Hari itu aku sedang rebahan sambil menikmati alunan musik dari aplikasi spotify dengan redmi bud-ku yang baru aku beli dengan uang tabunganku. Aku memejamkan mataku saat mendengarkan lagu dengan kualitas suara terbaik ini.
"Aku tahu kenapa ini mahal hehehe... " senyumku terkekeh bahagia.
Tetapi, sebelum aku sempat menikmati lebih banyak lagu indah. Tiba-tiba ada getaran di tempatku berada. Aku kira hanya gempa biasa tetapi saat aku melihat dari jendela. Hanya tersuguh pemandangan mengerikan di mana bumi melahap semua yang ada. Tentu saja aku dengan cepat melarikan diri. Pergi ke tempat yang lebih tinggi dan menjauh sejauh yang aku bisa.
"Tolong!!!!!" Aku mendengarkan suara anak kecil.
Aku yang berdiri di atap rumah, melihat sekeliling. Suara itu berasal dari anak berumur 5 tahun yang berada di jendela sendirian. Dalam kebimbangan antara hidup dan mati, aku memutuskan untuk turun dan menolongnya.
"Naik ke atas cepat," kataku sambil membawa dia ke atap rumah tetapi pijakan yang aku panjat roboh.
"Kakak!" teriak bocah itu bersiap untuk menarikku tetapi aku mendorongnya ke tempat yang aman sebelum diriku jatuh dan tertelan oleh tanah yang bergerak.
Aku kira aku akan mati. Tetapi, aku masih hidup?
Ingin aku bilang kalau aku masih hidup. Tetapi, aku tidak bisa bergerak. Aku bisa melihat sekeliling kalau ini adalah definisi dari hutan hujan Amazon.
Ketika aku melihat daun tumbuh di atas kepalaku. Aku berpikir keras hingga aku akhirnya menyimpulkan kalau aku ini tanaman gingseng bukan manusia.
Apa maksud dari Tuhan membuatku menjadi tanaman dengan ingatanku sebagai manusia?
Hari demi hari aku berpikir, mengapa aku terlahir kembali menjadi tanaman. Tetapi, lama kelamaan aku mulai melupakannya. Bahkan ingatanku tentang masa laluku juga mulai buram.
Rasanya saking bosannya, aku jadi tertidur hingga tak ingat sudah berapa lama aku tidur. Ketika aku mendadak harus bangun adalah saat seseorang meneriaki aku.
"Hei, bangun! Sampai kapan kamu mah tidur? Aku bosan sendirian tahu!" teriaknya.
"Huh?" aku membuka mataku dan aku melihat perempuan remaja dengan tato bunga teratai melilit di sekujur tubuhnya.
"Aku tahu, kau sudah punya akal. Dengar, kamu bisa berubah sepertiku. Wujud manusia seperti ini. Tapi, kamu harus bertapa dengan benar!" terangnya.
"Pertama-tama kenalkan, namaku Padma. Aku ini seorang peri teratai putih yang menghuni danau di selatan hutan. Aku akan mengajarimu ilmu kanuragan. Mulai sekarang kamu harus bertapa dengan rajin, jangan tidur terus biar nangi bisa jadi sepertiku yang hebat ini, " katanya dengan bangga.
Sejak saat itu, aku benar-benar tidak bisa tidur lagi. Setiap hari, peri teratai putih datang mencariku. Dia mengajariku cara melakukan pernafasan tenaga dalam. Mengolah energi alam menjadi kekuatan yang teralirkan dalam tubuh kita.
"Hei!!!! " teriak Padma dari kejauhan.
Aku melihatnya tetapi aku baru bisa menjawab ucapan Padma dengan telepati.
"Siapa yang mengajarimu bertapa, Padma?" tanyaku pada Padma yang sedang makan buah yang dia petik dalam perjalanan tadi.
"Hmmm.... seorang petapa tua katanya namanya Empu Ireng padahal jenggot putih kenapa dia dipanggil Ireng. Oya, akan aku tunjukan kuburannya kalau kamu sudah punya kaki nanti, " katanya dengan semangat.
"Dia juga yang memberimu nama? " tebakku.
"Iya, apa kamu juga mau nama? Huh? Tapi, aku tidak tahu soal nama yang bagus..." kata Padma sambil berpikir keras.
Aku menggelengkan daun-daunku melihat kepolosan Padma. Terkadang aku jadi khawatir padanya, bila ia bertemu orang jahat suatu hari nanti.
Sayangnya, takdir memberikan aku jawaban yang aku takutkan. Di mana Padma akhirnya bertemu manusia di hutan ketika mereka sedang memburu kijang.
Padma yang polos jatuh hati dengan kebaikan yang berbalut ketampanan Bree Saka Wijaya. Dia bahkan tidak mendengarkan nasihatku.
Dia bertekad keluar hutan mengikuti Bree Saka Wijaya pulang ke Mamrati. Aku marah pada Padma dan Padma marah padaku. Lalu dengan penuh tekad Padma meninggalkan aku di hutan sendirian.
Malam itu petir dan hujan menguyur hutan. Walaupun begitu, amarah dan rasa cemasku pada Padma tidak juga padam. Aku mengerahkan seluruh kekuatanku untuk merubah diriku menjadi manusia.
Usaha kerasku tidak mengkhianati, keesokan harinya aku melihat diriku yang memiliki tangan dan kaki. Aku lari ke danau di mana Padma hidup dan melihat pantulan diriku dari air danau.
Di sana aku juga melihat kuburan milik petapa yang mengajarkan Padma ilmu kanuragan. Aku memandang langit berharap aku bisa membaca arah hanya dengan melihat alam.
"Sayangnya, aku terlalu bodoh untuk membedakan utara dan selatan. Bagaimana aku bisa mencari Padma arg..... " keluhku frustasi.
"Apa kamu tersesat?" tegur seorang lelaki mengagetkan aku. Aku waspada dengan orang di depanku. Mungkin saja, dia penculik manusia untuk dijual sebagai budak.
"Bagaimana bisa ada wanita cantik di hutan sendirian? Apa kamu dayang pangeran yang tertinggal?" tanya lelaki itu.
"Bukan, aku dayang Selir Padma yang mengikuti beliau sedari kecil tetapi kemarin bungan air sebentar lalu aku tertinggal..." kataku tertunduk sedih sekaligus cemas dengan nasib Padma.
Lelaki itu mengulurkan tangan untuk berkenalan sambil berkata, "kenalkan namaku, Jaka. Aku prajurit pangeran yang sedang mencari cincin aki pangeran. Kalau kamu mau, kamu bisa pergi bersamaku ke kerajaan."
"Baiklah," ucapku sebagai persetujuan.
Tunggu aku, Padma. Aku sudah menjadi peri gingseng berkat ajaranmu. Jadi, sebagai balas budiku, aku akan memastikan temanku, Padma selamat dari kejamnya pertarungan harem istanah kerajaan.
🌼