"Nora von Nunbaireee…." Gadis berambut hitam itu mengempaskan tubuh ke tempat tidur, memeluk bantal persegi yang semula berada di bawah kepala. Bola mata hitam itu menatap sendu. Bayangan seorang putra duke tampan 2 dimensi memenuhi kepalanya. "Kapan ya aku bisa isekai ke ‘A Stepmother Marchen’? Aku mau Nora...," gumamnya.
"Meong...." Bak mengatakan 'mimpi!', kucing berbulu putih itu mengeong lebar, meringkuk tepat di sebelah gadis itu.
"Robi, kamu mengataiku?" Gadis itu menumpukan kepala pada tangan, memiringkan tubuh, mengelus punggung kucingnya lembut. Sekali lagi, kucing itu hanya mengeong malas seolah sudah bosan mendengar kalimat yang sama terlontar dari bibir majikannya.
Gadis itu mendengus, kembali berbaring. “Kamu tahu Robi, terkadang aku berharap kamu seperti Amon yang bisa berubah jadi cogan dan diajak ngobrol,” gumamnya dengan kedua mata tertutup, membayangkan jika angan-angannya menjadi kenyataan. Sedangkan yang diajak bicara, hanya menutup mata seolah tak peduli.
Tak lama kemudian, terdengar dengkuran halus memenuhi ruangan. Netra kucing itu terbuka sebelah, menatap majikannya yang tertidur sambil memeluk bantal. Kucing itu mengeong kesal, pandangannya tertarik pada cahaya dari layar ponsel yang menyala di sebelah lengan gadis itu.
Seorang remaja laki-laki mengenakan mantel berwarna hijau berada tepat di tengah layar. Rambut hitam dan mata biru yang serasi dengan kulit cokelatnya. Wajah semanis warna kulitnya itu berusaha mengembang senyum. Namun tatapan dan senyumannya tidak bisa berbohong. Nampak jelas kepahitan yang berusaha ia sembunyikan. Kepahitan yang mampu menggores hati setiap pembaca komik itu.
“Meong.…” Robi meletakkan telapak kakinya di atas ponsel, tepat di dahi remaja itu. Bola mata kuningnya menatap datar, seolah berkata ‘apaan sih, gini doang’.
Pats. Selarik kilatan hijau tiba-tiba muncul dari layar ponsel, merambat ke kaki kucing itu. Tanpa sempat bereaksi apa-apa selain mata yang terbuka sempurna, kilatan itu membungkus tubuh Robi. Seluruh bulunya berdiri tatkala dingin bak air mengalir menyengat kulit.
Detik berikutnya, dalam ruangan benderang tempat seluruh lampu dinyalakan, hanya tersisa buku-buku yang berserakan di meja belajar. Tv yang dibiarkan padam. Seorang gadis 18 tahun yang terlelap di tempat tidur. Juga… sebuah ponsel yang layarnya mulai redup.
***
Sebuah kilatan bola sinar hijau tiba-tiba muncul, menghilang begitu menampakkan makhluk yang dibawanya. Seekor kucing seputih salju dengan bola mata kuning menyala, menatap tajam pada orang yang berdiri di hadapannya.
Berambut merah dan berkulit terang, juga bola mata hijau dengan pupil berbentuk petir hitam. Sesuatu menyerupai ekor yang menggeliat di samping kakinya. Dalam ruang gelap, tampak cahaya yang menguar di balik punggung tinggi orang itu. “Perkenalkan, aku Rolfang frost Cornad, dewa para hewan. Atas izin Dewa Rossiel frost Aesterdord yang agung, raja para dewa, aku akan mengirimmu ke dunia lain sebagai ganti keinginan majikanmu,” ucap suara berat itu.
Tubuh Robi yang semula menegang, bahkan cakarnya sudah bersiap kalau-kalau orang itu berniat melukainya, seketika melemas. Pandangan tajam itu membelalak. “Dewa para hewan, kalau begitu aku sudah mati?” ucap kucing putih itu pucat.
Di dunia manusia, akal para hewan tersegel di tempat terdasar dalam diri mereka, sehingga mereka bertindak hanya mengandalkan insting. Tidak memiliki nurani atau berpikir. Namun ketika mencapai alam para dewa, segel itu terbuka dengan sendirinya, sehingga cara berpikir mereka pun tak ada bedanya dengan manusia.
