"DIMANA DASI KAMU?!"
Suara tegas dengan wajah menyeramkan. Aku bahkan tidak berani menatapnya langsung. Dengan suara bergetar aku menjawab..
"A..anu kak k..ketinggalan"
Ucapku sambil tertunduk malu.
.
.
.
Mari flashback sebentar, namaku Emma anak pindahan dari kota sebelah. Karena urusan pekerjaan ayah, aku harus pindah ke kota Semarang ke kota Jakarta. Perjalanan yang jauh membuat ku malas kemana-mana saat sampai ke sini. Namun karena liburan ku telah usai, mau tidak mau aku harus berangkat ke sekolah baru.
Untungnya saat pindahan tiba, aku sudah naik kelas menjadi kelas 11. Yah tepat sekali, hanya tinggal melanjutkan kelas 2 SMA saja hahaha.
Dan mari lanjutkan kenapa aku bisa di situasi ini. Tak kuduga ternyata semua anak baru harus ikut di ospek. Tunggu, padahal 'kan aku juga termasuk kakak kelas di sini, kenapa aku ikut di ospek?!
Namun aku tidak berkutip saat kakak kelas menghadang ku dan menyuruh untuk gabung di kelas 10. Hueee ospek kedua kalinya ini mah(╥﹏╥)
Aku berbaris menuruti mereka semua. Kakak kelas sama saja, semua kejam haahh. Aku serta kelas 10 lainnya duduk di tengah lapangan dan menyatat sesuatu. Tak lama datang para murid dengan seragam berbeda dari kami. Memakai jas putih dengan gagah. Ada satu anak cowok yang menarik perhatian ku.
Dia memakai kacamata, tinggi dan terlihat keren saat berjalan bersama mereka. Hanya ada satu di pikiran ku. Ospek, anak baru, sama dengan ANGGOTA OSIS.
Para anggota osis berpencar, begitu juga dengan cowok berkacamata. Dia mendekat ke arah ku dengan tatapan menyeramkan. Sial, duduk ku paling depan.
Dia mendekat dan mendekat.
"DIMANA DASI KAMU?!"
Dasi? Tentu saja aku sudah mem...tunggu, kok ngak ada? Gawat, di saat genting seperti ini aku malah ketinggalan dasi ku.
"A..anu kak k..ketinggalan"
Dia menatap ku lekat-lekat.Menyeramkan...
"KALIAN YANG TIDAK MEMAKAI ATRIBUT LENGKAP BERDIRI!"
Reflek di barisan kami yang bersalah langsung berdiri, termasuk juga diri ku. Di mengomel lama sekali, dengan suara yang tinggi membuat kami yang bersalah takut dan hanya menundukan kepala.
"Catat kesalahan kalian di kertas yang sudah di berikan. Ingat, jika sudah mencapai 5 kesalahan kalian akan mendapatkan hukuman"
Dia pergi dari hadapan barisan kami dan berjalan ke barisan selanjutnya. Kesalahan pertama ku, ospek ini tak jauh beda dari ospek di sekolah ku dulu.
"Bukannya dia ketua osis yang baru ya?"
"Sial sekali langsung di hadapkan olehnya"
"Ketegasannya sudah sampai ketelinga kelas 10. Bahkan kakak kelas tidak berani berhadapan dengannya"
"Haaah, kita sangat sial"
Aku mendengar bisikan anak perempuan di belakang. Ternyata dia ketua osis ya. Aku berbalik menghadap belakang dan bergabung dalam percakapan mereka.
"Memangnya dia seterkenal itu ya?"
Tanya ku penasaran.
"Tentu saja, tidak ada yang tidak kenal dia"
"Ngomong-ngomong kamu kelas 10 apa?"
"Ah aku sebenarnya kelas 11, namun karena aku murid pindahan seperti yang kalian lihat aku ikut ospek ini"
Ucap ku sambil menggaruk kepala padahal tidak gatal.
"Wah kakak kelas ya?"
Aku mengangguk mengiyakan.
"Tapi ngomong-ngomong, ketua osis yang kalian bicarakan cukup tampan. Ah tidak, sangat tampan!"
