Luna tersenyum peri saat memandang foto kebersamaannya dengan sang mantan nyatanya pria yang pernah mengatakan sangat mencintainya itu kini telah berpaling.
Sentakan dari ibunya membuyarkan lamunan Luna. Sang ibu meminta anak gadisnya untuk mengantarkan pesanan kue pelanggan. Ibunya menerima pesanan kue pengantin, dan Luna sering menjadi pekerja untuk mengantarkannya.
"kali ini ibu antar sendiri dong, Luna lagi malas, bu," balas Luna
"kamu ini, dari pada cuma bengong tak berguna, mending bantuin ibu, ibu masih bikin pesanan lain, Tante Risa dan Tante Nisa juga lagi sibuk, sana buruan! Nanti bisa telat."
dengan malas, Luna beranjak dari sofa kue yang harus diantar sudah ada di dalam mobil box yang memang dikhususkan untuk mengantarkan pesanan
siapa sangka ternyata kue itu untuk pernikahan mantan yang tadi dia tangisi pria itu sedang bersanding dengan wanita lain disana dan nona ada di sana mengantar kue.
Luna berdecak kesal, bagaimana bisa dia tidak membaca lebih dulu siapa pesanan kue itu, dan dirinya kini benar tidak bisa berkutik, sangat bodoh.
"bukankah ini sangat konyol?" sapa seseorang
dipandanginya pria tampan dan gagah dengan setelan yang membuatnya semakin tampan itu, bukan setelan formal yang mahal, tapi hanya kaos dipadu dengan jeans tapi mampu membuatnya jadi sangat tampan, sangat sesuai dengan tipenya.
menyadari kalau pria itu bicara padanya, Luna membalas. "apa maksudmu?" berlaga tidak terpengaruh, tapi dalam hati bergemuruh.
"mantanmu dan mantanku bersanding disana, Dan kita datang tanpa undangan hanya mengantarkan pesanan mereka, kau mengantarkan kue, dan aku mengantarkan bunga."
Luna mengerutkan keningnya, "kau kenal denganku? bagaimana bisa kau tahu?"
pria itu memandang Luna dengan tatapan lucu. "Tentu saja aku mengenalmu, Aluna florenzia"
"kau siapa?" tanya Luna penuh selidiki ia tidak pernah ingat kenal dengan seseorang pemilik jasa sewa bunga
pandangan pria itu menerawang jauh ke masa lalu, ia mengehela nafas "aku hanya seorang anak kecil yang pernah menerima penolakan yang sangat menyakitkan dari seorang anak kecil bernama Aluna, 'sadarlah bocah tengik! aku tidak mau dengan bocah ingusan sepertimu' sangat menyakitkan"
Luna mengerikan bola matanya mencari kejadian kapan kejadian seperti itu pernah terjadi dalam hidupnya. Sepertinya saat dia masih remaja. "Rivaldo?"
pria itu mengangguk.
"maaf." Luna menunduk
seringaian muncul di bibir Rivaldo. " lalu apa aku masih bocah tengik dan ingusan?"
"eh" wajah Luna terangkat lagi
"Aku mencintaimu, Aluna, apakah kali ini masih di tolak?"
ingin sekali Luna memukul pria itu. "apa kau gila? bahkan kau baru saja putus dengan kekasih mu dan sekarang kau mengajak gadis lain pacaran."
Rivaldo tertawa. "lalu apa masalahnya? kalau aku memang mencintaimu, apakah aku tidak bisa meminta mu menjadi kekasihku sekalipun aku baru putus? toh juga aku tidak mencintainya"
"kau memang gila" Luna terkekeh.
ya, gila karenamu," balas Rivaldo santai.
"bahkan kau sangat menjijikkan.
Menggombal layaknya anak remaja lagi kasmaran," ejek Luna.
"hei, kenapa kata kata mu selalu menyakitik?"
"benarkah?" tanya Luna tanpa sedikitpun penyesalan.
"dan aku rasa aku memang sudah gila, kata katamu yang selalu menyakitkan malah semakin jatuh cinta padamu. Bagaimana dengan mu? tidak kah kau semakin jatuh cinta setelah mengatakan nya?" goda Rivaldo
"aku tidak pernah jatuh cinta padamu."
"kau menyakiti ku lagi."
Luna mengeram kesal. " bicara dengan mu membuat ku semakin kesal."
Rivaldo lagi lagi menemukan ide dalam otaknya untuk menggoda Luna. " haruskah kita menghadiri pernikahan mereka dengan bergandeng tangan dengan mesra? kita buat mereka menyesal telah mencampakkan orang yang benar."
"aku merasa. tidak. dicampakkan."
"Aish, kau masih saja menjaga image tak penting itu tapi tak apa maksud ku membuat mereka menyesal telah meninggalkan orang yang benar."
Luna membalikan badan. "lakukan sendiri, aku tidak berminat."
Rivaldo menghembuskan nafas. mengikuti langkah luna yang akan meninggalkan tempat pesta itu. " Baiklah, lupakan. lalu apakah masih ada kue yang akan di antar kan ke pesta mantan mu?"
"bagaimana dengan mu? apakah masih ada buket bunga yang akan di antar ke pesta mantanmu"
"hanay ada satu lagi, bukan mantan sih tapi untuk istri masa depan ku, Aluna florenzia."
Luna melirik sekilas dan tersipu malu. sosok yang dulu sangat tidak dia suka ternyata cukup asik di ajak bicara.
Baiklah, Luna siap memulai denganya.
"di terima?" desak Rivaldo. sangat tidak romantis, bagaimana dia bisa menyatakan cinta seperti itu.
Luna mendelik. tapi kemudian tersenyum yang di artikan Rivaldo sebagai sebuah kesempatan untuk nya.
keduanya terkekeh.
Rivaldo dengan sangat berani mengandeng tangan Luna meski dihadiahi dengan tatapan tajam Luna.
ini akan menjadi awal mereka.
siapa yang tahu kalu mereka akan bertemu di momen seperti itu.
Tidak selamanya yang kita anggap buruk akan berakhir buruk.
•••
Assalamualaikum