Iringi iringan mobil memasuki kawasan pinggiran desa tujuannya adalah ke sebuah lahan rumah di ujung jalan desa. Dua mobil terparkir manis di halaman rumah besar dengan model bangunan jawa kuno, penuh ukiran kayu, juga ada lampu lamanya, Walau demikian rumah itu sudah di paasang listriknya. Hanya tampa AC.
Mobil pertama ada Rasti, Lusy dan Sarah.
Mobil kedua Revan, Rahman, Seno dan Bisma.
Rumah ini baru dibeli beberapa waktu lalu oleh. ayah nya Rahman. Karena sahabat nya ingin berlibur maka dia nawarin ke sini kota Jawa desa Delima. Ia sendiri baru pertama kalinya ke sini. Sebenarnya tanah dan rumah ini adalah bonus dari proyek pembangunan gedung sekolah milik sebuah yayasan yang di kerjakan di kota itu, dan oleh aparat desa dan pemilik yayasan tersebut memberikan bonus bayarannya berupa rumah dan ayahnya Rahman adalah kontraktor.
" Wellcome to paradise", teriak Seno dengan lantangnya.
"Assalamu'alaikum " Rasti , Rahman, Lusy, Bisma mengucapkan salam serempak dan nyaring.
" Kayaknya lagi latihan koor deh..' sarkasme Sarah terus melenggang dengan koper nya yang berwarna pink.
"Cantik..menarik." gumam Revan nyaris tak bersuara .
POV author
Sarah emang dandanan nya girly banget, dia selalu dandan, ga pernah enggak. Baginya make up adalah wajib.
Rasti dia gadis berhijab, taat agamanya, juga Rahman,Bisma dan relegius.... Sedangkan Revan dan Lusy menunaikan kewajiban beribadah pada umumnya saja. Sedangkan Seno dan Sarah sudah menjadi korban duniawi. Mereka memutuskan berlibur bersama ke villa yang di dapatkan ayah Rahman beberapa waktu lalu.
Mereka pikir roud tour ke Jawa sangat menarik adrenalin, secara nyetir sendiri dan mencari suasana baru. Biasanya mereka menyewa agen perjalanan jika berlibur. Ya mereka bersahabat sejak dari SMU jadi sudah hafal dengan tabiat dan kebiasaan.
Dari arah luar muncul sepasang suami istri naik motor model lama, dengan pakaian khas daerah Jawa, Mereka berumur seperti orang tua Rahman.
"Assalamualaikum " , sapa sang bapak.
"Walikum salam ", jawab semua serempak, kecuali Seno dan Sarah
Revan dan Lucy memang bukan orang relegius tapi mereka masih mempunyai tata Krama. Dan menghargai orang tua juga orang lain
"Maaf, den terlambat. Tadi ada kambing bapak yang lepas ... maklum kayunya lapuk. Belum ada rejeki untuk membelinya. Jadi hanya tambal sana sini ", kata si Bapak.
" Maaf, nak Rahman yang mana ya?", tanya beliau.
"Saya Rahman, pak. Ini teman teman saya, Seno, Sarah, Revan, Lucy, Rasti dan Bisma. Maaf sebelumnya, kami merepotkan." jelas Rahman
"Iya nak Rahman. Mari...silahkan, Monggo (silahkan)..." bapak itu mempersilahkan masuk dengan membukakan pintunya.
" Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum..." gumamnya. sambil membuka pintu setelah memasukkan kuncinya ke lobang pintu.
Semua berpandangan..
"..........."
" Adat istiadat nak, jika masuk rumah atau ke manapun donga LAN uluk salam( mengucapkan salam dan doa). unggah ungguh tata Krama kudu di enggo aja sembrono.(sopan santun harus di jaga dan jangan sembarangan/gegabah) iku ora bener( itu tidak baik)", nasehatnya.
" ya pak" jawab yang mengerti bahasa Jawa.
" Semua siap nak..bahan sembako sudah di isi di kulkas, air , jajanan ringan juga ada di almari kecil. Semua sudah di bersihkan." jelas sang istri.
" Terimakasih Bu" jawab Rasti.
Mereka pamit setelah memberi kunci rumah .
" Mereka ga nginep?", tanya Sarah.
"Bukannya kita sepakat masak sendiri?" , tanya Bisma.
