Di sebuah desa terpencil terselimuti salju hampir sepanjang tahun.
Satoshi pemuda berusia 25 tahun tinggal seorang diri di desa tersebut sebagai satu satunya pengrajin boneka porselen.
Pagi itu Satoshi tengah menunggu paket yang dia pesan beberapa bulan lalu. Jarak desa yang begitu jauh dari kota ditambah cuaca yang selalu bersalju membuat jalan sulit untuk dilewati menjadi penyebab paket Satoshi begitu lama sampai.
Menunggu adalah hal yang paling menyebalkan, tapi sadar tidak ada yang bisa dia lakukan Satoshi hanya bisa bersabar.
“Besok mungkin koleksiku akan lengkap.” ucap Satoshi sambil memandangi koleksi kupu-kupu yang dia pajang di tokonya sebagai hiasan.
Ada tempat kosong pada tempat koleksi itu yang merupakan tempat untuk kupu-kupu terakhir.
Kupu-kupu terakhir merupakan paket yang selama ini Satoshi tunggu.
Saat menjaga toko sambil menikmati koleksi kupu-kupu miliknya, datang Sayaka wanita 30 tahun yang merupakan seorang janda yang ditinggal mati suaminya setengah tahun lalu.
Kedatangan Sayaka bermaksud untuk mengambil boneka porselen yang dia pesan. Mendengar itu Satoshi segera mengambil boneka yang telah dia buat, namun Sayaka segera meminta Satoshi untuk mengantar ke rumahnya.
“Kenapa dia tidak membawa sendiri boneka ini?.” pikir Satoshi.
“Mungkin dia lupa membawa uang.” ucapnya didepan boneka porselen kesayangannya.
Setelah mengambil boneka porselen yang Sayaka pesan, Satoshi segera menutup toko dan bergegas menuju rumah Sayaka.
“Okie, aku keluar akan keluar sebentar untuk mengantar pesanan.” tidak lupa Satoshi berpamitan dengan boneka porselen kesayangannya.
Di sepanjang jalan Satoshi dengan mudah menjumpai selebaran pencarian anak hilang yang tertempel di berbagai tempat. Satoshi merasa tidak nyaman saat melihat selebaran itu yang membuatnya semakin mempercepat kakinya.
Sesampainya dikediaman Sayaka, Satoshi berencana untuk segera menyelesaikan transaksi dan kembali ke rumah. Tapi Sayaka terus memintanya untuk tinggal sebentar untuk menikmati teh. Kemudian karena terus dipaksa Satoshi pun menerima ajakan itu.
“Kau tahu seorang pria diusia mu tidak baik untuk tetap sendiri.” Sayaka yang bersikeras untuk mengajak Satoshi minum teh bersama ternyata memiliki maksud lain.
Wanita itu menawarkan diri untuk dijadikan sebagai istri Satoshi. Tapi Satoshi sama sekali tidak memiliki perasaan pada janda itu.
“Maaf…” hanya satu kalimat yang Satoshi berikan sebagai jawaban sebelum dia pergi meninggalkan rumah Sayaka.
Di sepanjang jalan pulang Satoshi sedikitpun tidak merasa bersalah meninggalkan Sayaka begitu saja. Yang dia inginkan hanya segera pulang dan menunggu paketnya.
Tapi perhatiannya teralihkan saat mencium bau lezat dari kedai ramen langganannya. Ingat jika dia belum makan siang, Satoshi pun menyempatkan diri untuk mampir.
Sama seperti tempat lainnya didalam kedai pun terdapat poster pencarian anak hilang yang membuat Satoshi tidak nyaman melihatnya. Tapi karena terlalu lapar Satoshi mencoba tidak menghiraukan perasaannya dan tetap menikmati ramen yang dia pesan.
Usai menikmati ramen, Satoshi segera pulang karena tanpa sadar hari sebentar lagi berganti malam.
***
Hari berikutnya Satoshi kembali menunggu paket di toko. Dia terus menatap koleksi kupu-kupu yang tidak kunjung lengkap, hingga tokonya kedatangan seorang pelanggan pertama hari ini.
Pelanggan kali ini adalah seorang nenek tua yang mengatakan jika boneka porselen dirumahnya telah rusak akibat cucunya yang baru datang dari kota.
“Bisakah kau membetulkannya?.”