Tapi tetap saja, Rolfang tidak menyangka hal pertama yang dikhawatirkan kucing itu adalah apakah dirinya telah mati alih-alih dirinya yang akan dikirim ke dunia lain. Entah majikan seperti apa yang kucing itu dapat selama tinggal di bumi.
Ketika kucing putih itu masih sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri, Rolfang mengentakkan kaki, membuat dimensi gelap itu berguncang. Guncangan yang sukses membuat Robi terlonjak. Namun tak lama, pandangannya lebih dulu terpana pada 5 kartu merah yang mengambang di depan dada dewa para hewan itu.
“Pilihlah kau ingin menjadi ras apa di dunia yang baru itu,” ucap suara berat itu lagi. Rolfang mengarahkan telunjuknya ke kartu di paling kiri. “Pertama, manusia.” Telunjuknya beralih ke kartu-kartu berikutnya. “Elf, troll, dwarf, atau…”
“Iblis,” kucing itu lebih dulu memotong, menjawab dengan seringaian miring tercetak di wajahnya.
Seketika bulu kuduk Rolfang meremang. Namun dewa para hewan itu berusaha menyembunyikan keterkejutannya, berdeham singkat. “Bagaimana kau yakin kartu terakhir ini iblis?”
Mendengar pertanyaan itu, ekspresi Robi luntur seketika, seluntur baju putih yang dicuci bersama baju berwarna. “Ceritanya… panjang,” jawab kucing itu dengan ekspresi yang menyimpan berbagai kisah.
Tentu jawabannya tidak lain tidak bukan adalah… majikannya yang tergila-gila dengan komik bertema isekai dan historical. Bahkan tak jarang majikannya melantur, menyuruh Robi berubah menjadi cogan atau sugar daddy—yang lambat laun Robi paham artinya. Saat tidak ada kerjaan, gadis itu akan menceritakan satu per satu karakter kesukaannya yang terdiri dari berbagai ras sampai Robi hapal di luar kepala.
Sungguh, satu kehidupan yang ‘menyenangkan’, pikir kucing putih itu.
“Baiklah, tapi boleh aku bertanya kenapa kau ingin menjadi iblis? Kupikir semua hewan ingin menjadi manusia,” tanya Rolfang. Kini wajahnya dapat terlihat jelas seiring langkahnya yang mendekat. Di luar dugaan, wajahnya terlihat muda, mungkin sepantaran umur majikannya.
Robi mendongak, menatap dewa yang berjongkok tepat di depannya. Bola mata hijau itu seolah menyihir untuk mengungkap isi hati terdalam. “Sederhana saja, aku bosan untuk selalu bersikap baik hanya demi makanan. Aku bosan ditindas oleh para makhluk congkak yang bodoh, menganggap diri mereka baik dan berkuasa, padahal tidak juga. Jika menjadi iblis, aku tidak perlu mengalami semua itu lagi. Aku bisa berbuat sesuka hati tanpa memikirkan yang lain, tidak perlu repot-repot tersenyum dan bersikap baik.”
“Namun yang paling penting, baik di dunia manapun, iblis selalu menjadi peringkat makhluk teratas dan mendominasi, ditakuti dan diperlakukan dengan segan,” jelas kucing itu panjang lebar. Kini tak sedikit pun tersisa keluguan semasa menjadi hewan peliharaan seorang gadis berusia 18 tahun di wajahnya.
Dewa berambut merah itu tertegun sejenak. Sudut kanan bibirnya terangkat. “Jadi kau memilih kartu terakhir, benar?”
Tanpa merasa perlu berpikir lagi, kucing itu mengangguk-angguk antusias. “Ya, kartu terakhir!”
“Baiklah.” Rolfang menutup mata, tangan kanannya membentuk huruf “v”. Sinar hijau terang berkumpul di antara sela jari telunjuk dan tengah. “Kucing, di dunia yang baru kau akan bereinkarnasi sebagai…”
***
“Theo… kau yakin ini jalan yang benar?” tanya anak berambut hitam itu ragu. Sepasang mata birunya menatap gentar gang gelap nan sempit tempat mereka berjalan. Kakinya bahkan sudah tidak bisa berjalan saking lelahnya jika bukan karena takut yang mendorong.
Sedangkan anak berambut keperakan di sebelahnya, justru pucat pasi. Ibarat jika dibaringkan di tengah jalan dengan mata tertutup, siapa pun akan langsung berlari ketakutan karena mengira itu mayat. Tangan dan kakinya jauh lebih gemetar dibanding anak yang lebih muda 2 tahun darinya itu. Keringat dingin membungkus seluruh tubuh.
