Di hari anniversaryku hari ini, aku berjanji padanya untuk saling bertukar hadiah saja tidak merayakannya secara berlebihan karena kondisi keuangan keluarga yang sedang menipis dan pas-pasan hanya untuk kebutuhan sehari-hari. Aku menyiapkan sebuah jaket untuknya, yang kubeli dari sisa belanja bulanan yang aku tabung.
Malam hari, dia berjanji untuk pulang lebih awal karena ingin pesta makan malam dirumah bersama anak-anak.
Jam 21.00 tiba. Anak-anakku, Rere dan Tian sudah menantikan kepulangannya. Tapi Ren, suamiku belum kunjung pulang juga. Sampai Rere dan Tian tertidur di meja makan. Aku membangunkan mereka dan menyuruhnya untuk tidur lebih dulu. Meskipun hati mereka sedikit kecewa.
Tapi mereka tetap nurut dan pergi tidur ke kamar karena besok sekolah. Aku menunggunya hingga pukul 12 malam. Namun dia tidak kunjung pulang. Hingga aku tiba-tiba terbangun di teriknya cahaya mentari pagi. "Ya ampun, hampir kesiangan. Aku harus cepat. Kasihan Rere dan Tian hari ini mereka sekolah" aku bangkit dan menyiapkan sarapan serta segera membangunkan mereka berdua.
"Huh, untung aja gak telat" ucapku setelah berhasil mengantar mereka ke sekolah menggunakan sepeda motor. "Kenapa Ren gak pulang juga ya?" Batinku cemas. "Jangan-jangan terjadi sesuatu kepadanya. Semalam aku sudah meneleponnya berkali-kali tapi dia gak angkat" batinku. "Aku telepon lagi deh sekarang" ucapku lalu mengeluarkan handphone disaku.
Drrttt.. Drrttt..
"Yah gak diangkat lagi teleponnya" ucapku lalu mencoba meneleponnya kembali namun dengan hasil yang sama. Ren Tetap tidak mengangkatnya.
Aku pulang ke rumah lalu belanja bahan makanan untuk anak-anak pulang nanti.
"Bu Rara!! Ibu mau belanja sayur di Bu Fia ya?" Panggil salah satu tetanggaku. "Iya Bu, memangnya kenapa?" Tanyaku. "Tutup Bu, Bu Fia pulang kampung sekarang" ucap tetanggaku. "Tutup? Ya udah bu, makasih ya infonya" balasku. "Ya Bu, sama-sama" ucap tetanggaku. "Mau gak mau ke swalayan deh. Karena ke pasar udah gak keburu. Nanti keburu Rere sama Tian pulang. Kasihan mereka kalau pas pulang gak ada makanan" ucapku.
Aku pergi ke sawalayan terdekat dari komplek perumahanku.
Saat sedang memilih sayuran segar, aku melihat Ren bersama seorang wanita dan anak perempuan yang masih kecil. "Ren!! Itu kan Ren!!" Ucapku. Aku menghampirinya dan menanyakan kepastian dari Ren. "Ren!! Dia.. mereka berdua siapa Ren" Tanyaku. "Ren, dia siapa?" Tanya seorang wanita itu. "Ayah!! Perempuan ini siapa?" Sambung anak perempuan yang bersamanya. "Dia.." ucap Ren. "Ren!! Apa dia.. dia anakmu??" Tanyaku menahan sesak dihati. "Rara, dengarkan penjelasanku dulu" ucap Ren.
"Ayah, ayo kita pergi. Aku mau ke taman bermain abis ini" pinta anak dari perempuan itu. "Sebentar nak, ayah lagi ada urusan. Kamu pergi dengan ibumu dulu ya. Lia, kamu bawa Meyra kesana dulu ya" pinta Ren kepada perempuan tersebut. "Iya Ren" jawabnya. "Rara, dengarkan aku!! Dia Lia, kamu tau kan dia siapa?" Tanya Ren. "Enggak, aku gak tau Ren" Jawabku. "Dia istri keduaku" jelas Ren. "Istri.. istri kedua kamu bilang??" Tanyaku. "Ya, kamu tau sendiri kan mamah. Dia sakit Ra, satu-satunya yang dia inginkan adalah aku menikahi Lia" jelasnya. "Lalu kenapa kamu menyetujuinya Ren? Apa kamu gak cukup memiliki aku sebagai istrimu? Hiks.. hiks.." Tanyaku.
