Aku menikah dengan seorang duda dua anak, sebut saja Beni. Mas Beni orang yang tak pernah main kasar dengan perempuan, selalu sabar, dan sayang dengan anak kecil.
Namun lambat laun mengenalnya, aku baru menyadari keanehan yang selalu di tampakkan nya. Ia selalu melakukan apa yang di suruh oleh mantan istrinya, sebut saja Intan.
Intan selalu memberitahu kenakalan kedua anaknya pada mas Beni lewat chat WhatsApp, awalnya aku tak menghiraukannya. Namun lama-kelamaan aku cemas karena mas Beni selalu diperintah ini itu dengan alasan anak-anak.
Aku merasa sebal dengan mas Beni yang selalu me-iyakan permintaan Intan, tak pernah ada penolakan
Bahkan dia sampai rela bertengkar denganku hanya untuk menemui kedua anaknya atas perintah Intan. Aku bukan tidak suka dia menemui kedua anaknya, aku hanya tidak suka dia menuruti permintaan mantan istrinya.
Setiap kali kami bertengkar, aku selalu berucap. "Mengapa tidak kau rujuk saja, kalau hanya Intan yang selalu kau turuti ucapannya?" Namun mas Beni hanya diam tak menimpali.
Terkadang sesekali ia marah dengan berdalih. "Aku sudah tidak mau untuk menikahi kembali mantanku! Lagipula sudah tidak bisa untuk rujuk kembali, aku hanya ingin kebaikan untuk kedua anakku."
Aku menangis dan menjerit. "Kenapa hanya kedua anakmu yang kau pikir? Lalu bagaimana dengan perasaanku?"
Kami terus berdebat tentang hal tersebut. Membuat ku terkadang jatuh sakit karena persoalan anak dan mantannya.
"Lebih baik kau ceraikan saja aku mas, dibanding harus kau sakiti aku seperti ini!" Aku terkadang berucap seperti itu kepada mas Beni.
Sekali lagi, mas Beni hanya diam dan terkadang pergi meninggalkan rumah sampai malam baru pulang.
Terkadang kami saling meminta maaf dan mengucap cinta. Namun sekali lagi, masalah tentang sang mantan yang tak tahu diri muncul kembali.
Hingga satu hari aku sakit, anakku yang pertama berusia 5 bulan menangis karena susu asi yang dia minum dari puting ku terasa panas karena aku demam.
Aku berobat kesana kemari karena seluruh badanku terasa ngilu, mereka menyatakan aku sakit typus. Namun hampir dua minggu lamanya aku mengonsumsi obat tak ada perubahan
Hingga satu orang menawariku untuk ruqyah. Aku menyetujui nya dan pergi ke ustad yang benar-benar bisa meruqyah.
Hari itu di siang terik yang panas, sesuai janji sebut saja ustad Hakim meruqyah ku. Hasilnya pun terkejut, jin yang menguasai tubuhku berucap bahwa aku tengah di sihir oleh Intan dan ibunya.
Namun mas Beni terus mengelak, ia tak percaya mantan istrinya mampu berbuat seperti itu. Lalu entah mengapa aku teringat anakku pernah diberi boneka oleh anak kedua mas Beni.
Aku sampaikan kepada ustad Hakim, dan dia langsung meminta boneka tersebut. Dia pun mengucap ayat ruqyah kembali dan aku bereaksi kembali.
Saat ada bukti itulah, mas Beni akhirnya percaya bahwa Intan menggunakan sihir agar mas Beni selalu teringat akan kedua anaknya dan bahkan selalu menuruti setiap perkataannya tanpa peduli denganku yang notabene istri sahnya.
Semenjak itulah, rasa sakit ku sudah tak kurasakan. Aku sembuh dengan izin Allah, mas Beni juga lebih sering memberi perhatian denganku dan anakku. Mas Beni hanya mengunjungi kedua anaknya jika di waktu senggang saja.
Tak ada rasa tersiksa yang diceritakan oleh mas Beni ketika tidak bertemu dengan anaknya. Kini dia merasa lebih bebas dan tenang, tak seperti dulu.