“Theo?” panggil anak berambut hitam itu sekali lagi, membuat putra mahkota di sebelahnya tersentak, menoleh. “Ya, Nora?”
“Aku bertanya apa kau yakin ini jalan yang benar?” ulang Nora, kali ini terselip sedikit kekesalan dalam perkataannya.
“Oh, ya… ya.., mungkin benar….” Theobald menjawab asal, tidak terlalu fokus. Berbagai pikiran berkutat dalam kepalanya. Ketakutan, kegelisahan, kecemasan, kekhawatiran semua bercampur menjadi satu.
Kedua anak itu kembali berjalan menyusuri gang sempit tak berujung. Beberapa puluh menit terlewati, tapi keduanya tidak juga menemukan tanda-tanda jalan keluar.
Tap. Setelah sekian lama, langkah kedua anak itu akhirnya terhenti. Namun bukan karena telah menemukan ujung gang itu, melainkan… dua orang dewasa yang tiba-tiba muncul di depan mereka.
“Sepertinya kalian ‘tuan muda’ yang tersesat,” ucap pria bertubuh kekar. Rambut cokelatnya tersisir ke belakang. Terdapat satu bekas luka panjang yang terukir melewati mata kanan.
Suara berat itu membuat Nora dan Theobald merinding, refleks mundur beberapa langkah.
“Kau menakuti anak-anak,” komentar wanita berambut pirang di sebelahnya. Tubuhnya ramping dan tinggi. Mengenakan jubah dengan tudung yang dibiarkan turun. Tatapan yang dipancarkan mata hitam itu begitu mengintimidasi, berbeda dengan nada suaranya.
“Nora.., bagaimana ini?” bisik putra mahkota itu pelan. Seluruh tubuhnya benar-benar bergetar hebat hingga seolah dapat ambruk dengan satu pukulan pura-pura saja. Mata keemasannya terpaku pada sepasang orang dewasa itu.
Nora menatap kakak sepupunya tak percaya. Padahal dirinya yang mengajak Nora kabur dengan bangganya, tapi sekarang dirinya pula yang panik? Kini putra duke itu mulai menyesal mengikuti begitu saja perkataan Theobald.
“Apa para Tuan Muda tersesat? Haruskah Herald yang baik hati ini mengantar kalian?” Pria berambut cokelat itu perlahan mendekat. Kedua sudut bibirnya terangkat.
Nora menegup ludah. Pandangannya terarah ke balok kayu panjang yang tergeletak di samping gang, seukuran pedang kayu yang biasa ia gunakan untuk berlatih. Nora menoleh ke putra mahkota yang mematung, yang bahkan tampaknya sebentar lagi akan menangis. Kemudian ke depan, ke pria kekar yang semakin mendekat.
Helaan napas meluncur dari bibirnya. Gerakan demi gerakan yang ia pelajari selama latihan berpedang berputar cepat dalam kepalanya. Putra Duke Nunbaire itu berusaha melawan ketakutan dalam dirinya, memaksa kakinya bergerak secepat mungkin ke dekat balok kayu itu. Jika bukan dirinya yang melawan, mungkin saja mereka berdua mati di sini.
Dalam beberapa langkah Nora berhasil meraih balok kayu itu, memasang kuda-kuda yang telah ia pelajari selama pelajaran berpedang.
Tes.
Akhirnya kaki Theobald benar-benar kehilangan kekuatannya, terhenyak. Bola mata keemasannya bergetar, menatap benda tajam yang menembus dada pria itu dari belakang.
“NORA VON NUNBAIRE!” Seruan itu dengan segera menyadarkan dua anak yang membeku di tempat, berbalik.
Seorang pria berambut hitam muncul dari balik kegelapan gang. Ketegasan terpatri jelas pada wajah Duke Nunbaire sebelumnya. Didampingi Duke Nunbaire yang sekarang, keduanya melangkah mendekat.
Nora menelan saliva berat. Pandangannya bertemu dengan pandangan dingin sang kakek. Plak!
“Ayah!” Pria berambut hitam dan bermata biru yang sama dengan milik Nora itu refleks berseru, berusaha memisahkan putranya dari jangkauan pandang sang ayah. Sedangkan Nora, anak itu terlalu shok mencerna kejadian barusan, memegang bekas kemerahan di pipinya.
