Tubuhku sakit-sakit semua. Darah mengucur deras dari kepala, hidung dan mulutku. Rasa nyeri tak terperi itu membunuhku. Hanya senyum manis dan wangi tubuhmu yang membuatku tetap terjaga. Tapi entah sampai kapan aku bisa bertahan.
6 Bulan Sebelumnya
Cerah sekali hari ini. Matahari dengan elegannya menampakkan sinar terang penuh kemilau. Semua orang tampaknya bersuka cita ditemani senyuman mentari pagi. Kecuali aku. Entah sial atau memang sudah takdir, aku lahir dari keluarga pemabuk. Ayahku seorang kepala preman pasar yang menikahi anak penjual sayur. Aku lahir genap satu tahun usia pernikahan keduanya.
Usia ibuku 10 tahun lebih muda dari ayah. Paras ibuku sangat manis. Sayang keadaan membuatnya terpaksa menerima pinangan seorang pemuda kasar yang entah telah tidur dengan berapa banyak wanita dalam hidupnya. Saat menikah ibuku masih perawan. Tubuhnya mungil, pembawaannya halus. Karena kakek tak sanggup bayar hutang, ibu menjadi jaminannya. Raut wajahku mirip ibu, sedangkan tubuh dan perawakanku condong ke ayah. Tinggi dengan tubuh penuh otot. Sepintas aku memang mirip anak buah ayah. Dan ayah menyukainya. Dengan bangganya, ayah memperkenalkan aku sebagai penggantinya kelak. Aku membencinya. Aku tak ingin hidup seperti ayah. Alih-alih bekerja membantu ayah, aku diam-diam ikut tes masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Aku berusaha keras hingga mendapat kursi di sebuah Jurusan Ilmu Komunikasi di PTN tersebut. Impianku jelas dan pasti. Aku ingin menjadi wartawan.
Sama seperti hari-hari kelam sebelumnya, dini hari tadi ayah pulang dalam keadaan mabuk berat. Bau mulutnya membuat aku muak. Ibu yang telah terlelap menjadi korban keganasannya. Hanya karena terlalu lelah dan tak mendengar panggilannya, ayah menendang ibu. Rintihan ibu dan tangisnya membangunkanku. Aku terjaga sebentar dan kemudian masuk ke kamar mereka.
Di dalam kamar berukuran 3x3 meter itu kulihat ibu meringkuk kesakitan. Pipinya bengkak, matanya lebam dan bagian pinggir mulutnya mengeluarkan darah. Sontak aku langsung lari menjadi tameng ibu saat ayah hendak memukulinya lagi. Sebuah pukulan keras mendarat diantara tulang pipi dan hidung. Sesaat aku merasa pusing. Tapi insting melindungi ibu lebih kuat dari rasa pusing itu. Aku menangkis pukulan ayah beberapa kali. Kudorong ibu hingga menjauh dari ayah lalu kutendang perut ayah kuat-kuat hingga ayah terjungkal. Ayah pingsan setelah menabrak meja rias. Tak memerdulikan luka-luka di wajah, aku segera memapah ibu dan merawat luka-lukanya.
Hobi ayah minum minuman keras sepertinya sudah mendarah daging hingga sulit dihentikan. Aku dan ibu kerap menjadi korban amukannya. Tak hanya sekali aku mengajak ibu lari dari rumah. Tapi ajakanku selalu ditepis. Ibu khawatir ayah akan menghabisi nyawa kakek jika kami berdua nekat pergi meninggalkannya.
Matahari telah meninggi ketika aku berangkat ke kampus. Hari ini hanya ada satu mata kuliah. Sebenarnya aku tak berniat kuliah karena prihatin dengan kondisi ibu. Tapi ibu berusaha keras menyakiniku. "Sudah kamu berangkat saja, nak. Ayahmu sadarnya paling nanti sore. Biasanya kan begitu. Kalau sudah sadar juga lupa dengan apa yang telah terjadi," tutur ibu lemah.
"Ibu tak apa aku tinggal sendiri?" tanyaku penuh kekhawatiran.
"Gak apa sayang, ibu nanti ngungsi ke rumah sebelah kalau ayahmu kambuh lagi ngamuknya."
"Benar ya bu, janji ya!" tegasku.
"Iya nak," jawabnya lembut seraya mengusap-usap wajahku dengan penuh kasih sayang.