“Tentu, aku akan ke rumah anda segera.”
Mendapatkan permintaan, Satoshi bergegas menutup toko. Tidak lupa sebelum pergi dia berpamitan pada boneka porselen kesayangannya.
Satoshi sangat menyanyi boneka porselen setinggi 149 centimeter itu dan menganggapnya bukan sekedar benda mati. Satoshi menganggap boneka porselen bernama Okie itu seperti adiknya sendiri.
Tiba di rumah nenek sebelumnya, Satoshi segera memeriksakan keadaan boneka porselen yang harus dia perbaiki. Pemuda itu menjadi kesal saat melihat keadaan boneka porselen yang dulu dia buat.
“Haaah…. Anak-anak jaman sekarang memang tidak mengerti betapa berharganya benda seperti ini.” ucap Satoshi yang mencoba menenangkan diri.
Di desa ini masih mempercayai hal-hal mistis seperti menyimpan benda-benda khusus akan mendatangkan kemakmuran dan nasib baik. Salah satu dari benda pembawa keberuntungan yang dipercaya warga desa adalah boneka porselen yang Satoshi buat.
“Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja menjatuhkan Boneka itu.” tiba-tiba terdengar suara dari belakang Satoshi. Itu adalah suara cucu perempuan pelanggannya.
Wajah asing bagi Satoshi yang mengenal semua penduduk desa kecil tempat dia dilahirkan.
Namun tidak lama untuk Satoshi merasa familiar dengan wajah perempuan itu. Tapi dia tidak ingat siapa dia.
“…ah maaf aku tidak bermaksud menyalahkan mu.” tersadar dari lamunannya Satoshi segera mengemas seluruh pecahan boneka porselen yang akan dia perbaikan.
Sesampainya di rumah Satoshi masih merasa sesuatu yang aneh, dia merasa dadanya berdegup kencang semenjak pertemuannya dengan perempuan tadi.
“Akh sial karena terlalu panik membuatku lupa menanyakan namanya.” Satoshi begitu menyesal karena buru-buru meninggalkan rumah nenek pelanggan.
“Aku merasa pernah bertemu dengannya tapi entah dimana.”
Satoshi kemudian mulai mengerjakan perbaikan boneka porselen didalam ruangan pribadinya Diman Okie berada. Selama dia berkejaran, Satoshi terus mengajak Okie mengobrol yang tentu saja tidak ada balasan dari benda mati itu.
Dengan teliti Satoshi melakukan pekerjaannya, satu persatu pecahan porselen disatukan lalu direkatkan dengan lem, kemudian bekas retakan dia tambah lalu dihilangkan dengan cat baru.
Beberapa jam berlalu, boneka porselen yang sebelumnya pecah menjadi beberapa keping sekarang telah diperbaiki dengan sempurna, itu terlihat seperti boneka baru tanpa sedikitpun goresan yang tersisa.
“Oke cukup untuk hari ini, selamat malam okie.”
***
Hari berikutnya Satoshi masih menunggu kedatangan paketnya, namun bukan hanya itu. Pemuda itu berharap dapat melihat lagi wajah perempuan kemarin.
“Dia benar-benar cantik.” gumamam Satoshi mengingat pertemuannya dengan perempuan yang terus muncul dalam pikirannya.
Seolah dewa cinta mendengar suara hati Satoshi, perempuan itu datang ke tokonya untuk mengambil boneka porselen neneknya yang selesai di buat.
Melihat kedatangan perempuan itu Satoshi menguatkan diri untuk tidak bertindak bodoh seperti sebelumnya. Kali ini dia bertekad untuk berkenalan dengan perempuan ini.
“Aku merasa pernah mengenalmu namun sayangnya aku tidak dapat mengingatnya.” ucap Satoshi yang membuat perempuan itu melebarkan matanya karena terkejut.
“Oh ternyata sempai mengingatkanku.” kata perempuan itu dengan senyum yang begitu anggun.
“Sem…Pai?.” Satoshi terdiam sambil mengingat beberapa ingatan tentang suara perempuan yang terdapat familiar.
“Ayane? Kau Ayane adik kelas sewaktu SMA bukan?.”
“Syukurlah aku pikir sempai tidak akan mengingatkanku.”
Berhasil mengingat nama perempuan itu membuat Satoshi merasa memiliki kesempatan. Mereka berdua pun saling mengobrol hingga waktu tidak terlalu sudah sore.
