Pagi itu ketika sedang menyucikan pakaian, seseorang memanggil sembari mengetuk pintu dengan kencang dari luar. Dengan buru-buru kutinggalkan Cucian dan melihat siapa yang datang.
Ternyata beliau adalah tetanggaku yang juga orangtua dari teman anakku. Keringat bercucuran diwajah pria yang berumur sekitar empat puluh satu tahun itu. Aku masih terdiam menatap sosok Pak Jamal yang seperti kebingungan.
"Em ... anu bu Mira," katanya ragu.
Pandanganku masih fokus pada Pak Jamal yang menggaruk tengkuk lehernya. Pikiranku mulai menebak, mungkin ada yang terjadi.
"Iya, pak Jamal. Ada apa?" tanyaku tak kalah serius.
"Darren bu. Sewaktu menyeberang ke seberang jalan, dia tertabrak mobil yang melaju kencang bu. Sekarang sudah di bawa ke Rumah sakit."
Seketika degup jantungku berhenti sesaat dan pikiranku mulai kacau. Dengan rasa syok yang luar biasa. Aku dan pak Jamal menyusul ke rumah sakit. Aku tak menghiraukan lagi si bungsu yang masih tidur.
***
Tak berapa lama kami tiba di rumah sakit, segera kucari kamar rawat anakku. Dengan langkah yang cepat, akhirnya kami menemukan kamar rawat anakku.
Wajah pucat dan tangan yang dipenuhi selang infus. Ku hampiri malaikat kecilku dan menangis sejadi-jadinya. Anakku tidak sadarkan diri. Hati ibu mana yang tidak hancur melihat anaknya yang terkulai lemah tak berdaya.
"Apakah ibu orangtuanya?" Tanya Dokter yang tiba-tiba berada disampingku.
Aku mengangguk dan menatap Dokter tersebut. Kemudian pandanganku fokus pada Darren putra sulungku.
"Anak ibu mengalami kebutaan, akibat benturan keras di sekitar matanya."
"Deg"
Bagai disambar petir di siang hari. Seketika duniaku menjadi gelap.
"A - pa!" teriakku histeris. Pak Jamal pun ikut terkejut mendengar penuturan dokter.
Setelah mendengar secara jelas dari dokter. Aku lemah tak berdaya. Entah apa yang harus kulakukan. Biaya yang dibutuhkan pun tidak sedikit. Hatiku hancur berkeping-keping. Menangis tidak menjadi solusi lagi saat ini.
Akibat kecelakaan yang menimpa anak sulungku, ia mengalami kebutaan dan harus operasi mata. Pada siapa aku harus mengadu. Setelah diceraikan oleh suamiku, aku hanya bekerja sebagai tukang cuci dan masak ke rumah-rumah.
Untung saja, aku masih memiliki tetangga yang berbuat baik pada kami. Bahkan mereka sudah kuanggap saudara sendiri. Apalagi dengan keluarga Pak Jamal.
Flasback on
Siang itu suami dan mertuaku tampak berbisik-bisik di ruang tamu. Layaknya seorang istri aku menghampiri suamiku dan memberikan secangkir teh hijau hangat kesukaannya. Ia menerima namun dengan wajah tanpa ekspresi.
"Mira, aku ingin bicara denganmu sekarang," ucap suamiku sembari meletakkan teh yang telah kuberikan padanya dan berjalan ke arah kamar kami.
Ibu mertuaku tampak menyunggingkan senyum penuh kebencian padaku. Seolah-olah ia berkata "Aku menang"
Sejak menikah mertuaku tidak menyukaiku karena tidak memiliki sekolah yang tinggi seperti suamiku. Bahkan ia berperan penting dalam biduk rumah tangga kami. Suamiku pun tak luput dari kendalinya. Suamiku lebih memercayai ibunya dari pada istrinya sendiri. Gaji setiap bulan ia serahkan langsung ke mertuaku. Bisa dikatakan, sejak menikah aku tidak pernah memiliki uang. Sepeser pun mertuaku tidak pernah memberikan gaji yang menjadi hakku. Namun setahu suamiku aku adalah istri yang boros yang tidak pintar mengelola keuangan. Perlahan-lahan sikap suamiku berubah. Dirinya menjadi pemarah dan dingin pada aku dan anakku. Tak jarang ibu mertuaku mengancamku jika aku memberitahukan pada suamiku. Ia akan menyuruh anaknya menceraikanku dan hak asuh anak jatuh ke tangan suamiku.
"Mira! Aku mendengar kabar kau dililit hutang piutang, apakah benar hah!" Hardiknya lantang.
"Aku malu Mira! Kau sama sekali tidak menjaga harga diriku di luar sana! Apa lagi yang kulakukan!"
"Maafkan aku, Mas."
"Kau selalu saja begitu, aku menyesal menikahimu! Pantas saja keluargaku tidak suka denganmu!"
Kata-kata itu mampu menusuk jauh ke dasar hatiku. Perih dan sakit itulah yang kurasakan.
"Saat ini juga, aku menceraikanmu!"
Setelah mengucapkan kalimat itu, suamiki mengumpulkan pakaianku dan anakku dari lemari pakaian dan membuang begitu saja di lantai. Tangisanku tidak dapat terbendung lagi. Aku pasrah dan menerima apa yang terjadi.
Flashback off
Setelah memeriksa keadaan Darren, Dokter itu keluar dari ruangan. Tinggal hanya aku dan pak Jamal diruangan itu. Tak berapa lama juga, Pak Jamal pamit pulang. Dengan penuh airmata aku menatap wajah mungil yang pucat itu.
