Pilihanmu menentukan akhir cerita yang kau baca.
***
Setiap malam purnama tiba, seluruh penduduk kota akan mengunci pintu rumah rapat-rapat. Semua tirai dibentangkan menutup jendela. Sedangkan para penghuninya akan bersembunyi di balik selimut sambil berharap dapat melewati malam ini dengan selamat.
Konon pada setiap malam purnama, akan ada sosok misterius yang mengetuk satu jendela rumah di kota. Sosok itu memiliki rambut cokelat keriting dan berkacamata. Mengenakan jubah hitam berkerah dan sarung tangan putih bak drakula. Juga topi hitam kecil di kepala.
Verish, demikian para penduduk memanggil sosok itu. Katanya, pada jendela yang diketuk Verish, maka tirai yang menutupinya harus disingkap dalam 10 menit. Jika lewat atau tidak sama sekali, maka jangan harap penghuni ruangan itu dapat bernapas lagi saat matahari terbit.
Namun kau tidak pernah menyangka bahwa sosok yang dibicarakan semua orang itu sungguhan. Ketika mendengar suara langkah di luar jendelamu, kau pikir itu pencuri.
Kau kembali mengerjap, berharap sosok berjubah hitam di depanmu hanya ilusi dan menghilang begitu membuka mata. Namun nihil. Sosok itu masih di sana sambil memegangi 2 buah kartu remi. Seketika sapu yang kau bawa pun terjatuh.
"Pilihlah." Kau terlonjak ke belakang tatkala tiba-tiba suara berat meluncur dari bibir tipis itu. Kau dapat merasakan dingin yang menjalar di seluruh tubuh.
Tangan kiri Verish menunjukkan kartu Joker hitam. Sedangkan terdapat kartu Raja Keriting di tangan satunya.
Pilihan mana yang akan kau ambil?
a. Kartu Raja Keriting
b. Kartu Joker Hitam
c. Tidak memilih sama sekali
d. Memilih kedua kartu sekaligus
***
[Jika kau memilih kartu Raja Keriting]
Pandanganmu seketika terbutakan oleh sinar putih dari kartu Raja Keriting yang kau tunjuk dari kaca jendela. Namun entah bagaimana, kau menyadari tanganmu tengah menggenggam sesuatu yang sangat berat.
Kau memberanikan diri membuka mata dan menunduk. Ternyata kau menggenggam sebuah pedang besi panjang dengan ujung runcing. Tak lupa baju zirah yang membungkus tubuhmu.
Srang....
Kini tidak lagi. Barusan pedang panjang itu dibuat melayang oleh pedang lainnya.
Kau menoleh cepat ke depan. Manikmu memantulkan bayangan sebuah pedang yang hendak membelah tubuhmu menjadi 2 bagian.
Kau refleks melompat ke belakang, tengkurap, dan meraih pedangmu yang terjatuh.
Sriingg. Seolah sudah mengayunkan pedang selama berpuluh tahun, kau mampu menghalau serangan berikutnya dengan lincah, melompat ke kanan, kemudian menebas leher orang yang menyerangmu. Dalam hitungan detik, kau dan pedangmu sudah ikut serta meramaikan suasana perang di padang gurun.
Semakin lama kakimu menari di antara kerumunan orang berzirah, semakin mual perutmu karena anyir yang begitu menusuk penciuman. Matamu mulai lelah akan cairan merah yang terus menghiasi pemandangan.
Namun kau sadar, jika bukan mereka, maka cairan merah itu akan berasal darimu. Semakin dalam kau menyadari itu, kekuatan yang kau salurkan dalam pedangmu semakin bertambah.
Akhirnya, pedangmu berhasil menembus zirah salah satu prajurit musuh di sana. Prajurit terakhir yang bertahan bersamamu. Cairan merah kental memercik ke baju zirahmu seiring gerakan menarik pedang yang menancap itu.
Kau menatap sekitar, pada orang-orang berzirah yang tak lagi bernyawa. Setetes cairan bening mengalir di kedua pipimu.
Kau mengira semua sudah selesai dan kaulah pemenangnya. Sampai kemudian kau dapat merasakan sesuatu menembus punggung dan dadamu dari belakang.
Rupanya masih ada satu prajurit lagi yang tersisa, dan nyawamu melayang di tangannya.
***
[Jika kau memilih kartu Joker Hitam]
Pandanganmu berubah menjadi gelap begitu telunjukmu memilih kartu Joker Hitam dari kaca jendela. Begitu kau membuka mata, ruangan temaram dengan sebuah panggung bundar di tengah menyambut.
Kau memijat pelipismu yang terasa pusing. Melihat piyama yang masih kau kenakan membuatmu teringat tadi kau masih di kamar. Sampai kemudian sosok "Verish" itu muncul di jendelamu.
