Tap.
Tap
Tap.
Terdengar helaan berat seolah menyiratkan esok adalah hari terakhir hidupnya. Langkah demi langkah yang menggema seiring anak tangga berpilin yang dinaiki.
Jemari halus itu menyusuri dinding bata kasar di sebelahnya. Sepasang manik hijau mengarah pada sebuah pintu kayu yang menjadi tujuan tangga ini.
Klek.
"Kau, datang lagi?" Sebuah wajah masam menyambut begitu pintu kayu itu terbuka. Tepatnya, 'dipaksa' dibuka.
Gadis bersurai ungu itu menutup pintu, kemudian melompat duduk ke sofa merah tempat seorang pangeran membaca buku. "Meski kedua kastil kita memiliki alat teleportasi yang selalu terhubung, tidak baik jika..."
"Anda tidak bosan belajar terus, Pangeran Feng?" ujar gadis itu sambil mengintip sekilas isi buku yang dipegang pemuda itu, tidak menghiraukan ucapan yang meluncur dari bibirnya.
Ah. Mendengar cara gadis itu memanggilnya, manik hijau gelap itu menyipit. Dapat membayangkan kira-kira apa yang baru terjadi pada putri Kerajaan Xing itu.
"Aku adalah putra mahkota, Tuan Putri. Jadi sudah tugasku untuk belajar demi rakyatku," jawab pemuda itu tegas, kemudian berjalan ke dekat jendela, "dan bukan salahku juga kalau ayahmu begitu tertarik padaku."
Pipi gadis berusia 15 tahun itu menggembung, menatap kesal senyum angkuh yang terlukis di wajah tampan itu. "Makanya, jadilah malas sedikit wahai Yang Mulia Putra Mahkota. Setidaknya jangan sampai menarik perhatian raja kerajaan lain dan memaksa putrinya untuk menikah denganmu," ucapnya penuh frustrasi, berbaring di sofa panjang tempat pangeran itu duduk tadi.
Pemuda berambut jingga itu tersenyum miring, mengangkat kedua tangan. "Bukan salahku kalau aku memang sekeren itu," ucapnya tak acuh.
Kerajaan Xing dan Kerajaan Feng adalah dua kerajaan yang memiliki hubungan baik sejak 500 tahun lalu. Namun meski demikian, keduanya bak langit dan bumi.
Kerajaan Feng bukan kerajaan yang termakmur, tapi hidupnya rakyatnya serba berkecukupan. Bukan kerajaan dengan wilayah terluas, tapi setiap bangsawan dan rakyat biasa dapat tinggal di tanah yang layak tanpa ada pertengkaran. Bukan pula kerajaan dengan penguasa paling baik hati atau terkejam, apalagi paling bijaksana dan pandai, tapi setiap keputusan sang raja selalu memberi dampak baik bagi rakyat.
Dibandingkan semua itu, Kerajaan Xing bukan apa-apa. Tidak memiliki harta dan rakyatnya pun hidup serba kekurangan. Bahkan raja mereka hanya memiliki seorang putri yang tidak bisa meneruskan takhta.
Pernikahan pangeran dan putri kedua kerajaan itu tentu akan memberi pertolongan besar pada Kerajaan Xing, apalagi keduanya sudah saling mengenal sejak kecil karena kedua raja bersahabat. Meski tentu saja, seorang raja pasti bisa membedakan mana hubungan diplomasi dan mana hubungan pribadi.
Gadis yang mengenakan gaun berwarna biru itu mendengus, memutuskan berjalan ke sebelah pemuda yang adalah musuh sekaligus sahabatnya. "Salju...," gumamnya seiring dingin yang merambat di ujung jari yang menyentuh kaca jendela.
Pangeran Feng di sebelahnya tertawa sinis. "Seperti baru pertama kali melihat salju saja," ujarnya meledek.
Tangan yang semula berada di jendela spontan meninju kepala pemuda itu. Namun manik hijau itu setia terarah ke butiran-butiran kapas putih yang turun bak hujan. "Ayo turun!" ajak sang putri seolah tidak terjadi apa-apa barusan.
Pangeran berambut jingga itu mengusap kepalanya yang terasa panas karena perbuatan sang putri, menggeleng. "Aku sedang tidak ingin bercanda."
Langkah yang hendak kembali ke sofa itu mendadak terhenti tatkala bagian belakang bajunya ditarik. Putra Mahkota itu menggigit bibir. "Erina.... Aku tidak mau bercanda...," ucapnya penuh penekanan, tapi terselip getaran di sana.
Melihat tubuh pemuda itu yang gemetar, kedua sudut bibir gadis itu terangkat.
Buk. Buku tebal bersampul merah itu terjatuh ke lantai marmer.
"Erina Xing!"
"Berisik, Kai Feng!" Gadis itu sekali lagi tersenyum, menatap pemuda yang kini berada dalam gendongan ala bridal style. Jika biasanya "seorang pangeran berkuda putih yang menggendong putri", maka untuk situasi ini akan lebih tepat dikatakan "seorang putri berkuda putih yang menggendong pangeran".
Kecuali untuk bagian "kuda putih" yang tidak benar-benar ada saat ini.
Kini keduanya berada tepat di ambang jendela yang terbuka. Dinginnya badai salju dengan segera membungkus tubuh putri dan pangeran itu. Angin berembus membuat rambut dan pakaian mereka tersibak. Butiran kapas putih sedikit banyak menerobos masuk ke ruangan. Kuatnya angin berembus memenuhi pendengaran.
Ketika sang pemuda kembali hendak memberontak dan meminta diturunkan, setetes air yang mendarat di pipinya membuat pangeran itu tertegun. "E...rina?"
Sang putri menggigit bibir. Padahal dirinya benar-benar bertekad untuk tidak menangis sebelum membawa pemuda di hadapannya pergi dari 'kastil neraka' ini, dari negara yang tidak menginginkannya. "Diamlah, Kai... Feng. Kau pikir, aku tidak tahu... besok kau akan dihukum mati?"
Ya, alasan kedatangan Putri Erina Xing ke puncak kastil Pangeran Kai Feng bukanlah karena Raja Xing kembali memaksanya menikah dengan pangeran. Malah mungkin, dirinya, untuk pertama kalinya, akan sangat bahagia jika itu benar-benar terjadi.
Namun kali ini, gadis itu datang karena sang raja memaksanya memutus hubungan dengan pangeran Kerajaan Feng, pemuda yang sebelumnya begitu beliau ingin sebagai menantu, sekaligus pemuda yang kini dikenal sebagai musuh semua kerajaan di Benua Airlandia atas tuduhan percobaan meracuni raja yang begitu dikagumi orang-orang.
Atau... setidaknya begitulah berita yang beredar.
"Karena itu," air mata terus membanjiri pipi putri Kerajaan Xing hingga mata dan hidungnya merah, membuat pangeran berambut jingga itu ikut menangis, "aku akan membawamu ke tempat aman. Aku tahu... bukan kau orangnya," ucap sang putri dengan suara yang agak dikeraskan.