🍃🍃🍃
"Kenapa?! Kenapa harus aku yang menanggung semuanya?! Apa tidak cukup kutukan ini menghancurkan hidupku?! Kenapa?!!"
Gema suara yang gemetar menghanyutkan angin malam yang sejuk.
Gubuk kecil yang rusak menutup tubuh kurus seorang gadis yang memeluk erat anak kuda dengan tubuh gemetar.
"Ceto! Cepat kembali! Dasar gadis tidak berguna. Hei! Ceto!!!"
Suara yang meneriakkan namanya dengan kesal membuat gadis yang bernama Ceto keluar dari gubuk itu.
"Sedang apa kau di sana?! Jangan bikin masalah, cepat kembali! Kak Medusa menunggu mu."
Segera dengan langkah cepat Ceto berjalan mengikuti kakak keduanya.
🍃
Semua orang sangat tau bahwa sosok gadis kuil Medusa adalah pujaan hati setiap pria. Bahkan tak sedikit wanita juga menyukai kesucian hati sang Medusa.
Namun, fakta itu tak bisa memberikan efek positif pada garis keturunan yang lain.
Dalam keluarga, Medusa adalah kakak pertama dari Ceto. Dia sangat menghormati sang kakak dan juga mencintainya.
Bahkan sejak Ceto berumur tiga tahun, dia sudah diasuh oleh Medusa dengan penuh kasih sayang.
Tidak ada alasan bagi Ceto untuk membenci sosoknya itu.
Namun, fakta manusia yang mengecap Ceto sebagai pembawa sial bagi Medusa hanya karna wajahnya yang tidak cantik, membuat hati nurani Ceto retak berdarah.
Awalnya, rasa terkutuk itu tidak pernah muncul dari lubuk hati Ceto yang amat menyayangi Medusa, tapi dengan ejekan dan tamparan kata dari masyarakat sekita sedikit demi sedikit mengikis hati rapuhnya.
Walaupun dia tau bahwa dia bukanlah siapa-siapa dibandingkan Medusa kakaknya. Namun, apa salahnya jika dia terlahir tidak seindah bunga yang tumbuh di taman.
Bukankah rumput juga berhak hidup?
🍃🍃
"Ceto, besok Kakak ingin pergi ke kuil, apa kamu mau ikut bersama kakak?" Tanya Medusa sembari memotong roti.
Untuk sejenak Ceto ingin segera menjawab iya atas pertanyaan sang kakak, tapi jika dia pergi ke kuil bersama Medusa esok, dia harus mendengar ejekan dan kritik membunuh dari orang lain.
"Ceto? Apa kamu sibuk besok? Kalau kamu tidak bisa temani kakak juga tidak apa-apa." Ucap Medusa dengan khawatir.
Sungguh sial pikir Ceto, dia sepertinya benar-benar tidak bisa menolak permintaan dari Medusa.
"Tidak kak, aku akan ikut denganmu besok." Putus Ceto.
"Baiklah, terimakasih Ceto." Medusa tersenyum bahagia mendengar ucapan adiknya itu.
Senyuman cantik dan anggun itu membuat hati Ceto sedikit tergelitik. Dia memang tak dapat menghapus fakta bahwa kakak pertamanya itu memang sangat cantik.
Jika ada ibarat, dia itu seperti bayangan hitam dibalik terangnya cahaya lampu. Bahkan untuk mendekati sedikit saja cahaya itu sangat mustahil baginya.
Namun, Ceto tidak tau bahwa jalan takdir akan segera berubah menjadi badai esok hari.
🍃🍃🍃
Cuaca amat sangat cerah hari ini. Dengan gaun putih yang membalut tubuh indah Medusa, membuat Ceto membeku sesaat.
Dia memang sudah melihat kecantikan itu selama tujuh belas tahun, tapi masih saja dia tidak dapat mengontrol kekagumannya.
"Ayo, matahari sudah berada di puncak langit." Ucap Medusa dengan suara lembutnya.
Ceto mengangguk dan mengikutinya dari belakang.
