25 Desember, tepatnya di hari Natal.
Aku keluar dengan terburu-buru dari rumah, menuju perempatan jalan yang agak jauh dari rumahku.
"Semoga tidak terlambat" batinku sembari berlari kesana.
Sesampainya di perempatan jalan, aku mulai menengok kesana kemari, mencari orang yang sudah berjanji akan bertemu denganku di tempat itu.
Hingga akhirnya, mataku tertuju pada sosok yang berada di seberang jalan; seorang laki-laki berambut hitam dengan jas panjang berwarna coklat dan syal merah maroon yang melilit di leher hingga menutupi mulutnya.
Mata merah ruby nya melihatku, dia melambaikan tangannya yang berbalut sarung tangan hitam kepadaku.
Dengan segera, aku menyebrangi jalan saat kendaraan sudah berhenti berlalu lalang.
Aku meringkukkan badan dan memegangi lututku tepat di depannya, Aku lelah karena terus berlari agar tidak membuatnya menunggu lama.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya laki-laki yang bernama Rafael itu sambil memperhatikanku
"Yahh, capek sih. Tapi setidaknya aku tepat waktu." Sahutku sambil bangkit dan berdiri tegak.
"Ini pertama kalinya kau datang tepat waktu, padahal aku sudah berjaga-jaga jika kau datang setengah jam lagi." Rafael mengejekku
"Hmh, kau tau sendiri kan aku ini memang tukang ngaret." Jawabku sambil mengembungkan pipi
"Haha."
"Oh, omong-omong, kau tidak memakai sarung tangan?" Perhatian Rafael tiba-tiba tertuju pada tanganku
"Ah.. aku lupa memakainya karena cepat-cepat bersiap tadi."
"Huft, Kau ini memang benar-benar ceroboh, Hirana."
Rafael melepaskan sarung tangannya dan menyodorkannya kepadaku.
"Ini, pakailah. Tidak akan baik jika kau tiba-tiba demam dan pingsan."
"Aku tidaklah selemah itu!"
"Sudahlah, pakai saja. Aku tidak mau diinterogasi ayahmu seperti dulu."
Ingatan saat Rafael diinterogasi oleh ayahku di rumah sewaktu kami masih kecil pun terputar kembali di dalam kepalaku.
Saat itu benar-benar lucu, hanya karena aku pilek sepulang bermain dari rumah Rafael ayahku jadi menahan Rafael di rumah selama berjam-jam.
Itu membuatku tertawa.
"Haha, baiklah baiklah, aku akan memakainya."
"Tapi aku hanya akan memakai satu saja, satu lagi kau yang pakai."
"Tidak usah, kau pakai keduanya saja."
"Tidak. Seperti kau yang tidak mau aku demam, aku juga tidak ingin kau sakit!"
"Tapi kalau seperti itu, sama saja kan salah satu tangan kita tetap kedinginan? Lebih baik aku yang staminanya lebih bagus saja yang tidak pakai sarung tangan."
Dia seperti meremehkanku saja.
Karena itu---
Aku mengambil kedua sarung tangannya, lalu menarik tangan kanan Rafael dan memakaikan salah satu sarung tangan itu.
Sementara aku memakai sarung tangan satunya lagi di tangan kiri.
Terakhir, aku menggenggam tangan kiri Rafael dengan tangan kananku yang sama-sama tidak terpakaikan sarung tangan.
Rafael tampak bingung dan kaget.
"Nah, begini saja! Kedua tangan kita jadi sama-sama hangat kan?" Sahutku dengan senang seperti sudah menemukan ide yang sangat luar biasa saja.
Tapi Rafael tidak menjawab.
Keheningan pun berlangsung beberapa saat.
"Emm, kalau begitu kita langsung jalan saja, yuk? Kasian Caca kalau kita terlalu terlambat." Aku mengajaknya untuk melanjutkan perjalanan agar suasana tidak canggung.
Ya, kami bertemu disini karena akan berangkat ke rumah sahabat kecil kami, Caca, untuk merayakan hari Natal bersama.
"O-oke..."
Fyuh! Untunglah Rafael menerima ideku ini dan tidak menolak terus. Jika tidak, aku benar-benar tidak tau harus bagaimana lagi.
.
.
.
Saat kami melanjutkan perjalanan, tiba-tiba salju turun lagi.
"Wahh-!" Aku menadahkan tangan kiriku untuk menangkap beberapa salju yang mulai berjatuhan di dekatku.
Mata biruku seolah bersinar, karena kepingan salju itu benar-benar indah.
Hingga aku tidak sadar, laki-laki yang berdiri disampingku itu, wajahnya memerah seperti tomat karena tangannya kugenggam.
~Finish!
Ini pertama kalinya author buat cerpen, jadi maafkan jika ada kesalahan kata atau kalimat yang susah dimengerti.
Btw di cerpen gak bisa diisi gambar ya, di cover juga kepotong. Jadi kalo kalian mau liat ilustrasi nya bisa cek di ig author, @aytris_ ya!
Thanks dah baca haluan author yang pendek dan dadakan ini! hehe (*´ω`*)