Mereka menatap ku dengan heran, setelahnya tertawa kecil karena pernyataan ku. Mereka mengangguk setuju. Tak lama senyuman berubah menjadi wajah ketakutan.
"Ada apa? Kenapa tidak melanjutkannya? Aku tau kok ketua menyeramkan dan galak. Namun benarkan ucapan ku?"
Mereka menggelengkan kepala sekuat tenaga dan menunjuk ke belakang. Memangnya ada apa sih? Saat aku menengok...
"WAKHH!!"
"..."
K..ketua?! Kenapa dia kemari, timing nya tidak pas. J..jantung ku.
"Kalian, bukannya ini belum waktunya kalian berbicara?Catat kesalahan kalian semua"
Hueee kesalahan kedua ku. Tak lama sekilas aku melihatnya tersenyum.
"Tulis kesalahaan karena membicarakan kakak kelas, dan mengatakan kakak kelas tampan"
"Ba..tunggu, apa?"
Tanya ku tak percaya. Dia kembali tersenyum.
"Sepertinya ada seseorang yang membicarakan ku tampan, tulis itu di kertas kesalahan"
Aku ternganga tak percaya. Dia pergi lagi meninggalkan barisan kami. Sial...SAMPAI MANA DIA DENGAR OBROLAN KAMI?! Menyebalkan, dia membuatku malu sial///
.
.
.
Dan beberapa hari ospek berakhir. Akhirnya kehidupan sekolah kembali normal. Untungnya aku hanya membuat 4 kesalahan saat ospek berjalan. Ku dengar anak yang membuat 5 kesalahan di hukum membersihkan lapangan saat pulang sekolah.
Yah untung saja, 1 kesalahan aku bisa di hukum seperti mereka(╥﹏╥)
Ngomong-ngomong kata wali kelas aku masuk ke kelas 11 A. Baiklah Emma, kehidupan sekolah mu yang baru di kota ini. Ku harap aku mendapatkan teman yang baik. Yosh, ayo masuk!
Suara derit pintu terdengar, terlihat hanya ada beberapa anak di sini. Mungkin karena ini masih terlalu pagi belum banyak anak yang datang. Aku masuk ke kelas dengan canggung. Mereka memperhatikan ku. Tak lama ada seorang anak yang mengajak ku bicara.
"Hai, anak baru ya?"
Tanya anak perempuan dengan kuncir kuda. Dia lebih tinggi dari ku dan...cantik.
"I..iya"
"Astaga apakah kau takut? Hahaha"
"Tidak hanya saja, aku sedikit gugup"
Ucapku sambil tertunduk malu. Perempuan itu tersenyum dan merangkul ku.
"Hei mau duduk di sebelahku?"
"Memangnya boleh?"
"Hahaha tentu saja, tahun ini kita bebas dalam memilih bangku"
"Wah terimakasih, ngomong-ngomong kamu duduk dimana?"
"Pojok barisan kedua"
Ah yang ada tas biru itu ya? Aku segera meletakan tas ku di samping gadis itu. Kami duduk di bangku dan bercerita ini itu. Dia adalah gadis yang supel, hahaha.
"Oh ya namaku Stela, kau?"
"Emma, salam kenal"
Stela, sepertinya dia akan menjadi teman pertama ku. Perhatian ku teralihkan ke satu tas tepat di belakang ku. Aku berniat bertanya kepada Stela.
"Kursi di belakang kita itu punya siapa?" ~Emma
"Oh itu, dari tas nya sih kayaknya punya si Reza" ~Stela
"Reza?" ~Emma
Stela mengangguk mengiyakan.
"Kayaknya dia masih sibuk deh mengurusi murid baru" ~Stela
"Dia anggota osis kah?" ~Emma
"Yap, dia anggota osis. Btw kayakya osis membutuhkan anggota baru. Pemilihan akan di acak tergantung nilai kita" ~Stela
"Benarkah?"
Semoga saja bukan aku yang terpilih. Jujur aku juga mantan osis di sekolah ku dulu, dan itu adalah tugas terberat.
