Sepanjang waktu ku, ku habiskan untuk menunggu mu yang berbaring lemah tidak berdaya di atas ranjang rawat inap rumah sakit.
Aku menyesel, selama ini sudah mengabaikan mu, kau lah orang yang selalu ada untuk ku, selalu mendampingi ku selama kita menikah. Tapi maaf, aku tidak menganggap mu ada kala itu.
Hingga saat ini mata ku di buka, saat diri mu tidak lagi berada di samping ku untuk mendukung setiap aktifitas ku.
Penyesalan datang nya belakangan, mau sampai kapan kau uji kesabaran ku, ayo cepat. buka mata mu, lihat aku disini hanya untuk diri mu.
Beberapa hari kemudian.
Aku pun membuka mata dengan pantulan cahaya yang menyilaukan mata, dengan perlahan aku buka kedua mata ku.
Antara percaya dan tidak, seperti mimpi. Orang yang pertama aku lihat saat itu adalah kamu.
"Akhirnya kau sadar, sayang." ucap Leo dengan senang yang langsung memberi ku pelukan hangat yang sudah lama aku rindukan.
"Untuk apa kau disini? bukan kah lebih baik aku mati dari pada hidup tapi selalu di abaikan oleh mu?" ucap ku dingin.
Mendengar perkataan ku, kau pun langsung melepas pelukan mu, lalu menggenggam erat jemari ku dan menautkannya dengan jemari mu.
"Aku berjanji, tidak akan pernah lagi mengabaikan mu.. mengabaikan mu adalah kesalahan terbesar dalam hidup ku, aku mohon pada mu, kita mulai lagi dari awal, lupakan segala kesalahanku." tutur Leo.
"Dengan mudahnya kau berkata seperti itu, Leo.. belum puas kah kau menyiksa hati dan batin ku?"
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki segala kesalahanku, Mia.. aku mohon, kau adalah hidup ku, tanpa mu di sisi ku, aku terasa mati Mia." ucap Leo.
Bulir bening lolos dari sudut mata Mia mendengar penuturan Leo, percaya atau menyerah karena keadaan sangat lah melelahkan, tapi hati nya tidak mampu lagi berbohong, masih ada nama Leo yang terukir di hati Mia yang terdalam.