"Dahlan, sini cepat Nak, acara TV belajar dari rumah sudah mau dimulai. Kamu jangan sampai terlambat nak." Teriak Pak Mahmud dari ruang tengah.
"Iya ayah, tunggu sebentar." Dahlan yang sedang membaca buku di kamarnya segera mengambil buku pelajaran dan menuju ruang tengah.
Tak lama kemudian, acara TV belajar dari rumah pun dimulai. Dahlan duduk disamping Pak Mahmud, dia begitu serius memperhatikan penjelasan di TV. Pak Mahmud sesekali membimbingnya jika ada yang ia tidak mengerti. Ayah dan anak itu terlihat kompak. Setelah virus Corona semakin marak tersebar di hampir semua wilayah Indonesia, pemerintah pun memutuskan pembelajaran di sekolah akan dilakukan di rumah lewat TVRI. Ya, virus yang muncul di akhir tahun 2019 ini sudah tersebar hampir ke seluruh penjuru dunia. Virus ini sudah banyak memakan korban. Ribuan bahkan jutaan nyawa telah tiada karena terinfeksi virus ini. Banyak orang yang lukanya masih belum hilang karena telah kehilangan keluarga tercintanya, termasuk Dahlan.
Beberapa lama kemudian, acara TV belajar dari rumah sudah selesai. Dahlan terlihat membereskan bukunya. Tapi dia tidak lantas berdiri dari tempatnya duduk. Terlihat dia sedang memandang Pak Mahmud saat ini. Pak Mahmud yang menyadari hal itu langsung tersenyum dan bertanya.
"Ada apa Dahlan?" Tanya Pak Mahmud.
"Ayah, Dahlan hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada ayah."
"Terima kasih untuk, nak?" Pak Mahmud sedikit bingung.
"Terima kasih karena ayah sudah mengadopsi Dahlan, dan menjadikan Dahlan anak ayah. Sebelumnya Dahlan sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, tapi ayah sudah membuat Dahlan tidak berpikir seperti itu lagi. Terima ayah." Terlihat Dahlan meneteskan air mata.
Pak Mahmud menyeka air mata anak yang diadopsi beberapa bulan terakhir itu dia lalu memeluknya.
"Kamu tidak perlu berterima kasih nak. Dan kamu jangan pernah berpikir kalau kamu tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Karena sekarang kamu punya ayah dan ibu yang sangat menyayangimu. "
"Iya, ayah."
***
Beberapa bulan yang lalu...
"Bapak mau pergi kerja?" Tanya Dahlan.
"Ia, nak." Lelaki berumur 40 tahunan itu segera mengambil karung dan hendak pergi bekerja.
"Tapi ayah sekarang kan keadaan di luar berbahaya. Virus masih ada, Dahlan takut ayah kenapa-kenapa. Dahlan cuma punya bapak di dunia ini, Dahlan tidak mau kalau bapak keluar dalam keadaan seperti ini. "
"Dahlan kamu tahu kan kalau bapak tidak bekerja kita tidak punya uang untuk makan nak."
"Kalau gitu Dahlan ikut saja sama bapak."
"Tidak nak, kamu di rumah saja yah"
"Tapi, Pak..."
"Sudah bapak berangkat dulu yah."
Lelaki itu pun pergi dengan membawa sebuah karung ditangannya. Hendak mengais rezeki di balik sampah-sampah itu. Meninggalkan anaknya di rumah yang berusia 11 tahun. Saat langit mulai senja, lelaki itu datang dengan membawa 2 nasi bungkus yang dibelinya dari hasil memulung hari itu. Dia begitu sumringah, dia sangat senang karena hari ini setidaknya mereka bisa makan.
Setelah beberapa hari kemudian, lelaki itu jatuh sakit. Dia demam tinggi dan sesak nafas, begitupun dengan Dahlan yang sedari pagi tadi juga demam. Tetangga yang mengetahui hal tersebut segera menghubungi pihak rumah sakit. Warga menduga Dahlan dan ayahnya sudah terinfeksi virus
Beberapa saat kemudian, tim gugus tugas pun datang menjemput Dahlan dan ayahnya. Dengan memakai APD lengkap, petugas medis membawa Dahlan dan ayahnya. Dan benar saja setelah menjalani rapitest, Dahlan dan ayahnya telah positif covid 19. Mereka yang sudah diisolasi beberapa hari yang lalu kemudian menjalani rangkaian pengobatan.
Sebulan kemudian, setelah menjalani perawatan dan pengobatan kemudian menjalani rapitest beberapa kali dalam dinyatakan negatif covid-19 Dahlan dinyatakan sembuh. Ada seorang guru yang bernama Pa Mahmud yang menjemputnya saat dia diperbolehkan pulang. Pak Mahmud adalah guru Dahlan di sekolah. Dia sangat baik pada Dahlan. Dia membawa Dahlan pulang ke rumahnya, karena dia tahu Dahlan tidak punya siapa-siapa lagi kecuali ayahnya yang masih dirawat di rumah sakit.
Beberapa hari kemudian, Dahlan menerima kabar bahwa ayahnya meninggal dunia. Dia sangat sedih mendengar berita itu. Apalagi dia tidak bisa melihat dan bersama ayahnya untuk terakhir kalinya. Karena itu adalah salah satu protokol dalam penanganan Covid 19. Di tahun 2020 ini merupakan duka terbesar bagi Dahlan.
***
"Ayah... Dahlan... ayo makan siang dulu!" Teriak seseorang dari dapur. Dia adalah Bu Siska, istri Pak Mahmud.
"Ia, Ma." Pak Mahmud dan Dahlan menjawab bersamaan. Mereka pun segera menuju dapur.
"Sebelum makan cuci tangan dulu, ingat 20 detik. Kita harus selalu menjaga kebersihan." Lanjut Bu Siska
"Ia, Ma." Pak Mahmud dan Dahlan kembali menjawab bersamaan.
Lalu mereka pun makan bersama.