Tak terasa waktu berlalu. Makin lama murid di sini makin bertambah. Suara bel masuk terdengar. Wali kelas masuk ke kelas ini. Memperkenalkan ku serta membicarakan apa saja yang harus di lakukan saat sudah kelas 11. Pelajaran pun di mulai, namun anak yang bernama Reza belum kunjung datang. Sesibuk itukah menjadi osis?
Tak lama seorang anak lelaki masuk ke kelas sambil membawa lembaran di tangannya. Pria tinggi berkacamata dan tampan, bukannya dia...KETUA OSIS?!
Dia berbicara ke wali kelas kami dan berbincang akan sesuatu. Stela berbisik ke arahku.
"Tuh anak yang namanya Reza"
Aku ternganga mendengarnya. K..kita sekelas?! Ku kira dia kelas 12. Dan lebih parahnya tempat duduk ketua persis di belakang ku, oh no...
Wali kelas terlihat mengangguk, memerintahkan kita semua untuk tetap tenang dan memperhatikan Reza. Reza pun mulai berbicara.
"Maaf menganggu waktu nya, saya kesini hanya ingin menjemput anak bernama Emma. Apakah ada?"
Gasp, kenapa namaku di sebut?! Teman sekelas langsung menatap ku, Reza juga terlihat terkejut saat mata kami bertemu. Dia mendekat ke arah ku.
"Kau Emma? Segera ikut aku"
"K..kemana?"
"Ikut saja, jangan membuang-buang waktu"
Galak sekali, aku berdiri dari kursi dan mengikuti nya. Kami memberi salam kepada wali kelas sebelum pergi. Kami berjalan bersama, suasana begitu canggung. Dia begitu sibuk dengan kertas yang ia bawa.
Aku ingin sekali memulai pembicaraan, tapi aku masih saja takut dengannya. Tiba-tiba saja dia berhenti mendadak. Reza mendekat dan menatap ku lekat-lekat. Wajah kami sangat dekat membuat ku berdebar.
"Ah aku kenal kau! Kau 'kan yang lupa membawa dasi dan mengatakan aku tampan. Benar itu pasti kau!" ~Reza
"Ku tarik ucapan ku, maaf karena memanggil mu tampan-_-" ~Emma
Ku kira karena apa, ternyata soal kejadian itu.
"Kau lebih pendek dari dugaanku, bahkan sepertinya adik kelas lebih tinggi dari mu" ~Reza
Ucapnya sambil tersenyum meledek.
"Hah?Apa?155 ngak pendek tau!💢" ~Emma
"Ah berarti tinggi asli mu 153 ya, 2 cm di tambah dengan sepatu" ~Reza
"Enak aja, 155 tanpa sepatu! Kau saja yang ketinggian dasar tiang!💢" ~Emma
"Pftt"
Dia tertawa dan membelakangi ku, sial aku tidak sependek itu tau. Toh ini masih masa pertumbuhan ku. Namun baru kali ini aku melihat sisi Reza yang tertawa.
"Bwahaha maaf ku kira kau orang yang pemalu, ternyata secerewet ini" ~Reza
"Apakah aku terlihat seperti itu?" ~Emma
Dia mengangguk mengiyakan. Aku tak sangka dia tidak segalak seperti yang di bicarakan.
"Ngomong-ngomong apa ada hal yang membuat kamu memanggil ku?" ~Emma
"Ya, kami membutuhkan anggota baru setiap tahun. Satu kelas akan ada perwakilannya. Termasuk kelas kita dan sebagai ketua tugas ini bukan main-main. Aku butuh anggota yang dapat di percaya dan juga dapat di andalkan" ~Reza
"Jadi?..."
Tanya ku dengan bingung, tak lama ia kembali tersenyum licik ke arah ku.
"Saat memeriksa formulir pendaftaran mu, kau lumayan pintar dalam pelajaran. Bahkan pernah menjadi anggota osis di sekolah mu dulu" ~Reza
"Jadi? Hah tunggu, jangan-jangan..." ~Emma
"Yap, selamat anak baru kau menjadi anggota osis di tahun ini" ~Reza
Kami sampai di tempat yang di tuju, tertulis 'ruangan osis' di atas pintu.Reza membuka pintu dan terlihat banyak anak yang ada di sana. Sedangkan aku, masih tidak percaya apa yang terjadi.
