Kita saling mengenal. Aku lahir pada bulan Juni, sedangkan ia lahir di bulan Januari. Kebetulan pula, kami lahir di tahun yang sama. Dan tempat tinggal kami, bersebelahan.
Secara tak sadar, sampai menginjak usia sepuluh tahun atau kelas empat SD, kami mengalami masa labil yang biasa orang katakan 'love-hate relationship'. Ya, kami sering bertengkar. Sangat sering. Hingga suatu masa di mana kami sudah mulai tumbuh menjadi anak remaja, kami tak pernah saling memancing emosi. Kami sudah mulai beranjak dewasa. Itu yang aku pikirkan.
Saat usia kami menginjak dua belas tahun, kami mulai jarang berkomunikasi. Aku mempersiapkan diri sebelumnya. Karena saat itu, beberapa hari nanti, aku akan pergi. Tak terlalu jauh. Tapi yang pasti, aku akan meninggalkan nya.
Tepat di kelas enam semester dua, aku pindah rumah. Aku pergi menjauh. Berbeda kota. Dan hal itu, membuat kami jauh. Bahkan sangat jauh. Dan hal itu pula, menjadikan kami seolah tak saling mengenal. Sejauh itu..
Terkadang, aku akan menemuinya di rumah 'oma' - nenek yang tinggal bersamanya - untuk mengadakan acara bersama. Aah, entahlah, aku merasa, 'oma' itu seperti pengganti nenek ku yang telah tiada. - walau oma sedikit galak sih. Hehehe
Lambat laun, kami semakin jauh. Kami hanya berbincang lewat personal chat. Itu pun hanya dalam keadaan mendadak atau perucapan ulang tahun saja. Tidak lebih.
Sampai suatu saat, di mana Tuhan menemukan takdir yang - mungkin hanya aku yang menginginkan nya. Namun, aku juga tak ingin bertemu dalam keadaan seperti ini - membuat kami dapat saling bersitatap sembari melayangkan senyuman manis hingga mata dan pipi ku ikut melengkungkan senyuman.
Hehe. Mataku sipit. Pipi ku 'bolong' berdimple.
Ya.. Walau kami bertemu di rumah sakit dalam keadaan yang - sama sama menyakitkan, - kami memulai membuat sebuah memori di dalam flashdisk dengan harga murah namun kami beli 'patungan'. Kami membeli kamera 'instax' dan kamera dengan model terbaru, buku diari, pulpen menggemaskan, dan juga, kami membeli buku putih polos untuk kami coret coret menggunakan stabilo atau pensil warna.
Kami membuat banyak kenangan selama tujuh hari penuh.
Hingga masa, di mana kondisi nya mulai tak stabil, hati ku mencelos. Aku tak bisa tertidur. Sedangkan penyakit yang ku derita membawaku ke alam sadar untuk tidur lebih cepat dari waktu yang telah di tentukan. Membuat tidur ku tak pernah nyenyak. Aku selalu bangun dalam keadaan menangis tersedu-sedu.
Itu menyakitkan.
Tapi Tuhan baik. Ia mendengar doaku. Ia mengabulkan nya. Dengan sahabat hidup ku yang mulai membuka mata dan aku yang pertama kali ia tanyakan.
Romantis, bukan?
Dia berkata, bahwa mulai saat itu, ia akan berjuang. Demi kehidupan dan cita cita kami bersama. Aku sangat bahagia mendengar nya. Hingga tak sadar, aku memeluknya. Erat. Erat sekali. Sampai rasanya, aku tak ingin jarum jam dinding terus bergerak. Aku ingin, waktu bisa berhenti sejenak. Memberi sedikit waktu yang luang untuk kami.
Sekitar tiga minggu ia berjuang, namun hasil tak memuaskan. Sedangkan aku? Aku hanya melakukan terapi sampai saat ini. Namun, dikarenakan kondisi hati dan fisik ku selalu tertuju padanya, kondisi ku naik turun. Kadang naik, kadang turun. Terus seperti itu sampai saat dimana kondisi nya semakin parah, dan membutuhkan dukungan lebih dari para orang terdekat nya.
Aku, tentu mendukung nya. Aku selalu membawa semua kenangan yang pernah kami beli dengan uang bersama dan membuat banyak hasil karya. Aku selalu bercerita hal konyol. Yang tak mendapat respon sedikit pun. - ia koma, hampir satu pekan.
Suatu saat di mana kondisi ku sudah di pastikan 'akan terjadi', aku selalu menggumamkan namanya. Aku selalu berharap akan keajaiban dari Tuhan untuk terbukanya kedua bola mata nya. Dan ternyata, Tuhan baik. Amat sangat baik padaku hingga rasanya, aku ingin tak memiliki penyakit yang menyerang ku saat ini.
`
Kehendak Tuhan, kau tentang? Bagaimana caranya? Apakah berhasil? Membawa petaka kah? Atau hasil akhir tetap sama saja?
