Gadis itu melepas kacamata bundarnya yang berembun, ditaruhnya di atas meja sebelah gelas tehku yang sudah ku minum separuhnya.
“Tuan, bolehkah saya tahu nama Tuan?” tanyanya sambil menyelidiki mukaku yang basah.
“Oh iya, nona. Maaf saya lupa untuk mengenalkan diri saya. Panggil saja saya Arya,” jawabku sambil membenarkan posisi dudukku.
“Nama saya Sandhya,” sahutnya sambil mengulurkan tangannya, pertanda mengenalkan dirinya. Tangannya lembut, kuku-kukunya bersih, dan cantik.
Kami tenggelam pada sebuah dialog yang hangat. Hujan di luar tak kunjung reda. Rintiknya semakin menjadi-jadi, hembus anginnya semakin membabi buta. Namun, syukurlah karena kami menemukan sebuah kedai teh yang hangat di dalamnya.
Setelah empat puluh lima menit, kami kehabisan pokok pembicaraan. Gadis itu kembali terdiam, begitu pula dengan aku. Kembali, suasana menjadi asing bagi kami berdua. Ku lihat di luar jendela kaca, hujan semakin menjadi-jadi. Gemuruh yang menggelegar menggetarkan kaca kedai. Ingin sekali aku kembali berbincang dengan Sandhya, seorang gadis manis yang baru ku kenal tadi. Mungkin hujan bisa jadi pokok pembicaraan yang menarik bagi kami berdua.
Setelah cukup lama kami berdua terdiam memandangi jalanan di luar yang basah, ku beranikan untuk menyambung pembicaraan.
“Oh iya, tadi kau berkata jika hujan itu kejam? Mengapa bisa seperti itu?” aku berpindah posisi ke sebelah jendela dan mataku tak pernah terlepas darinya.
“Hujan pernah merebut seseorang dariku. Beberapa tahun lalu, seorang lelaki pernah berkata kepadaku bahwa aku ini seperti hujan yang rintiknya menyejukkan mata siapa saja yang memandangnya. Aku sungguh mencintai hujan saat itu. Tapi setelah beberapa lama, lelaki itu pergi entah ke mana. Mungkin dia sudah menemukan hujan yang lebih menyejukkan hatinya daripada aku. Selepasnya, hingga saat ini aku tak lagi terlalu menyukai hujan,” wajahnya berpaling dari jendela, lalu menatapku. Dia terlihat sedih. Matanya yang tadinya sayu, kini berkaca-kaca memperlihatkan kerinduan yang teramat sangat pada seseorang.
Aku pun sama, aku pernah mencintai hujan dengan sangat. Mungkin melebihi aku mencintai diriku sendiri. Berkatnya, aku pernah terjebak di suatu tempat bersama orang yang sangat aku cintai. Orang itu adalah Eshter. Seorang perempuan yang telah aku titipkan hatiku padanya. Sudah sembilan bulan Eshter pergi ke pusat kota. Katanya, dia ingin menamatkan sekolahnya menjadi sarjana ekonomi dan akan kembali menemui aku saat sewindu setelah ia pamit akan pergi ke kota. Dia berkata akan kembali saat hujan benar-benar lebat, dan saat angin benar-benar kacau. Sudah beberapa kali hujan seperti ini turun mengguyur kota, tapi ia tak kunjung pulang. Aku tak tahu berapa lama lagi aku harus menunggunya untuk pulang. Kabarnya pun aku tak tahu, mungkin dia sudah melupakan aku untuk selamanya. Sejak saat itu, aku sudah tak lagi mencintai hujan dengan sangat. Menurutku, setiap hujan mengguyur kota, aku hanya akan kembali mengingat tentang Eshter yang mungkin tak akan kembali kepadaku.
Gadis ini cantik, rambutnya pun menarik. Sepertinya aku mulai tertarik padanya. Baris giginya yang putih tertata rapi. Besit senyumnya sungguh manis melebihi gula-gula. Aku menyukainya. Mungkin dengan mengenalnya, aku akan kembali mencintai hujan.