"Maaf, aku terlambat!" Ucapnya pada ku.
"Gapapa, film nya juga dimulai 15 menit lagi." Jawab ku.
"Ah, ya." Dia tersenyum.
Nama nya Maurel Antonio, kami sudah bersahabat 8 tahun. Dan dalam 8 tahun itu, aku menyimpan rasa pada nya, entah dia menyadari nya entah tidak, aku pun tak tau.
Sebenarnya aku ingin menyampaikan rasa ku pada nya, tapi... Aku takut. Aku takut hubungan kami retak dan... Kami menjadi canggung.
Jadi... Biarlah begini saja, setiap malam Minggu kami nonton bareng dan hari Minggu nya kami beribadah bersama.
Tapi terkadang, realita tak sesuai dengan ekspetasi. Kadang-kadang kami bertemu dengan teman wanita Maurel di bioskop, setelah itu mereka asik bercanda dan menghiraukan aku yang jelas-jelas tepat disamping Maurel.
Ya, beginilah nasib mempunyai sahabat ketua BEM, dia punya banyak teman wanita dan dia selalu friendly ke semua orang... Berbeda dengan yang dulu.
Aku hanya bisa pasrah dan tidak boleh cemburu, karena kami juga bukan sepasang kekasih, jadi apa boleh aku cemburu??
"Zea, mau popcorn?" Tanya nya pada ku.
"Ga dulu deh, Rel... Sakit gigi Zea nich," jawab ku dengan sedikit lebay.
Ya, jelas saja. Maurel langsung memasang wajah jijik nya pada ku, dan itu membuat ku tertawa.
"Buahahaha!" Tawa ku.
"Astaga, anak gadis... Ketawa nya kenceng banget kayak bu ibu pasar!" Bisik nya pada ku.
Oopss! Refleks aku langsung menutup mulut ku.
"Udah ah, yuk masuk!" Ajak ku malu.
Malu, karena ternyata banyak orang yang memperhatikan kami sedari tadi!
------
Film pun berakhir, aku dan Maurel berencana untuk pulang, tetapi sebelum itu aku meminta Maurel untuk pergi ke taman sebentar, karena ada sesuatu yang mengganjal didalam otak ku sedari tadi.
"Rel, Rel, Zea mau tanya." Ucap ku.
"Apa?" Tanya nya.
"Maurel pencinta sesama jenis ya?" Tanya ku langsung to the point.
Jujur saja, Maurel memang banyak teman wanita, tapi aku lihat, dia tak pernah berpacaran dengan salah satu diantara mereka... Apa jangan-jangan... Maurel pencinta sesama jenis?? Jangan-jangan, karena dia terlalu sering dikelilingi wanita, dia jadi bosan dengan wanita dan memilih jalan 'belok'??
Maurel langsung memasang raut wajah terkejut pada ku, "Gila ya, Zea!"
Aku bingung, "Kenapa dia marah?" Pikir ku.
"Ihh beneran tauk! Zea kepikiran sama film tadi, ternyata mantan si cewe g*y, padahal di sekitar dia banyak cewe cewe cantik loh!" Ucap ku.
Maurel menepuk jidat nya.
"Zeaaaa, please dehhh... Jangan suka kepancing sama alur film, aku masih normal kok," jawab nya.
Aku pun mengangguk mengerti.
"Terus kenapa ga pacaran?" Tanya ku lagi.
"Hmm, Zea sendiri kenapa ga pacaran?" Dia bertanya balik pada ku. Huh! Bukan pertanyaan yang aku mau, bodoh!
"Zea kan harus cari cari dulu, Maurel kan tau kalau Zea ga banyak temen atau kenalan cowo," jawab ku jujur.
"Ga kayak Maurel, Maurel kan banyak cewe di kanan kiri!" Cicit ku lagi.
Dia sedikit tertawa.
"Hmm, gimana ya... Aku temenan sama mereka yaa cuma untuk temenan, ga lebih... Oh ya, engga semua temen aku cewe ya, Zea. Aku juga punya temen cowo." Jawab nya.
"Ihh, ga percaya."
"Kok ga percaya sih, coba Zea pikir, kita udah temenan berapa lama dan pernah ga aku pacaran selama kita temenan??" Tanya nya pada ku sambil menatap ku tajam.
"Eee... Engga pernah sih," jawab ku.