Saat ingin Ayane akan pulang, Satoshi segera menawarkan diri untuk mengantarnya. Wajah perempuan itu memerah dan mengiyakan permintaan Satoshi.
Saat keduanya menuju rumah nenek Ayane, Satoshi mengajak Ayane untuk mampir ke kedai ramen langganannya.
Ayane tidak menolak ajakan itu.
“Aku sangat penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis kecil itu.” saat menunggu pesanan ramen, Ayane membicarakan tentang poster anak hilang yang tertempel di dinding kedai.
Gadis kecil itu bernama Eiko yang berusia 12 tahun. Eiko hilang dua bulan lalu, pencarian besar-besaran telah dilakukan tapi hingga saat ini misteri menghilangnya Eiko belum terpecahkan.
“Di desa kecil seperti ini seharusnya setiap orang mudah dikenali, pasti ada satu orang yang melihat saat terakhir gadis itu dimulai.”
Satoshi tidak mengatakan apapun saat Ayane terus berbicara.
“Saat berada di kota aku melihat semua orang hanya mementingkan diri mereka sendiri. Mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi pada lingkungan sekitar. Pernah suatu kali ada seorang yang menghilang dan tidak ada satupun yang berbicara sebagai saksi untuk menemukan orang hilang tersebut, yang sebenarnya banyak diantara mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi mereka lebih memilih diam untuk menghindar masalah.”
“Mungkin semua orang di desa ini juga sama seperti orang-orang kota. Aku percaya pasti ada salah satu dari penduduk desa yang melihat Ekio, namun orang itu memilih untuk tetap diam.”
Perkataan Ayane terhenti saat pesanan keduanya akhirnya datang. Dengan suasana yang sedikit romantis seperti sepasang kekasih, keduanya menikmati ramen bersama.
***
Sekarang hari-hari Satoshi terasa berbeda sejak kedatangan Ayane di desa ini. Setiap hari Satoshi tidak hanya berbicara sendiri dengan Okie, dia juga sering keluar bersama dengan Ayane membuat hubungan antara keduanya semakin dekat.
Hingga suatu hari kebahagiaan Satoshi teras lengkap saat dia akhirnya mendapatkan paket yang sudah lama dia tunggu.
“Kupu-kupu?.” Ayane merasa heran saat melihat paket yang di terima Saroha merupakan toples kaca berisi kupu-kupu hidup.
“Ya, kenarilah aku akan tunjukkan koleksi kupu-kupu miliknya.” Satoshi berniat menunjukkan koleksi kupu-kupu.
“Kupu-kupu begitu cantik, namun sayangnya mereka hanya bisa hidup selama beberapa Minggu. Karena itulah aku mengawetkan mereka agar teru menikmati keindahannya.”
Pemuda itu bersemangat menunjukkan koleksi kupu-kupu miliknya berharap agar Ayane terkesan. Tapi sebaliknya perempuan itu justru merasa takut saat melihat mayat mayat serangga itu.
Satoshi agak kecawa saat mendapati reaksi Ayane tidak sesuai harapannya. Namun dia tetap tenang di depan perempuan yang telah memikat hatinya.
“Kau akan membuat semuanya lengkap.”
Setelah mengantar Ayane pulang, Satoshi mulai melakukan proses pengawetan pada kupu-kupu yang masih hidup. Dia berpikir jika melakukan pengawetan saat kupu-kupu telah meninggal akan membuatnya rusak dan tidak sempurna.
***
Hari berikutnya Satoshi tidak mendapati kunjungan dari Ayane yang hampir satu bulan ini selalu yang pertama menemuinya.
Merasa khawatir Satoshi segera berniat mengunjungi rumah nenek Ayane.
“E….Okie, aku akan pergi ke rumahnya.” tidak lupa Satoshi berpamitan dengan boneka porselen kesayangannya.
Sampai di rumah nenek Ayane, Satoshi berharap bertemu dengan perempuan yang dia cintai, namun kenyataannya pahit disampaikan oleh nenek Ayane.
“Dia berangkat kembali ke kota pagi tadi.”
Hati Satoshi begitu hancur saat mendengar itu. Dia tidak tahu harus melakukan apa, dia marah karena Ayane pergi begitu saja tanpa memberitahunya.
