Semua manusia pasti punya orang yang mereka benci. Begitu juga aku, aku sangat benci kakak tiri ku. Memang kekanakan membenci saudara sendiri, tapi aku benar-benar tidak terima mereka menjadi bagian dari keluarga ku.
Suara kamar terbuka...Ceklek..
Di depan terlihat pria tinggi, rambut hitam kecoklatan, dan mata tajam yang menawan.
"...."
"Apa lihat-lihat?!"
Ucapku dengan kernyitan alis. Dia hanya berdecak, menunjuk ke bawah dan langsung pergi. Cih, menyebalkan. Tanpa di suruh pun aku akan pergi ke meja makan sendiri.
Kami turun melewati tangga, berjalan dengan jarak lumayan jauh, dan tak ada salah satu di antara kami yang berbicara. Sesampainya di meja makan, terlihat ayah yang sudah mengenakan seragam kerja di dampingi dengan secangkir teh. Sedangkan...ck, wanita itu sedang memasak seperti biasa.
Kami duduk di kursi dan langsung menyibukkan diri dengan handphone. Wanita itu tersadar dengan kedatangan kami, dengan senyuman dia berkata...
"Selamat pagi Clara"
"Hm..."
Jawab ku singkat. Ayah yang mendengar berpura-pura batuk dan menatap ku dengan penuh harapan. Haah, kan sudah kubilang beberapa kali aku paling malas berbicara dengan wanita ini.
"Tsk, pagi" ~Clara
"Hahaha, oh ya dari yang ibu dengar kalian berhasil lolos dari lomba Matematika. Wah hebat" *kagum
"Benar sekali, ayah bangga dengan kalian" *senyum
"Biasa saja tuh" ~Clara
Mereka kembali terdiam, sepertinya percakapan basa-basi ini sudah habis. Ya syukur deh, namun tak lama ada seseorang yang membuka suaranya. Suara yang menyebalkan, dengan kata-kata tak sopan keluar dari mulut.
"Mereka tidak niat memberikan soal, semua jawaban terlalu gampang untuk ku"
"Hah? Apakah kau sedang berbangga diri?"
"Ini kenyataan, oh apa kau ya yang kesulitan? Pftt, lemah"
"Grrrr💢"
"Kalian sudahlah, masih pagi masa sudah bertengkar. Dan Andrian jangan ganggu adik mu💧" ~ibu
Kami kembali diam, acuh satu sama lain. Ibu dan ayah kesulitan menghadapi kami berdua yang selalu saja bertengkar.
Haah, tanpa bercerita pun kalian pasti sudah tau apa yang terjadi di keluarga kecil kami. Ibu ku meninggal saat diriku berusia 7 tahun. Sedangkan ayah dari Andrian meninggalkan dia dan ibunya tanpa kabar 8 tahun yang lalu, atau lebih tepatnya saat Andiran masih berumur 9 tahun. Dan pada akhirnya perceraianlah menjadi jawaban. Kami berempat memiliki kesamaan, yaitu kehilangan sosok anggota keluarga yang di miliki.
Yah, entah karena takdir ayah dan wanita itu di temukan. Merasa cocok satu sama lain mereka menikah. Itulah awal mula aku bertemu dengan Andrian,tatapan kami sudah jelas... tidak ada yang namanya cinta persaudaraan di antara kami.
Makanan di piring sudah habis, aku berdiri dan mengambil tas ku yang tergeletak di ujung tembok.
"Sudah selesai, aku mau berangkat" ~Clara
"Anu Clara, kakak mu dapat antar ke sekolah naik montor jika kamu mau"
Suara terbata dan pelan seakan tak berani berhadapan dengan ku. Aku hanya menggelengkan kepala dengan wajah datar.
"Tidak, aku naik sepeda saja...ibu"
Wajah lesu kembali, namun aku serta Andrian tidak peduli terhadap mereka. Benci ya tetap benci, aku hanya menganggap hubungan ini 'Saling Menghormati' daripada 'Keluarga'. Dan aku yakin Andrian berpikiran sama dengan ku.
"Clara tunggu, soal keberangkatan kami kalian tidak apa kan ditinggal selama 2 minggu? Untuk makanan nanti Tante Diana yang kirim ke kalian"
Kami saling bertukar pandang, dan hanya mengangguk mengiyakan.
"Tidak masalah" ~Clara
"Ya, benar" ~Andrian
Ayah dan Ibu hanya tersenyum lega mendengar jawaban kami...
.
.
.
