Dia hanya seorang tukang becak di salah satu daerah di Jawa timur. sehari-hari nongkrong di depan pasar. Dalam doanya, dia selalu berharap mendapat penumpang dengan memarkir becaknya di tepi jalan yang menjadi salah satu urat nadi daerah tersebut.
Pak Hari, berusia 60-an tahun, namun semangatnya luar biasa dalam bekerja. anaknya 7 orang, semuanya sekolah kecuali 1 anak pertama dan yang bungsu kuliah di kampus putih Universitas Indonesia.
Bagaimana bisa?
“Sabar, ikhlas, bekerja, rajin sholat, dan bersedekah nak”
Demikian kalimat bijak Pak Hari saat mengantar Iza seperti biasa, untuk pergi kerja di sebuah minimarket yang letaknya 3km dari pasar.
Dalam hati Iza berkata, sedekah?
Ya Allah, orang kecil seperti Pak Hari saja bisa sedekah dan 7 anaknya sekolah semua, hebat!
Dari mana dia dapat uang ya?
“Anak saya kebetulan pintar dan mereka bersekolah atau kuliah sambil kerja. Tapi setiap bulan saya tetap berkewajiban memberi mereka uang bulanan, kecil besar tergantung gimana kita menggunakan uang itu.” kata Pak Hari.
Setiap hari yang Iza tahu jika habis membayar ongkos becak lima ribu, Pak Hari selalu menyelipkan lima ratus rupiah di kantung dompet lainnya.
saat Iza bertanya "kenapa bapak menaruh koin itu di dompet yang lain?", katanya untuk sedekah setiap jum'at, takut lupa menyisihkan uang. Jadi kalau sholat jum'at, Pak Hari selalu mengantongi beberapa koin lima ratus atau seribu untuk dimasukkan ke kotak amal.
“Saya bersedekah bukan untuk meminta balasan Allah, namun memang sudah jadi kewajiban saya mbak, meskipun gak seberapa, namun saya berusaha tetap ada.” kata Pak Hari.
Degh!
Hati Iza bergetar, wajahnya memerah, menahan malu.
Iza yang punya gaji jauh dari Pak Hari sering berpikir untuk bersedekah, namun beliau orang kecil yang mau peduli bersedekah.
Pernah satu saat dompet Iza tertinggal, dan tidak sadar hal itu. Satu jam kemudian Pak Hari menemui Iza di Minimarket saat jam istirahat.
Iza bingung, mengira lupa membayar ongkos becaknya.
“Assalamu'alaikum maaf ya mbak saya baru sempat kesini, tadi saya jum'atan dulu, dan menunggu jam istirahat, takut mengganggu kerjaan mbak.” kata Pak Hari.
“Wa'alaikumsalam ya pak, ada apa ya?” tanya Iza.
“Ini dompet mbak tertinggal, mohon dibuka apa isinya ada yang hilang?” jawab Pak Hari.
Iza kaget sekaligus kagum dan salut dengan kejujuran Pak Hari. Setelah saya buka, lengkap isinya dan Izapun memberi selembar uang seratus ribu.
“Maaf mbak, ndak usah, saya ndak bisa terima.” kata Pak Hari, menolak uang yang diberi Iza.
“Maaf Pak, ini buat jerih payah bapak ke sini.” jawab Iza.
“Oh, saya ke sini karena memang kewajiban saya mengembalikannya mbak. Permisi wasalamu'alaikum.” kata Pak Hari sambil meninggalkan Iza.
“Pak, terima kasih ya.” teriak Iza.
Iza menatap lelaki tua itu keluar dari minimarket, tanpa terasa air mata menetes, jadi teringat ayah yang juga begitu jujur selama menjadi dosen di universitas PMI Depok.
Pak Hari bersedekah untuk melapangkan masa depan, kehidupan anak-anaknya, itu yang bisa dipetik!
Terbukti anak-anaknya sangat mudah mendapatkan tempat yang baik disekolah, kampus, maupun pekerjaan.
Ayah yang sukses adalah ayah yang jujur, bisa menghidupi keluarganya dengan uang HALAL!
sejak saat itu Izapun menysihkan uangnya sepuluh ribu ke kaleng bekas rokok yang biasa dibuang oleh di teman kerja yang ku simpan di rumah bude dialam kamarku.
Dan setiap akhir bulan Iza wajib menyetorkannya ke kotak amal, berapapun jumlahnya. Bisa di panti asuhan maupun masjid, yang penting sadar bahwa sebagian rezeki kita adalah hak orang lain.
“Kejujuran yang sulit kita dapatkan ditengah zaman yang semakin hari semakin kejam. Seorang ayah yang jujur akan membawa kemujuran hidup dan berkah untuk anak-anaknya.”