"Hah, gimana? Osis? Hah?Aku?" *linglung
"Yak anggota baru, silahkan kerjakan tugas ini" ~Reza
Reza memberikan setumpuk kertas dan mendorong ku ke meja dekat dengan anak lainnya. Ada kakak kelas dan juga beberapa teman seangkatan di sini.
"AKU KAN BELUM BILANG SETUJU!! KENAPA KALIAN MEMILIHKU?!" ~Emma
PENDERITAAN APA INI?!
Namun pemilihan tidak dapat di ganggu gugat. Kejam, kenapa mereka memberikan tugas merepotkan ini.
"Simpel saja, karena kau salah satu murid terpintar" ~Reza
Ucap Reza sambil tertawa, mereka mengangguk setuju.
"Baru kali ini aku tidak bersyukur menjadi anak yang pintarಥ_ಥ" ~Emma
Mereka semua tertawa termasuk juga Reza. Apakah kehidupan baru di sekolah ini akan berakhir baik?
.
.
.
Waktu berlalu, sudah hampir 2 bulan aku di sibukan oleh kegiatan ini. Osis sama saja seperti pembantu guru, hahaha itu benar kok.
Namun daripada itu, aku dan Reza menjadi dekat seiringnya dengan waktu. Apalagi jika saat osis di butuhkan, kami akan pergi dan mengerjakannya bersama. Tetapi tugas ku dan Reza agak berbeda, Reza lah yang paling sibuk di antara kami semua.
Bahkan tak jarang ia tertidur saat pelajaran di mulai.
"Pstt Za, bu Ina lagi keliling" ~Emma
Bisik ku ke Reza, akhirnya dia bangun dan mengusap mata nya.
"Hoaam...thanks" ~Reza
"Ok" ~Emma
Tak lama Stela melihat ku dengan tatapannya.
"Kau dan Reza semakin dekat ya" ~Stela
Bisiknya setengah menggoda. Aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Benarkah? Bukannya itu hal wajar yang di lakukan bawahan ke bos nya. Kita 'kan hanya teman" ~Emma
Reza mendengarkan apa yang di bicarakan Emma dan Stela. Ia hanya diam dan masih mendengarkan apa yang kedua wanita ini katakan.
"Astaga kau sama sekali tidak peka Emma" ~Stela
"Peka? Apa yang kau maksud?" ~Emma
"Ah sudahlah, kau akan tau dengan sendirinya" ~Stela
Jam 13.30, bel pulang berbunyi. Kami bersemangat untuk pulang kerumah sampai...Reza menghalangi ku untuk pergi.
"Ada apa?" ~Emma
Tanya ku penasaran, Reza menguap dan menarik tangan ku ke suatu tempat.
"Hei!" ~Emma
"Hoam...ikuti saja" ~Reza
Kami berjalan sampai ke gudang tua. Di sini sangat berantakan dan gelap. Ini...menakutkan.
"Kenapa kau membawa ku ke sini?" ~Emma
Bukannya menjawab pertanyaan ku, Reza mengambil ponsel dan menyalakan senter di handphone nya. Berjalan dalam kegelapan dan hanya di temani oleh cahaya ponsel. Tak lama ia kembali sambil membawa peralatan kebersihan di tangannya.
"Bantu aku bersihkan semua ini" ~Reza
"Ya, apa?" ~Emma
"Kubilang bantu aku membersihkan semua ini" ~Reza
"Kenapa aku?" ~Emma
"Pertama karena aku di perintahkan pak kepsek untuk membersihkan gudang ini. Kedua kau pernah bilang bahwa aku adalah BOS dan kau adalah BAWAHAN. Benar 'kan?" ~Reza
"Kau mendengarkan pembicaraan ku dengan Stela?" ~Emma
"Daripada itu, segera bersihkan ini semua...bawahan ku" ~Reza
Ucapnya sambil tersenyum licik. Sial, aku tidak bisa menolak perintahnya. Akhirnya aku membantunya membersihkan semua ini. Dari menata kursi dan meja yang sudah rusak, membereskan alat olahraga yang berdebu, menyapu, dan lainnya. Namun...
