"Eh, kak. Kok mereka tuh masih aja percaya sama Dewa Dewi di zaman sekarang? Sampai disembah-sembah pula. Kan mereka cuma patung!" Tanyaku, Riki, pada kakakku, Rudy. Saat ini kami sedang berjalan, hendak pulang ke rumah.
Di suatu dataran tinggi yang tak jauh dari rumah kami terdapat bangunan besar yang isinya dipenuhi patung Dewa Dewi. Bangunan itu menjadi tempat orang-orang yang percaya akan Dewa Dewi untuk menyembah patung-patung Dewa Dewi tersebut.
"Rudy juga masih gak tahu alasannya, dek, kakak juga gak percaya dengan penyembahan seperti itu. Kalau kamu tanya kakak kenapa mereka masih percaya sama Dewa Dewi, yaaa kakak gak tahu, toh itu mah kepercayaan mereka. Pokoknya kamu jangan goyah akan imanmu, ya. Jangan ikut-ikutan sembah Dewa Dewi seperti mereka, juga!" Nasihat kakakku padaku.
"Baik, kak!" Jawabku mantap.
Sudah bertahun-tahun mereka memakai bangunan itu untuk menyembah patung-patung tersebut. Awalnya aku tak memedulikan mereka, tapi lama kelamaan, aku sudah tak tahan! Aku bertekad untuk melakukan sesuatu kepada mereka agar mereka tak menyembah patung berhala!
Dan sesuatu itu akan aku lakukan malam ini juga!
😇😇😇
Pukul 04:49
Aku menendang pintu bangunan tempat menyembah patung Dewa Dewi dengan kasar, memasang wajah tidak suka!
"Apaan ini, benda-benda sampah semua!" Aku sompral.
Aku melangkahkan kakiku dengan kasar, menuju salah satu patung Dewa.
"EEEERGH!" Aku mengangkat patung tersebut tinggi-tinggi, kemudian menghancurkannya tanpa ampun.
PRAAANG!
Aku mengambil patung lainnya, membuat hal yang sama seperti sebelumnya.
"HIIIAT!" Aku melemparnya ke dinding.
Aku menghabiskan waktu di tempat ini hanya untuk menghancurkan seluruh patung sialan ini! Aku sudah kesal!
"PATUNG-PATUNG..."
"INI..."
"SAMPAAAAAH!"
Aku melemparkannya ke atas sambil berseru. Patung itu hancur berkeping-keping.
Kepingan itu tanda kebahagiaanku sekarang. Sesuatu yang kuinginkan akhirnya tercapai! Mereka tak akan bisa lagi menyembah mereka, karena SUDAH AKU HANCURKAN!
Saat aku balik badan...
"AAAAA..."
Hal yang amat tak kusangka terjadi.
Ini mustahil!
Bagaimana hal itu bisa ada di dunia ini!
Aku...
Tiba-tiba saja didatangi oleh para manusia penyembah Dewa Dewi ini, mereka datang bagai habis melakukan teleportasi. Mata mereka berwarna merah!
"B...b...b... bagaimana kalian..." Aku kehabisan kata-kata, dan aku juga merasa seperti ingin pingsan!
"Bagaimana kita bisa datang ke sini secara tiba-tiba? Bagaimana mata kami bisa berwarna merah?" Seru salah satu dari mereka.
Aku mengangguk, itu yang kumaksud.
Jantungku berdegup amat kencang, aku sangat takut saat ini.
"Karena ini semua adalah... Kekuatan dari Dewa Dewi yang kami sembah!" Kata salah satu dari mereka.
Apa!
Aku melihat mereka satu persatu.
Kakakku juga ada di sana!
"Ka...Kakak! Ke... kenapa kakak ada di sini!" Aku menutup mulut, tak percaya dengan apa yang kulihat dengan mataku sendiri.
"Maafkan aku, Riki. Karena setelah aku membacanya... Aku... Berubah... Pikiran!"
Apa! Ta... tapi bagaimana bisa kakakku percaya akan Dewa Dewi secepat itu!
Baru saja ia memberitahuku untuk jangan menggoyahkan iman, tapi kenapa sekarang ia menjadi seperti ini!
"Kutuk lah orang itu yang sudah menghancurkan patung Dewa Dewi kita!" Seru kakakku.
"Kak, sadar kak!" Aku hendak menangis.
"Jangan dengarkan orang itu. Ayo kutuk saja dia!" Seru kakakku lagi."
