"Di malam pernikahan mantan pacar, aku hamil..."
Sudah tiga minggu lebih aku mual-mual dan juga di bulan ini aku belum datang bulan. Rasa takut akan hal aneh terjadi padaku, tapi aku terus berusaha berpikir positif. Pada akhirnya aku memberanikan diri untuk membeli test pack di apotik terdekat.
Dan sekarang aku menunggu hasilnya, aku selalu berdoa untuk tidak hamil. Sampai aku hamil, aku yakin mantan pacar aku tidak akan bertanggung jawab. Minggu lalu hubungan aku dengan mantan pacar aku bernama Michael sedang di ambang mengakhiri menjadi sepasang kekasih, karena Maichel tidak sengaja menghamili anak orang lain. Di saat itu aku marah besar, tapi bagaimana pun Maichel harus bertanggung jawab.
Aku melirik test pack yang berada di sebelahku. Dua garis. Air mataku jatuh mengalir di pipiku. Bagaimana ini? Besok adalah pernikahan Maichel dengan Raya, tidak mungkin aku memberi tahunya kalau aku hamil. Aku tidak ingin menghancurkan pernikahan mereka, aku tidak ingin.
Malam ini, iya malam ini aku akan menemui Maichel. Aku harus sedikit egois, ini demi anak aku. Iya, aku harus egois. Tidak salahkan, aku sedikit egois dengan hal seperti ini? Aku tidak ingin anak ini lahir tanpa Ayahnya. Aku tidak ingin nasib anak ini sama seperti aku yang lahir tanpa Ayah. Aku membuka pipihku dan mencari kontak Maichel.
-Naya
'Temui aku di tempat seperti biasa, ada hal penting yang aku harus bicarakan denganmu. Aku mohon kamu harus datang.'
Setelah mengirim pesan itu kepada Maichel, aku langsung bersiap-siap untuk berangkat ke taman.
Aku tinggal sendiri di apartemen, Ibu aku telah meninggal di saat aku berusia 17 tahun. Mungkin orang akan merasa iba karena nasib hidupku, tapi aku tidak membutuhkan itu aku sudah terbiasa hidup seperti ini, sendiri.
Taman, aku sudah menunggu Maichel dua menit dan laki-laki itu tidak kunjung memunculkan batang hidungnya. Aku merasa gelisah, sepertinya ia benar-benar tidak akan datang. Tidak lama kemudian Maichel datang dengan Haikal sahabatnya.
"Aku ingin berbicara dengan Maichel, empat mata." kataku to the poin.
Maichel melirik Haikal seperti mengodekan untuk dirinya meninggalkan Maichel dengan Naya berdua.
Ahh ini lah Maichel, selalu bersikap dingin kepada semua orang. Dasar tujuh pintu kulkas berjalan.
"Apa?" tanya Maichel.
"A-aku.., aku mau kamu batalkan pernikahan itu." ucapku sambil menundukkan kepala, aku tidak berani menatap mata elangnya.
"Gak."
Hufff sangat singkat sekali bukan?
"Aku hamil Maichel!!" ujarku dengan nada sedikit tinggi.
Maichel membelalakkan matanya setelah mendengar ucapan ku. "Gak, dia bukan anak gua."
Sungguh aku tidak bisa menahan air mata. Apa dia lupa dengan apa yang dia lakukan waktu hari itu. Andai saja hari itu tidak terjadi.
"Dia anak kamu, kamu harus tanggung jawab!" aku berdiri dari dudukku dan menatap matanya. Mataku memerah dan tanggisku pecah kekita mendengar ucapannya yang sangat menyakitkan-ku.
"Gua gak bisa tanggung jawab, besok gua udah nikah. Cari cowok di luar sana. Gua duluan." Setelah mengatakan itu Maichel pergi meninggalkan Naya sendiri di taman itu.
Apa yang aku pikirkan benar-benar terjadi, Maichel tidak mau bertanggung jawab malah pergi begitu saja. Kenapa aku di pertemukan dengan laki-laki seperti dia? Apa aku harus menggugurkan anak ini? Tidak mungkin, anak ini tidak salah.
Tanpa aku sadari Haikal mendengar obrolanku dengan Maichel. Laki-laki itu sekarang berdiri di depanku, ia memelukku erat dan mengusap punggungku untuk meredakan tangisanku. Setelah tangisanku mereda, aku menepiskan tangannya yang memelukku dan aku memundurkan langkahku, memberikan jarak.
"Lo ngapain di sini?" tanyaku pada Haikal.
"Gua akan tanggung jawab."
Mendengar itu, aku menatap tidak percaya pada Haikal. Ini bukan anak dari darah dagingnya. Bagaimana ia mau bertanggung jawab.
"Gua yang akan tanggung jawab, gua mau lo nikah sama gua. Lo mau kan, Nay?" tanya Haikal, tangannya menyentuh bahuku.
Aku tidak tau harus jawab apa. Aku hanya menatap matanya lalu menundukkan kepalaku. "Aku tidak tau harus menjawab apa."
"Kalau lo gak tau harus jawab apa, gua aja yang jawab dan jawabannya Iya, lo mau nikah sama gua."
Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya Haikal, aku wanita kotor yang di buang begitu saja. Mungkin orang lain akan merasa jijik pada diriku, namun Haikal? Laki-laki itu bersedia menikahi ku yang kotor.
"Terimakasih, Haikal. Aku akan belajar mencintaimu, dan tolong bantu aku." ucapku lalu masuk kedalam pelukannya.
"Aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku."
Akhrinya 6 hari setelah itu aku melaksanan pernikahan kecil-kecilan dengan Haikal. Sebelum pernikahan orang tua Haikal sempat mereasa kecewa terhadap Haikal menghamili Naya, tapi itu bohong. Maichellah yang menghamili Naya. Setelah berhari-hari orang tua Haikal mulai bisa menerima kedatangan Naya dengan cucu mereka.
"Terimakasih Tuhan, aku tau engkau memberi jalan yang terbaik untuk aku dan anaku. Aku sangat berterimakasih telah di pertemukan dengan Haikal, dan aku janji akan mengurus keluarga kecilku."
-Naya
"Terimakasih Tuhan, aku dan Naya akan merawat anak ini walau dia bukan darah dagingku. Aku akan merawat dan menjaga mereka dengan sangat baik. Terimakasih Naya, saya mencintaimu."
-Haikal
Pada akhrinya Naya bahagia bukan dengan Maichel melainkan dengan Haikal.
___________________
A STORY BY @Anggik
___________________
--------------------------
| Di like, komen ya🧸🤎 |
--------------------------