"Kapan ini semua berakhir, sudah 3 jam namun ini semua belum selesai" ~Emma
Keluh ku ke Reza, bahkan ruangan gelap ini sudah tidak membuat ku takut.
"Kau benar ini sudah terlalu lama, kita lanjutkan besok lagi" ~Reza
Akhirnya!!
.
.
.
Dan besoknya kami kembali ke gudang tua ini. Aku juga sudah mengganti seragam ku dengan baju olahraga.
"Oho cekatan juga kau pendek" ~Reza
"Berhenti panggil aku pendek, karena mu seragam ku kotor dan sulit di bersihkan. Seharusnya kau bilang dari awal jika ada pekerjaan seperti ini💢" ~Emma
Dia tertawa dan mengusap rambutku sampai berantakan.
"Hei!///" ~Emma
"Kau benar-benar...imut" *gumam
"Apa? Kau mengatakan sesuatu?" ~Emma
"Tidak, tidak ada. Segera kerjakan ini semua" ~Reza
Dia mengalihkan pembicaraan dan segera membereskan alat yang ada. Tadi dia bicara apa sih?
2 jam berlalu, kami memutuskan untuk beristirahat sebentar. Aku meminum air mineral yang kubeli tadi saat di kantin. Hah, menyegarkan!
"Lho Za, kau tidak minum?" ~Emma
"Tidak, aku tidak membawanya" ~Reza
Jawab Reza sambil menyeka keringatnya. Aku memberikan handuk ku ke Reza.
"Thank you" ~Reza
Reza langsung memakai handuk ku.
"Mau minum?" ~Emma
Aku menyodorkan air mineral yang baru saja ku minum ke Reza. Dia menatap ku heran dengan wajah memerah.
"Kenapa? Kau tidak mau?" ~Emma
"Apa kau tidak menyadari apa yang kau lakukan sekarang ini?///" ~Reza
Eh, memangnya aku melakukan apa?
"Hm, hanya memberi mu minum?" ~Emma
Dia menutup wajahnya dengan handuk.
"Kau...dasar, kemarikan air nya aku juga haus///" ~Reza
Aku memberikan air mineral ke Reza. Dia masih saja memalingkan muka dari ku dan segera meminum air yang ku berikan.
Hmp, dia kenapa sih menghindari kontak mata dengan ku? Aku segera menyentuh pipi Reza dan memalingkan nya untuk menghadap ku. Wajah kami sangat dekat, bahkan aku bisa merasakan nafas dari Reza.
Terlihat ekspresi terkejut dengan wajah merah di pipi nya, eh? Dia langsung berdiri.
"K..kita harus segera menyelesaikan ini///" ~Reza
"Za, kau sakit? Wajah mu sangat merah lebih baik kau istirahat saja" *khawatir
"Bukan bodoh, sial sudahlah lanjutkan pekerjaan ini///" ~Reza
Ucap Reza yang langsung pergi dan melakukan kegiatannya. Ada apa dengannya?
.
.
.
Esoknya, aku menceritakan apa yang di alami Reza kepada Stela. Aku mengatakan wajah Reza memerah saat meminum air yang ku minum, dan saat melakukan kontak mata wajah nya bagaikan kepiting rebus. Seketika Stela tertawa mendengar penjelasan ku.
"Bwahaha aduh kau...hahaha Reza kasihan sekali dirinya, pftt tolong aku, hahaha, sial aku tidak bisa berhenti tertawa" ~Stela
"Kau kenapa sih?" ~Emma
Tanya ku heran. Tak lama Stela menjitak ku, ini sakit.
"Hah biarkan aku bernafas sebentar. Emma sayang kau itu antara lugu dan tidak peka. Apakah kau tau tanda memberikan bekas air kepada lawan jenis?" ~Stela
"Tidak, aku tidak tau" ~Emma
Ucapku sambil memegang kepala yang masih sakit di jitak oleh Stela.