Dengan kesedihan yang mendalam Satoshi pergi ke stasiun trem yang merupakan satu satunya alat transportasi umum di desa.
Trem hanya datang satu bulan sekali dan itu akan segera berangkat setelah sampai, waktu kedatangan trem adalah pagi buta dan sekarang sudah hampir sore. Menyadari kenyataan itu Satoshi tahu jika Ayane mustahil masih berada di stasiun, berdiri menunggu trem.
Tapi pemuda itu tetap berjalan ke arah stasiun berharap ada sebuah keajaiban. Dan ternyata harapannya terkabul.
Ayane masih berdiri di stasiun, namun bukan trem yang sedang dua tunggu.
“Satoshi, aku...”
Tanpa membiarkan Ayane mengatakan apapun, Satoshi segera memeluknya hingga keduanya pun saling berciuman. Satoshi mengatakan jika tidak ingin kehilangan Ayane dan begitu juga sebaliknya.
“Aku benar-benar bingung…”
Ayane mengatakan jika tidak ingin mengatakan perpisahan pada Satoshi karena sadar jika itu akan berat untuknya. Namun saat dia berdiri di stasiun ini hatinya justru bimbingan, dia sulit untuk memilih meninggalkan desa dan Satoshi atau tetap tinggal dan hidup bersama orang yang dia cintai.
Hingga karena kebingungan untuk memilih membuat Ayane ditinggalkan oleh trem yang akan membawanya ke kota.
“Jadi apa kau akan tetap di sini bersamaku?.”
“Ya aku akan tetap tinggal di desa ini bersamamu.”
Langit mulai gelap sehingga keduanya pun meninggalkan stasiun, tapi Satoshi tidak mengantarkan Ayane ke rumah neneknya melainkan ke rumahnya sendiri.
Sebelum menuju rumah, Satoshi mengajak Ayane untuk mengunjungi kuil yang jalanan memutari desa. Ayane merasa bingung namun dia tetap ikut bersama kekasihnya.
Di kuil Ayane berharap untuk kebahagiaan dirinya dan Satoshi, sementara Satoshi berterimakasih kepada dewa yang telah mempersatukan keduanya.
Setelah dari kuil keduanya pun pulang ke rumah Satoshi. Jalan penuh daun layu yang keduanya lalui begitu sepi tidak ada satupun orang yang mereka temui sepanjang perjalanan.
“Tidak ada satupun orang yang akan sadar jika aku batal pergi ke kota tapi justru pergi denganmu.” ucap Ayane saat di memeluk lengan Satoshi.
Sesampainya di rumah Satoshi, Ayane diajak ke ruangan pribadi Satoshi. Pemuda itu ingin menunjukkan Okie boneka porselen kesayangannya.
Tapi saat Ayane melihat wujud Okie, perempuan itu sangat terkejut
“E…Eiko!.” Ayane langsung menyadari jika boneka porselen itu adalah Eiko, anak yang dikabarkan menghilang dua bulan lalu.
Wujud dari boneka porselen yang sebenarnya terdapat mayat anak perempuan didalamnya sangat membuat Ayane takut. Bagian mata boneka porselen terdapat noda darah seolah memperlihatkan penderita gadis kecil yang dijadikan bahan pembuat boneka.
“Ayane, kita bertiga akan hidup bersama.” ucap Satoshi yang begitu bahagia melihat kedua orang yang dia sayangi akhirnya saling bertemu.
Namun dengan penuh ketakutan Ayane meminta Satoshi menjauh. Tidak pernah sekalipun dia berpikir jika kekasihnya adalah dalang dari menghilangnya Ekio.
Ayane berusaha untuk kabur namun sebelum dia bisa berbuat apa-apa tiba-tiba lampu kamar itu matii.
Prang!
Di dalam kegelapan terdengar suara pecah. Lalu saat lampu kembali di nyalakan, Ayane sudah terkapar di lantai dengan darah di kepalanya.
“Kita akan terus bersama….”
Satoshi begitu bahagia saat akan menjadikan Ayane sebagai boneka porselen seperti yang dia lakukan pada Ekio.
“Selamanya.”
END.
[Catatan akhir : cerita ini bukan karangan asli saya. Ide cerita berasal dari sebuah game yang saya lihat dari Chanel Youtuber Droomp.]