Sebelum aku hanya seorang pegawai kantoran biasa. Berangkat pagi dan pulang malam. Tapi hari itu ketika aku sedang beli siomay dan batagor di depan kantor perusahaan di mana aku bekerja.
Tiba-tiba ada mobil yang melaju kencang ke arah yang tidak beraturan. Menabrak apa saja yang di depannya. Salah satu korban dari sekian korbannya adalah aku.
Aku bertanya-tanya apa begini caranya aku mati? Hanya ingin makan siomay lalu kembali bekerja menyelesaikan semuanya. Tapi sayang itu tidak akan terjadi lagi. Aku sudah mati.
Huh?
Bukannya aku mati?
Aku bergerak menuju meja rias yang ada di kamar itu. Kemudian melihat diriku di cermin. Ini aku kan?
Aku mencubit pipiku. Aww... Sakit juga ternyata. Ini benar-benar nyata.
Mencoba menenangkan diri dan menerima kenyataan. Aku mengamati sekelilingku. Ini seperti kehidupan kerajaan dari Eropa dan Inggris.
Semua yang aku lihat seperti barang antik, mahal, dan berkualitas. Saat aku menatap keluar jendela, aku bisa melihat prajurit berkeliling.
Lambat laun, aku menyadari aku hidup di sebuah kastil milik seorang putri bernama Eleonora. Putri dari salah satu selir raja yang sudah meninggal dunia.
Aku bingung beradaptasi di dunia ini. Jika dalam novel banyak protagonis yang mendapat buku panduan semacam hidayah melalui mimpi atau alur cerita yang pernah dia baca. Aku juga berharap setidaknya itu juga terjadi padaku sehingga aku tahu harus melakukan apa.
Sayangnya, takdir berkata lain. Aku tidak punya ingatan bahkan mimpi tentang masuk ke novel yang pernah aku baca. Kenangan atau ingatan tentang tubuh yang aku tempati juga tidak.
Itu benar-benar mempersulit diriku beradaptasi dengan dunia ini. Sudah aku putuskan bila tidak ada malaikat atau ibu peri menolongku.
Aku akan menolong diriku sendiri sehingga aku membuat alasan bahwa aku punya kepribadian ganda. Untuk mendukung alibi yang aku buat, aku juga menciptakan drama istanah memecahkan vas, piring, gelas lalu kadang-kadang aku berteriak keras dan bicara sendiri.
Sungguh melelahkan. Bisa-bisa aku benar-benar kehilangan kesadaran mentalku kalau aku di tempat ini terus.
Transmigrasi menjadi putri tak semudah yang aku baca dalam novel. Bersyukurnya, bahwa dengan akting gilaku. Aku tidak harus memakai gaun yang membuatku tercekik. Atau, datang ke perjamuan kalangan bangsawan.
Tetapi, entah kenapa akhir-akhir banyak sekali pelayan yang datang merawatku. Apa aku kurang dalam berakting gila?
Aku terus bertanya dan akhirnya aku tahu jawabannya. Ayahku, Sang Raja yang sangat menyayangi kakak perempuanku yang tentu saja beda ibu denganku. Tidak ingin menikahkan kakakku dengan Jendral Castro.
Jendral bertangan dingin yang diberikan wilayah di perbatasan daerah utara. Tetapi, ayahku juga tidak bisa membiarkan Jendral Castro menikah dengan gadis lain, Sang Raja takut bila pengaruh Jendral Castro semakin besar.
Membuatnya nekat menikahkan putrinya dianggap gila oleh semua orang dengan Jendral Castro.
Apa ayahku yang notabene Sang Raja itu tidak punya otak?
Apa dia tidak berpikir kalau Jendral Castro merasa terhina dinikahkan dengan putri raja yang sakit mental?
🌼
Hari yang dinanti telah terlewati, tepatnya setelah upacara pernikahan dengan Jendral Castro. Jendral Castro menemuiku di kamar pengantin.
Dia menatapku dingin. Aku menatapnya dengan penuh kecemasan.
"Apa yang ka-kamu inginkan?" tanyaku dengan gugup.
Jangan bilang kalau dia akan menebas leherku karena penghinaan yang ayahku berikan padanya. Aduh bagaimana ini?
"Aaaaaaakk... jangan bunuh aku!" teriakku histeris saat Jendral Castro mencium keningku.
Huh?
Apa ini?
Aku tidak mati
Ta-tadi itu Jendral Castro mencium keningku?
Bagaimana bisa?
"Aku tidak akan membunuhmu. Bagaimana bisa aku membunuh istri yang sangat aku cintai?" kata Jendral Castro membuatku tertegun.
Aku berkedip berkali-kali hingga akhirnya aku yakin itu Jendral Castro yang mengatakan mencintaiku lalu aku berkata, "Bagaimana bisa?"
"Aku pikir kamu wanita yang lucu. Berpura-pura gila di istana dengan banyak sekali drama yang kau lakukan hahahahaa...." jelas Jendral Castro sambil tertawa terbahak-bahak.
"Apa?! Kok kamu bisa tahu?" tanyaku seakan tak percaya aktingku yang bagus itu bisa dibongkar oleh seorang jendral di depanku.
🌼