1 bulan berjalan, seperti yang di katakan mereka pergi 2 minggu yang lalu. Keluar kota beralasan urusan pekerjaan disana. Dan hari ini harusnya mereka akan pulang. Sabtu malam dengan rintikan air di langit. Aku menatap luar jendela, awan terlihat sangat gelap daripada biasanya. Ayah dan wanita itu...bagaimana keadaan mereka?
Perasaan gelisah dan cemas terlukis di wajah tanpa ku sadari. Di sofa yang hangat seorang pria duduk dengan secangkir susu menemaninya. Andrian terdiam membisu tanpa satu katapun. Aku mendekat dan duduk di sebelahnya.
Kami hanya diam, hanya merehatkan diri di sofa yang empuk. Namun tak lama, terdengar petir menyambar di susul dengan suara hujan yang semakin deras.
CTRAAR!
Kami tersentak kaget dan memandangi satu sama lain. Menelan ludah dengan tatapan kekhawatiran.
"Hei, jam terbang mereka harusnya 1 jam yang lalu kan?"
Tanya ku memastikan. Andrian mengangguk membenarkan. Dan seharusnya sekarang ini mereka sedang ada dalam pesawat. Namun...jika situasi seperti ini apakah memungkinkan?
"Pembaca cuaca sialan"
Umpat Andrian dengan mata menyeramkan.
"C..coba telpon ibu atau ayah"
Ucap ku terbata-bata.
"Handphone ku ada di atas, tolong ambilkan"
"T..tidak mau, ambil sendiri sana"
Andrian bingung dengan tingkah ku. Baru juga dia berdiri, suara petir terdengar sangat kencang!
Reflek aku menutup kedua telinga, memejamkan mata, dengan badan gemetar tak karuan. Sial, aku sangat benci hujan...atau lebih tepatnya aku...ketakutan.
"Kau...jangan bilang sedang ketakutan?"
"Berisik! Memang kenapa jika aku benci hujan?"
Dia terdiam sebentar, tak lama berjalan menjauh pergi ke atas untuk mengambil handphone nya. Kini tinggal aku sendiri di ruang tamu. Suara petir terus terdengar, rintikan hujan yang deras membuat bulu kuduk ku merinding.
JDAARRR!!
Suara petir di susul dengan listrik yang padam. Seketika badan ku membeku, tak tau harus berkata apa. Ruangan yang gelap dan hujan yang masih belum berhenti.
"A..."
T..tidak, kenapa aku harus memanggil dia? Aku sangat takut, berisik! Berisik! Sial, sejak kapan aku benci hujan seperti ini? Seseorang...siapa saja tolong pegang tangan ku. Aku...sangat takut.
Aku meringkuk dengan tubuh yang masih bergetar. Tak lama ada seseorang yang merangkul ku, memberikan selimut hangat dan menepuk pelan punggung ku.
"Andrian?"
"..."
Dia berdiri, di meja sudah ada lilin dan korek api. Andrian dengan hati-hati menghidupkannya.
CTAARRR!!
"Hiiik!!"
"Pfttt..."
Dia tertawa? Sial, tapi aku tidak bisa membantahnya. Ini memang membuat ku takut.
"Tertawa saja semaumu"
"Hahaha maaf, ku kira kau gadis angkuh yang tidak takut apapun. Ternyata itu hanya dugaanku"
Seketika pipi ku memerah, dengan kata lain dia menyebutku pengecut?///
Setelah selesai dia kembali duduk di samping ku. Bedanya, jarak di antara kami samakin dekat. Bahkan aku bisa merasakan kakinya ada di sebelah ku.
"Mau aku puk puk adik?"
Pandangan seakan meremehkan ku, tsk sialan.
"OGAH!"
Dia kembali tertawa, sampai kapan dia akan menggoda ku terus menerus.
"Ngomong-ngomong apakah sudah ada kabar dari mereka?"
"Belum,tadi sudah beberapa kali ku telfon tapi tetap saja tidak di angkat. Kau bisa memastikannya lagi"
Dia memberi ku ponsel miliknya, panggilan tak di jawab memenuhi layar ponsel. Aku menelan ludah, namun aku mencoba untuk memastikan. Tapi tetap saja, hanya ada suara dering tak terjawab.
Wajah kami kembali menjadi khawatir, menghela nafas setelahnya. Dia memperhatikkan ku dengan tatapan intens. Tak lama keluar suara di mulutnya...
"Jangan khawatir, mereka tidak bodoh"
Entah kenapa saat dia mengatakan kata itu, aku menjadi tenang. Hanya anggukan mengiyakan yang bisa ku lakukan.
"Berbaringlah"
"Apa?"
