Lembayung senja hilang di ufuk barat menandakan sang mentari pulang ke peraduan, tiba saatnya rembulan memberikan cahaya di malam yang gelap menemani suara merdu tamir masjid yang mengumandangkan Adzan magrib.
Seorang gadis cilik sedang menyalakan lentera yang merupakan sumber penerangan utama di rumahnya. Pasokan listrik yang sedikit hanya bisa memenuhi sebagian warga desa dan sebagian lagi tidak dapat jatah listrik.
Rumah sederhana yang terletak di ujung desa dekat dengan hutan jati luput dari listrik. Rumah yang berdiri di sepetak tanah dan pekarangan kecil yang di tanami berbagai macam tanaman toga.
Suci Maharani namanya, berusia enam tahun tinggal berdua dengan sang Ibu. Di usianya yang ke dua, sang Ayah pergi meninggalkannya merantau di negeri orang, dan sudah tiga tahun ini belum pulang ke rumah.
“Suci,”
“Ya Bu,”
“Kalau sudah selesai, ayo sholat Nak,”
Suci melangkah kan kaki kecilnya melewati dua kamar yang hanya tertutup kelambu usang menuju dapur terus berlanjut ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Dapur yang hanya berisi meja dan kursi panjang yang terbuat dari kayu, lemari yang berfungsi sebagai tempat menyimpan makanan yang berada di samping meja, rak piring yang juga terbuat dari kayu serta tungku tanah liat pengganti kompor minyak tanah dengan kayu bakar sebagai bahan bakar yang terletak di dekat pintu yang menuju ke kamar mandi.
Setelah mengambil air wudhu, kemudahan menyusul ibunya untuk sholat berjamaah. Setelah sholat dan mengaji kemudian di lanjutkan dengan sholat Isya karena adzan Isya berkumandang.
Setelah selesai melaksanakan kewajiban kepada yang Kuasa, Ibunya mengajak Suci untuk makan malam, sesampainya di dapur, Suci langsung mengambil piring kemudian duduk di sebelah Ibunya, mengambil nasi dengan lauk tempe goreng dan sayur lompong. Dia tidak protes dengan lauk yang di masak ibunya.
Dia ingat betul apa yang di katakan Ibunya dulu, 'syukuri apa yang sudah menjadi rezeki kita, jangan pernah iri sama orang lain, karena kalau kita tidak bersyukur menujukan kita kufur kepada-Nya, nanti kalau ibu punya uang lebih, lauknya bakal ibu ganti.’
Tidak banyak kata, Suci mulai makan sendok demi sendok memasukkan makanan ke mulutnya sampai habis. Dia ingat betul apa yang diajarkan ibunya untuk tidak bicara selama makan.
“Makan yang banyak Nak, biar sehat,” Ucap ibunya sambil mengulas senyum.
Hanya anggukan yang Suci berikan sebagai jawaban, dia terus fokus pada nasi yang belum habis.
"Ibu makannya kok sedikit? Apa ibu sakit?" Ucap Suci dengan nada heran, karena tidak seperti biasa Ibu nya hanya makan cuma sedikit.
"Ibu sudah kenyang Nak, sudah kalau makan jangan dengan bicara, enggak baik."
Selang beberapa menit kemudian, “Suci sudah selesai Bu, dan Suci sudah kenyang.”
"Baiklah Nak, piring yang kotor taruh saja di tempat biasanya, di cuci besok saja ya," Ucap nya.
Ibu dan anak melanjutkan kegiatannya di ruang depan. Dan untuk kesekian kalinya Suci membaca buku cerita yang di belikan Ibunya waktu ke kota.
Suci belum sekolah, karena sekolah terdekat berada di tetangga desa yang jaraknya lumayan jauh. Sementara si Ibu harus bekerja menggarap sawah orang lain. Meskipun tidak sekolah tetapi dia sudah bisa baca tulis karena si Ibu yang menuntun nya untuk membaca dan menulis.
"Bu... "
"Ya Nak,"
"Ayah kapan pulang? Sebentar lagi tahun sudah berganti, masa Ayah tidak pulang lagi Bu?"
"InsyaAllah pulang Nak, yang sabar ya, do'akan Ayah enggak kenapa-napa,"
"Aku sudah kangen Bu, apa Ayah sudah tidak ingat lagi sama Suci? Apa enggak kangen sama Suci?" Ucap Suci dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Pokoknya Aku mau Ayah!" Langsung saja dia berdiri menuju kamar meninggalkan Ibunya seorang diri.
Di dalam kamar Suci menangis sejadi-jadinya sambil memanggil manggil sang Ayah.
"Suci kenapa, hemm? Sini cerita sama ibu ada apa, tidak biasanya Suci seperti ini loh," tanya sang ibu yang sudah duduk di sebelah Suci.
"Pokoknya aku ingin Ayah, Bu. Aku ingin menunjukkan pada mereka kalau aku masih punya Ayah," Ucap Suci di sela isak tangisnya.
