“Le, tangi. Subuh.”
Mataku mengintip. Pintu kamarku setengah terbuka. Samar-samar kulihat Bapak berdiri di samping pintu kamar. Tangan kanan kekar itu membawa sebongkah mesin pemotong pohon.
“Gak sarapan dulu, Pak?”
“Nanti. Di rumah Tarmin.” Diambilnya botol Sprite berukuran besar berisi air putih dengan tangan kiri. “Ya, paling, kaya kemarin. Jangan gori sama bandeng.” Bapak lalu berjalan menuju teras. Seperti biasa, mengambil lap, oli, lanjut membersihkan gergaji mesin kesayangannya sambil sesekali bersenandung lagu Sewu Kutho milik Didi Kempot.
Tarjo Blandong. Orang-orang biasa menyebut Bapak begitu. Menebang pohon, diberi upah. Bapakku, orang yang paling sering memotong pohon ber-kambium itu. Mulai dari Mahoni, sampai dengan Gambelina, semua sudah Bapak tumbangkan.
Meskipun, itu semua bukan pohon milik Bapak sendiri, tapi milik Pak Tarmin. Bapak tidak memiliki kebun luas seperti milik Pak Tarmin. Bapak cuma punya kebun kecil di samping rumah dekat sumur. Paling hanya seluas 45 m². Bapak memanfaatkan tanah itu untuk ditanami ubi kayu. Berbeda jauh, Pak Tarmin, pemilik tanah dimana-mana. Hampir semua jenis pohon berkayu ia punya. Pokoknya Komplit. Mungkin, para tetangga juga akan ketularan makan enak kalau saja ia tidak pelit.
‘Druuuduk uduk uduk uduk duk duk duk’. Suara knalpot Motor Supra terdengar mendengkur. Terlalu berisik untuk jam lima pagi.
“Le, Bapak mangkat, sik!”
“Iya, Pak. Hati-hati!” Teriakku dari dalam rumah, masih dengan kaki yang terbalut sarung. Kutengok motor Bapak dari jendela dekat pintu. Motor tua itu batuk asap, dahaknya warna hitam mengepul. Bahkan, asapnya baru hilang saat motor bapak lenyap di perempatan dekat sawah.
Bapak menghilang dari pandangan, dengan penuh rasa bahagia aku lalu berlari menuju ruang tamu. Kulihat kalender tua itu, kalender dengan gambar SBY sebagai background atas, yang Bapak dapat dari kampanye partai sembilan bulan yang lalu. Aku lingkari tanggal 24 dengan spidol warna merah. Lalu, ku tulis di bawahnya 'Ayam Bakar'. Sambil sesekali aku senyum-senyum sendiri.
Hari ini tanggal 23 September 2012, hari yang bikin aku selalu gembira meskipun setiap hari membayangkannya: hari minggu. Hari yang malam sebelumnya bikin tidur cepet karena kebelet ingin bangun pagi. Dan malamnya nanti bikin males tidur karena bayangin harus mengulang hari demi hari lagi untuk sampai ke hari ini. Yang paling ngeselin, yaitu bayangin pagi besok: upacara bendera. Salah satu sebab aku benci kepada hari senin.
Usai puas menatap kertas tanggalan itu, aku mengambil sapu di belakang rumah. Seperti minggu biasanya. Aku menyapu lantai rumah. Gak mau tahu bersih atau tidak, yang penting aku bisa cepet-cepet nonton TV.
Ku pencet tombol bundar besar di pojok bawah. “Yes! Untung belum ganti Ultraman Mebius.” Ucapku riang setelah kulihat layar TV, yang ternyata Indosiar masih menayangkan Power Rangers SPD kesukaanku. “Ohh, masih monster tangan panjang yang kemarin itu, pasti langsung kalah kalo Power Rangers udah dateng.” Sambungku, bicara sendiri.
Diumurku yang baru menginjak sepuluh tahun ini, aku sudah terbiasa dengan memasak sendiri, maupun membantu pekerjaan rumah Bapak—yang seharusnya pekerjaan rumah Ibu.
Itu karena Ibuku, sudah meninggal lima tahun yang lalu. Bapak gak pernah kasih tahu karena apa. Tapi yang pasti, aku masih ingat betul waktu itu Ibu mengelus kepalaku di rumah sakit, sehabis aku dapat nilai seratus waktu ulangan matematika saat ujian kenaikan kelas dua. Bapak waktu itu hanya bilang, sekarang Bapak hanya punya aku. Kalau aku gak mau bantu, siapa lagi? Masak mau anak tetangga. Bapak lalu tertawa.
