Djarum Coklat Bapak
"Tiaaa, beliin bapak rokok!", suara bapak membahana dari ruang tamu.
Kalau sudah begitu artinya Tia harus segera memenuhi panggilan itu, meninggalkan apapun yang sedang dikerjakan. Tak ada tawar menawar.
Bapak menyerahkan uang bergambar sasando, alat musik tradisional NTT .
Berarti bapak sedang banyak uang, pikir Tia. Uang segitu dibelikan sebungkus Djarum Coklat masih ada sisanya.
"Pak, Tia jajan ya. Kan masih ada kembaliannya", dengan takut-takut ia menyampaikan keinginannya.
"Jajan aja yang dipikirin! Kembaliannya pokoknya harus utuh!"
Tia hanya bisa mengangguk lemah. Padahal ingin sekali ia merasakan dapat uang jajan dari ayahnya. Selama ini ibulah yang memberinya jajan. Uang hasil dari jerih payah ibunya menjahit.
*****
Asap rokok memenuhi ruang tamu yang sempit itu. Dimana hampir semua kegiatan di rumah itu dilakukan. Ibu yang sedang menjahit, Tia dan adiknya yang sedang mengerjakan PR, terbatuk-batuk. Tapi sang empunya rokok sepertinya tak menghiraukan hilangnya kebebasan orang lain menghirup udara segar.
Tia sengaja mengeraskan batuknya, sebagai tanda protes. Tapi tak dilanjutkannya setelah mendapat pelototan sang ibu.
Bagi ibunya lebih baik merelakan oksigen yang mereka hirup itu tercampur zat karsinogen daripada ada benda-benda mendadak bisa terbang.
Pernah Tia protes langsung atas asap rokok ayahnya, hasilnya ia mendapat kenang-kenangan dipergelangan tangannya dengan sundutan rokok.
Ibu, Tia, dan Tyo, adiknya tahu, waktu-waktu bapak menghisap rokok dan menghirup kopinya adalah waktu sakral yang tak boleh diganggu siapa pun.
*****
"Jadi gimana menurutmu Mas Hendra, Ya?", tanya Fitri penasaran pada sahabatnya itu. Teman sekolah hingga kini menjadi tetangganya selama sepuluh tahun.
Tya terdiam sejenak, menyiapkan kata-kata sebaik mungkin berikut ekspresinya agar alasan yang dikemukankannya meyakinkan Fitri.
"Mas Hendra baik. Aku perhatikan juga sholatnya terjaga, ...", berat Tya melanjutkan kalimatnya. Sejenak keheningan mengisi ruangan itu.
"Tapi?", tanya Fitri tak sabar. Walau ia bisa menduga kalimat berikutnya adalah penolakan. Penolakan untuk entah kesekian kalinya.
Tia salah tingkah mendapati sorotan mata kekecewaan sahabatnya itu.
Dengan nada tinggi akhirnya Tia menyampaikan senjata pamungkas yang sama,"uhm, kamu lihat sendiri kan kalau Mas Hendra itu perokok."
Dari belakang mesin jahit, terdengar helaan nafas ibunya.
"Kamu bisa sampaikan keadaan ibu, siapa tahu Mas Hendra mau berhenti merokok,"bujuk Fitri.
"Fit, coba katakan padaku apa sekarang Mas Firman suamimu sudah berhenti merokok seperti janjinya sebelum menikahimu? Lihat Tyo, bahkan demi ibunya sendiri dia tetap tidak bisa jauh dari benda laknat itu! Gimana aku percaya ada lelaki yang mau meninggalkan yang disukainya demi aku?"
"Minimal kamu bisa nego supaya gak ngerokok selama di rumah", Fitri menatap Tia dengan putus asa tapi tak kurang ia mencoba lagi,"fokuslah sama kebaikannya, Tia. Hanya karena rokok, lenyap semua kebaikannya!"
Dalam lubuk hatinya, Tia merasa bersalah berkali lipat pada Fitri. Untuk jerih payah dan perhatian yang ia sia-siakan. Parahnya ia menutupi rasa bersalahnya dengan kemarahan yang salah alamat.
"Baiklah, aku pulang," seru Fitri kesal. Ia menghampiri ibu Tia untuk mencium tangannya.
"Maafkan Tia ya, Fit," ucap ibu Tia pelan sambil mengelus punggungnya. Fitri hanya menganggukan kepala sambil tersenyum lemah. Kemudian ia bergegas meninggalkan rumah itu.
"Tia..."
"Bu, ibu kan tahu, Tia gak akan mengorbankan kesehatan ibu hanya supaya Tia nikah," dengan tegas Tya menyela ibunya sebelum menyelesaikan kalimatnya.
"Berhentilah menjadikan ibu alasan Tia!"
"Itu bukan alasan, Bu. Ibu adalah prioritas Tia. Gak mungkin ibu bisa memastikan paru-paru ibu baik-baik saja kalau tinggal sama Tyo. Tyo gak akan berhenti ngerokok demi ibu. Hanya Tya yang ibu punya!"
Tyo memang sudah tidak tinggal bersama mereka lagi sejak berkeluarga. Kegemaran bapak merokok membuat perbedaan diantara mereka berdua. Tyo meniru ayahnya, Tia membenci asap rokok dan orang yang menghisapnya.
"Tapi ibu gak akan hidup selamanya bersama kamu. Ibu mau lihat kamu punya seseorang yang mendampingimu sebelum ibu gak ada."
Ibu meninggalkan mesin jahit dan duduk dihadapan Tia. Dipandanginya wajah anak gadisnya yang ia lahirkan tiga puluh lima tahun lalu. Ada jejak kesedihan dari sorotan matanya.
"Bu, Tia janji, kalau ada pria baik yang gak ngerokok pasti Tia terima lamarannya," bujuk Tia lembut. Walau ia pun tak tahu kapan bisa memenuhi janji itu.
Lalu kedua anak beranak itu diam, mencoba meyakinkan diri masing-masing bahwa janji itu bukanlah omong kosong.
Sebab bukan asap rokok bapak saja yang meninggalkan kerak di paru-paru ibu, tapi juga luka di hati Tya. Luka yang tak akan terbaca stetoskop dokter manapun.
Jejak tangan bapak di tubuh mereka, jejak kata-kata yang menusuk hati mereka. Tya masih berjuang menyembuhkan luka kasat matanya. Mencoba memutus ikatan kalau asap rokok adalah representasi bapak.
'Aku tidak bisa memilih siapa yang jadi bapakku, tapi aku bisa memilih lelaki yang akan jadi suami dan bapak anak-anakku kelak,' desah Tya dalam hati.