BAB 3
SURAT YANG TIDAK SEHARUSNYA DIKIRIm
Sesampainya di sekolah.
Rangga melihat Pak Darmaji dari kejauhan, sedang berdiri bertolak pinggang di sisi lapangan memantau keadaan. Rangga segera bersembunyi di balik dinding. “Sial, dia berdiri tepat di depan pintu kelasku lagi,” gumam Rangga. Rangga mengetik pesan di HP-nya dan mengirimkannya. Terdengar nada pesan masuk di HP Adit membuatnya dan teman satu kelasnya terkejut begitu juga guru mereka.
“Hape siapa itu? Matikan atau Bapak sita,” tegur pak guru yang akan memulai absensi harian. Adit segera mematikan suara HP-nya dan membaca pesan masuk dari Rangga kemudian menulis sesuatu di sobekan kertas. Pak guru memulai absensinya dengan memanggil nama-nama murid dan Adit adalah nama pertama yang dipanggil. “Hadir Pak,” sahut Adit seraya berdiri dari kursinya, menyelipkan sobekan kertas itu pada tangan Haikal lalu meminta ijin untuk ke belakang. Pak guru mengijinkan dan melanjutkan absensinya.
Haikal membaca tulisan di sobekan kertas itu, ia mengerti dan bersiap-siap. Di luar kelas Adit menghampiri Pak Darmaji. “Pagi Pak … Pak, kaos olahraga saya sobek, saya mau beli di koperasi,” ucap Adit . “Loh nanti saja belinya kalau jam istirahat, sekarang kamu lagi jam pelajaran bukan?” saran Pak Darmaji yang juga pengurus koperasi sekolah. “Sekalian saya ke toilet Pak dan kebetulan ada Bapak di sini … kalau ditunda-tunda duitnya takut kepake jajan Pak,” alasan Adit. Pak Darmaji menggeleng, “Oalah, ya sudah, ayo, ayo.” Kemudian mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang koperasi.
Melihat Pak Darmaji tidak ada, Rangga dengan cepat berlari melintasi lapangan menuju kelasnya dan berdiri di balik pintu. Sedang pak guru di dalam kelas masih terus mengabsen dan telah sampai di huruf R. “Radit Purnomo?” panggilnya. “Hadir Pak,” jawab Raka. Waduh satu nama lagi, namaku yang dipanggil! batin Rangga tegang. Haikal melihat Rangga tengah mengintip dari balik pintu. “Rahel Juanita?” sebut pak guru. “Ada Pak” jawab Rahel.
Kemudian Haikal mengambil bukunya dan berjalan menuju meja gurunya. “Rangga Ba---“ pak guru tidak melanjutkan mengabsen nama Rangga karena Haikal telah berdiri di depannya. “Ada apa?” tanya pak guru. Haikal mengangkat bukunya ke depan wajah pak guru untuk menghalangi pandangannya, bertepatan dengan Rangga yang mengendap masuk ke dalam kelas. Semua murid cekikikan menahan tawa melihat hal itu.
Pak guru menepiskan buku itu dari wajahnya. “Ini apa-apaan sih Kal,? Nanti saja kalau mau tanya tugas, Bapak lagi absen loh ini!” kesal pak guru. Haikal melirik dan melihat Rangga sudah duduk tenang di kursinya. “Oh ya sudah toh, maaf Pak,” ucap Haikal kemudian kembali ke mejanya. Pak guru geleng-geleng lalu melanjutkan absensinya dengan memanggil nama lengkap Rangga.
“Ada dong Pak,” sahut Rangga mengancungkan tangan, setelah itu ia dan Haikal saling tos dan tersenyum lebar.
***
Sepulang sekolah Rangga membawa lima buku novel yang telah dibungkusnya dengan rapi itu menuju parkiran sepeda kelas sepuluh. Rangga terkejut ketika hanya menemukan cover sepedanya yang telah terlipat rapi dan diletakkan di sisi parkiran tetapi anehnya sepeda Melati sudah tidak ada. Tadinya Rangga akan meletakkan buku itu di keranjang sepedanya. Rangga pun berkeliling mencari sepeda Melati tetapi tidak ditemukannya. Ia duduk termangu menunggu, melihat satu persatu murid kelas sepuluh membawa sepedanya masing-masing hingga lapangan parkiran itu kosong.