Di kampus, aku terbilang anak yang tertutup. Temanku bisa dihitung dengan jari. Itu juga tak banyak yang tahu tentang keluargaku. Hanya Ismail, sohib yang kupercaya dan paham tentang segala hal yang kualami.
Aku memarkir motor di parkiran kampus dan berjalan pelan menikmati udara yang semakin terik. Dari arah belakang terdengar suara yang sangat kukenal memanggilku.
"Hoi Wira, tumben telat," teriak laki-laki yang baru saja kubathin. "Eh busyet tuh muka kenapa lagi, babak belur begitu," lanjutnya dengan suara lebih pelan sembari menelusuri wajahku.
Aku tak tahu apa yang dimaksud dengan babak belur. Terlalu cemas memikirkan ibu, aku sampai tak memerhatikan diriku sendiri.
"Babak belur bagaimana maksudmu, Il?" tanyaku bingung.
"Sono gih ngaca dulu. Muka lu tuh ye kayak habis digebukin maling," canda Ismail.
Baru saja mau berbalik arah menuju parkiran, maksud hati mau ngaca, tiba-tiba ada suara cewek memanggil namaku.
"Hai, kamu Wira ya? Aku ehh...emm... Santana. Kita satu kelompok tugas mata kuliah Dasar-dasar Jurnalistik," tutur seorang gadis berparas ayu.
Aku menoleh ke pemilik suara, menatapnya dan tertegun. Jujur, aku bingung harus menjawab apa. Dari kecil aku sulit bergaul. Prilaku buruk ayah membuatku tak bisa bersosialisasi dengan baik. Apalagi dengan lawan jenis. Aku benar-benar tak tahu bagaimana harus menanggapi obrolan sederhana itu.
Sembari mendorong bahu kiriku Ismail berkata, "Wir malah bengong, dijawab napa."
"Ah eh ehm...ya terus kenapa kalau sekelompok," jawabku kikuk.
"Yaelah jawabnya gitu banget sih. Kalau lu berdua sekelompok berarti ngerjain tugas barengan," sahut Ismail seakan-akan mewakili gadis bernama Santana.
"Tugasnya dikumpulin minggu ini. Kapan kita mau ngerjain?" tanya gadis itu lagi.
Kata "kita" di telingaku asing sekali. Di kamus keluargaku tak ada istilah itu. Semua otorisasi dan segenap keputusan ada di tangan ayah. Jadi hanya ada "kata ayah harus begini", "harus nurut ayah", "ayah enggak suka"... dll. Berani menentang berarti berani menanggung risiko dihajar habis-habisan.
"Wir, bengong lagi. Udah sarapan belum sih? Gak fokus amat nih hari," timpal Ismail.
"Ya...eh... terserah kamu aja," balasku pelan.
"Boleh minta no HP, nanti aku WA," tutur gadis itu dengan tatapan yang tak bisa kutebak.
"Ya, boleh. 08177776464."
"Oke, nanti kuhubungi ya," tuturnya sambil melangkah pergi secepat datangnya setelah usai menyimpan nomorku di HPnya.
***
Sudah dua hari ini ayah tenang. Rumah sedikit kondusif. Tak ada pukulan. Tak ada teriakan. Tak ada caci maki dan tak ada perabotan yang rusak.
Hari ini selepas kuliah, aku ada janji bikin tugas dengan gadis bernama Santana. Materi-materi pendukung sudah kukumpulkan. Sesuai perkiraan, tak akan makan banyak waktu dalam mengerjakannya. Jadi, aku bisa pulang sore dan menemani ibu.
Perkiraanku ternyata meleset. Sudut pandang gadis itu bertolak belakang sekali denganku. Pemikirannya terlalu rinci. Materi yang sudah kukumpulkan ditolaknya semua. Aku hanya bisa diam membisu. Tak berani, ehm lebih tepatnya, tak tahu bagaimana harus menanggapinya.
"Wira, jangan cuma diam aja dong. Kasih pendapat," ujarnya.
"Eh...terserah Santana aja."
"Panggil Tana ajalah, lebih ringkas."
"Ya, terserah Tana."
"Iih...dari tadi terserah terserah melulu," gerutunya. "Ngomong napa sih, susah amat. Kamu itu kan anak Komunikasi, masa gak bisa komunikasi yang benar."
