I don't like monday, sebuah statement yang umum dibuat oleh orang-orang yang mungkin malas kembali ke rutinitas selepas weekend sabtu dan minggu yang akhirnya menjadi sugesti dalam hidup termasuk aku.
Senin ini sudah di schedule sejak minggu lalu bahwa akan ada perekrutan karyawan, sebagai manager HRD sudah jelas aku harus siap dan tepat waktu.
Namaku May, sebenarnya nama itu plesetan dari nama panggilan Mae yang aslinya adalah Maesaroh. Oke, dalam hati kalian juga menertawakan, pasti. Dengan usia 26 tahun, jabatan sebagai manager HRD pada perusahaan dengan bisnis waralaba retail minimarket juga franchise yang sudah sangat dikenal dan mudah ditemukan hampir per 3 KM yaitu Indojuni.
"Ampun dah, pake kesiangan," ucap May sambil berlari menuju kamar mandi saat ia membuka mata dan melihat jam dinding menunjukan jam 7 lewat 5 menit. Sedangkan jam 8 harus sudah standby dan perjalanan dari apartement ke kantor itu 35 menit.
Dengan mandi seadanya karena air tidak mengalir dan make up secukupnya, kini May sudah berada di SUV miliknya, berharap tidak terjebak macet. Namun, "OMG, OMG kenapa lagi nih." Mobil yang dikemudikannya terasa tersendat-sendat saat ia menginjak gas. Akhirnya May menepikan mobilnya, tapi berikutnya mesin mobil May tidak dapat hidup lagi.
"Oh God, apa lagi ini." May melihat sekeliling, tidak mungkin dia akan menemukan bengkel resmi khusus mobil yang dikendarainya. Tapi, woww kurang lebih 10 meter dibelakang mobilnya ada sebuah bengkel.
"Permisi mas," sapa May. Beberapa pria yang disapa May menoleh dan memindai May dari kaki sampai kepala. Mengenakan setelan blazer dan bawahan hitam dengan kemeja biru langit lengkap dengan stiletto.
"Iya Mbak," sahut salah satu pria.
"Bisa bantu cek mobil saya, tadi tersendat-sendat. Saya matikan eh malah nggak mau hidup lagi."
"Mobilnya di mana Mbak?"
"Di sana mas," May menunjuk mobilnya.
"Tanya Bang El gih, gak bisa gue mobil itu mah," ucap seorang pria ke pria yang lain.
"Mas, bisa cepat dicek enggak. Saya udah telah nih."
"Bentar mbak, nanti dicek sama senior kita yang punya bengkel."
"Mana mobilnya?" May menoleh ke arah suara, suara sedikit serak dan dalam. May mengernyitkan dahinya, entah mimpi apa ia semalam. Mulai dari bangun kesiangan, saluran airnya mati, mobil mogok dan sekarang ia harus bertemu orang yang paling ia benci saat SMA. Sangat May benci karena setiap hari ia akan menerima bullying yang diawali oleh pria dihadapannya saat ini.
"Loe Mae kan, Maesaroh."
"Bang, kenal bang. Mantep bener kenalannya bang."
"Aku buru-buru, bisa cek mobil __" kalimat May terpotong oleh El, "Tinggalin aja kuncinya."
"Loh, enggak bisa dicek sekarang."
"Loe lagi buru-buru kan? Ya udah tinggal aja kuncinya, karena ada 2 mobil lain yang udah lebih dulu datang. Itu dan itu." El menunjuk angkutan umum yang sedang dicek oleh salah satu montir dan mobil sejuta umat yang juga sudah terparkir siap dibongkar.
"Terus, aku ke kantornya gimana dong?"
"Ada angkot, ojeg, taksi atau loe mau digendong?"
"Apaan sih enggak jelas," May melihat jam tangan yang ada di lengan kirinya.
"Kalau buru-buru loe bisa pake motor gue." El menunjuk motor maticnya.