Percuma saja aku meminta bantuan pada mantan suamiku, pasti ia tidak perduli sama sekali. Pikiranku berusaha mencari solusi.
Siang berganti malam. Tetanggaku banyak berdatangan menjenguk Darrell dan mereka sekalian membawa anak bungsuku Yovan.
Aku hanya menjawab sesingkat-singkatnya jika ada pertanyaan mengenai Darren. Sungguh saat ini, aku tidak fokus.
Satu jam berlalu, satu persatu mereka berpamitan pulang. Uang saku yang diberikan mereka sangat menolongku. Aku bersyukur memiliki tetangga yang sudah kuanggap saudara sendiri.
"Mama ...." Rengekan kecil membuyarkan lamunanku.
"Anak mama sudah bangun? Syukurlah nak."
"Tapi kenapa Dareen tidak bisa melihat apa-apa Ma? Mama di mana?" Tanya Dareen seraya mencariku dengan tangannya.
Aku berusaha tegar, meski hatiku ingin menangis saat ini juga. Aku memeluk Dareen dan mengatakan bahwa saat ini sedang mati lampu. Tampak jelas ia kurang terima dengan alasan yang kubuat. Sepertinya ia tahu aku sedang berbohong.
"Apakah aku buta?"
Deg
Jantungku seolah berhenti saat mendengar ucapan Darren. Akhirnya tak dapat kubendung lagi. Aku menagis di hadapan Darren. Mendengar tangisanku, Darren pun mulai menangis dan berteriak-teriak.
"Mama ... Darren gak mau buta ma."
Kupeluk sulungku dengan erat dan membisikkan sesuatu di telinganya agar ia tidak histeris lagi.
"Mama janji, Darren akan melihat dunia lagi nak. Tenang ya, perjalanan kamu masih panjang. Semua akan baik-baik saja."
Darren mulai tenang, dan perlahan ia mbeyka airnatnya yahh jatuh di pipinya. Aku tahu anak sulungku itu percaya apa saja yang kukatakan padanya.
Malam berganti pagi. Tiba saatnya jadwal dokter memeriksa keadaan Darren. Setelah memeriksa, dokter tersebut keluar dari ruangan dan aku menyusulnya.
"Dok ... Aku bersedia menjadi pendonor mata untuk anakku. Tolong saya dok. Saya orang yang tidak mampu." Isakku pada donter tersebut.
"Baiklah bu, apakah ibu sudah siap dengan resiko dan konsekwensinya? Jika sudah siap tolong tanda tangan berkas yang akan diberikan oleh suster nanti ya bu."
Aku mengangguk pelan tanda setuju dengan apa yang dikatakan dokter tadi. Saat ini prioritas dan harapanku hanya satu Darren bisa melihat lagi.
Saat ia membuka mata dan melihat sekelilingnya ia akan menyadari Harapan akan selalu ada.
Dengan usia yang masih muda, pasti banyak harapan dan mimpi yang ingin ia raih. Jika ia tidak memiliki penglihatan bagaimana mungkin dirinya akan memiliki pengharapan.
Dua jam berlalu, aku sudah menandatangani berkas-berkas untuk persiapan donor mata dan sebelumnya sudah menjalani pemeriksaan. Saat ini aku dan Darren berada dalam satu ruangan, sedangkan si bungsu berada di luar bersama keluarga pak Jamal yang kuminta datang. Operasi donor mata sedang berlangsung.
***
Keesokan harinya aku sudah siuman dan melihat sekeliling suda gelap. Namun harapanku hanya satu. Saat mata ini berkorban akan terbit harapan baru dalam diri Dareen.
Terdengar suara langkah kaki memasuki ruangan. Dokter mulai memeriksa keadaanku. Tanpa banyak berbicara. Kemudian langkah itu menuju ranjang Darren.
Suara itu meredup, mereka mungkin sibuk membuka perban yang melilit di sekitar mata Darren. Tak berapa lama aku mendengarkan intruksi dari dokter pada Darren.
"Buka matanya perlahan nak."
Mungkin Darren sedang berusaha membuka mata. Hingga terdengar lagi suara.
"Apakah kau melihat sesuatu?"
"Mata Darren masih rabun dok." kata Darren dengan suara bergetar.
Tak berapa lama lagi, terdengar suara.
"Aku bisa melihat dok. Sekarang udah jelas." kata Darren antusias.
"Mama ... ayok sini, Darren udah bisa melihat ma.
Aku hanya bisa mendengar sumber suara itu. Aku tersenyum lebar.
"Bagus dong anak mama udah bisa melihat lagi."
Suster mengantarkanku ke ranjang Darren. Aku memeluk Darren dengan air mata yang tak dapat kubendung lagi. Rasa haru dan bahagia menyatu di sana.
Seketika Darren bertanya, mungkin dirinya sudah menyadari apa yang berbeda dariku.
"Mama kenapa?" tanyanya dengan suara perlahan.
Aku hanya tersenyum dan tanganku mulai meraba-raba mencari wajah mungilnya.
"Mama gak kenapa sayang, yang penting kamu udah sehat dan bisa melihat lagi."
Tidak terdengar jawaban dari anak sulungku. Aku menggengam tangannya erat dan air mataku jatuh begitu saja.
"Mama tidak bisa memberi apa-apa, hanya harapan ini yang bisa mama beri nak. Ingatlah suatu saat nanti kamu yang akan menjadi penuntun mama." kataku lagi dengan nada yang sendu.
Harapan baru kuberikan pada Darren meski mengorbankan sesuatu yang berharga dari diriku. Perjalanan yang masih panjang akan ia tempuh dengan mimpi dan harapan.
"Selamat berjuang anakku, lanjutkan harapan dan mimpimu."