Lea berlari setelah turun dari ojeg onlinenya di depan statiun Sudirm*n. Melakukan tap pada hate ticket agar dapat masuk ke peron untuk menunggu kereta listrik yang akan membawanya menuju Stasiun Bog*r.
Hufttt, akhirnya dia berhasil masuk rangkaian. Naik di rangkaian kedua dari depan membuatnya berjalan sedikit menuju gerbong depan khusus wanita.
Selama pandemi, tidsk semua kursi dapat ditempati banyak tanda jeda untuk tidak diduduki.
Bersandar pada dinding dekat pintu karena tidak ada kursi yang kosong, Lea membuka ponselnya. Perjalanan akan dia lewati lebih dari satu jam, lumayan lama maka ia berencana membunuh waktu dengan berselancar di dunia maya.
Petugas pengawalan sesekali lewat untuk berkeliling, memastikan tidak ada yang melanggar prokes.
Lea mendapatkan kursi saat kereta berhenti di stasiun Mangg*rai. Hampir semua penumpang asyik dengan gadget masing-masing. Ada yang menonton youtube menyaksikan video-video bermanfaat bahkan juga content yang enggak guna sama sekali. Ada yang hanya mendengarkan musik, nonton drakor atau drama lainnya. Terlihat ada juga yang senyam-senyum berbalas pesan dengan pasangan mungkin, keluarga, teman gebetan atau selingkuhan (upss). Sedangkan aku seperti biasa membaca novel online, khususnya platform gratisan.
Entah berada di antara stasiun apa, tiba-tiba rangkaian berhenti. Petugas menginformasikan bahwa ada kendala teknis, semua penumpang masih dalam posisi tenang. Namun beberapa saat kemudian lampu yang menerangi gerbong mati termasuk juga pendingin ruangan. Gerbong gelap dan panas, sebagian membuka layar jendela agar ada sinar masuk, di sini sebagian penumpang mulai panik bahkan ada yang mulai berteriak menyebut kalimat-kalimat doa menurut kepercayaannya, ada juga yang mencoba membuka jendela.
Suasana semakin panas, karena tidak berfungsinya pendingin udara. Kepanikan makin menjadi karena khawatir oksigen menipis. Semua dilanda kecemasan, yang tadinya biasa mendadak panik.
Bersyukur, tidak lama kemudian lampu hidup kembali. pendingin udara mulai berfungsi dan suara petugas menyampaikan permohonan maaf. Akhirnya rangkaian kembali berjalan. "Mbak, turun di mana? ibu takut tadi." Aku berusaha menenangkan seorang ibu di sebelahku dan memberinya minum dari botol yang memang ia pegang.
Berhenti di stasiun berikutnya, petugas menurunkan Ibu tadi, untuk mengecek kesehatannya. Aku pun ikut turun, sekedar mengatasi rasa akibat kecemasan mendadak yang baru saja terjadi.
(Feb-2022) Cerita fiktif hasil kehaluan author.