"Bukan gitu Ra. Ini terpaksa. Kamu tau kan, mama kritis waktu itu" jelasnya. "Tapi Ren.." jawabku. "Rara!! Kamu gak bisa mengerti aku ya? Mamahku itu paling penting buatku" jelasnya. "Ren, kalau mamahmu penting. Iya.. aku tau Ren. Tapi kamu gak pikir, kamu udah menikah denganku. Kenapa kamu menikah lagi? Bagiamana dengan Rere dan Tian?" Tanyaku.
"Udahlah aku capek Ra. Jika kamu tidak terima lebih baik kita pisah sekarang" ucapnya. "Ren, dengan mudahnya kamu bilang begitu? Kamu memang seratus persen berubah Ren. Hiks.. hiks.." tegasku. "Ya, memang kenapa? Kamu bodoh Ra!! Bisa-bisanya kamu gak sadar selama ini aku udah gak mencintaimu lagi" makinya.
"Oke Ren, kita pisah. Tapi kamu.. kamu gak punya hak sama sekali atas Rere dan Tian. Dan jangan pernah menyesal atas keputusanmu ini" tegasku. "Oke, kamu asuh mereka berdua. Aku gak peduli Ra" ucapnya lalu pergi meninggalkanku tanpa rasa bersalah.
"Ren!! Kamu jahat!! Hanya karena Lia aja kamu bisa berubah? Hiks.. hiks.." Tangisku. Aku pulang ke rumah dengan perasaan sedih dan hampa. Membereskan semua keperluan untuk pergi dari rumah yang dibeli Ren. Kemudian menjemput Rere dan Tian dari pulang sekolah.
"Bu, saya izin jemput Rere dan Tian pulang ya" pintaku kepada wali kelas Rere dan Tian. "Emm.. baik Bu" jawabnya. Wali kelas Rere dan Tian tidak banyak bicara karena sepertinya dia paham akan kondisiku yang sedang dilanda sedih dan kecewa. "Rere!! Tian!! Kalian pulang dulu ya. Mamah kalian udah nunggu di depan" perintah wali kelasnya. "Mama!!" Panggil Rere dan Tian saat keluar dari kelas. "Ma!! Mama kenapa nangis?" Ucap Rere dan Tian kemudian memelukku dan membasuh air mataku yang mengalir. "Mama gpp nak. Tapi kita pindah ke Bandung sekarang ya. Tinggal sama nenek. Bagaimana?" Ucapku kepada Rere dan Tian. "Tapi, ma.. Sekolah kami kan disini" ucap Rere. "Nanti mama urus pindahannya ya" jawabku. "Oke ma. Nanti ayah nyusul kan ya?" Tanya Tian. "Hmm.. iya" ucapku berupaya menghibur mereka berdua.
Aku, Rere dan Tian kini tinggal di Bandung bersama ibuku. Bekerja sebagai single parent dan sudah menuntaskan urusan perceraianku dengan Ren.
Kami tidak pernah bertemu dengannya lagi. Dan semakin hari, keadaan anak-anak mulai membaik. Aku memberinya sedikit demi sedikit pemahaman agar mereka bisa mengerti dengan keadaan yang sedang dialami. Mereka berdua tetap tumbuh menjadi anak yang ceria dan periang walau tanpa Ren.
Awalnya aku tidak menyangka bahwa hubungan pernikahanku dengan Ren hanya bertahan hingga sejauh ini. Dan berakhir di hari setelah anniversary kami karena orang ketiga. Selama bertahun-tahun, Ren tidak pernah mengabariku sekalipun. Bahkan, hanya untuk sekedar menanyakan kabar anak-anaknya pun tidak sama sekali. Sepertinya dia sudah sibuk dengan keluarga barunya yaitu Lia dan Meyra.
Aku sudah menghapusnya dan melupakannya secara bertahap. Kini tidak ada penyesalan yang tersisa dan aku harus tetap kuat demi Rere dan Tian.