"KAK!"
Perkataan ku tak digubris, mereka tetap saja bersikukuh akan kemauan mereka, yaitu mengutukku!
"KUTUK SANG PENGHANCUR DEWA DEWI..."
"KUTUK SANG PENGHANCUR DEWA DEWI..."
Mereka berjalan perlahan bagai zombie, mata merah mereka semakin silau.
Aku berusaha mencari pintu keluar di bagian belakang bangunan ini.
Ketemu!
Aku berlari secepat mungkin, menuju pintu keluar tersebut, mencoba menyelamatkan diriku dari kerumunan mereka.
Tapi...
"Sialan dikunci." Aku memasang wajah kesal, juga takut.
"TAK ADA PINTU KELUAR BAGI YANG AKAN DIKUTUK!" Seru kakakku.
"BENAR! MARI KUTUK SANG PENGHANCUR DEWA DEWI..." Seru mereka lagi.
"TOLOOOONG!" Aku meminta bantuan dari luar. Mereka seperti tak dapat memiliki perasaan akan ketakutanku.
"SUDAH DEKAT... SUDAH DEKAT..." Seru mereka lagi.
Memang benar, sudah dekat.
Aku mencoba membuka pintu secara paksa. Sia-sia belaka.
Tiga langkah lagi...
Dua langkah lagi...
"AAAAAAAA..." Aku makin takut. Mereka terlihat menyeramkan jika dilihat dari dekat.
Satu langkah lagi...
Mereka menyentuhku.
"KUTUUUUK!" Seru kakakku.
Krak! Pintu yang aku coba buka secara paksa akhirnya terbuka juga!
"AKU SELAMAT! AKU SELAMAT!" Aku berseru bahagia sambil berlari keluar.
Aku menoleh ke belakang. Eh, tiba-tiba saja segerombolan orang itu menghilang!
Ah, tidak apa-apa. Tapi yang penting aku selamat dari kutukan mereka.
Tapi ada kabar buruk, kakakku juga ikut menghilang.
"Oh kakakku, tolong sadarlah. Aku takut hidup sendirian." Aku menangis.
😇😇😇
Tak terasa, ini sudah pagi.
Apa kabar kakakku?
Bagaimana jika aku ditanya, "dimana kakakmu?" oleh orangtuaku?
Ketika aku hendak menyeberang jalan, aku memberikan tanganku kepada salah satu pengguna motor untuk berhenti.
"AAAAA..." Aku panik, berlari cepat ke depan.
"HEI, LIHAT-LIHAT DONG!" Aku berseru kesal. Padahal udah aku kasih tangan untuk menyuruhnya berhenti, dia tetap saja maju.
Ketika aku hendak pulang ke rumah, membuka pintu.
"HANTUUUUU!" Seru mamaku, ia berlari ke luar, menembus badanku.
Eh, tunggu dulu!
Tunggu dulu!
Aku menutup mulut, kaget akan suasana ini.
Apa kutukan yang mereka berikan padaku adalah membuat aku menjadi bisa ditembus dan tak terlihat?!
Aku terduduk seketika, hampir pingsan.
"Kak, bantu aku, kak." Rengekku.
Pagi ini, aku menerima kutukan dari mereka, dan hal itu membuatku menyesal, karena telah menghancurkan patung Dewa Dewi.
"Kak, tolong lepaskan kutukan ini, aku gak ada salah apa-apa."
😇😇😇
Ah iya, kakak kan bilang bahwa saat membacanya, ia berubah pikiran!
Aku akan mencoba mengungkap misteri, mencari tahu apa yang dimaksud dengan "membacanya" itu!
Aku memasuki kamar kakakku, membuka laci milik kakakku. Hanya ada foto masa bayinya, tak ada sesuatu yang dapat menjawab misteri itu.
"Aku rindu kamu, kak." Air mataku menetes ketika menyentuh dan melihat foto itu.
Aku membuka laci selanjutnya.!
"Buku apa ini? Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya." Tanyaku pada diriku sendiri.
Buku itu berwarna coklat tua, covernya bergambar Dewa Dewi.
Apakah ini adalah petunjuk?!
Aku akan membukanya dan membacanya!