"Ehm...eh...itu...aku sudah ngasih materi ke kamu, tapi kamu tolak semua," tunjukku ke arah kertas yang sudah diremas-remas hingga membentuk bola tak beraturan.
"Oh maaf ya, isi materimu kuno. Gak kekinian. Cari ide yang lebih fresh yuk, misal sosmed."
"Apa itu sosmed?" tanyaku polos.
"Jiaah...sosmed aja gak tahu. Sosial media Wira. Kamu ngapain dan kemana aja sih ampe gak kenal sosmed."
"Aku sibuk bantu ibu di rumah," jawabku yang membuat Tana sedikit terkejut.
"Kamu 'anak mami' ya?"
"Maksudmu?"
"Kirain tampang garang gitu premanan eh gak tahunya anak mami," ujarnya ceplas-ceplos.
"Garang?"
"Iya, kamu gak nyadar apa? Tuh muka isinya luka ama memar. Anak-anak pada ngira kamu preman hehehe...," enteng sekali dia mengucapkannya. Padahal butuh waktu bertahun-tahun untukku menyembunyikan identitas keluarga. Jati diri ayahku khususnya.
"Oh gitu ya."
"Anak-anak cewek seangkatan kita gak ada yang berani deketin kamu tauk."
"Kamu gak takut?"
"Gaklah...ehm...takut sih awalnya, pas udah ngobrol ternyata kamu gak segarang mukamu. Jadi biasa aja tuh," jelas Tana sambil tersenyum.
Selain ibu, tak ada wanita lain yang sudi tersenyum padaku. Karena itu, memandang garis tipis yang membingkai bibir Tana dan cekungan samar di pipi kanannya, hatiku tergerak. Ada perasaan asing yang tak kukenal sebelumnya. Aku terpesona dan menikmati perasaan baru tersebut.
Tanpa kusadari bibirku pun ikut ketarik ke samping. Tapi bukan senyuman yang terwujud, melainkan sunggingan. Tana tertawa melihatnya.
"Lah bisa nyengir juga. Kirain tuh muka cuma bisa lempeng aja kayak jalan tol," sahut Tana ringan.
***
Hubunganku dengan Tana semakin erat. Kami saling bertutur sapa melalui WA. Tak jarang juga dia nelpon. Hatiku menghangat. Batu es yang semula mendekam lama di sanubari mulai mencair. Kuantitas teman di kampus meningkat. Walau peningkatannya tak sepesat indeks IHSG, tapi aku diperhitungkan sebagai mahasiswa di jurusanku. Ismail tampak lega karenanya. Setidaknya dia bisa menitipkan aku pada Tana dan fokus pada kuliahnya yang memang beda jurusan denganku.
Tugas mata kuliah 'Dasar-dasar Jurnalistik' sukses berkat ide cemerlang Tana. Poin AB layak kami kantongi. Kesuksesan itu pula yang membawa kami pada relasi yang lebih dekat lagi. Tana senang mengajak aku diskusi. Lokasinya kerap berpindah-pindah. Kantin, perpustakaan, aula, ruang kuliah hingga warung nasi fenomenal di kampus.
Awalnya, aku tak nyaman berada si tengah kerumunan. Sedari kecil, aku penyendiri. Tapi anehnya sejak bergaul dengan Tana, keberanianku sedikit demi sedikit muncul. Obrolan mulai muncul dengan luwesnya dari bibirku. Rasa canggung dan kikuk kala bertemu orang perlahan berkurang.
Enam bulan sudah aku mengekor Tana. Dalam jangka waktu satu semester, aku hampir mengenal semua orang di sekelilingnya. Tak luput keluarga inti Tana yakni kedua orangtua dan kedua kakak laki-lakinya. Sebaliknya, Tana belum aku perkenankan mengenal kedua orangtuaku. Terlebih ayahku. Aku terlalu takut dia akan terluka bila sampai bertemu ayah.
Untuk mengurangi beban ongkos, Tana sering bonceng aku minta diantar pulang. Tak pernah terbersit dalam anganku kalau kebiasaan itu ternyata punya maksud tersembunyi. Dan aku baru mengetahuinya sore ini ketika mengantarnya pulang. Di depan pagar rumahnya, kak Tom, kakak pertama Tana menyambut kedatangan kami. Sembari tersenyum jahil dia berkata,
"Assiiik... yang lagi kasmaran, susah deh ya dipisahkan. Kemana-mana berduaan aja, nempel mulu kayak double tape."