Ya, Maurel tak pernah berpacaran dengan siapapun, karena Maurel yang dulu pendiam, dan aku memiliki banyak teman, tetapi sekarang malah terbalik... Maurel yang mempunyai teman banyak dan aku yang pendiam.
"Nah, itu tau," ucap nya sambil mengacak-acak rambut ku.
"Oh ya, Rel... Zea mau bilang sesuatu lagi..."
"Bilang aja."
"Besok Zea berangkat ke Lampung."
Dia terkejut.
"Hah? Seriusan, Zea?" Tanya nya.
"Iya, Rel."
"Kok mendadak banget sih?" Tanya nya lagi.
"Nenek tiba-tiba sakit, Maurel." Jawab ku.
"Yahhh, Zea kok ga kasih tau aku di Chat?"
"Zea lupa..." Lirih ku.
"Jadi kapan Zea balik?"
"Zea juga ga tau sih... Mungkin satu bulan, atau dua bulan."
"Kok lama banget?"
Aku mengangkat bahu ku, tanda tak tau.
"Hahhhh... Semoga nenek cepet sembuh ya..." Lirih nya.
"Amin." Ucap ku.
"Jadi, besok kapan berangkat nya?"
"Kakak pesan tiket pesawat yang jam 10.00 pagi, Rel."
"Yahh, Zea... Mana sempat aku nganterin kamu ke bandara kalau gitu... Di jam itu aku ada rapat sama anak BEM," ujar Maurel.
"Gapapa, Rel... Kan bisa video call sama Zea."
Menggemaskan, Maurel sungguh menggemaskan!!
"Padahal aku mau nganterin..." Lirih nya sambil bersandar di pundak ku.
Aku pun mengacak rambut nya, "Udah... Kita bisa video call kok..." Ucap ku.
"Mana bisa, Zea... Aku rapat kan ga boleh pegang handphone." Protes nya.
"Oh iya, lupa... Ya udah, waktu Zea udah sampe di Lampung aja kita video call." Aku kembali menenangkan nya.
"Beneran?? Janji ya,"
"Iyaaa, beneran. Janji, nihh pinky promise." Aku menyodorkan jari kelingking ku.
"Pinky promise." Jari kelingking kami saling bertautan.
------
Aku sudah sampai di rumah nenek, ternyata disini sangat membuat diriku sibuk! Aku terus-terusan menjaga nenek 24 jam, sangat sedikit waktu ku untuk bermain handphone.
Video call yang ku janjikan hanya berlangsung 30 menit. 10 menit waktu ku berbicara dengan Maurel, sisanya Maurel hanya melihat wajah ku tertidur, sungguh memalukan! (Mana ada iler nya)
Hahhhh... Lelah rasanya tubuh ini, tapi demi kesembuhan nenek, apapun akan ku lakukan.
------
Malam ini hari ke-sepuluh diriku menjaga nenek, tadi siang nenek sempat kembali drop, sampai sekarang nenek belum juga sadarkan diri.
Oh iya, nenek sebelumnya dirawat oleh keluarga tante ku, tante awalnya ingin memindahkan nenek ke Rumah Sakit kota besar, tapi nenek tak mau dan memilih tetap di Lampung.
-------
23.15
Aku melihat nafas nenek tersengal-sengal, aku khawatir, aku cemas dengan nenek!
Aku pun memutuskan untuk memanggil perawat yang ada disana.
Mereka langsung memanggil dokter dan dengan cepat menangani nenek.
Tuhan, lindungi nenek ku!!
***
Sudah hampir jam 01.00 malam, tetapi dokter belum juga keluar dari kamar nenek, aku semakin dibuat panik oleh mereka, aku pun membuka handphone ku dan mencoba menelepon keluarga ku, walau aku tau mereka pasti sudah tidur.
Ya, tak ada satu orang pun yang menjawab. Langsung saja diriku menekan panggilan video dengan Maurel. Aku harap, dia menjawabnya.
"Halo, Zea?" Dia menjawab dengan suara serak.
DIA MENJAWAB!!
"Rel..." Lirih ku menahan tangis yang hampir pecah.
"Hm, kenapa?" Tanya nya dengan mata tertutup.
"Ne-"
"Keluarga pasien nenek Marinah?" Tiba-tiba dokter keluar dari kamar nenek.
Aku pun berjalan kesana tanpa mematikan panggilan telepon kami.
"Nenek saya gimana dokter?? Saya cucu nya!"