"Itu..pfttt, orang yang meminum bekas air dalam botol ke lawan jenis sama saja seperti ciuman secara tidak langsung" ~Stela
Ci..uman?
BUFFF
Seketika wajahku memerah, Stela tak henti-henti nya tertawa seperti orang gila.
"Bwahaha astaga perutku, hahaha sekarang siapa yang kepiting rebus? Bwahaha, bahkan bocah SD tau akan hal ini. Kau sangat polos Emma, hahaha" ~Stela
"Stela berhentilah tertawa!Aku juga tidak tau bahwa itu adalah hal yang salah///" ~Emma
Ucap ku sambil memukul pundak Stela, dia tersenyum.
"Tidak, itu bukanlah hal yang salah jika kedua belah pihak saling menyukai" ~Stela
"Tidak mungkin Reza yang tampan serta menjadi idola para perempuan menyukai ku, itu tidak mungkin. Dan lagi kita harus fokus dengan pelajaran!"
Ucapku dengan semangat, Stela menghela nafas dan mengusap rambutku.
"Ya ya ya, terserah kalian berdua dah aku cuma jadi penonton. Btw, gimana rasanya berciuman tak langsung oleh ketua osis?" ~Stela
Lagi-lagi wajah ku merah padam.
"Berhentilah membicarakan itu Stela!!///" ~Emma
.
.
.
Semenjak kejadian itu, kami berdua menjadi canggung. Bahkan jika mata kami bertemu, wajah ku ataupun Reza akan memerah.
Aku ingin sekali meminta maaf soal kejadian di gudang. Namun lagi-lagi aku tidak berani melakukannya. Tapi tidak boleh seperti ini, aku harus meminta maaf! Saat kami tiba di gudang, aku berniat ingin mengatakannya.
"R..Reza, soal yang kemarin aku..."
Belum juga melanjutkan kalimat, Reza memberikan handuk kepada ku. Ia menatap ku sambil tersenyum manis. Entah mengapa aku merasa senyuman Reza berbeda dari sebelum nya. Dia, sangat manis. Aku membalas dengan senyuman, dia memalingkan wajahnya dan lagi-lagi menutup nya dengan tangan.
"Hm Reza, soal kejadian di gudang maaf aku baru menyadari nya///" ~Emma
Ucap ku dengan malu, akhirnya dia menatap ku.
"Memangnya kau menyadari apa?" ~Reza
"I..itu, saat bibir mu menyentuh botol bekas aku minum, sama saja jika kita...hm, berciuman? A..AH TUNGGU, Aku baru tau saat Stela memberitahukannya kepada ku. Aku benar-benar tidak punya niat apa pun, sungguh!///" ~Emma
Reza terdiam, tak lama ia terduduk lemas, membuka kacamata dan menutup wajahnya dengan tangan. Ia tertawa kecil...
"Hahaha, astaga kepolosan mu sungguh berbahaya. Untung saja itu aku///" ~Reza
Aku mendekat ke Reza dan duduk di sebelahnya.
"Memangnya kenapa jika orang lain?" ~Emma
"Aku akan cemburu////" *gumam
Lagi-lagi dia berbisik, aku 'kan jadi tidak tau apa yang di bicarakan.
"Coba katakan lagi, aku tidak mendengarnya ketua" ~Emma
"Aku bilang aku cemburu! Apa kau puas?///" ~Reza
"Cemburu? K..kenapa kau cemburu?" ~Emma
Dia menatap ku, terlihat sekali wajah kami berdua benar-benar memerah. Saat melihatnya tanpa kacamata, dia sangat tampan. Tatapan begitu tajam membuat ku terpesona dengannya.
"Karena aku menyukai mu///" ~Reza
"S..suka?" ~Emma
"Ya, bukan sebagai teman asal kau tau saja" ~Reza
Setelah Reza mengatakannya ia langsung berdiri dan memalingkan wajah nya. Badannya yang tinggi membuat ku tak tau ekspresi apa yang dia buat.