Aku yang kurang tanggap tak paham dengan ucapan kak Tom dan diam mematung sambil berusaha mencernanya berulang kali. Kebalikan denganku, Tana malah kelihatan salah tingkah dan tersipu malu. Aku sempat melirik ekspresinya dari ekor mataku.
"Apaan sih kak, gak penting amat sih," ujarnya.
"Gak penting gimana. Super penting tauk, akhirnya adikku punya pacar juga," gelak kak Tom diiringi tawa. "Ya udah kakak pergi dulu ya. Eh, ati-ati di rumah sendirian. Papa mama pergi, kalian jangan nakal ya."
"Iih...reseh banget sih. Cepet gih pergi," sahut Tana sembari mendorong kakaknya ke arah pagar.
"Iya...iya...gak sabaran amat sih. Emang mau ngapain kalian nyuruh kakak cepat-cepat pergi hah? Awas ya Wir, kalau berani macem-macem!" ancam kak Tom setengah bercanda setengah serius. Mendengar gertak sambal kakaknya, wajah Tana semakin merona menahan malu.
"Kaaaakaaaaaakkk....," jeritnya. Kak Tom terkekeh-kekeh melihat reaksi adik bungsunya. Lalu melangkah ke garasi, menaiki motornya dan dalam sekejap pergi meninggalkan kami berdua dalam keadaan canggung.
Tak seperti biasanya, Tana berbicara tergagap-gagap padaku. Ia mempersilakan aku masuk ke ruang tamu. Tapi instingku menolaknya. Aku sudah hendak pamit tatkala hujan turun dengan derasnya. Aku terpengarah. Apakah langit berkehendak aku berduaan saja di rumah Tana? Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku nekat menembus hujan demi menjaga pertemananku dengan Tana?
"Ehm..Wira, kamu mau minum apa? Hangat atau dingin?" tanyanya mengusir pikiran kusutku.
"Terserah kamu aja. Atau aku pulang saja deh."
"Lha kok pulang, hujan deras lho."
"Gak apa-apa, aku bawa mantel."
"Oh gitu, ya sudah kalau kamu mau pulang," ucap Tana kecewa.
Sengaja tidak mengubris nada kecewa dalam suara Tana, aku menghampiri motor, membuka bagasi dan lagi-lagi terperangah melihat isi bagasi motorku yang kosong melompong. Kok bisa mantel hujanku raib. Siapa yang mengambil? Masa pencuri menaruh minat pada sehelai mantel hujan usang yang bahkan bagian bahu bolong terkikis waktu. Aku bingung. Apakah semesta sengaja bersengkokol agar aku bisa duduk manis berduaan dengan Tana di ruang tamu rumahnya?
"Kenapa lagi Wira? Ada yang gak beres?"
Satu-satunya hal yang tak beres saat ini adalah detak jantungku. Debarannya lebih kencang dari biasanya. Aku tambah gugup. "Ini...ehm...jas hujanku gak ada."
Anehnya, Tana malah tersenyum lega. Sepertinya dia tak rela aku pergi meninggalkannya. "Ya sudah kalau gitu tunggu hujannya reda dulu aja. Yuk masuk, aku bikinin minum," ajaknya lembut.
Aku duduk di sofa tunggal yang sangat empuk di ruang tamu rumah keluarga Tana. Rumahnya sendiri cukup luas dan terasa nyaman. Perabotan tertata rapi, tak ada yang lecet dan bersih. Benar-benar cerminan tempat tinggal ideal.
Tana datang dengan baki berisi dua gelas minuman dingin. Ia berdiri di sampingku, membungkuk sedikit dan menaruh gelas di meja di hadapanku. Kejadian selanjutnya berlangsung sangat cepat dalam hitungan detik. Sesudah menawariku untuk minum, dia berpaling lalu entah bagaimana kakinya tersandung kaki meja. Akibatnya bakinya terlempar ke udara dan mendarat di karpet alas ruang tamu. Karena refleks yang telah terasah sejak kecil, aku bangkit berdiri bermaksud ingin memegang tangannya agar tak jatuh namun justru pinggang rampingnya yang tergapai oleh kedua tanganku. Bisa dibayangkan posisi kami selanjutnya seperti apa. Ya, tepat sekali. Kami terlihat sedang berpelukan erat. Payudara Tana menempel di dadaku. Aku bisa merasakan kelembutannya dan itu membuat benda di bagian pangkal pahaku mengeras. Aku tak mau Tana sampai mengetahuinya. Cepat-cepat kulepaskan tanganku dan perlahan kudorong tubuh Tana agar menjauh.