Medusa dikenal sebagai gadis kuil karna ketekunannya dalam memuja Dewi Athena sejak ia kecil. Medusa setiap hari selalu melakukan pemujaan doa di kuil Athena yang terletak di puncak bukit yang di kelilingi oleh lautan.
Memakan satu setengah jam jalan kaki menuju kesana. Namun, tak terlihat wajah bosan dan lelah dari Medusa.
Ceto sangat kagum dengan keyakinan dari kakaknya itu.
Saat mereka sampai di kuil Dewi Athena, Ceto baru ingat kalau dia lupa membawa dupa yang diberikan oleh Medusa semalam.
"Kakak! Aku lupa membawa dupanya! Kakak pergilah ke dalam duluan, aku akan segera kembali setelah mengambil dupa."
"Baiklah, hati-hati!" Ucap Medusa kepada Ceto yang berlari menuruni bukit.
~~~
Pada akhirnya badai takdir itu mulai melilit benang kehidupan antara Ceto dan Medusa.
Saat Medusa memasuki kuil Athena, dia tidak melihat siapapun di sana, padahal hari ini adalah hari pemujaan.
Sembari menunggu Ceto, Medusa menata altar tempat pemujaan dibawah patung besar Dewi Athena.
Namun, tiba-tiba suara gemuruh besar terdengar dari arah lautan.
Seketika itu sesosok Dewa agung penguasa lautan Poseidon berdiri tegak di depan pintu kuil sembari menatap lekat Medusa yang membeku.
"Aku sudah tidak bisa menahannya, wanita sepertimu mencoba untuk melindungi kesucianmu dari mata nafsu lelaki? Betapa bodohnya tekatmu itu, Medusa."
Ucapan yang keluar dari mulut Poseidon membuat tubuh Medusa gemetar.
"A ... Apa maksud perkataan mu itu?! Aku bukanlah pemujamu, keluar dari sini! Ini bukan tempatmu!"
Perkataan lancang Medusa membuat emosi Poseidon semakin memuncak.
"Jangan sok naif manusia, aku adalah Dewa penguasa lautan, sebaiknya kau tau di mana kedudukan mu! "
"Tidak, ini bukan tempatmu. Aku adalah hamba pemuja Dewi Athena! Aku tak akan memuja yang lain!" Ujar Medusa dengan kukuh.
"HAHAHAHAHA...!!! Kau benar-benar membuatku semakin gila, hari ini ... Aku tidak akan melepasmu sebelum kau menjadi milikku seutuhnya."
~~~
Dilain sisi ...
"Kenapa cuacanya tiba-tiba menjadi buruk seperti ini?! Aduh kalau hujan ditengah bukit ini bisa sulit untuk mendakinya."
Ceto yang tengah berusaha secepatnya menuju kuil Athena mulai mempercepat langkahnya lagi.
"Kakak pasti sudah menunggu lama."
~~~
Di kuil Dewi Athena, benturan takdir mulai mencekik.
"Tidak! Lepaskan aku!! Apa yang kau lakukan di kuil suci?! LEPASKAN ...!!!" Jerit Medusa penuh kepedihan.
Kini kesucian yang dijaga olehnya dari ia lahir, tengah direnggut paksa oleh si dewa lautan yang tergila-gila dengan kecantikan Medusa.
Di arah luar, Ceto yang hampir sampai di depan pintu kuil terhenti saat mendengar teriakan dari arah dalam kuil.
"Kakak?!"
Saat hendak mendekati pintu kuil, tiba-tiba cahaya yang amat silau dan panas mendorong tubuh kurus Ceto hingga terjatuh.
Dan sesaat kemudian, suara teriakan dari Medusa membuat tubuh Ceto tersentak.
"Ka ... Kakak!"
Ceto segera bangun dan berlari menuju dalam kuil.
DEG!
Begitu terkejutnya Ceto saat melihat sosok manusia yang tengah merintih di bawah patung Dewi Athena.
"Ka ... Kakak! A ... Apa itu kau? Kakak?"
Kepala Medusa kini dipenuhi dengan ular yang mengakar. Tubuh indahnya kini berubah hijau dan bersisik.
