Matanya bersitatap dengan Nia. Nia mendekatkan wajahnya ke Vera berbisik pelan.
"Ati ati nanti hantunya keluar lho" Sambil menyeringgai ke Vera. Senyuman yang bikin bulu kuduknya meremang. Dan saat itu Vera sadar tempat ini tidak beres.
"Haha bercanda"
Sesaat Vera ingin cepat keluar dari ruangan itu. Hanya sesaat, "mbaknya ini suka becanda" oceh Mayang kembali.
Kecurigaan Vera, masih membuatnya waspada. Hingga ia melarikan matanya pada kaca jendela samping kirinya.
Melihat sebuah kuburan dibawah sana. Hanya satu. Dengan kain yang menutupinya. Juga taburan bunga diatasnya. Vera tertegun.
"Nggak tahu kenapa mereka juga, meletakan bunga bungaan disitu" Suara Nia dekat kuping Vera. Vera menjauh terkejut dengan Nia yang sudah ada disampingnya.
"Kan jadi tambah mistis" kekehan yang lirih. Melepaskan tatapannya dari Nia. Melihat kembali ke jendela.
Vera melihat ada dua orang dibawah sana yang baru datang. Satu wanita berbadan tinggi besar. Menarik kain dikuburan itu. Satu lagi lelaki dengan kurus dengan kaos hitam ikut mengacak kuburan itu. Ntahlah. Mereka menghancurkan kuburan itu.
Mata Vera terpaku pada kejadian tersebut. Terkejut. Pucat, seperti darahnya terhenti. Saat kedua orang dibawah menatapnya berbarengan dengan cengiran yang lebar. Juga lambaian tangan dari sang wanita bongsor ke Vera.
Vera memundurkan tubuhnya. Menjauhi jendela. "May, balik yuk" Vera menarik ujung jaket yang dikenakan Mayang. "May..." suaranya lirih dengan bibir bergetar. Takut.
"AAAAKKH"
suara jeritan nyaring, membuat tiga wanita diruangan itu bergegas keluar.
Dipintu yang dibuka itu terlihat pemandangan yang memilukan, seorang wanita berkebaya harian dengan rambut disanggul berbaring dilantai.
Menghibah, meminta ampun. Dengan sapu yang terus dipukulkan ketubuhnya. Oleh lelaki berpakaian serba hitam. Seperti algojo pada jaman kolonial.
Banyak luka, banyak memar. Vera dan Mayang hanya bisa melihat saja. Tertegun. Siksaan dan teriakan menghiasi ruangan. Vera sadar dari ketertegunanya. Ia mendengar kikikan dari Nia.
Tubuh Nia bergetar dengan kikikan yang kian memekaan telinganya. Vera menarik Mayang. "Ayo May pulang" berlari kearah pintu. Wajah pucat pasi Mayang menyadarkannya bahwa mereka tak akan baik-baik saja.
Mereka berlari menjauh, meninggalkan Nia dan wanita yang disiksa tadi.
Masuk keruangan dengan banyak sepeda anak-anak disana.
Bersembunyi dibalik lemari, mengatur nafas yang hampir hilang. Mayang masih diam dengan wajah pucatnya. "May lo gak papakan?" Bisik Vera dengan nafas yang masih tersegal.
"May...liat gue!" Vera mengguncang tubuh Mayang. Vera menangkup wajah Mayang, Mata Mayang kosong. "Please May...please..please!!" Vera mengambil tangan Mayang yang mulai dingin digosokan dengan tangannya.
"Kita harus keluar dari sini May" lirih Vera. Ia mengandeng tangan Mayang dibelakangnya. Mayang berdiri kaku dengan tatapan kosong. Menengokan perlahan kepalanya menghadap Vera.
"Ayo May" berat itu yang dirasa Vera saat ingin menarik Mayang. "Mau kemana Ver?" Bisik lirih Mayang yang menengklengkan kepalanya kekiri.
"Aarghh" Teriakan Vera, ia mencoba melepaskan genggamannya dengan Mayang. Vera terjatuh, ia mundur dengan menyeret tubuhnya menjauhi Mayang yang mulai mengikik juga memutar kepalanya perlahan kearah Vera. Dengan tatapan mengerikan.
bersambung...
Terima kasih udah baca, maaf kalau banyak typo
kalau mau baca versi tamatnya, cuss ke akun ku...
lazyafternoon