Menunggu dengan gemetar. Aku melirik ke jendela. Mengusap dahi yang berkeringat sebesar jagung.
Rasanya susah sekali menelan ludah, tenggorokanku kering. Menunggu malam mencekam setiap hariku.
Udara semakin dingin. Tak ada pemanas dikamarku. Terus melingkupi diri dengan kain-kain, agar tak terlihat, juga menghalau dingin. Walau sia-sia.
Tek...
Tek...
Tek...
Suara dari ranting pohon dekat jendela. Pikirku positif.
Tak pernah kubuka jendela itu.
Ku biarkan selalu tertutup. Harus tertutup.
Setelah hari dimana aku mendengar derapan langkah kaki diluar jendela ku.
Kamarku berada di lantai 3.
Juga adanya bekas tapak kaki di plafon kamarku. 'Dia' terus menerorku.
'Dia' menyekapku dikamar ini.
Kamar yang aku sewa dengan mahal.
Paling mahal dari kamar lain.
"Kamu dapat kamar paling bagus lho, iri aku" kata penghuni yang lain.
"Pemandangannya menakjubkan, bangun pagi pasti langsung segar" Sela yang lain.
"Kamu mau tukar?" Penghuni lainnya menimpali.
Aku menggelengkan kepala, seperti robot.
Aku sadar.
Aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri.
Kamarku berhadapan langsung dengan gunung Mauri.
Juga dengan danau buatan Sivory yang mereka bilang menakjubkan.
Sekilas, tampak hijau memanjakan mata.
Tetapi,
Apa mereka tahu. Setiap selepas tengah malam, banyak aktifitas disana.
Ditaman itu.
Didanau itu.
Tak tahu, aku tak berani melongok.
Tap...
Tap...
Tap...
Sial suara itu lagi. Langkah kaki itu lagi. Aku mengusap kasar hidungku.
Menggerakan jari-jari kakiku naik turun cepat.
Mengintip takut-takut.
Aku makin beringsut, bersembunyi dibawah selimut tebalku.
Duduk dengan kepala menyentuh lututku, dipojok ruangan.
Tanganku bergetar mendekap erat selimutku. Menunduk. Agar tak tampak apapun.
Sialnya sudut mataku, menangkap, bayangan hitam. Menyeret langkahnya.
Mendekat perlahan.
Sreeettt...
Sreettt...
Sreettt...
Yang semakin lama,
Semakin mendekat.
Lebih kueratkan lagi selimutku. Tak karuan detak jantungku.
Aku memejamkan mata. Menunduk. bulu kudukku meremang dasyat.
Menenggelamkan kepalaku dibawah lengan yang menutupi telingaku.
Hening.
Tak ada suara menyeret itu.
BRAK! jendela itu terbuka.
Aku mengangkat wajahku dari lutut.
Dan disitu jantungku berhenti berdetak.
Penampakan wajah hancur, dengan darah merembes, mengalir dari bola matanya tepat didepan wajahku.
Menyeringai lebar hingga ujung telinga siap mengambil ragaku.
"HikikikikkHUAKAKAAKAKKAKK" kikikan tawa menyeramkan, tangannya dengan borok menganga bernanah menyentuh pipiku. Mengelusnya.
Bergidik, bibir ku menipis, merapatkan diriku ke tembok. Napasku tersengal.
Wajahnya perlahan mendekati wajahku dengan geraman, Bau bangkai dan anyir darah menyeruak tajam dihidungku.
"Sssssss... ttt.. tttt...tttt... ssss..."
Suara geletukan gigi-giginya juga juluran lidah panjang melebihi dagu ke telingaku.
Basah "Clak..." lidahnya berada dipipiku, basah. "Sssrrtttt..." Menjilat. Bau busuk.
Aaaaaargh...
Pergi...
Pergiiiii...
Toloooong...
Tolooooong...
Pergiiii...
Akuu mohoonn...
Suaraku hilang.
"Tidak ssssaaatupuunn..."
"Yang bissssahh menolongmuuuu" serak mengeram marahnya.
Lalu gelap.
*****
Terima kasih sudah membaca
Maaf banyak typo ^^
lazyafternoon