Seperti biasa, sehabis pulang sekolah aku langsung pergi ke cafe tempatku bekerja part-time. Setelah sampai, aku mengganti pakaianku menjadi seragam khas pegawai ditempatku bekerja.
Aku mulai melayani para pelanggan dengan senang hati, hingga pada saat cafe hampir tutup dan mulai sepi pengunjung, aku duduk di sudut meja kasir sambil membaca buku pelajaran.
Brak ...
Aku terkesiap saat mendengar suara pintu didorong kasar oleh tiga orang begal. Para begal tersebut ingin merampok kafe ini. Para pegawai pria berusaha menghalau mereka, namun alih alih berhasil, mereka malah dijatuhkan dengan mudah. Bahkan mereka mengancam jika ada pegawai dan pengunjung yang mencoba menelepon pihak berwajib mereka tidak akan segan untuk mencelakakan kami.
Aku terkejut setengah mati disaat salah satu dari mereka menuju kasir tempatku berdiri seraya berkata
"Berikan semua uang yang kalian punya!"Bentak salah seorang begal yang kuyakini adalah pemimpin mereka.
Begal itu kemudian menghempaskanku hingga kepalaku terbentur disudut meja. Aku hanya pasrah melihat mereka mengambil semua uang dikasir lalu pergi dengan cepat sebelum polisi datang.
Malam itu, aku pulang dengan sebuah plaster yang tertempel dikeningku.
"Assalamualaikum," ujarku dengan sedikit mengeraskan suara.
"Waalaikumsalam, Kak!" Jawab Adikku yang menghampiri ku sambil tersenyum manis. Aku masuk ke rumah sambil menyodorkannya satu porsi makanan,
"Kakak nggak makan?" tanyanya kepadaku.
"Nggak, kakak udah makan tadi," jawabku sambil tersenyum. Aku berbohong lagi, padahal aku belum makan dari pagi.
"Kak, besok hari ulang tahunku loh, kakak nggak lupakan? "
"Nggak dong, masa kakak lupa sih sama ulang tahunnya adik kakak sendiri"
"Emm ... kak aku boleh minta kue sama eskrim nggak? please kali ini aja, boleh yah," pintanya kepadaku dengan wajah memelas, tampa pikir panjang aku spontan mengangguk kala melihat wajah memelas adik kesayanganku hingga dia berteriak riang sambil mengucapkan terima kasih kepadaku kemudian memelukku dengan bersemangat.
Apa yang harus aku lakukan? aku tidak punya banyak uang, apalagi tadi cafe tempatku bekerja habis dirampok dan bosku tidak bisa menggaji para pegawai bulan ini, terlebih aku harus sekolah besok jafi tidak bisa mencari pekerjaan sampingan.
Apa aku bolos saja ya? mungkin tidak apa sekali kali saja agar aku bisa kerja serabutan dipasar.
Keesokan harinya, aku memutuskan untuk bolos sehari saja, tidak apa apa demi adikku jugakan? Selepas mengantar adikku ke sekolahnya, aku menuju kepasar untuk mencari uang tambahan. Kadang aku membantu orang mengangkat barang, mencuci piring diwarung pinggir jalan, dan lain lain. Meski upahnya tidak seberapa, yang penting aku bisa memberikan hadiah untuk adikku.
Menjelang siang, aku melihat seorang ibu-ibu yang meminta tolong, ibu-ibu itu hendak dicopet. Tampa pikir panjang aku bergegas membantunya sambil berteriak minta tolong. Copet itu kabur tampa membawa tas ibu itu katena diteriaki warga. Ibu itu berterima kasih kepadaku karena telah menolongnya. Ia memberiku kue coklat yang ada dalam salah satu paper bag yang dibawanya. aku ingin menolak, namun ia tetap memaksaku hingga pada akhirnya aku menerimanya sambil berterima kasih.
Setelah itu, aku pulang awal dengan membawa sebuah kue coklat dan eskrim yang baru aku beli tadi. Tepat saat aku pulang, sepertinya adikku juga baru pulang dari sekolah.
Dia bersorak riang ketika melihat apa yang aku bawa. Aku bahagia melihat senyumannya yang kembali terbit setelah kedua orangtua kami meninggal. Hatiku menghangat, aku tahu bahagianya adalah bahagiaku.
Hari ini pulalah aku tahu bahwa jika kita menolong orang yang membutuhkan pertolongan makan kita pasti akan diberikan pembalasan yang setimpal.
Aku bahagia melihat adikku bahagia kalaupun aku harus berkorban lebih untuk itu. Sekali lagi, karena bahagianya adalah bahagiaku, dan keluargaku adalah segalanya dianymtara yang lainnya, dan aku rela mengorbankan segalanya yang aku punya hanya untuk dirinya, karena dia adalah satu satunya keluargaku yang tersisa.