Ceto tak berani mendekat, seakan tubuhnya melarangnya untuk mendekat.
"Tidak ... Tidak ... TIDAK ...!!! Apa yang kau lakukan padaku Dewi? APA?! Kenapa kau mengutukku seperti ini? KENAPA?!!!"
Teriakan lirih dari Medusa membuat Ceto semakin takut.
"A ... Apa yang terjadi sebenarnya?! Kakak? Ke ... Kenapa kakak seperti itu? A ... Apa yang terjadi pada kakak?!"
Ceto mencoba mendekat, tapi di cegah oleh teriakan dari warga desa yang sampai di pintu kuil.
"Ya ampun! Lihatlah! Apa yang gadis terkutuk itu lakukan pada wanita suci kuil?! Dia sudah mengutuk kakaknya sendiri!" Seru salah seorang warga.
"Sungguh benalu! Dasar wanita terkutuk! Dia iri hati dengan kakaknya sampai tega melakukan itu!"
"Tidak ...! Apa yang kalian katakan! Aku tidak melakukan hal keji itu pada kakakku sendiri!" Seru Ceto putus asa.
"Apa yang ingin kau elak lagi! Semua sudah terbukti! DASAR GADIS TERKUTUK!"
Kala itu, pasang surut lautan seperti alunan musik pembawa malapetaka. Tubuh Medusa yang berubah menakutkan akibat ulah Dewa lautan, yang membuat Athena marah dan mengutuknya, menjadi pemicu bencana di hati gadis rapuh itu.
Tuduhan, ancaman, kecaman dan fitnah masyarakat atas dirinya membuat Ceto terbungkam. Bahkan kakak keduanya hanya menatapnya dengan jijik.
Terbesit rintihan dalam hati kecil Ceto.
'Kakak ... Kenapa selalu aku yang disalahkan untuk setiap kemalangan mu? Kenapa harus aku yang menanggung semua itu? Saat mereka memujamu aku turut bahagia, jadi tak pernah sekalipun aku ingin kau menderita. Kali ini tolong aku kak, katakan pada mereka untuk berhenti menjadikanku seperti rumput liar yang mengganggu. Kumohon ...'
Ingin rasanya itu ia sampaikan pada sang kakak yang sudah larut dalam kemalangannya.
"HEI TUNGGU APA LAGI, KELUAR KAU DARI SINI, DASAR GADIS TERKUTUK!!"
Kalimat itu membuat tali kesabaran Ceto putus seketika.
Disaat tak ada yang bisa memengang tangannya itu, di saat hidup tengah menekannya dengan kejam, Ceto berjalan mendekati patung Dewi Athena dan berkata.
"Kau ... Benar-benar buta. Saat hamba mu yang amat mencintaimu itu dalam kesulitan, kau hanya diam dengan kesombongamu.
Kau diam demi mengutuknya yang membuat Dewa gila yang kau cintai melirikmu, tapi kau tidak bisa berkutik karna rasa irimu! Rasa egomu! Dan saat semua mimpi mu sirna, kau mengutuk korban dari biadapnya Kekasihmu?! KAU GILA!"
"Karna itu, AKU BERSUMPAH! AKAN MENGUTUK SIAPAPUN YANG MEMUJA DI BAWAH KAKIMU! Aku bersumpah untuk mengutuk setiap keadilamu!"
Dan disitulah bencana takdir menenggelamkan seisi desa dengan kutukan Medusa dan sang Iblis Kutukan 'Ceto'.
Setiap ada yang memuja Athena dan Poseidon, maka kutukan kematian dan kesengsaraan akan menghampiri mereka dalam tiga detik.
Kuil Suci Athena, kini telah menjadi sarang kutukan dua bersaudara. Itulah bukti nyata dari kekejaman dan gelap mata para Dewa yang menganggap manusia seperti bidak catur mereka.
🍃🍃🍃
Ketika taman yang penuh bunga tak dirawat, maka rumput liar akan menjadi raja dan membunuh semuanya.
TAMAT🍃
Hanya fiktif belaka.