May menghela nafas, kembali ke mobil untuk mengambil tasnya lalu berjalan menuju bengkel. "Aku pake motornya, udah enggak mungkin nunggu taksi, ini kuncinya."
"Hm," Eltan menerima kunci sambil menatap May. 'Parah, si Mae makin cantik aja,' batin El. "Jangan lupa tuh helmnya."
May mengendarai motor matic pinjamannya, dalam hatinya bersyukur ia memilih menggunakan celana panjang bukan rok seperti biasanya.
***
Saat sore sepulang kerja, May kembali ke bengkel. "Belum bisa Mae, sparepartnya baru datang dua hari lagi karena gue beli yang asli. Loe mau tunggu boleh kalau enggak ya mesti cari mobil derek buat bawa mobil loe."
"Hah, dua hari lagi. Terus aku pulang pergi gimana?"
"Gimana ya, gue enggak terima jasa mikirin kesulitan konsumen karena kendaraannya masih dimaintenance. Tapi, karena loe temen sekolah gue, loe bisa pake tuh motor sampe mobil loe beres," ungkap Eltan. 'Mudah-mudahan loe nunggu biar kita sering ketemu,' batin Eltan sambil tersenyum simpul.
"Ya udah deh, tapi bener motornya boleh aku pinjam."
"Iya, apa sih yang enggak buat loe."
"Hah, maksudnya?"
"Enggak ada maksud."
Setiap hari, saat pulang kerja May akan mampir ke bengkel itu menanyakan kondisi mobilnya dan setiap May datang, Eltan memberikan pertanyaan tidak penting dengan tujuan membuat May berlama-lama berada di bengkel itu.
Akhirnya, mobil May selesai diperbaiki, "Oke thanks ya." Ucap May sambil menerima kunci mobilnya. "Terima kasih juga karena aku udah dipinjami motor."
"Hemm." Eltan dan May saling menatap. Ada rasa kecewa dalam hati El setelah mobil May selesai diperbaiki.
"Kalau ada kendala, bawa sini lagi. Simpen aja kontak gue, kita ada layanan perbaikan di tempat." May menyimpan kontak Eltan, tapi Eltan malu untuk meminta kontak May.
Hari-hari berlalu, setiap May melewati bengkel milik Eltan ia akan menurunkan kecepatan mobilnya dan mencari sosok Eltan sambil berlalu karena hanya dengan melihat sosok Eltan bisa menjadi mood booster untuk seharian bekerja.
May merasa terganggu, terganggu dengan bayangan wajah Eltan. Selalu hadir di setiap saat bahkan May sulit tidur dan tidak enak makan karena rasa aneh itu. Ia memutuskan untuk mengakhirinya dan pagi ini May sudah sampai di bengkel Eltan. Menghentikan mobilnya lalu turun, "Eltannya ada?"
"Bang El, ada yang cari nih. Bening bangettt," teriak salah satu karyawan Eltan.
Eltan keluar, mengenakan celana chinos selutut berwarna cream dan kaos putih yang pas ditubuhnya. "Kenapa lagi mobilnya," ujar Eltan menuju bagian depan mobil May. "Buka kapnya."
May membuka kap mobilnya lalu menghampiri Eltan yang sedang mengecek kondisi mesin. "Padahal ini mobil masih baru ya, tapi kok rewel ya."
"Mobilnya sih enggak kenapa-napa, tapi aku yang kenapa-napa," ucap May.
Eltan terdiam lalu memutar tubuhnya menghadap May yang berdiri di sampingnya, melipat kedua tangannya di depan dada. "Jadi?" tanya Eltan.
"Kayaknya aku sakit bukan mobil aku."
"Kalau loe sakit ya ke dokterlah."
May menggeleng, "Bukan dokter yang bisa nyembuhin tapi kamu, karena aku kayaknya sakit karena cinta. Cinta kamu Eltan."
Eltan tersenyum, lalu mendekat pada wajah May dan mencium kening May. Tidak menyangka bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Rasa benci May padanya berubah, berubah menjadi cinta.
______
Jan-22