“Kalau dia anakmu, maka didik dia dengan benar, Albert! Dia membahayakan nyawa dari masa depan kekaisaran ini!” Seruan pria tua itu tidak kalah tinggi, menunjuk satu-satunya pewaris masa depan keluarga Duke Nunbaire.
“Kakek, tolong jangan memarahi Nora.” Theobald berdiri, membersihkan bagian belakang pakaiannya, kemudian berjalan ke arah keluarga Nunbaire. Kini tak sedikit pun tersisa ketakutan yang tadi terpancar jelas di wajahnya, seolah sejak awal ia benar-benar menghadapi situasi barusan dengan berani. “Harusnya saya yang mencegah keinginan kekanakan Nora untuk kabur, bukan menurutinya.”
“Apa?” Sepasang mata biru itu membelalak, memantulkan bayangan anak berambut keperakan yang tersenyum penuh pengertian.
Hari ini, tepat 3 bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-9, Nora von Nunbaire, seorang putra duke kekaisaran ini, harus menerima luka dan pengkhianatan dari 2 orang yang begitu ia percayai.
***
“Nora von Nunbaire,” ucap seekor burung merpati putih yang terbang melintasi cakrawala. Kurang lebih 14 tahun dirinya mengamati putra duke yang begitu dikagum-kagumi majikannya dahulu, dan 6 tahun sejak insiden putra duke itu dengan putra mahkota kekaisaran ini.
Ya, burung itu adalah Robi—namanya di kehidupan dulu. Alih-alih bereinkarnasi sebagai iblis, ia malah bereinkarnasi sebagai hewan, lagi. Hanya berubah jenis dari kucing ke burung. Dibilang menyesal pun, apa boleh buat. Jika mencoba bunuh diri, bisa-bisa bukannya diberi kesempatan reinkarnasi lagi jiwanya malah pergi ke neraka.
Sepasang bola mata hitam itu terbuka, melawan dinginnya musim dingin di penghujung tahun. Burung merpati itu mengepakkan sayap, berbelok menuju pohon terdekat. Kereta kuda yang sejak tadi ia ikuti berhenti di depan sebuah penginapan.
Seorang gadis jelita mengenakan mantel bulu berwarna cokelat kemerahan keluar dibantu kesatrianya. Mata hijau sejernih emerald yang mampu memerangkap hati pemuda mana pun, termasuk putra duke yang begitu digilai majikan terdahulunya. Shuri von Neuwanstein, Marchioness Neuwanstein sekaligus ibu tiri bagi 4 anak Marquess Neuwanstein yang telah meninggal.
Berikutnya keluar putra pertama keluarga Neuwanstein, Jeremy von Neuwanstein. Anak lelaki yang mewarisi rambut pirang ayahnya dan mata hijau ibunya. Remaja tampan yang mewarisi karisma sang marquess.
Putra kedua keluar setelahnya. Benar-benar seorang anak cetakan sang ibu, baik rambut merah maupun mata hijaunya. Namun sifat mereka jauh berbeda. Ketika sang ibu sangat suka berkuda dan berburu, remaja itu sangat lemah. Setidaknya begitu menurut putra duke yang digilai majikan terdahulunya.
Terakhir, sepasang anak kembar yang adalah keturunan terakhir di keluarga Marquess Neuwanstein. Anak lelaki dan perempuan berambut perak keturunan sang nenek dari pihak ibu. Pipi tembam dan mata besar yang menambah keimutan keduanya. Sama seperti para kakak, keduanya memiliki mata hijau keturunan marchioness sebelumnya, yang juga telah meninggal.
“Aku tidak yakin mereka akan cocok,” gumam burung merpati putih itu, mengamati Shuri yang sibuk mengurus keempat anaknya dari jauh. Meski tidak memiliki hubungan darah, Keluarga Neuwanstein sangat harmonis, jauh berbeda dengan Keluarga Nunbaire.
Burung itu tersentak, menghela panjang. Lihatlah, tidak sampai 5 menit keluarga berisi lima orang itu turun, si putra duke sudah menghampiri mereka entah dari mana. Ini juga alasan burung merpati putih itu mengikuti kereta kuda Neuwanstein alih-alih Nunbaire, sebab di cerita mana pun tokoh utama selalu berkesempatan bertemu calon pasangan masa depannya. Dan dalam cerita ini, tokoh utamanya adalah Shuri.
