Kringgg...
Kringgg...
"Ah siapa pagi-pagi buta menelfon, menganggu saja" decak Aan dari balik selimut nya ,sembari meraba-raba keberadaan ponsel nya yang terus berbunyi. Dengan mata setengah sadar ia melihat layar ponsel itu dan ia bergegas merapikan apa yang perlu ia rapikan dengan menata mimik suaranya agar terdengar merdu saat mengangkat telfon itu.
"Ekhem,ekhem, Halo" sapa nya
"Ayo bangun,waktunya menunaikan ibadah"
Ucap suara manis di balik telfon yang ia genggam.
"Iya,udah kok" jawabnya spontan dengan mengernyitkan bibirnya dan menarik selimut yang tadi terlempar karena terkejut bahwa yang menelfon adalah dia,wanita yang menjadi incaran Aan. Dia wanita yang selalu membuatnya semangat dalam hal sekecil apapun,entah lah hanya dia. Sebelum mengenalnya lebih dekat, Aan sempat tidak menyukai wanita itu karena mereka sering bertengkar dan saling menjelekkan satu sama lain. Seiring berjalan nya waktu hati Aan tergerak,tersentuh dengan wanita itu.
Ya wanita manis yang menjadi impian nya saat ini. Ia tahu betul bahwa mendapatkan hatinya tidak semudah yang ia bayangkan kerena wanita itu baru saja putus cinta dan ia trauma dengan laki-laki,apa lagi laki-laki itu adalah aku,aku pernah membenci nya dan pernah mengolok-olok dirinya dan mempermain kan nya. Bahkan ,mungkin ia belom mendapatkan maaf dari Jihan.
"An,jika kamu bisa dapetin Jihan ,gua bayar 2 juta?" Ucap Abi
"Iya,gua bayar kes,kita berdua kasih 2juta buat lo" timpal Memet serius dan merangkul Aan di sebelahnya sembari tersenyum meremehkan.
Aan hanya terdiam dan mengulas senyum.
"Kenapa harus Jihan?lo tau gue ngak suka sama dia,dia gadis sombong,jutek ,ihh ngak banget dia bukan tipe gue"
"Ayo lah, lo belom kenal dia,dia itu wanita idaman laki-laki"
"Bulsitt lo" jawab Aan dengan tersenyum kecut dan melihat Jihan dari jarak jauh karena Jihan dan teman-teman nya terlihat asik duduk bercengkrama di kursi taman kampusnya.
Aan menatapnya dengan senyum kecut sembari menghisap rokok yang ia pegang.
"Ah,wanita seperti itu idaman laki-laki?dari mananya?"batin Aan
"Coba kamu lihat baik-baik Jihan,matanya seperti kucing mengeong, hidungnya mancung,kulit putih, bibirnya manis,tubuhnya tak jelek - jelek amat, lo bakal nyesel ngak menikmati itu"
Aan hanya tersenyum mendengar penjelasan sahabatnya itu.
"gue bilang gini karena apa, dari pada lo suka cewek-cewek ngak jelas yang bisa naik sini sana, kalo gue bisa dapetin Jihan udah gue samber,tapi dia udah nolak gue 2kali" ucap Abi dengan terkekeh.Memet hanya mengangguk -anggukan kepalanya dan menepuk-nepuk pundak Aan agar tergiur dengan taruhan mereka.
Karena mereka tau Aan orang yang tak suka di remehkan apalagi hal wanita,baginya wanita itu paling mudah di takhlukkan olehnya,sebab Aan terbilang laki-laki yang perfect dengan tubuh atletisnya meski ia tak pernah olahraga,dengan tinggi badan 185 dan di imbangi dengan wajah tampan membuatnya di gilai para wanita di kampusnya.
"Kalo gue ngak bisa dapetin Jihan,gimana?
"Haha,Lo harus jadi budak kita-kita selama 1bulan, gimana, sanggup ngak lo"
Aan terdiam dan merasa tidak akan dia menjadi budak mereka,yang ada Abi dan Memet yang menjadi budaknya.
"OKE" jawab nya sembari membuang sisa rokok yang ia hisap dan mereka tertawa riang lalu Abi dan Memet meninggalkan Aan sendirian. Seperginya sahabatnya itu Aan memikirkan bagaimana agar dirinya bisa mendapatkan Jihan.
