Nana menghampiri kamar kakak laki-lakinya yang merupakan orang yang tidak disukainya. Dengan rasa terpaksa dia datang atas suruhan dari orang tuanya.
"Kenapa harus aku sih yang melakukannya?"
Nana membawa makan siang ke kamar kakaknya. Tanpa mengetuk pintu, gadis itu langsung membuka dengan kuat hingga mengejutkan kakaknya yang berada didalam kamar.
*Brakk!*
"Ketuk pintu sebelum masuk, Nana!" kata si kakak dengan suara keras.
"Tidak perlu. Ini makan siangmu. Dasar manja!"
"Aku ini lagi sibuk dengan tugasku. Jadi tidak bisa ke ruang makan sekarang ini.
"Halah! Sudahlah, aku tidak bisa berlama-lama disini. Macam neraka." ucap Nana dengan
"Neraka dari mananya hah?!" Kesal sang kakak.
Nana beranjak pergi menuju pintu kamar. Saat menarik gagang pintu, ternyata pintu tersebut tidak mau terbuka.
"Kok tidak mau dibuka?" tanya Nana dalam hati.
Coba menarik gagang pintu beberapa kali. Tapi tetap saja, pintu itu tidak bisa dibuka. Nana berpikir bahwa dirinya sudah terkunci didalam kamar kakaknya. Karena sudah beranggapan seperti itu, membuat Nana menjadi kesal sendiri.
"Kenapa harus terkunci sih?! Siapa yang mengunci pintu ini?" Nana berusaha membuka pintu dengan kuat.
Mendengar kebisingan yang disebabkan oleh Nana yang asik menarik gagang pintu tersebut, membuat kakak laki-lakinya menjadi terganggu. Lalu sang kakak memarahi Nana yang sibuk sendiri itu.
"Hei diamlah!"
Nana menoleh ke arah kakaknya.
"Pintu ini tidak bisa dibuka tahu!" Nana balik marah.
Kemudian si kakak mendekati pintu kamar itu dan coba membukanya. Hasilnya ternyata sama. Pintu tidak bisa dibuka. Nana menggerutu dan sang kakak yang mendengarnya langsung menyalahkannya.
"Ini semua salahmu."
"Kenapa aku?!" tanya Nana dengan emosi.
Sang kakak langsung mencari kunci pintu kamarnya yang ada dilaci meja belajarnya. Dan ternyata kunci itu tidak ada didalam sana. Melihat itu, membuat si kakak menjadi heran dan kesal.
"Kemana kunci yang ada dilaci ini?" tanya si kakak.
"Mana aku tahu!" jawab Nana.
Nana dan sang kakak berteriak meminta tolong pada orang tuanya untuk membuka pintu kamar tersebut. Namun, tidak ada respon yang didapat oleh mereka berdua. Alhasil mereka pasrah dan menetap didalam ruangan kamar itu. Sang kakak tidak terlalu masalah dengan itu, karena itu adalah ruangan pribadinya. Sementara bagi Nana itu adalah masalah. Sebab dia tidak suka berada dekat dengan kakaknya tersebut.
"Kenapa sih aku harus satu tempat dengan manusia satu ini?!" gumamnya dalam hati.
Nana duduk bersandar ditepian ranjang. Sementara sang kakak sibuk dengan mengerjakan tugas dan makan siangnya.
Gadis itu diam dalam waktu yang lama.
Hingga dia tertidur ditempat.
Mata terbuka dengan perlahan. Mengedipkan beberapa kali. Dan pandangan pun terlihat jelas. Nana bangun dan melihat sekitarnya. Kini dirinya sudah berada diatas ranjang ditutupi selimut tebal. Gadis itu melihat ke luar jendela. Terlihat langit sudah gelap. Dan dia masih terkunci sampai saat ini. Setelah itu Nana melihat ke arah lain. Nampak sang kakak sedang tidur diatas meja belajarnya dengan buku yang masih terbuka lebar. Serta piring makan siang yang sudah ditepikannya.
"Siapa yang memindahkanku? Apakah dia?" tanya Nana dalam hati.
Beranjak dari tempat tidur. Nana mendekati sang kakak dan melihatnya dari dekat. Ia melihat banyak tugas yang telah dikerjakannya. Dengan tumpukan buku yang berserakan diatas meja, Nana merasa bahwa kakaknya itu sudah belajar sangat keras. Hatinya pun seketika merasa berubah. Yang awalnya keras, kini mulai melunak. Setelah melihat itu, Nana mengambil sebuah selimut. Kemudian ia menyelimuti si kakak yang sedang tidur tersebut.
"Mungkin dia yang melakukan itu padaku. Jadi aku akan melakukan hal yang sama terhadapnya." gumam Nana dalam hati.
Secara tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar. Hal itu mengejutkan Nana yang melihatnya. Tampak ibu mereka membukakan pintu dengan rasa terkejut. Posisi Nana yang sedang menyelimuti sang kakak itulah yang membuat ibunya terkejut. Seketika Nan salah tingkah dan bergegas pergi dari ruangan itu.
"Ini bukan seperti yang ibu pikirkan!"
Nana sudah pergi. Lalu tak berapa lama kemudian sang kakak terbangun. Kemudian dia bertanya pada sang ibu.
"Apakah ibu yang mengunci pintu kamarku dari luar?"
"Lalu siapa yang menyelimutiku? Padahal aku tidak memakainya tadi. Apa jangan-jangan..."
Dua pertanyaan itu tidak dijawab sang ibu. Hanya tersenyum lalu mengembalikan kunci kamar pada anak pertamanya itu. Pintu ditutup kembali dengan rapat. Dibalik pintu si ibu bergumam.
"Ternyata anak itu bisa juga berbuat baik pada kakaknya. Rencanaku berhasil."
-----SELESAI-----