Burung itu menggeleng pelan. “Yah, bukan tugasku sampai memilih pasangan anak itu."
***
“Leon! Rahel! ” Remaja berusia 14 tahun itu menyerukan nama sepasang anak kembar Keluarga Neuwanstein, semakin mengeratkan perlindungan pada mantel hitamnya. Netra remaja itu menyipit, berusaha menembus lebatnya badai salju malam itu.
Helaan napas putih meluncur dari bibirnya. Tak terhitung berapa jam kaki beralaskan sepatu boots kulit itu berkelana di tengah badai demi mencari anak kembar dari gadis yang ia sukai. Bahkan putra duke itu sampai memaksa kesatria yang harusnya mengawal dirinya untuk mencari ke arah lain.
Bruk. Nora membiarkan lututnya terbenam dalam salju yang menumpuk di tanah, meninju lemah permukaan salju tebal itu. Napasnya tersengal, paru-parunya terasa membeku. Dingin menyelimuti seluruh wajahnya.
“Sial!” Di saat seperti ini, kenangan kelam itu kembali terngiang dalam benaknya. Ketika ia sama sekali tidak mempunyai kekuatan untuk membela dirinya sendiri di hadapan ayah dan kakeknya. Ketika dia sudah mati-matian menyatakan diri tidak bersalah, malah putra mahkota itu yang lebih dipercaya. Dan mungkin untuk selamanya, Nora akan dianggap aib oleh kakek dan sang ayah.
Sekarang… setelah bertahun-tahun berlalu, ia tidak bisa menemukan dua anak kecil yang hilang. Padahal… gadis itu telah banyak memberi penguatan pada dirinya. Untuk pertama kalinya ia mendapat kesempatan membantu gadis itu setelah pertemuan pertama mereka, tapi ia malah...
Wajah pucat Shuri ketika menyadari hilangnya si kembar membuat Nora tersentak. Bagaimana kalau si kembar bertemu hewan gunung? Atau jatuh ke tebing? Kalau begitu… apa yang akan terjadi pada Shuri? Memikirkannya saja membuat hari Nora tergores, mengeratkan kepalan.
“Jadi putra duke yang terhormat, intinya yang kau inginkan sekarang adalah kekuatan, benar?”
Nora mendongak. Selarik sinar terang membungkus burung merpati putih yang terbang ke arahnya, membuat bola mata biru itu terpana. Detik berikutnya, sinar terang itu menjelma menjadi sesosok manusia. Berambut merah muda dan kulit terang. Mengenakan jas putih dengan jubah panjang menutup punggung, dan celana panjang senada. Bola mata hitam besar itu menatap Nora datar.
Sejenak Nora tertegun, berusaha mencerna fenomena ajaib di hadapannya. “Jangan bilang… reigenary?” ucap Nora setengah tak percaya. Sedangkan pemuda yang berdiri di hadapannya hanya tersenyum.
Benar, burung merpati itu bukan merpati biasa, melainkan reigenary. Mereka adalah makhluk yang hidup dalam legenda. Konon mereka hidup dalam wujud hewan, tapi ketika akan memilih dan sesudah memiliki master, mereka dapat berubah wujud menjadi manusia.
Belum ada bukti pasti dari keberadaan makhluk ini. Namun dikatakan hikmat yang mereka berikan pada orang yang dipilih pun tidak tanggung-tanggung. Meski tidak diketahui pasti, tapi tercatat cukup untuk meluluhlantakkan seluruh kekaisaran di dunia ini menjadi abu.
“Benar, aku reigenary. Jadi kau ingin kekuatan?” tanya pemuda berambut merah muda itu.
Nora terdiam sejenak, mencerna baik-baik perkataannya barusan. “Bukankah… reigenary hanya memilih keturunan kaisar sebagai master?” tanya Nora.
Alih-alih menjawab, pemuda itu menghela dan duduk bersila di depan Nora. “Di sini aku yang bertanya. Jika tidak aku tinggal memilih antara pangeran kedua atau…”
“Ya! Saya butuh kekuatan!” potong Nora cepat, tahu siapa satu lagi orang yang dimaksud reigenary di hadapannya.
Sudut kanan bibit reigenary itu terangkat. “Baiklah. Aku hanya akan menanyakan 1 pertanyaan, untuk apa kau membutuhkan kekuatan? Untuk dirimu sendiri, keluarga, balas dendam, atau orang yang disukai? Aku yakin bangsawan sepertimu pasti setidaknya pernah membaca jawaban seperti apa yang disukai reigenary.”