"Tsk"
Dia menarik tubuh ku dengan perlahan, meletakan kepala di pahanya. Mengelus pelan kepala ku dengan tangan besarnya. Posisi tertidur meringkuk dengan sandaran paha dari Andrian. Aku terdiam tak percaya, wajah merah dan malu kami terlihat.
"Apa perlu melakukan ini?///"
Tanyaku memastikan.
"Cih, bukannya begini cara menenangkan adik yang sedang ketakutan? Apa cara ku salah?///"
Dia mengalihkan wajahnya, tapi tidur di pangkuan ini...tidak ada salahnya. Aku bisa merasakan kehangatan dari tubuhnya. Tepukan dan elusan seolah mencoba mengalihkan perhatian ku dengan ketakutan yang ada. Kini ketakutan akan suara petir dan hujan sudah tak ada lagi.
Yah, benar kata Andrian. Mereka tidak bodoh, mereka pasti akan baik-baik saja.
"Clara, apakah kau membenci ku?"
"Bukannya kau sama saja?"
Aku melemparkan pertanyaan ke Andrian. Ia terdiam, ternyata benar selama ini dia juga membenci ku. Tidak salah sih, toh aku sudah mengetahuinya lebih dulu.
"Jujur saja, aku takut kejadian dulu terulang kembali. Aku tidak butuh sosok ayah, namun tidak dengan ibu. Dia selalu mengatakan tidak apa tapi aku tau dia sedang menjaga hati ku. Sampai pada suatu hari dia berani bertanya...Andrian apakah ibu boleh menikah lagi? Itu membuat ku tercengang, tapi aku tidak bisa menjawab selain kata YA"
Aku terdiam mendengar semua cerita Andrian. Kami saling menatap, dia...sama sepertiku.
"Ayah juga sama, jika aku menolak permintaan Duda aku bisa dosa ngak sih? Hahaha"
"Bisa-bisanya kau mengejek ayah mu sendiri"
Kami tertawa, hahaha benar-benar takdir.
"Hal yang lebih tak terduga, tiba-tiba saja aku mendapatkan adik yang sudah 15 tahun dengan wajah ketusnya"
"Aku juga tiba-tiba ayah mengatakan, Clara sekarang kamu sudah punya kakak, yang akur ya...kakak yang lebih tua 2 tahun dari ku, wajahnya mirip preman huuu mengerikan"
Ucapku sambil tertawa, pukulan pelan mengarah ke jidat ku.
Jtakk..
"Dasar, sudah banyak sekali wanita yang nembak aku asal kau tau saja.Masih bisa mengatakan wajah ku mirip preman?💢"
"Berarti selera wanita-wanita itu buruk" *ejek
"💢"
Sentuhan terasa di perut, Andrian mengelitik ku dengan wajah yang kesal.
"Bwahaha, berhenti! Hahaha geli tau!"
Aku berdiri dan membalas klitikannya. Suara tawaan terdengar di antara kami. Hahaha...haah, kapan ya aku tertawa lepas seperti ini. Mungkin saat ibu masih menemani ku ya...sudah lama sekali.
Kami terdiam, merebahkan diri ke sofa karena kelelahan. Sandaran pundak cukup membuat kami mengantuk.
Cahaya lilin dan suara lagu di handphone menemani malam kami. Tanpa di sadari, mata kami tertutup dengan sendirinya. Tertidur terlelap, sekarang ini suara rintikan seperti lagu nina bobo untuk kami berdua.
.
.
.
Dan esoknya...
Suara derit pintu terdengar, sepasang kekasih masuk ke rumah. Pakaian basah terkena air hujan, koper besar menemani mereka.
"Haduh dasar, mereka tidak mengunci pintunya. Kalo ada maling gimana?"
Ucap seorang wanita sambil memegang kepalanya. Seorang pria hanya tertawa kecil mendengar celotehan istrinya.
Mereka melepas sepatu, berjalan masuk ke dalam. Terlihat dua anak yang tertidur di sofa. Berbagi selimut dan saling bersender satu sama lain. Suami istri itu berhenti dan menatap keduanya. Senyum hangat terukir di wajah.
"Hahaha selama kita tidak ada sepertinya mereka sudah akur"
"Sttt kamu mau membangunkan anak-anak? Sebentar akan ibu bawakan tikar dan bantal untuk mereka"
Sang ibu langsung melepaskan jaketnya dan berlari kecil mencari barang yang di maksud. Sang ayah tersenyum, dan mengelus putra dan putri nya.
"Seterusnya yang akur ya anak-anak. Ibu dan Ayah selalu ada untuk kalian"
Ucap beliau dengan suara lembut...
.
.
.
[TAMAT]