Aku terdiam, kata 'aku menyukai mu' masih terdengar dalam kepala ku. Reza...menyukai ku? Bukan sebagai teman namun sebagai lawan jenis? Seketika wajah ku memerah, ini...tidak bisa dipercaya.
"M..maaf Reza tapi aku..." ~Emma
"Kau mau fokus dengan sekolah mu bukan? Tentu saja itu tidak di larang, namun aku hanya menyatakan perasaan ku sebelum terlambat. Maaf mengejutkan mu" ~Reza
Ucap Reza, dia tertawa canggung.
"Itu benar, tapi.. aku akan menunggu mu 4 tahun lagi! Atau tidak setelah kita jauh lebih dewasa!///" ~Emma
Dia terkejut mendengar penjelasanku. Tak lama ia tertawa dan mendekat ke arah ku.
"Apakah ini sebuah tantangan?" ~Reza
"M..mungkin semacam itu, yah itu juga jika kau bersungguh-sungguh. Aku tau jika aku adalah wanita yang membosankan, kau bisa..." ~Emma
"Jadi kau meragukan keseriusan ku? Tenang saja ku yakin kau akan kalah dengan ketua osis ini bawahan" ~Reza
Tak seperti yang ku harapkan, jawabannya berbeda dari cowok yang selama ini menembak ku. Mereka akan menjawab 'ah maaf', 'kau mempermainkan ku', 'sepertinya kau tidak suka dengan ku'. Dia...lebih serius dan sungguh-sungguh di banding mereka. Aku tertawa, ini adalah hal yang tak pernah ku bayangkan.
"Hahaha apakah kau yakin tidak kalah bos? 4 tahun adalah waktu yang lama lho" ~Emma
"Tentu saja, selama itu pula aku akan membuat mu jatuh cinta lebih dari yang kau bayangkan" ~Reza
Kami tertawa bersama, yah tak kusangka ketua osis menyukai ku. Walau begitu aku berharap dia mengajari ku bagaimana seseorang jatuh cinta. Apakah saat menatap nya aku akan berdebar-debar? Ingin memilikinya namun takut kehilangan? Aku tidak tau apa benar semua yang kurasakan ini cinta atau tidak namun...syukurlah orang itu adalah ketua osis.
BRAKK!!
Suara dobrakan pintu membuat ku dan Reza terkejut. Terlihat anggota osis masuk kemari dengan pakaian olahraga.
"Wah wah, sepertinya kami menganggu kalian berdua"
"Ketua!?" ~Reza
"No no, lebih tepat nya mantan ketua. Btw kami datang kesini karena perintah pak kepsek, katanya kalian berdua mengerjakan ini semua tanpa melibatkan anggota osis yang lain"
"Apa? Tunggu kak, bukannya tugas ini khusus untuk ku dan Reza ya?" ~Emma
Tanyaku tak percaya. Kak Leon sekaligus mantan ketua menatap heran diri ku.
"Kamu serius bisa mengerjakan ini semua berdua?" ~Leon
Reza hanya memalingkan wajah berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Sialan kau ketua kejam! Dia menyuruhku membersihkan ini semua selama 2 hari. Aku mengangkat sapu yang ku bawa dan memukulkan nya ke Reza, dia berhasil menghindar.
"Ketua, sini kau! Dasar tiang!!💢"
"Kenapa kau marah!? Kerja mu cukup bagus untuk seorang bawahan. Ngomong-ngomong tinggi ku hanya 175 cm"
"Merendah untuk meroket ya?! Apanya yang tidak tinggi, sini kau jangan lari!!"
Dia berlari sangat kencang, sialan kau Reza! Para anggota osis yang lain tertawa melihat kami. Dia bukan ketua yang galak, melainkan ketua yang menyebalkan!
"Apa perasaan ku saja atau mereka berdua tambah dekat ya?"
Bisik salah satu anggota.
"Ya kau tak salah, sepertinya ada sesuatu yang terjadi sebelum kita datang"
Ucap Leon sambil tersenyum. Akankah hubungan kedua osis ini berakhir baik? Hahaha waktu yang akan menjawabnya.