😇😇😇
Inilah isi buku tersebut:
Dahulu kala, ada seorang laki-laki berkulit emas yang tinggal di wilayah yang tak pernah diinjak oleh 1 manusia sekalipun. Hidupnya terlampau panjang, masih belum diketahui bagaimana ia lahir. Ialah yang menciptakan berbagai Dewa Dewi dengan tujuan memakmurkan hidup di Bumi. Ia menciptakannya selama 3,5 milliar tahun! Setelah itu, seluruh Dewa Dewi nya berhasil ia buat! Tak lupa juga laki-laki itu menciptakan puluhan ribu patung sebagai media penyembahan untuk umat manusia.
Dewa Dewi menghiasi tempat itu, laki-laki itu kagum akan ciptaannya yang dibuatnya selama miliaran tahun! Dewa Dewi mengirimkan para patung tersebut kepada para manusia untuk disembah.
Tapi sayangnya, ketika patung-patung itu sudah sampai di dunia manusia, patung itu hanya dibiarkan begitu saja. Para manusia tak percaya akan hal menyembah patung. Bahkan ada orang yang menghancurkannya!
Laki-laki itu kecewa berat. Lihatlah, media penyembahan untuk Dewa Dewi yang ia ciptakan selama miliaran tahun itu diabaikan, bahkan dihancurkan!
Ia merasa dirinya tak berguna
Usahanya mengkhianati hasilnya. Kerja kerasnya selama 3,5 milliar tahun seolah berlalu dengan penuh rasa menyakitkan.
Sehingga laki-laki itu memutuskan untuk berbuat sesuatu...
Ia
Bunuh
Diri
***
Dewa Dewi masih menghiasi tempat itu. Mereka menghampiri laki-laki itu dan membuat ia terlahir kembali menjadi wujud yang berbeda, yaitu manusia. Ia dilahirkan oleh seorang wanita. Halaman berikutnya terlampir foto laki-laki itu setelah menjadi wujud yang berbeda.
😇😇😇
Aku membuka halaman berikutnya.
Seketika aku menjatuhkan buku yang aku pegang dan baca setelah melihat foto itu.
Aku terduduk di atas tempat tidur.
Tak ku sangka...
Dengan foto yang baru saja aku lihat...
Itu...
Foto...
Kakakku...
Persis seperti foto masa bayi kakak yang aku lihat sebelumnya...
"Kak, ternyata kamu lah pencipta Dewa Dewi. Kau dulu berkulit emas. Kau sama sekali tak tahu akan hal itu setelah kau dilahirkan kembali." Kataku.
Tiba-tiba saja ada kertas yang terjatuh dari selipan buku tersebut.
"Hah?"
Aku mengambilnya.
Ternyata itu surat kakak padaku.
😇😇😇
Beginilah isinya:
Adikku, saat kau bertanya tentang Dewa Dewi, kakak jadi penasaran akan tempat penyembahan Dewa Dewi itu. Jadi kakak diam-diam pergi ke sana larut malam. Kakak gak sengaja menemukan buku ini. Ketika kakak membacanya, kakak kaget karena ternyata dulu kakak lah yang menciptakan Dewa Dewi. SERIUSAN, KAKAK KAGET!
Kakak cepat-cepat membawa buku ini ke rumah, lalu menuliskan pesan ini padamu, dan kakak menaruhnya di laci kakak.
Kakak jadi percaya akan Dewa Dewi, dan tanpa kakak sadari, kakak sudah menggoyahkan iman kakak. Walaupun kamu sudah percaya akan adanya Dewa Dewi, kamu jangan goyahkan iman kamu seperti kakak.
Itu saja yang ingin kakak sampaikan.
Selamat tinggal.
Kakak akan hidup bersama para penyembah Dewa Dewi.
Dan selamat, kau menemukan buku, pesan, dan semua kebenaran ini yang sudah jelas tertulis.
~ Kakakmu, Rudy ~
😇😇😇
Aku menangis sambil memeluk buku itu. Kakak sudah meninggalkanku, dan aku sudah dikutuk. Aku sudah merasa seperti tidak hidup lagi. Kepada siapa aku harus minta tolong? Aku saja sudah seperti hantu yang tak terlihat dan bisa ditembus akibat kutukan itu.
Kini aku bisa menembus apa saja
Aku tak terlihat.
Setiap aku menggerakkan suatu benda, para manusia berlari ketakutan.
Dunia seperti tak mengizinkanku lagi mendekati manusia.
Tak ada yang bisa mematahkan kutukan ini.
Tak ada.
Selamanya aku seperti ini.
~ TAMAT ~
Follow IG ku: @rainhard.frealdo
Mampir juga ke novel dan CS ku 🙏☺️