Namanya Arjo, karena orangnya tukang ngeyel. Yang dalam bahasa jawanya suloyo, maka dia diberi gelar Arjo Suloyo. Yang artinya Arjo si tukang ngeyel.
Apapun akan jadi masalah di hadapan Arjo Suloyo.
orang mati dibilang hidup, sementara yang hidup malah dikabarkan mati.
Itulah Karjo Suloyo, yang tidak mau kalah meskipun terbukti salah.
Akan ada saja alasan yang diucapkan.
"Jo Karjo, kalau orang sudah meninggal terus ngapain." Tanya Paidi pada Karjo.
"Ya pindah alam saja, macam orang Transmigrasi tapi cuma Ruh nya saja." Jawab Arjo asbun alias asal bunyi.
"Masak sih, memang kamu pernah lihat ?" Tanya Paidi kemudian.
"Sering, bahkan biasa berkomunikasi dengan mereka." Jawab Arjo Suloyo.
"Yang benar saja, bukannya kamu itu penakut ?" kata Paidi.
"Itu gosip yang gak benar, Arjo gak pernah takut sama apapun." Ucap Arjo dengan sombongnya.
Meskipun Paidi kesal tapi lebih memilih diam daripada ribut dengan tukang ngeyel. Sambil menunggu rekan piket Ronda lainnya datang.
Tak lama kemudian Sanusi datang, membawa minuman dan makanan ringan.
"Minum dulu Lek Arjo, Lek Paidi." Kata Sanusi pada dua orang tua tersebut.
"Makasih Sanusi." Jawab Paidi.
"Makasih buat apa, itu kan memang tugas dia malam ini sediakan snack dan minuman." Bantah Arjo Suloyo.
"Ya neskipun jatah dia, tapi kan gak ada salahnya kita berterima kasih." Jawab Paidi.
"Nah itu, itu yang disebut basa basi kalau udah tugasnya ya gak perlu terimakasih." Bantah Arjo Suloyo.
"Terserah kamu lah...!" Ucap Paidi jengkel.
"Gak bisa begitu, ini biar kita jadi orang tegas gak penuh basa basi. Bener gak Sanusi ? Kata Arjo Suloyo.
" Iya Lek, memang sudah tugas saya malam ini." Jawab Sanusi.
Sanusi enggan berdebat dengan Arjo Suloyo. Di samping tahu Arjo Suloyo tukang ngeyel. Sanusi juga menghormati sebagai orang tua.
"Loh malam ini yang piket pertama muter siapa, sekalian panggil yang belum datang ?" Tanya Paidi.
"Aku, tapi sebentar dulu ngopi dulu bentar." Jawab Arjo.
"Jangan jangan kamu takut muter sendirian?" Goda Paidi.
"Siapa bilang, Arjo tuh gak ada yang ditakuti." Jawab Arjo Suloyo.
"Yaudah sana, keburu yang kain datang nanti." Kata Paidi.
"Sama saya gak papa Lek Arjo, sekalian mau cari rokok." Kata Sanusi yang sebenarnya tau jika Arjo Suloyo itu penakut aslinya.
"Dia baru ngopi, beli rokok sama aku saja yuk. Aku juga mau beli." Ucap Paidi.
"Sekalian aku bareng !" Ucap Arjo Suloyo.
"Gak bisa, kamu harus jaga Pos Ronda. Lagian kopi kamu juga belum diminum." Jawat Paidi sambil menarik tangan Sanusi meninggalkan Arjo Suloyo sendiri di Pos Ronda.
"Kasihan Lek Arjo pasti ketakutan dia Lek." Kata Sanusi.
"Biarin saja biar gak sombong." Jawab Paidi yang kesal dengan tingkah Arjo Suloyo.
setelah membeli rokok keduanya oun kembali ke Pos Ronda. Dari kejauhan terlihat Arjo Suloyo diam saja. Tidak berani menatap ke depan.
Hanya tertunduk menahan takut. Sehingga muncul keisengan Paidi menakut nakuti Arjo.
Kemudian Paidi mengambil kakung susu di tempat sampah. Kemudian mengisinya dengan kerikil kecil. Sehingga jika digoyang menimbulkan suara berisik.
"Buat apa itu Lek?" Tanya Sanusi.
"Tenang saja, kita kerjain si tukang ngeyel itu." Jawab Paidi, kemudian melemparkan kaleng susu yang diisi kerikil tersebut.
Tepat jatuh di depan Pos Rinda dengan suara berisik. Hingga membuat Arjo kaget dan berteriak.
"Wuaaaaaa.... tolong.....!" teriak Arjo.
Paidi pun tertawa ngakak melihat kelakuan Arjo.
"Katanya gak pernah takut, baru begitu saja sudah minta tolong." Ledek Paidi.
"Aku tidak takut, hanya kaget jadi reflek minta tolong." Jawab Arjo.
Sanusi hanya menahan senyum melihat dua orang tua tersebut bercanda.
Sementara Paidi masih belum puas menggoda Arjo yang sok pemberani tersebut.
"Kok belum pada datang ya, mana aku merinding lagi." kata Paidi.
"Kamu saja yang penakut, aku dari tadi disini sendirian juga gak papa." Ucap Arjo Suloyo masih dengan Sombongnya.
Paidi dan Sanusi hanya diam, meski jengkel dengan ucapan Arjo Suloyo.
Beberapa menit kemudian datang Pak RT Jumal.
"Ada lelayu, yang Ronda diminta pindah ke rumah duka. Sekalian membantu mengurus Jenazah." Ucap Oak RT.
"Owh iya, siap Pak RT." Jawab Arjo sok Yes saha.
Singkat cerita, sampai lah mereka di rumah duka. Sampai di sana ternyata yang biasa mengurusi jenazah belum datang. Dengan sok PD Arjo bilang.
"Kita mandikan bareng bareng saja, aku juga bisa kok kalau ada yang bantu." Ucap Arjo Suloyo.
Semua sudah paham dengan tingkah Arjo, jadi dibiarkan saja.
"Sambil nunggu kamu persiapkan saja tempat nya Arjo !" Kata Paidi.
Kemudian Arjo mulai mendekati mayat Pak Jadi yang masih berada di atas balai. Dengan tangan yang sudah di sedekapkan.
Saat proses memandikan pun Arjo sok sibuk seakan tahu segalanya. Hingga tinggal di Kafankan Arjo tetap sok pintar dan sok tahu.
Bahkan yang ahlinya pun ikut diatur-atur.
"Jo kamu pasang kamper yang sudah dihaluskan ini ke kaki kaki meja. Biar gak dinaikin semut." Kata Paidi.
"Sudah tahu gak usah ngajari." Jawab Arjo.
Dan ketika Arjo membungkuk menabur kamper. Ke kaki kaki meja dengan mengitari Meja Jenazah. Tak sengaja Arjo menyenggol meja jenazah saat membungkuk.
Sehingga tangan jenazah yang masih lemas itu tangannya terkulai ke bawah mengenai kepala Arjo.
Arjo jaget begitu tahu itu tangan pak Jadi yang sudah meninggal.
"Ampuuuun pak Jadi, saya kapok...!" Teriak Arjo sambil lari terbirit-birit.
yang laun pun tertawa karena tahu peristiwa sebenarnya yang terjadi
Sejak saat itulah Arjo tak lagi Suloyo tak kagi sok tahu dan sik berani.
Tamat