Tiba-tiba lampu sorot di atas panggung dinyalakan, memperlihatkan seorang badut berpakaian gelap yang entah muncul dari mana berdiri di sana. Badut itu melompat dan mendarat tepat di depanmu, sambil melakukan akrobat dengan lima buah bola kecil warna-warni.
"Kau... mau... hidup...?" Tubuhmu merinding mendengar suara di balik topeng putih itu. Ragu-ragu kau mengangguk.
Badut itu tidak bicara banyak, melempar salah satu bola yang sedang dia mainkan padamu. Kau menangkapnya, sebuah bola berwarna kuning.
Badut itu melakukannya lagi. Kali ini dua bola sekaligus, merah dan biru. Kemudian sekali lagi dengan dua bola terisa, hijau dan orange. Kau refleks menangkap semua bola itu dengan sempurna.
Badut itu mundur beberapa langkah. "Jika kau berhasil melempar satu bola saja ke tubuhku, kau hidup. Jika gagal, kau mati," ucapnya dengan kepala yang patah-patah dimiringkan.
Meski tidak terlalu yakin, tapi kau masih ingin hidup. Ragu-ragu kau melempar bola berwarna kuning ke arah badut itu.
Tap. Dalam sekali percobaan bola yang kau lemparkan berhasil mengenai dada badut itu. Namun bola itu tidak terjatuh, melainkan menancap di sana. Setelah kau perhatikan, terdapat paku panjang menancap di bola warna-warni itu. Entah sejak kapan.
Badut itu tersungkur beberapa detik kemudian. Seketika tubuhmu bergetar dan empat bola lainnya kau jatuhkan. Tanpa pikir panjang kau berlari mendekati badut yang berlumuran anyir itu dan menanyakan keadaannya.
Badut itu memberi isyarat agar kau mendekat dengan tangannya yang gemetar. Kau menurut.
"T-terima kasih. Sekarang... kau bisa hidup... sebagai Joker menggantikanku di sini.... Sekarang... biar aku yang menggantikanmu hidup di duniamu...." Kau membelalak. "Sayang sekali, ya.... Padahal kalau kau diam sampai... waktu habis... kau bisa kembali ke duniamu dengan selamat...."
Tangan yang gemetar itu terjatuh seiring nyawanya yang melayang. Seketika air mata membasahi kedua pipimu dan kau meraung penuh kepiluan dalam ruangan temaram, seorang diri.
***
[Jika kau sama sekali tidak memilih kartu]
Kau spontan kembali membentangkan tirai biru itu, kemudian melompat ke dalam selimut. Kau menggeleng. Itu hanya ilusi! Verish itu tidak ada!
Meski demikian, kau tak dapat mengatur jantungmu yang terus berdetak cepat. Menit demi menit berlalu, kini bantalmu sepenuhnya basah oleh peluh. Matamu untuk kesekian kali melirik jam bundar di dinding, tinggal 10 detik sampai genap 10 menit sejak suara ketukan tadi terdengar.
10...
9...
8...
7...
6...
5...
4...
3...
2...
1...
Tik. Genap sudah 10 menit.
Tawa patah-patah meluncur dari bibir yang kedua sudut bibirnya terangkat. Kau menutup mata dengan telapak tangan. Sudah kau duga, Verish itu tidak nyata! Besok kau harus memberi tahu semua orang di kota agar kebodohan mengenai "Verish" ini dihilangkan.
Kau menghela, hendak kembali melanjutkan tidur. Namun ketika kau menurunkan tangan dan membuka mata, sosok berambut keriting itu sudah berada di atas tubuhmu. Kau juga dapat merasakan sarung tangan lembut yang sosok itu kenakan menekan lehermu. Kemudian mulutmu yang entah sejak kapan penuh dengan kartu remi, membuat napasmu tercekat. "Kenapa kau tidak memilih?" suara berat penuh penekanan itu memenuhi pendengaranmu.
Keesokan harinya, bendera duka berkibar di atap rumahmu.
***
[Jika kau memilih kedua kartu bersamaan]
Kau tidak bisa memilih, karenanya masing-masing telunjukmu menunjuk satu kartu dari kaca jendela. Samar-samar kau menangkap sudut bibir sosok berjubah hitam itu terangkat. Seketika kepalamu terasa pusing dan pandanganmu memburam, hingga akhirnya yang kau lihat hanyalah hitam.
Entah berapa jam berlalu sejak saat itu, kau membuka mata. Kau tersadar kini tubuhmu tergeletak di lantai dekat jendela. Kau juga dapat mendengar suara ibumu yang tengah menggedor pintu karena kau tidak kunjung bangun meski hari ini tanggal merah. Namun anehnya, kau tidak ingat bagaimana kau yang semalam tidur di ranjang dapat berakhir di sana.
Selamat! Kau berhasil melewati malam "Jendela Verish" hidup-hidup!