-
-
3bulan berlalu
"Cieee yang udah jadian?" Goda Abi saat melihat Aan menurunkan Jihan dari atas motornya dan lalu Jihan meninggal kan Aan dan teman - temannya di depan kampus mereka.
Aan hanya mengulas senyum.
"Nanti gue jemput" ucap Aan saat Jihan berpamitan akan ke kelas nya terlebih dahulu,dan Jihan mengulas senyum lalu mengangguk kan kepalanya menandakan jawaban iya atas ucapan Aan.
Aan dan teman - teman nya pergi ke kantin yang biasa mereka nongkrong,menghabiskan secangkir kopi dan rokok disana.
"Nih 1juta dari gue" ucap Abi
"Nih gue juga 1 juta" timpal memet memberikan segepok uang ke pada Aan yang di tarohnya di atas meja.
"Gua ngak mau trima ini,ini buat kalian aja,gue ngak bisa,gue udah jatuh cinta
ke Jihan" ucap Aan
"Tapi ini udah perjanjian kita,lo bisa buat makan-makan uang taruhan ini"ucap Memet
"Gue kasih jempol buat lo,karena bisa dapetin Jihan,gue akui lo dewa Amor,haha"
Aan hanya terdiam mendengar ucapan sahabat - sahabatnya itu.
"Ini ngak bener" kata Aan
"Jihannn" ucap Memet saat tak sadar ada Jihan di dekat mereka. Lalu Jihan pergi meninggalkan Mereka dengan perasaan kesal dan marah,karena dia menjadi bahan taruhan mereka.
Aan pun mengejar Jihan dan mencoba membari penjelasan agar Jihan memberi maaf atas sikapnya yang kekanak-kanakan itu. Namun nasi telah menjadi bubur dan Jihan mengetahui perbuatan Aan dan teman-teman nya.
Aan merasa dunia nya runtuh saat itu,karena hatinya yang baru saja bertunas kini layu dan tak bisa ia kembalikan seperti semula.
-
-
5 tahun berlalu
"Hayy" sapanya saat tak sengaja bertemu di lobi kantor tempat Aan berkerja.
"Heyy" jawab wanita berambut panjang saat mendengar sapaan Aan.
"Lama ngak ketemu,gimana kabar"
"Baik,kamu" ucap Jihan lembut
"Baik juga" lanjut Aan. Mereka pun saling bertukar nomor telfon dan mereka perpisah karena Jihan telah selesai dengan urusannya.
Hari-hari yang tak pernah Aan bayangkan kini menjadi kenyataan,bahwa dia bertemu dengan wanita yang dulu pernah ia cintai meski dulu belom sempat ia menyatakan nya.
-
-
"Jihan,apa kamu masih membenci ku?"
Jihan hanya terdiam dengan menatap Aan lalu memalingkan wajahnya ke arah langit,menatap langit cerah siang itu.
"Aku tau,aku sangat memalukan dan kekanak-kanakkan tidak seharusnya aku berbuat seperti itu,aku bener - bener minta maaf"
Jihan masih terdiam mendengarkan ocehan Aan
"Mencintai ku,atau membenci ku,semua akan menguntuntungkan ku,kamu tau? jika kamu mencintai ku,aku akan selalu ada di hati mu, dan jika kamu membenci ku, aku akan selalu ada di fikiran mu. Begitu juga dengan ku,aku terlalu membenci mu karena itu aku menjadi lebih mencintai mu"
Ucap Aan dengan bersungguh - sungguh. Jihan hanya mengulas senyum mendengar ucapan Aan yang terbilang menyatakan cintanya.
"Aku akan memilih mencintai mu bukan membenci mu,karena kebencian adalah beban yang sangat berat yang harus aku tanggung,aku tidak sanggup menanggung beban itu" jawab Jihan
"Kamu!!" Aan masih belom percaya dengan ucapan Jihan ,dan Jihan tersenyum melihat wajah polos laki-laki di hadapan nya itu.
"Iya" ucapnya
Aan yang masih termangu dan tak percaya dengan jawaban Jihan,lalu ia melompat kegirangan dan memeluk Jihan dengan bahagiannya.
"Dan.. aku akan hapus kebencian itu"..
😘💘