Hari ini matahari bersinar cerah, tapi tiba tiba-tiba awan mendung datang mengubah segalanya, langit biru berubah menjadi langit abu penuh air serta petir, setelah sang abu pergi datang jingga bersama pelangi menghiasi indah akhir hari.
Namaku Senja, ya senja adalah namaku, bagai senja sifatku ceria dan cerah, tapi siapa yang berkata senja selalu cerah? Kadang kala senja dihiasi dengan sang awan mendung dan air hujan, mungkin awan mendung sama artinya dengan masa hidup yang seperti sebuah jam pasir kecil.
Tapi tidak masalah jika hidupku singkat, karena singkat hidupku akan menjadi sebuah harta Karun berharga untuk keluarga ku, aku dikenal sebagai seorang fotografer muda yang ceria ramah dan
baik, tapi aku tidak ingin memotret seorang model ataupun kehidupan kota yang glamor, aku ingin merasakan alam indah bumi Pertiwi bukan kehidupan kota negara ini. Aku mungkin bagai seorang musafir yang berpergian tanpa arah tujuan, kadang aku mendaki gunung tinggi kadang pula aku menuju lautan luas, dan disana akan aku ukirkan perasaan bahagia dan membagi nya kepada siapa saja yang aku temui.
Beberapa hari lalu aku sempat pingsan di rumah, ya tentu saja semua orang akan panik, lalu dokter malah membuat mereka lebih khawatir lagi, dokter berkata hidupku tidak akan bertahan sampai setahun, bagai petir di siang bolong dan badai di langit berbintang semua orang menjadi murung, aku pun menjadi sedih. Tapi tidak masalah manusia hidup memang untuk kembali mati. Jadi aku harap sebelum mati dapat mewujudkan semua keinginan ini agar nantinya tidak menjadi seorang hantu penasaran yang mengelilingi dunia.
Hari ini pertama kalinya aku pergi ke luar negeri, ke India tepatnya, sebenarnya aku pergi ke negara ini hanya penasaran saja seperti apa kehidupan disana. Aku pergi menuju India tapi tidak ke Mumbai atau Taj Mahal tapi menuju pada pedesaan, di sana aku bertemu para tentara yang sedang bertugas, karena penasaran aku ikuti saja mereka dan mulai menjadi reporter bagi mereka, tidak disangka mereka sangat ramah walau ada satu orang yang wajahnya seperti batang kayu hanya diam pada satu ekspresi, tapi akhirnya aku dapat akrab dengan nya, siapa ya namanya jika tidak salah namanya adalah Virzara, dan yang lebih mengejutkan agamanya adalah islam.
Saat di perkemahan hari ke 5 Virzara bertanya kepadaku kenapa aku ingin mengikuti mereka, kenapa aku tidak seperti turis turis lain saja, aku pun menjawab nya " ya karena ini adalah keinginan ku melihat indahnya alam bukan makmur nya peradaban ", Virzara lalu hanya tersenyum saja kepadaku dan berkata jika aku ini gadis yang aneh, aku memang setuju dengan nya jika aku ini memang gadis yang aneh dan berbeda.
Hari ini kami semua bermalam di sebuah desa, desa ini sangat jauh akan unsur kemakmuran dan kemajuan peradaban, disini aku melihat sebuah upacara kematian, tanpa ragu aku hanya memotret nya sambil tersenyum dan sesekali bercanda dengan lainnya, tapi Virzara malah memarahi ku dia berkata apa hidup ini adalah sebuah candaan untukku, aku Lalau tersenyum kepadanya dan mengatakan jika hidup ini memang bukan candaan tapi apa yang akan kau lakukan jika hidup membuat mu menjadi candaan nya, sekejap diberi harapan dan sekejap diambil begitu saja bagaimana rasanya?, Virzara pun terdiam.
Tidak terasa dalam waktu seminggu aku telah mengikuti mereka hingga sekarang aku akhirnya sampai kembali di kota, ada banyak foto yang aku miliki sekarang dan rasanya tidak sabar untuk mencetak nya, tapi sebelum sempat melihat foto ini aku pingsan saat sadar aku berada di rumasakit Mumbai bersama Virzara, eh bukankah dia harus pergi bertugas, melihat tatapan matanya aku tau dia pasti telah mengetahui segalanya, Virzara bertanya padaku kenapa dengan kondisiku aku masih nekat bepergian jauh dan melakukan banyak hal ekstrim, aku hanya tertawa menjawab pertanyaan nya, tapi dia malah semakin marah.
Didepan pintu aku mendengar suara Ayah dan Ibu yang sedang menangis, apa aku akan mati hari ini?, Tidak apa mati aku telah menyelesaikan semuanya tidak ada lagi penyesalan.
Hari ini adalah senja yang cerah langit berwarna jingga Sangat indah, aku bertanya pada Virzara di sampingku " Bagaimana rasanya mati, setelah mati aku akan kemana? ", Ia tertegun mendengar nya, dengan senyum yang dipaksakan ia berkata " mungkin mati rasanya seperti tertidur sambil bermimpi indah " kayanya di sampingku, " jadi aku tidak akan merasakan rasa sakit lagi ya " kataku tersenyum kearahnya, " ya kau tidak akan merasakan rasa sakit sedih ataupun menderita lagi " balas Virzara tersenyum paksa, ayah dan ibu hanya menangis melihat ku dari balik kaca.
Aku mulai merasa sesak apa aku akan segera pergi?, Virzara panik dan memanggil dokter dengan suara keras ayah berlari menyusuri lorong mencari dokter sedangkan ibu hanya menangis dari balik kaca, aku menahan tangan Virzara dan mengatakan keinginan terakhir ku didampingi oleh Langit senja, " jangan sedih jangan menangis, keinginan ku hanya ingin melihat mu terus tersenyum ramah, dan juga simpanlah kamera ku sebagai kenangan kita pernah menjadi teman " .
dalam balutan cahaya senja sang gadis fotografer yang baru aku kenal mati dengan sebuah senyuman ( Virzara ).
Tamat.