Di tengah lebatnya badai salju, Nora dapat merasakan tubuhnya tidak lagi sedingin tadi. Seolah tatapan dari bola mata hitam itu cukup untuk memberi perlindungan dari sekitar. Nora menunduk. Satu per satu kenangan lama terlintas di benaknya. Mulai dari insiden Theobald, pertengkaran kakek dan ayahnya, ayah yang memarahinya, ibu yang tidak bisa berbuat apa-apa, hingga senyuman yang Shuri tunjukkan padanya.
Nora menggigit bibir. “Saya… bukan anak yang baik,” ucapnya sambil tetap menunduk. “Kalau bicara saya selalu berbohong, bahkan katanya saya tidak pantas berada di Keluarga Nunbaire.” Putra duke berambut hitam itu memberi jeda dalam perkataannya, “Tapi seseorang bilang kalau saya adalah anak yang baik. Jadi setidaknya demi dia, saya tidak ingin berbohong sekarang. Saya anak yang egois, dan saya butuh kekuatan untuk memenuhi keegoisan saya.”
“Benarkah?”
“Ya….” Nora mendongak, menatap lurus ke dalam bola mata hitam itu. “Saya butuh kekuatan untuk memenuhi keegoisan saya. Saya ingin melindungi senyuman orang yang percaya pada saya. Saya ingin kekuatan dimana kebenaran tidak dapat dikalahkan oleh status sosial dan kekuasaan. Saya ingin kekuatan yang membuat orang-orang tidak bisa meremehkan saya. Dan saya ingin kekuatan… untuk menghukum orang-orang yang menyalahgunakan posisi mereka.”
“Untuk kalimat terakhir, maksudmu balas dendam?” Nora tersentak mendengar ujaran reigenary itu, tapi tetap mengangguk. Reigenary itu tertawa hambar dibuatnya. “Kau tahu dengan persetujuanmu barusan aku bisa saja tidak memilihmu sebagai masterku?”
Mata biru dan hitam itu saling bertemu. Nora mengangguk lagi. “Saya tahu. Tapi seperti yang saya bilang saya tidak ingin berbohong.”
Reigenary itu menghela napas, berdiri. Sinar putih membungkus seluruh tubuhnya.
Nora menggigit bibir, berusaha teguh pada keputusannya barusan. Tak masalah jika ia tidak jadi dipilih sebagai master reigenary ini, tapi... ia benar-benar tidak ingin berbohong. Demi keyakinan yang Shuri miliki terhadapnya.
“Pilihlah,” ucap reigenary itu singkat, membuat Nora refleks menoleh. “Pilih nama. Kau tahu kan perjanjian baru bisa dibuat jika kau memberi nama untukku?”
Nora mengerjap beberapa kali. Butuh beberapa detik bagi bibir remaja itu untuk mengembang. “Kalau begitu..,” Nora berdiri, “Robi. Bagaimana?”
Netra hitam itu terbuka sempurna, tapi kemudian menutup dengan sudut kanan bibir terangkat. “Aku tidak suka, tapi tidak buruk.”
Robi mengulurkan tangan ke putra duke itu, yang dengan segera disambut. “Saya menerima nama yang anda berikan, Robi, dan menerima anda, Nora von Nunbaire sebagai master.” Angin yang semula mereda kembali berembus kuat, membuat Nora menyipit. “Kini hidup dan mati saya selaras dengan garis kehidupan anda. Saya bersedia memberi kekuatan, hikmat, dan segala yang anda inginkan selama tidak bertentangan dengan kehendak dewa.”
Semilir kuat bak topan mengelilingi kedua laki-laki itu, membuat helaian rambut mereka terangkat ke atas. Sebuah tanda berbentuk bintang berwarna putih terukir di punggung tangan keduanya.
Sudut bibir Robi terangkat, menatap bola mata biru yang memantulkan bayangan dirinya. Hari itu Robi mengetahui alasan majikannya dahulu begitu tergila-gila pada putra duke satu ini.
Nora von Nunbaire adalah orang yang egois. Namun 'keegoisannya' itu mampu membawa kehangatan dan senyuman pada orang di sekitarnya. Terutama wajah semanis cokelat yang akan selalu sukses membuat siapa pun terpana, apalagi jika dilihat secara langsung oleh para kaum hawa.