Adit dan Haikal mendatangi Arga yang nampak bingung. “Ga … tadi kita mau ngomong sama kamu sebetulnya, tapi kita ga tega lihat kamu antusias banget mau ngasih novel itu,” ucap Haikal . Rangga menatap kedua sahabatnya. “Ga tega kenapa? Memangnya ada apa sama Melati?” tanya Rangga. “Saat kamu masih ijin sakit karena babak belur itu, sepeda Melati sudah diambil keluarganya kemarin … dan denger-denger Melati juga sudah dipindah sekolah sama orang tuanya,” jelas Adit.
“Apa?” kaget Rangga.
Tubuhnya seketika lemas dan hatinya mendadak layu.
Adit dan Haikal mengangguk berbarengan.
“Bintang juga sudah dikeluarkan dari sekolah dan---“
“Gue ga peduli sama Bintang,” tukas Rangga memotong kalimat Haikal. “Dipindah ke sekolah mana?” sambung Rangga. “Ga ada yang tau, katanya sih ke kota tapi kota mana juga ga ada yang tau,” jawab Adit. rangga menundukkan kepala sedang jemarinya memegang erat tumpukkan buku novel tersebut. “Ga, sudahlah, ini mungkin hikmahnya supaya kamu fokus ke persiapan ujian akhir,” ucap Haikal diikuti anggukkan kepala Adit.
Tiba-tiba Rangga berdiri dari duduknya dan berlari menuju sepedanya. “Eh mau kemana Ga?” teriak Adit. Rangga menaiki sepedanya, seraya berkata, “Sekolahnya yang pindah, tapi rumahnya ‘kan engga!” Kemudian ia mengayuh sepedanya cepat keluar sekolah. “Oalah edan tenan karena cinta itu bocah,” geleng-geleng Haikal.
***
Rangga telah sampai di rumah Melati.
Dari atas sepedanya yang melewati rumah Melati, ia melihat seorang pria paruh baya berkumis tebal sedang duduk menikmati kopi di teras. Itu pasti bapaknya, batin Rangga. Hatinya jadi tegang, nyalinya ciut dan itu membuat Rangga hanya bolak-balik di depan rumah Melati dengan sepedanya tak berani untuk mendatanginya. Sedang pria paruh baya itu mengerutkan kening melihat seorang remaja dengan sepedanya telah mondar-mandir di depan rumahnya lebih dari lima kali. Ini membuatnya curiga.
🤣🤣🤣🤣
Ia menghampiri tepat saat Rangga melintas di depannya. “Hey!” bentaknya membuat Rangga kaget hingga sepedanya oleng bergoyang-goyang dan nyaris masuk semak-semak di pingir jalan. Beruntung Rangga masih bisa menarik remnya kuat-kuat. Rangga menelan ludah ketika melirik pria berkumis tebal itu tengah bertolak pinggang menatapnya dari depan pagar rumahnya. Rngga segera membawa tumpukan buku itu dan mendatanginya meski hatinya tegang. “Ada apa kamu dari tadi saya perhatikan bolak-balik di depan rumah saya?” tanyanya. “Ini Pak … um … mau anter paket,” cetus Rangga entah mendapat ide dari mana ia bisa memberikan jawaban mengarang seperti itu.
Pria itu mengerutkan kening melihat pengantar paket dengan sepeda dan hanya membawa satu paket. “Ini paket khusus, jadi saya hanya antar satu paket saja,” cengir Rangga berkilah. “Kenapa bolak-balik?” pria itu masih curiga. “Memastikan alamat Pak, ‘kan paket khusus, jadi tidak boleh salah alamat,” jawab A
Rangga menyerahkan sebuah bungkusan dengan tangan gemetar. Pria itu menerima bungkusannya dan mengerutkan keningnya lagi karena pada kertas bungkusnya hanya ada tulisan, “Untuk Jingga” tanpa ada alamat, stiker ekspedisi dan lain-lain layaknya sebuah paket resmi.
“Baiklah … tugas saya sudah selesai, mari permisi Pak,” pamit Rangga membungkukkan badannya lalu segera melompat menaiki sepedanya dan mengayuh secepat kilat pergi sebelum pria paruh baya berkumis tebal itu berkata-kata.
***
Beberapa bulan kemudian.
Rannga, Adit dan Haikal merayakan hari kelulusan mereka bersama teman-teman kelas dua belasnya. Mereka saling berpelukan melihat nama mereka tertera di daftar siswa yang lulus. Dalam keriuhan bercampur teriakan gembira, Rangga menyingkir dan berjalan menuju kelas sepuluh. Ia berdiri di depan pintu kelas Melati, kelas tampak kosong. Hari itu sekolah memang diliburkan untuk kelas sepuluh dan sebelas.
Rangga melangkah masuk dan duduk di kursi Melati.