`
Dia menangis pilu di hadapan ku yang terbaring lemah. Dia menggenggam tangan ku yang terbebas suntikan tanpa terlepas sebelum perintah. Dia mengecup pelan kening ku, memberi semangat, dan sedikit air mata nya yang tak kuasa ia tahan di pelupuk mata.
`
Hey, memangnya ada seorang sahabat se-romantis ini?
`
Sebelumnya, aku pernah mengingatkan nya untuk menjaga kenangan manis kami. Aku memintanya untuk merawat coretan nakal dan wajah jelek ku. Dan aku juga menyuruhnya untuk menyimpan itu semua di lemari kesayangan nya. Dan hal itu, di setujui nya. Ia memerintah kan asisten nya untuk menyimpan kenangan itu dengan baik. Dan hal itu pun di turuti hingga ia pun tak menyangka akan adanya kejutan di balik buku diari kami.
- perasaan ku untuknya. Aku menyatakan cinta. Hanya saja, aku tak ingin merasakan sakit hati hingga aku, memiliki untuk menjadi 'secret admirer' selama ini.
`
Tuhan ingin menyatukan kami. Tapi Tuhan tahu, tak semua bisa kami lakukan sesuai kehendak kami.
Karena takdir, berada dalam genggaman nya. Bukan penyatuan kedua telapak tangan kami.
`
Ada kala, di sebuah malam, yang bisa di sebut 'malam' terakhir kami. Aku akan tetap berada di rumah sakit. Tapi dia, akan pergi. Tubuh nya membaik. Penyakit yang bersarang di tubuh nya mulai menghilang tergantikan dengan kabar baik kalau kesembuhan nya berada pada persentase 78. Harapan semakin meningkat, dan saat ini, ialah malam terakhir nya menemaniku di bangku taman tercinta.
Dalam hal keyakinan pada Tuhan, Agama kami melarang keras 'pendekatan atau persentuhan' sebelum kata 'sah' dalam hukum dan agama di cetuskan. Namun, untuk saat ini, aku hanya ingin menggenggam nya. Hanya malam ini.
Aku menyamankan diriku di bahu tegap nya. Aku menggenggam tangan nya. Menyalurkan getaran tubuh ku yang berangsur lemah.
Bersamanya malam itu, tak banyak berbicara. Kami hanya berusaha membuat chemistry saja. Agar momen ini tak terlewat begitu saja setelah esok, kami tak akan pernah bisa bertemu lagi.
Semua kami lakukan di malam ini. Tak hanya 'physical touch', kami hampir memenuhi macam macam 'love language' yang ada di laman majalah internet. Salah satu yang kami suka, 'Quality time' dan 'words of affirmation'. Aah, kami sangat menyukainya. Kami benar benar menghabiskan waktu bersama.
`
Bagian mana yang Tuhan lewatkan dalam kehidupan seonggok manusia pendosa?
Bagian mana yang Tuhan lupakan dalam kisah lika liku ciptaan-Nya?
Bagian mana yang salah dalam hasil koreksi Tuhan untuk 'umat-Nya?'
`
Beberapa hari, ia pergi. Benar benar meninggalkan ku. Aku sedih? Tentu saja. Aku selalu menangis dalam diam setiap malam menjelang. Aku selalu merindukan nya. Selalu menginginkan nya ada untuk ku. Menginginkan hatinya hanya terpusat oleh ku. Hanya itu.
Namun realita yang ku dapat, aku tak pernah bisa menghubungi nya.
Selain karena aku tak bisa berbicara secara langsung atau menggunakan telepon genggam, aku juga tak kuat rasanya untuk sekedar 'berbicara'. Tubuh ku sangat lemah. Hingga rasanya, di saat ia datang dengan keringat bercucuran serta airmata yang menetes deras sedari ia berlari menuju ruang inap ku, aku hanya bisa tersenyum. Sedikit ku usahakan untuk mengangkat tangan kanan ku, lalu mengusap perlahan. Dengan kelembutan. Dengan binar binar mata yang memancar kan kebahagiaan. Dan juga, hati yang berbunga-bunga.
"Aku lelah. Izin tidur, ya? Maaf belum bisa menjadi yang terbaik seperti keinginan mu di buku diari kita."
Dia menggeleng kencang. Ia menaruh wajah nya di kening lebar ku. Menangis kencang. Menggeleng sembari menggumamkan kata 'tidak, jangan, gak boleh' berulang.
Membaca sebuah 'mantra' dalam agama ku, aku sedikit tersendat. Namun 'ia' membantuku dalam mempermudah kan ku melantunkan nya. Hingga akhir dari segalanya,
.
.
.
.
.
.
Dia pergi. Meninggalkan aku, dan dunia kami. Meninggalkan dua sentimeter senyuman nya. Dan genggaman lemah khas nya.
.. Hey manis, Terima kasih sudah kuat. maaf kan tubuh rapuh ku yang tak dapat menahan bobot kehidupan kelam mu.
.. Aku berharap kau bermimpi indah. Tak terbangun dengan airmata lagi.
.. Selamat malam anak manis. Selamat tidur 'teman' satu bulanku. Aku mencintaimu. Selalu.