"Mereka siapa?"
"Ya mereka, Tini, Dwi, Asih, Eko sama Adi Bu."
"Oh mereka, ya bilang Ayah masih kerja di kota besar, masih cari uang yang buanyaaak, kalau sudah punya uang yang banyak, pasti pulang."
Perlahan gadis itu duduk tapi masih sesenggukan. "Gitu ya Bu?"
Hanya anggukan yang ibunya berikan.
"Bawa mainan juga buat Suci? Kalau sudah punya uang banyak, aku bisa sekolah ya Bu? Aku juga pingin sekolah seperti Yono dan Rina, biar mereka tau rasa sudah bilang kalau aku tidak punya Ayah."
Ibunya hanya mengangguk dan tersenyum sambil mengelus kepala nya. "Iya, semua bakal Suci dapat kan kalau Ayah pulang, jadi sekarang Suci tidur dan berdoa semoga Ayah lekas pulang ya Nak," Hiburnya. "Sudah cukup nangis nya, Ibu tau, anak ibu adalah anak yang kuat, anak hebat."
Gadis kecilnya hanya mengangguk lalu tersenyum, dan berhenti menangis, lalu membaringkan tubuh kecilnya di ranjang yang kasur nya sangat tidak nyaman.
Ibunya ikut merebahkan diri di sebelah Suci, mencoba memejamkan matanya sambil berkata dalam hati, '𝘊𝘦𝘱𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘔𝘢𝘴, 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘭𝘢𝘮𝘢.'
Terdengar dengkuran halus yang menandakan bahwa anaknya sudah tidur, memiringkan tubuhnya untuk memeluk anak semata wayangnya sambil berkata lirih "Semoga apa yang engkau inginkan bisa terkabul Sayang."
Malam semakin larut, bunyi hewan malam saling bersahutan seperti lagu pengantar tidur. Tak terasa pagi menjelang, langit menunjukkan terangnya di sambut ayam jantan yang berkokok.
Warga desa sudah menampakkan aktivitas nya. Begitu pula Suci dan Ibunya, sudah mengerjakan pekerjaan rumah di pagi itu. Tidak berapa lama terdengar ketukan pintu yang di ketuk dengan keras.
Gadis kecil itu berlari menuju pintu depan untuk membukakan pintu yang membikin dia penasaran.
ceklek..
Suara pintu yang di buka, dan di sana berdiri lah seorang laki-laki yang sudah berumur, tinggi, meskipun berkulit gelap laki-laki itu terlihat tampan.
Suci terpaku, mencoba mengingat-ingat siapa laki-laki yang sedang tersenyum lebar ke padanya.
"Siapa Nak,"
"Gak tau Bu! Suci gak kenal, sini Ibu." Sahut Suci dengan lantang.
Dengan tergopoh-gopoh Ibunya menyusul ke depan, takut ada orang yang tidak dikenal masuk ke rumahnya.
Setelah sampai di depan, reaksi yang di berikan sama seperti Suci, terpaku, sedangkan laki-laki itu tersenyum semakin lebar.
"Sri," panggil laki-laki itu sambil tersenyum.
"Mas Joko?" Ucapnya dengan mata berkaca-kaca sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Iya Sri, ini kang mas mu, Joko."
Melangkah perlahan, masih dengan tangan di mulut tapi air mata yang sudah tidak dapat di bendung lagi mengalir deras di pipi.
"Mas Joko, ini benar kamu Mas?" Katanya sambil meraba pipi si pria.
Grep, langsung saja Joko memeluk Sri dengan erat sambil menangis. Mereka larut akan tangis bahagia, melepas rindu setelah tidak bertemu sekian lamanya.
"Aku pulang Sri, aku pulang." Ucapnya berkali-kali. Sri hanya mengangguk kan kepala masih dengan tangisannya.
"Jadi ini Ayah ku?" Interupsi si kecil.
Perlahan Joko mengurai pelukannya dan melihat sang anak dengan muka cemberut sambil memonyongkan bibirnya menambah imut wajahnya.
"Iya Nak, dia Ayah mu." Jawab ibunya.
Langsung saja Suci melompat ke arah Ayahnya, dan disambut dengan tangan yang terbuka lebar. Dipeluknya, dan tidak berhenti menciumi anak semata wayangnya, yang lama tidak bertemu.
"Yeay Ayah pulang, Ayahku pulang," Ucapnya sambil tertawa lepas.
Sri yang melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah anaknya, ikut tertawa gembira sambil sesekali menghapus air mata yang masih terus mengalir.
Ya, setelah sekian lamanya dia tidak melihat tawa anaknya yang begitu lepas, seakan tidak ada beban yang di pikul nya. Masih melihat pemandangan yang sangat luar biasa di depan nya, Sri berkata dalam hati. '𝘙𝘪𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘬𝘶 𝘕𝘢𝘬.'