Ia membayangkan gadis itu sedang menundukkan kepala membaca bukunya di sini dan sesekali sambil mengunyah roti dari kotak bekalnya. Pertemuan sesaat tapi berkesan bagi Rangga meski ia tidak pernah melihat wajah gadis itu. Rangga tahu ia merasa kehilangan ketika Melati pergi, tetapi Rangga juga tahu ia mencintai Melati bukan untuk meminta balasan.
Ia mencintainya tulus.
Menjaganya dengan ikhas.
Tidak meminta apa pun.
Bahkan meski gadis itu tidak pernah tahu siapa dirinya.
Rangga tidak menyesali itu. Bagi Rangga, tidak harus dicintai untuk bisa merasakan cinta. Ada sebuah keagungan rasa yang tidak bisa ditemukan dalam sebuah hubungan yang biasa. Seperti pengabdian tanpa batas atas nama keindahan cinta. Mencintai tanpa balasan bukan hal yang memalukan. Sebaliknya Rangga menemukan kebahagiaan. Orang berkata, buat apa jatuh cinta kalau tidak bisa memiliki. Maka Rangga berkata, jatuh cintalah meski tidak bisa memiliki. Orang berkata, cinta yang tidak berbalas adalah menyakitkan. Maka Rangga berkata, bukan cinta yang tidak berbalas yang menyakitkan tapi tidak bisa mencintai dengan ikhlas itu yang menyakitkan.
Rangga memejamkan mata seraya tersenyum.
Ia bahagia untuk Melati di manapun Melati berada.
***
Hari ini. Tahun 2021.
“Bu, Buuu … Paaak … lihat Kak Rangga ada di tivi lagi,” seru Kunyil dari depan televisi. Bapak datang dari belakang rumah dan tersenyum bangga melihat Rangga bersama delapan orang temannya sedang bernyanyi dan menari dengan kompak.
“Ini ben apa namanya ‘Ndhuk?” tanya bapak (*Ndhuk adalah ‘Nak; panggilan sayang dari orang tua ke anak perempuan biasanya dipakai di daerah Jawa Tengah/Timur). “Ini disebutnya, boyband Pak,” jelas Kunyil. Bapak manggut-manggut lalu memotret layar televisi itu dengan HP-nya yang baru dibelikan Rangga lalu menatap senang pada koleksi foto Rangga di galeri foto HP-nya yang sangat banyak dengan berbagai pose dari berbagai media.
“Ibumu mana sih?” tanya bapak. “Kayaknya di kamar Kak Rangga,” jawab Kunyil dengan mata tak lepas dari layar televisi. “Akhirnya tercapai cita-citamu Kak, menjalani apa yang kamu suka,” ucap Kunyil tersenyum melihat kakaknya yang sedang menari dan bernyanyi itu. Hatinya senang sekaligus bangga, kini ia memiliki kakak yang sukses dan populer. Bahkan di kampusnya semua temannya mengidolai boyband dengan sembilan orang anak muda tampan itu.
“Bu! Ini loh anakmu di televisi,” panggil bapak. “Iya Pak, Ibu tahu … baru kemarin di tivi, sekarang sudah muncul lagi … wis lah, Ibu mau bersihkan kamar Rangga dulu, besok juga Rangga muncul lagi …” sahut ibu. “Bu kamar Kak Rangga ngapain dibersihin sih? Minggu depan ‘kan Kak Rangga pulang, nanti juga berantakan lagi,” sahut Kunyil. “Ya karena itu harus dibersihkan, jadi kalau dia pulang, kamar sudah bersih gitu loh,” sahut ibu bersikeras. “Iya deh, gimana Ibu aja,” balas Kunyil. Akhirnya bapak dan Kunyil membiarkan ibu merapikan kamar Rangga.
Semua debu di kamar sudah dilap oleh ibu, disapu juga dipel. Sebetulnya ibu sudah rutin menyapu dan membersihkan debu di kamar Rangga hampir setiap hari sejak Rangga berkuliah di Jakarta beberapa tahun lalu. Hanya sesekali seperti saat Rangga akan pulang ke rumah maka ibu membersihkan kamar itu secara menyeluruh. Seprai kasurnya diganti, lantainya dipel, isi lemari baju dirapikan lagi meski masih rapi, isi meja belajar dibongkar kemudian dirapikan lagi. Semua ibu lakukan semata karena rasa sayangnya pada Rangga. Hingga ketika ibu sedang membongkar isi meja belajar, ibu baru menyadari kalau laci meja belajar itu tidak pernah dibukanya karena terkunci. Ibu mencari-cari kunci laci tersebut dan menemukannya di dalam lemari di bawah tumpukan baju.