" Anak cewek bagian memasak dan Anak cowok bersihin rumah?", sambung Rahman.
" Kesini kan having fun...kok ujung ujungnya jadi babu", sungut Sarah.
" Sudah lah Napa protes mulu kerjaannya." potong Lucy. "Kamarnya ada 8 katanya, 5 kamar diatas 3 di bawah. Kamar mandi ada 4, 2di atas 2 di bawah samping dapur."
"Aku kamar utama", seru Sarah. Semuanya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Melihat kelakuan Sarah.
" Kita ke kamar dulu bersihin badan shalat lalu kumpul disini." titah Rahman.
Mereka pun bubar. Seno, Rasti, Sarah, Rahman di kamar atas sedangkan Lucy, Kevin ,Bisma di lantai 1. Mereka bergantian menggunakan kamar mandi. kemudian shalat dan lalu kumpul di dapur. Mereka memutuskan masak bareng karena hari pertama datangnya sama letih nya setelah menempuh perjalanan jauh.
Makan. malam pun berjalan tenang tanpa keributan.
Sesudah makan malam mereka sibuk dengan dunianya sendiri. Ada yang asyik dengan gawainya,ada juga yang membaca , ada yang menonton siaran tv lokal.
Revan berjalan ke arah samping kamarnya.""ruangan apa ini ? gumamnya. Dia asyik melihat' lihat seisi rumah di lantai 1. Di samping kamar Revan ada ruangan yang cukup besar.Ada rak buku-buku, ada meja besar di tengah rak. Sepertinya ini ruang kerja merangkap perpustakaan pribadi.
" Indah dan rapi. menarik", pujinya. Saat ia membaca ia melihat sekelebat bayangan putih melintas, dengan ekor matanya ia melihatnya. Seorang wanita dengan kebaya putih dan kain bercorak lurik warna putih. Rambutnya di sanggulnya dan ada setangkai bunga mawar di sematkan. Cantiknya, gumam Revan.
Suara derit pintu di buka." Revan ngapain Lo di sana?" , tanya Rahman.
" Nnggak ada hanya melihat lihat saja." jawabnya.
" sudah malam waktu istirahat." serunya mengingatkan. Revan mengangguk, mereka pun keluar. Semua ke kamarnya masing-masing istirahat.
Keesokannya Setelah sarapan... Rahman mengajak teman-teman nya jalan-jalan ke desa, ngajak sosialisasi di desa, melihat para petani bekerja di ladang garapannya. Mereka juga jalan jalan ke sawah- sawah. Mereka tak lupa mampir ke perangkat desa memohon ijin tinggal, ia juga memohon maaf datang terlambat karena kemaren sewaktu sampai di desa sudah kesorean. Semuanya kecapekan jelasnya.
Aparat desa Delima memahaminya, dan mereka di ijinkan dengan sayrat harus sopan dalam bersikap dan berpakaian.
Sesuudah dari aparat desa Revan memilih pulang sendiri. Dia tidak masuk melainkan berjalan ke belakang rumah. Di sana ada taman dan bekas kolam ikan...juga Gasebo. Di Gasebo ada wanita yang duduk dengan kebaya putih atasannya dan kain jarik yang sama. Tapi sekarang rambutannya di urai, hitam dan panjang.
"Assalamualaikum.' sapa Revan
""Walaikum salam" gadis itu menoleh.
cantiknya, gumamnya.
"Maaf, dengan adik siapa?"
"Larasati, mas" gadis itu tersenyum ada lesung pipinya.
"Revan" keduanya bersalaman. Dingin tangannya seperti es.. batinnya.
" Sudah lama adik Disni?"
"mhmm iya seh,mas. la wong aku kan tukang resik resik omah ngewangi bapak ibu.( iya mas ,aku kan yang membantu bapak ibu yang bersih bersih rumah ). ", sungutnya.
Lagi marah aja masih cantik apalagi tidak marah, Tampa di sadari Revan tertawa kecil.
"No po mas ana sing lucu? (ada apa mas ada yang lucu?)" ,gadis itu mengerutkan keningnya.
Revan memang tidak paham bahasa Jawa tapi dia hanya melihat ekspresi gadis itu. Apa gadis ini kerja disini jika siang hari? pikirnya. Revan hanya memandangi nya saja.