Yang sekarang aku punya adalah nama pemberian Ibu. Satriyo Adi Pamungkas. Sayang, nama bangga Ibu ini malah dibuat candaan oleh Riski dan yang lainnya. Teman sekampungku, malah memanggilku dengan panggilan Sat. Apalagi dia sok Jakarta-nan suka mengejekku menggunakan kata panggilan 'bang' sebelum memanggil namaku. Memang Riski itu Bocah Mencret. Pokoknya dia biang keroknya. Dia yang pertama kali manggil namaku dengan awalan 'bang' itu, sebelum yang lainnya ikut-ikutan.
“Sat! Saaat! Bang Saat!”
Aku matikan TV. Aku berjalan menuju pintu. “Wah, jadi lawan kampung sebelah, ya?” tanyaku.
“Iya dong. Cepet ayo, keburu kelamaan nanti temen-temen nunggunya." Jawab Fadli. “Bener itu, udah jam satu kurang sepuluh, nih. Cepetan!” Cerocos Riski, alias Si Mencret.
“Iya, sabar lah.” Aku menutup pintu rumah, dan segera menuju ke lapangan. Tempat pertandingan sepak bola bergawang sandal itu berlangsung.
“Mampus tuh, bocah-bocah Gadungrejo. Hahaha.” Tawa Riski dan teman-teman. Tim kami berhasil membabat dengan skor 15-10.
“Padahal mereka mainnya curang, ya?” ungkap Riski.
“Iya. Kakiku aja sampai di tendang tadi.” Jawab Fadli, gak habis-habis membahas pertandingan.
Adzan Magrib berkumandang.
Aku lalu bergegas pulang ke rumah. Begitu juga dengan teman-temanku. “Besok lagi, ya!” Aku baru tiba di depan rumah. Kulihat supra Bapak ternyata sudah berdiri kokoh di teras rumah. Kubuka pintu. Lalu kucari perawakan Bapak.
Ketemu.
“Pak! Bapak gak lupa kan besok?” Tanyaku kepada Bapak yang sedang duduk di kursi dapur dengan secangkir kopi di meja.
“Enggak, lah. Masak ulang tahun anak sendiri Bapak lupa. Besok, sehabis pulang sekolah, Bapak akan bawa Satriyo ke Rumah Makan Pak Slamet yang kamu mau itu. Ayam bakar, kan?”
“Wah, serius, Pak?” Aku loncat-loncat kegirangan. Sejurus kemudian, aku berlari mengambil handuk yang menggantung di pintu kamar, lanjut ke kamar mandi untuk mandi.
Sebagai hadiah balik buat Bapak, aku mau membuat surpriese gantian buat Bapak. Nilai ulangan matematikaku harus seratus. Aku harus belajar penuh malam ini, untuk ulangan besok. Pikirku, sambil menggosok gigi.
Malam hari ini aku benar-benar gak bisa tidur. Sudah lelah aku mendengar teman-teman lain membicarakan tentang enaknya ayam bakar Pak Slamet. Yang jika ditanya aku hanya mengangguk sambil berkata, “Iya. Enak banget.” Gak nyangka, besok sehabis sekolah aku akan mencobanya secara langsung.
“Bapak memang yang terbaik. Aku sayang sama Bapak.” Ucapku, seraya memeluk guling.
Malam ini, aku tertidur sangat lelap.
“Kok bisa lupa, Pak?” Aku berteriak. Geram.
“Ya, gimana. Habis Bapak udah janji selesai-in hari ini.” Bapak mencari alasan. “Gimana kalau besok? Kita makan ayam bakarnya sama-sama nanti.”
“Tapi ulang tahun Satriyo kan hari ini. Lagian, Bapak udah janji. Hari ini.” Aku berteriak.
“Ya mau gimana. Sudah terlanjur. Gergaji mesin Bapak juga — ”
“Gergaji mesin lagi, gergaji mesin lagi. Terus aja terus. Bapak emang gak seperti Ibu.” Nadaku meninggi.
“Ibu selalu mengelus-elus rambutku kalau bangun tidur. Tapi Bapak gak pernah tuh, elus-elus aku. Ibu selalu bantu aku ngerjain PR matematika, tapi Bapak, gak pernah sekalipun bantu aku meskipun cuma satu soal. Ibu selalu nepatin janji bikinin aku mi sedap soto kalau aku mau cuci piring sehabis makan sendiri. Ibu selalu puji-puji aku kalau aku rajin bantu Ibu melipat baju sambil nonton sinetron di TV.”