Ibu membuka laci meja belajar itu dan terkejut.
Tampak amplop-amplop surat memenuhi laci tersebut. Ibu mengambil surat-surat itu seraya mengerutkan keningnya. “Rangga ini gimana, nulis surat kok nggak dikirim, apa dia lupa?” ibu bertanya-tanya. “Ndhuk! Ndhuk!” panggil ibu. Muncul Kunyil di pintu kamar, “Apa Bu?” Ibu menunjukkan surat-surat itu, “Ini loh, kakakmu nulis surat tapi kok ndak dikirim ya, apa dia lupa?” Kunyil mengambil surat itu dan membaca nama yang dituju di amplopnya. “Ini surat buat temannya Kak Rangga, aku pernah lihat Kak Rangga nulis ini, sepertinya dia lupa untuk mengirimkannya Bu,” ujar Kunyil. Ibu mengeluarkan semua surat itu dari laci dan menyerahkannya pada Kunyil.
Ya sudah kamu kirim sana pake pos, minta uangnya sama Bapak, jadi kalau kakakmu datang dia pasti senang tahu surat-suratnya sudah dikirim,” kata ibu berinisiatif. “Ngapain pake pos, aku ‘kan tahu rumah si penerima surat ini, aku antar langsung aja Bu,” sahut Kunyil bergegas pergi.
Seminggu kemudian Rangga pulang.
Kali ini, ayah, ibu dan adik Rangga merahasiakan kepulangan Rangga ke kampungnya. Tidak seperti saat terakhir ketika Rangga pulang. Para warga kampungnya berdatangan berebut menyambut Rangga. Rangga yang telah menjadi kebanggaan di kampungnya karena menjadi boyband terkenal membuat antusiasme warga tinggi. Teriakan-teriakan histeris, “Rangga I love you, Rangga I love you!” terdengar membahana. Ratusan kamera HP dari para warga berusaha mengabadikan Rangga. Keramaian itu menjadi kericuhan hingga pagar rumah Rangga jebol dan ambruk. Akibat hal itu, tiap kali Rangga pulang kampung mereka selalu merahasiakannya.
Rangga membawa oleh-oleh banyak untuk ibu, bapak dan Kunyil. Malam itu mereka berkumpul di ruang keluarga, membuka tumpukan bingkisan oleh-oleh sembari tertawa, saling berbagi rindu dan cerita. Ibu mengajak Rangga ke kamarnya berkata, “Tuh lihat, Ibu sudah bersihkan kamarmu Ga.” Rangga senang melihat kamarnya bersih dan rapi, ia pun melompat ke atas kasurnya. “Ibu memang yang terbaik!” puji Rangga lalu menggeliat di atas kasur. “Aku juga bantu-bantu loh Kak,” celetuk Kunyil muncul di pintu kamar sembari mengunyah coklat almond oleh-oleh Rangga.
“Halah bantu apa, kamu cuma bantu ngirimi surat kakakmu itu thok,” cetus ibu, Kunyil pun nyengir. Rangga terdiam di atas kasurnya memandangi ibu dan Kunyil.
“Surat?” Rangga mengerutkan keningnya.
Ibu dan Kunyil mengangguk serempak.
“Maksud Ibu, si Kunyil bantu ngirim suratku yang mana?” tanya Rangga.
“Ya itu yang ada di laci meja belajarmu itu loh,” tunjuk ibu ke laci meja belajar dengan kunci yang masih tergantung. Mata Rangga melotot seketika, terkejut. “Hah?!” pekiknya. Ibu dan Kunyil sama-sama kaget mendengar pekikan itu. “Kok kaget sih Kak? ‘Kan kita pikir Kakak lupa ngirimi surat itu karena sibuk, jadi ya aku dan Ibu berinisiatif untuk mengantarkan suratnya langsung,” jelas Kunyil.
“Tidak!!” panik Rangga langsung melompat dari tempat tidur dan menarik laci meja belajarnya yang terlihat kosong. “Ja … jadi surat-surat ini, kamu kirim ke ….” Rangga tak bisa melanjutkan kata-katanya, ia mengacak-ngacak rambutnya gelisah. “Ya aku kirim ke rumah Melati langsung,” sambung Kunyil tanpa dosa, “dan yang nerimanya juga Melati sendiri.”
Rangga menatap Kunyil dengan rambut kusut dan wajah panik, “Apaa???”
BERSAMBUNG