"Narsis juga" Celetuk Vera.
"Kayak lu dikit dikit selfie" Mayang menimpali fengan menoyor kepala Vera, juga tertawa riang.
Mereka masuk lebih kedalam. Seperti lobi tdi mereka menemukan bangkudidepan mereka dengan taman yang mulai tak terawat.
Tapi menengok kekiri Mayang dibuat terkejut dengan mobil jadul seperti mobil jaman peperangan yang masih gagah dengan warna yang manis.
Mayang mendekat dan menyentuh tak lupa masuk kedalannya.
"Ayo Ver, gila gila ini asetnya Mr. Okami" serunya kencang.
Dibarengi dengan tawa senang. Ya ia seperti mendapat harta karun. Turun masih memeluk bahkan mencium mobil itu.
"Gue gadai di olx dapet berapa ya" Ucapnya sembarangan.
"Udeh ayo cepet muter, terus balik, pegel badan gue, mau rebahan" tarik Vera pada Mayang yang sibuk menghitung dengan ponselnya.
Berjalan lebih kedalam, gedung lantai satu itu, kemidian mereka disuguhkan dinding kaca disebelah kiri mereka. Yang berisikan berbagai macam mobil jadul.
"Astaga harta yang paling berharga!!" Jerit Mayang kesenangan.
"Showroom ini mah" tak menyangka. Didalam ruangan itu berbagai mobil jadul dengan banyak warna yang lucu.
"Foto Ver... foto.. ini pintunya dimana? Mau masuk" Mayang melangkah menjauh mencari pintu tapi tak menemukan.
Jeritan kesenangan Mayang terdengar lagi ia memanggil Vera.
"Veraaaaa siniiii" Vera melihat Mayang melambaikan tangannya untuk ia mendekat ke kanan ruangan
"Liat itu Mogeee, anjir ini Mr. Okami dealer apa gimana" Jeritnya.
"Hush lo tuh dari tadi teriak mulu" Vera yang agak peka merasa makin masuk kedalam udara semakin dingin tapi juga semakin pengap susah bernafas.Padahal luas sekali ruangannya sekarang.
Disebelah ruangan yang berisi Moge juga sepeda. Vera melihat ada seseorang disebuah ruangan.
Sedang melakukan kegiatannya, tak begitu jelas karena walau berdinding kaca untuk ruangan manager kacanya buram.
Ruangan manager tulisan di papan atas pintu. 'Oh masih ada sisa karyawannya' Vera melewati saja, pikirnya lumrah saat itu. Ntah lah.
Mereka menelusuri lagi.
Kearah kiri mereka melihat banyaknya sepeda berjejer rapi dan masih baru belum pernah di pakai.
Mayang dan Vera mendekat ke arah sebuah ruangan yang depannya seperti mini market tapi ada sepeda jadul menghalangi pintunya.
Mayang berselfie ria sedangkan Vera ingin cepat menyelesaikan ini, keluar dari tempat ini dan pulang.
Sedari tadi badanya pegal dan berat. Ingin ia beristirahat dirumah.
Mereka semakin kedalam gedung, suasana temaram berganti semakin gelap walau masih bisa melihat sekitar. Rasanya seperti kita masuk mall keadaan masih tutup.
Melihat kearah kanan dimana Vera melihat seorang wanita, rambut sebahu lurus dengan kacamata, berpakaian kaos hitam, celana leging hitam sepatu running, berlari diatas treadmill, dengan handuk kecil ditangannya.
Dalam hati Vera membatin 'Berani juga ini karyawan' lalu Mayang menariknya.
"Ver kita keruangan itu coba" Mayang berjalan ke ruangan manager.
Mendorong pintunya mereka disambut oleh seorang wanita, tersenyum mengerikan.
Vera berjengit ingin menarik Mayang keluar tapi sang sahabat sudah duduk didalam.
Seseorang yang dilihat Vera tadi ternyata seorang wanita. Dan anehnya wanita ini yang ada di toko gelap tadi, yang sedang berlari di atas treadmill.
"Wah ada tamu, Ayo masuk, sini masuk..." si wanita rambut sebahu.
Antara sadar dan tidak sadar. Mayang menepuk sofa sebelah kirinya yang dekat dengan jendela
"Sini Ver.." itu semua dilihat Vera dalam keadaan slow motion.
"Mbaknya masih kerja disini" Mayang memulai percakapan.
"Iya, ya walau gedung ini sudah ditinggalkan" Mayang dan Vera hanya mengangguk menangapinya.
"Ini silakan, banyak juga karyawan yang tidak terima keputusan perusahaan" lanjutnya lagi,
"oiya kita belum berkenalan saya Nia" menyodorkan tangannya ke Mayang yang disambut Mayang dengan apik.
Saat Nia menyodorkan tangannya ke Vera. Vera hanya memangamati, tangan putih pucat itu. Senggolan pelan Mayang membuat Vera menyalami Nia. Dingin. Sekali.