambil sesekali menghisap rokok kretek nya, "Assalamu'alaikum, Pak" salam ku kepada Bapak,
"Wa'alaikum salam... " jawab Bapak seraya menoleh ke arahku.
"Masya Allah, neng, beneran ieu teh eneng, astaghfirullah neng kamana wae... mang taun - taun kara inget balik" ujar nya sambil memelukku.
Setelah menceritakan alasan sebenarnya aku pergi dari rumah, Bapak dan Emak berlinangan air mata, tak kuasa mendengar apa saja yang aku alami selama dalam pelarian ku.
"Bu... ayah mana? " tanya anak ku
"Besok ya sayang kita ketemu ayah, sekarang alif istirahat dulu" gadis kecil itu pun mengangguk seraya pergi ke kamar.
Keesokan paginya, dengan menggunakan ojek, aku mendatangi rumah mantanku, ayah biologis khalifa.
"Assalamu'alaikum... "
"Waalaikumsalam, " jawab si empunya rumah, keluar seorang wanita paruh baya.
"Punten, siapa ya, milarian saha? " tanya nya.
"Punten, abdi Syarifah, mau ketemu kang Wandi, apa ada dirumah? "
"Oh, juragan Wandi nya lagi di sawah, pulangnya dzuhur, mau nunggu apa gimana? " jawab si bibi
"Em, masih agak lama bi, mending susul we ku abdi ka sawah nya".
" Muhun atuh sae kitu ge, dijajap atuh ku bibi yah"
"Iya hayu atuh bi"
Dari kejauhan, sudah terlihat hamparan padi yang masih menghijau, dengan menyipitkan mata, aku mencari dimana keberadaan Kang Wandi, dan akhirnya ketemu, dia tengah duduk lesehan di gubuk tempat beristirahat para petani. Langsung kutemui dia, ku kesampingkan egoku, kemarahanku, demi anakku yang ingin mengetahui keberadaan ayah nya. Demi melihatku, Kang Wandi langsung terperanjat seraya berdiri"Neng, mau ngapain kamu teh kesini? "ujarnya dengan tergeragap.
" Tenang Kang, Saya bukan mau mengganggu akang, tujuan Saya kemari, cuma memenuhi keinginan anak Saya, menemui ayah nya"jawabku
"Alifa, kemari sayang, inilah ayah mu, ayah yang selama ini kamu tanyakan"
"Ayah.... alifa kangen, " ujar anakku sambil berusaha memeluk Kang Wandi.
"Tidak, kamu bukan anak ku, bahkan aku pun tak pernah merasa menikahi ibumu" tolak nya kasar dan mendorong anakku. Seketika anak ku menangis, sambil terisak dia berbicara,"Bu, alifa mengerti sekarang, kenapa ibu tidak pernah memberitahukan keberadaan ayah, ayah jahattt"seraya memeluk ku sambil menatap tajam ke arah ayah nya.