“Kalau Bapak, setiap pagi, langsung aja pegang gergaji mesin, di elus-elus. Dikasih oli, dinyanyiin. Emang Satriyo pernah Bapak gituin?”
Kulihat Bapak, diam.
‘Jdar!’ Bunyi pintu kamarku. Keras. Aku menangis. Kenangan dengan Ibu tiba-tiba meledak di kepalaku.
Bapak. Memang bukan Ibu.
Siang ini, aku masih memakai seragam.
Ulangan matematika dibagikan hari ini. Nilaiku seratus. Tertinggi di kelas. Teman-temanku sampai tak percaya. Apalagi si Mencret. Namun, itu tak membuatku senang, sama sekali tak senang.
Tadi, aku dipanggil ke kantor. Apa gara-gara masalah Ayuk kemarin, ya? Pikirku. Gak mungkin. Aku kan sudah minta maaf ke dia. Kemarin, bocah cewek paling cerewet di kelasku itu sempat beradu pukul denganku karena dia mengejekku dengan sebutan ‘cah blandong’. Aku membuatnya menangis.
Aku menarik nafas, hembuskan, mencoba menenangkan diri. Aku harus berani. Aku lalu masuk ke dalam kantor. Tepatnya, di depan meja kantor Pak Rudi.
“Tadi Bapak ditelfon. Katanya, Bapak kamu tiba-tiba pingsan waktu kerja. Sekarang sedang dirawat.”
Aku kaget.
“Yang bener, Pak?”
Aku berlari keluar kantor. Terdengar Pak Rudi memanggil namaku, tapi aku pura-pura tak mendengar. Aku menuju ke kelas. Kuambil buku yang berceceran di atas meja. Kumasukkan ke dalam tas.
“Kemana, Sat?” Fadli bertanya. Tak kugubris.
Secepat mungkin aku bergegas keluar sekolah. Nafasku ngos-ngosan. Kuingat-ingat kejadian tadi malam. Aku tak tahan lagi, sesuatu mulai mengalir. Aku menangis tersedu-sedu sambil berlarian di jalan raya. Aku menyebrang asal-asalan. Lalu lalang kendaraan terlalu sepi untuk pikiranku yang ramai.
Aku berlari sambil menangis sesenggukan mencari Ruang Mawar nomor 3. Kulihat banyak orang, bahkan Mbah Jami, tetanggaku, tampak duduk di luar ruang tersebut. “Bapak!” Teriakku. Sangat keras. Aku tak peduli berapa pasang mata penghuni rumah sakit yang melihatku.
Aku masuk ke dalam ruangan. Bapak duduk di pinggir pembaringan. Tak berpikir lagi, aku memeluk Bapak erat. Sangat erat. “Kenapa gak pernah bilang?” Air mataku mengalir deras di pundak kiri Bapak. Pundak kekar tempatnya mengangkat mesin untuk memotong pohon demi pohon. Demi telur yang aku dadar setiap hari. Demi aku bisa belajar di sekolah.
“Kalau tau begini, Bapak gak perlu sakit-sakitan Mblandong buat beliin Satriyo ayam bakar." Aku masih memeluk Bapak. “Maafin Satriyo, Pak.” Kini, pundak itu basah kuyup dengan air mataku.
“Bukan salah kamu, Satriyo. Bapak memang sudah lama merasakan gejala, tapi Bapak malah nekat untuk tetep ngerokok.” Bapak mengelus-elus rambutku. “Bapak selama ini memang gak tahu perasaan Satriyo. Bapak cuma tahunya kerja. Cari Uang. Tapi satriyo tahu kan, kalau uangnya juga buat Satriyo. Bapak cuma ingin, Ibu kamu bangga kalau anaknya sukses nanti.”
“Bapak gak mau nanti kalau Satriyo tahu Bapak sakit. Bapak kalau gak kerja, Satriyo mau makan apa? Sekolah pakai uang siapa? Uang tetangga?” Bapak lalu tertawa. Aku ikut-ikutan.
Bapak melepas pelukan. “Coba lihat apa yang Bapak bawakan di meja. Bapak beli tadi pagi sebelum berangkat.”
Aku mengusap sisa bulir-bulir air di pipi. Kuambil plastik berwarna hitam di meja. Perlahan, kubuka. Tampak jelas apa yang ada di dalam plastik itu. Air mataku kembali mengalir. Aku, laki-laki, menangis lagi.
“Ayo, di makan.”
Aku peluk Bapak. Lagi. “Aku sayang sama Bapak.”
Kali ini, benar-benar badan Bapak. Bukan lagi guling.