Tapi reaksi Tana justru sebaliknya. Gadis itu tetap memelukku. Pelukannya semakin erat manakala kudorong menjauh. Aku bisa mencium wangi rambut dan tubuhnya. Ah, benda di bawah perutku bertambah keras. Aku malu. "Tana, tolong lepaskan," pintaku dengan suara parau.
"Aku...aku...suka kamu, Wira."
Mendengar pengakuan Tana, debaran jantungkun semakin tak menentu. Pengalaman ini asing bagiku. Begitu juga perasaan hangat yang menjalar di dadaku. Aku menikmatinya. Dan untuk pertama kali dalam hidup, aku tersenyum bahagia.
Masih dalam keadaan memelukku, Tana bertanya, "Kamu kok diam saja. Apa kamu tak menyukaiku?"
Aku trenyuh dengan kata-katanya dan membalas pengakuannya dengan memeluknya. "Aku juga suka kamu. Maaf aku diam karena gak percaya, bagaimana bisa gadis secantikmu suka pada cowok kasar sepertiku."
Dia menengadahkan kepalanya dan berkata lagi dengan lembut, "Kamu sama sekali gak kasar kok. Aku suka kamu. Kamu orangnya baik dan sangat perduli. Aku sayang kamu, Wira."
Terhanyut oleh kata-kata manis penuh cinta dari Tana, aku mendekatkan bibirku ke bibirnya. Aku sempat ragu-ragu sejenak. Tapi bibir Tana siap menerima kecupanku. Matanya terpejam. Tampak bulu matanya yang lentik. Cantik sekali. Aku pun pelan-pelan mengecup bibirnya. Dia membalasnya dan kedua bibir kami saling mengulum. Aah...indahnya rasa ini.
Ciuman kami semakin memanas. Aku terengah-engah. Begitu pula Tana. Tanpa kusadari tanganku menjalar ke bagian dalam kaos Tana. Aku merasakan betapa mulus kulitnya. Tana mendesah. Desahannya merangsang nafsuku. Tanganku merayap naik sampai ke gundukan lembut payudaranya yang tertutup bra. Kudengar Tana mengerang. Aku lalu menyelipkan tanganku ke dalam bra-nya, kuremas dan kusentuh puncak payudaranya yang telah mengeras. Aku ikutan mengerang. Kakiku mendadak lemas. Aku terhuyung dan bbruuukkk... kami berdua terjatuh ke sofa. Hempasan tubuh kami di sofa menyadarkanku. Pelan-pelan aku bangkit berdiri dan sengaja memasang jarak dari Tana. Gadis yang kuketahui sangat berarti dalam hidupku itu terlihat terkejut. Dia juga bangkit berdiri dan membenarkan posisi bra-nya yang sempat terbuka sebelah. Aku jadi merasa bersalah.
"Tana, maaf. Aku gak bermaksud melakukannya. Maaf tadi itu semua spontan, aku juga gak tau kenapa bisa terjadi," ucapku salah tingkah sambil menggaruk-garuk kepala.
"Eehh...gak apa-apa kok. Aku juga minta maaf. Aku...aku...duuh...kamu pasti ngira aku cewek gampangan ya. Tapi ini juga pengalaman pertama bagiku," ujarnya kikuk. Pipinya bersemu merah. Bibirnya masih terlihat basah akibat ciuman tadi. Aku maju mendekatinya lagi. Kuselipkan seuntai rambutnya yang terjulur di sisi sebelah kanan ke bagian belakang daun telinganya.
"Bagiku, kamu gak gampangan kok. Kamu cewek baik-baik. Aku menyayangimu. Kamu cinta pertamaku. Makasih ya sudah mau menyukaiku. Sebaiknya aku pulang ya. Hujannya udah berenti. Aku juga takut gak bisa mengontrol diriku kalau kelamaan berduaan denganmu."
Tana tersenyum mendengarnya. Dia memelukku dan berkata, "Aku suka aja melakukannya asal denganmu. Aku sayang kamu, Wira."
"Aku juga." Kali ini aku mengecup lembut dahinya, memeluknya erat dan pamit pulang. "Aku pulang ya. Sampai besok."