"Maaf... Saya minta maaf sebesar-besar nya... Tetapi nyawa nek Marinah tidak bisa kami selamatkan... Beliau sudah kembali ke sisi Tuhan." Kata-kata yang paling tidak ingin aku dengar, diucap oleh sang dokter.
Tangis ku pecah sejadi-jadi nya. Panggilan video yang tadi masih menyala kini ku matikan.
Kini aku harus menghadapi realita yang menyakitkan, tanpa sandaran bahu seseorang.
Ah iya, aku lupa sesuatu. Aku harus memberitahu keluarga ku secepatnya, ku buka sebentar handphone ku tanpa peduli pesan dari siapa pun, tujuan ku kini satu, memberi tahu kabar duka ini.
-------
Pagi nya, keluarga tante datang ke Rumah Sakit, awalnya mereka tak percaya, tapi setelah melihat sendiri, mereka shock. Aku pun menjelaskan pada mereka.
Jujur, aku belum sempat tidur hari ini. Mata ku sembab akibat banyak menangis.
-------
Dua minggu berlalu, kini sudah saat nya aku pulang kembali ke Surabaya meninggalkan kota Lampung.
Oh iya, 2 hari setelah meninggalnya nenek aku baru sempat membuka handphone, ternyata banyak pesan dari Maurel. Ah, ternyata dia tidak tidur saat itu...
Maurel khawatir pada ku, Ia takut aku drop dan sakit, tapi Ia salah. Aku kuat. Kuat fisik tetapi mental rapuh.
-----
20.30
Yah, aku pulang, Surabaya!! Baru saja masuk ke dalam taxi, tiba-tiba aku sudah di telepon oleh seorang lelaki, ya, lelaki itu adalah Maurel.
"Halo, Rel?"
"Halo, lu sahabat Maurel ya?? Maurel lagi tawuran didepan gedung Xx!!" Teriak seorang wanita dari seberang sana.
"Bisa tolong kesini ga??? Please, gua harap lu bisa kesini secepatnya!! Maurel gila!" Teriak nya lagi.
"APAA?!! SHARE LOCK SEKARANG YA!"
Gila! Ini gila! Maurel tawuran?? Yang benar saja?? Tidak biasanya Maurel menyelesaikan suatu masalah dengan kekerasan! Ini pasti ada yang tidak beres!
<1 Pesan dari Maurel>
Hahhh?? Maurel udah punya pacar?>
Terus kenapa ga pacar nya yang lerai?>
Hahhh... Baru saja pulang sudah ada saja masalah... Lagipula kenapa harus aku yang menjadi penengah? Lucu sekali!
-----
35 menit berlalu, aku sudah sampai didepan gedung yang dibilang, tapi kenapa tidak ada bekas tawuran disekitar sini?? Jalanan pun tidak macet... Langsung saja aku menelepon Maurel.
Tuuuttt... Tuuuttt... Tidak diangkat...
"Hishhh, mana sihhh... Katanya ada tawuran, tapi TKP nya bersih bersih aja tuh!" Gerutu ku kesal.
Tiba-tiba... Seseorang menepuk pundak ku.
Disaat yang bersamaan, gedung yang tadi gelap, kini ada beberapa cahaya dengan membentuk seperti hati.
"Zea, selamat datang kembali di Surabaya. Disini Maurel ingin menyatakan perasaan, Zea mau ga jadi pacar Maurel?"
DEG! DEG! Jantung ku berdegup kencang. Aku terharu!
Aku langsung memeluk Maurel, "Iya, Zea mau jadi pacar Maurel." Kata yang sebelumnya tak berani ku katakan kini akhirnya meluncur juga dari mulut ku.
"MAUREL SAMA ZEA PACARAN, GUYS!!!" Teriak nya kencang.
Hahahaha... Aku terharu dan senang.
"CINTA ZEA GA BERTEPUK SEBELAH TANGAN!!!" Teriak ku tanpa malu.
Aku langsung mendapat tatapan dari Maurel, "memang Zea udah lama suka sama Maurel?" Tanya nya tak percaya.
Aku mengangguk.
"KYAAA!!! JANGAN DI GENDONG, REL! MALU!" Jerit ku.
"GAPAPA, BIASANYA MALU-MALUIN KOK!" Balas nya.
DASAR!!
-TAMAT-
🌹🌹
вσ вαhhh
03 Januari 2022, Senin