Kamu mungkin sudah lupa hari-hari penting yang pernah kita lalui. Jalan-jalan yang pernah kita tempuh, atau semua kenangan yang pernah membuat kita merasa utuh. Namun bagiku semua sama saja. Semua hal tentang kehilangan masih saja menjadi satu satunya hal yang kupunya. Hari-hari itu masih saja bertualang dikepalaku. Di tanggal-tanggal yang sama, suasana siang dan senja yang sama. Di setiap hembusan udara yang tak mampu membuat rindu mereda.
Jika kita bertemu lagi, berpura puralah kita tak pernah saling melengkapi. Sebab setelah pergimu luka dihatiku terasa lengkap dan tergenapi. Aku pernah begitu sabar berjuang sepenuh hati, tanpa aku sadari separuh dadaku kamu tusuk belati. Kamu tikam terlalu dalam hingga aku jatuh tenggelam bersama rasa sakit. Berhari-hari aku gemetar menahan sendiri, sebab kecintaanku padamu teramat sulit ku ingkari.
Berkali-kali aku menguatkan diri sendiri. Melakukan apa saja yang kau lakukan untuk membunuh perasaan kita. Namun hari-hari yang pernah singgah seolah menjagamu tetap betah. Sekuat aku menghancurkan rindu, selalu lebih kuat ia menghancurkan pertahananku.
Pernahkah kamu memahami bahwa menerima kenyataan pahit ini adalah jalan panjang dan berlubang yang harus ku tempuh sendiri. Aku harus melangkah pelan dengan segala kerikil yang menusuk kakiku, agar aku tak terjatuh.
Aku tak pernah melupakanmu, aku hanya mengikhlaskanmu, merelakanmu dan menerima kenyataan bahwa kau bukan lagi milikku. Rasa sedih dan kehilangan ini butuh waktu lama untuk pulih. Kini kau dan semua tentangmu telah selesai. Tetaplah disana, jangan pernah mendekati kehidupanku lagi. Itu akan membuatku tetap baik-baik saja.