"Ati-ati yang sayang. WA aku kalau sudah sampai rumah."
Tana mengantarku hingga ke pintu pagar rumahnya. Dia tak pernah mengalihkan perhatiannya dariku sedetik pun. Aku tersenyum melihatnya. Aku bahagia. Namun tak pernah terbersit jika kebahagiaanku ini akan menjadi satu-satunya dan yang terakhir.
Sesampainya di rumah, aku melihat keributan. Radius 5 meter dari depan rumah terjadi perkelahian massal. Ada sekitar 30 orang saling baku hantam. Separuhnya kukenal sebagai anak buah ayah. Separuhnya lagi tak kukenal. Batu-batu beterbangan ke arah rumah. Aku mendengar teriakan seorang wanita yang dari suaranya kukenal itu suara ibu. Secepat kilat aku berlari ke arah rumah dan berusaha masuk ke dalam. Mataku nanar melihat sekeliling mencari sosok ibu. Aku teriak memanggil namanya. Tiba-tiba pintu kamar kedua orangtuaku terbuka dan lima orang laki-laki dewasa menghambur lari ke arah luar. Aku kaget. Buru-buru aku masuk ke dalam dan melihat pemandangan paling mengerikan dalam sejarah hidupku. Ayah terkulai dan bersimbah darah. Tubuhnya diikat di kursi. Sedangkan ibu tergolek tak berdaya di atas ranjang. Tubuhnya bugil dan kulihat darah bercucuran dari organ vitalnya. Aku segera menghampirinya. Perasaanku tak menentu. Aku kalut melihat kondisi ibu. Kupanggil-panggil namanya tapi tak ada balasan. Kubalut tubuhnya yang penuh memar dengan seprai yang berantakan. Aku menangis sejadi-jadinya. Penuh amarah dan benci, aku berlari keluar mencari lima orang pelaku yang wajib mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Di luar, perkelahian sengit masih berlangsung. Aku meraih sebongkah kayu yang teronggok tak jauh dari sisiku. Membabi buta aku menghantam-hantamkan kayu itu ke orang-orang yang terlibat tawuran tanpa kecuali. Tiba-tiba pelipisku terasa nyeri. Kepalaku pusing. Darah merembes melalui pelipis yang terasa nyeri. Pandanganku sempat kabur. Keadaanku yang tak stabil itu rupanya dimanfaatkan segelintir orang. Brak...bruk...brak...bruk... tubuhku dihantam kayu, bambu dan benda keras lainnya. Aku tak sempat membela diri. Pukulan bertubi-tubi menempa tubuhku. Aku terjatuh. Tubuhku yang semula terasa nyeri remuk redam hingga mati rasa mendapat pukulan, tendangan dari kerumunan orang yang sudah tak bisa kukenali lagi satu per satu. Tiba-tiba bayangan indah yang kualami bersama Tana muncul kembali. Wangi rambut, kulit mulus, senyum manisnya memenuhi pikiran dan merasuk sanubariku. Sebelum pandanganku gelap gulita, aku senang bisa melihat senyum cantik kekasihku untuk yang terakhir kali. Meski hanya dalam hati.
***
Epilog
Setahun berlalu sejak tragedi yang mengerikan itu terjadi. Pagi ini aku bersiap diri pergi ke suatu tempat. Ismail telah menanti di depan pagar rumahku.
Air mataku masih merebak tatkala mengingat pengalaman indah kami berdua. Aku sangat merindukan sosoknya. Aku merindukan senyum simpulnya. Aku ingin berlari memeluk tubuhnya. Menyembuhkan semua luka-lukanya yang telah bersemayam lama di hati.
"Sudah siap?" tanya Ismail.
"Ya," jawabku singkat.
"Yuk, pergi."
Kami tiba di pemakaman umum. Ismail berjalan di depanku. Ia menuntunku menuju sebuah nisan yang ingin kukunjungi. Pandanganku kembali dipenuhi air mata ketika sampai pada nisan yang kutuju. Kubersihkan dengan penuh kelembutan nisan itu, kupanjatkan doa dan kutabur bunga. Ismail berusaha menenangkanku.
Tak lama aku pamit undur diri pada nisan yang dihiasi nama 'Wirawan bin Kasim' itu sambil membisikkan kalimat, "Aku mencintaimu Wira dan sangat merindukanmu."
***tamat***